
Saat malam hari, dan suasana sepi serta hening, dan hujan turun dengan sangat derasnya, membuat udara sangat dingin, dan membuat orang orang lebih memilih berada diatas kasurnya untuk terlelap tidur, seorang berpakaian hitam menyelinap.
Orang tersebut memakai pakaian yang serba hitam dan penutup wajah juga hitam, dia masuk ke halaman rumah dan menuju ke sebuh mobil yang parkir digarasi mobil.
Dengan cepat dia menyelinap ke bawah mobil, lalu, dia menempelkan alat pelacak di bawah mobil tersebut, tepat di bawah belakang mobil.
Lalu, dengan cepat, dia bergegas pergi menghilang dalam kegelapan, meninggalkan rumah tersebut diantara suara gemuruh petir yang menyambar nyambar saling bersahutan di langit yang gelap dan dituruni air hujan deras.
Orang berpakaian hitam masuk ke dalam mobilnya, dia lantas menjalankan mobilnya yang di sembunyikan tidak jauh dari rumah tersebut. Mobil pun melaju pergi meninggalkan rumah tersebut.
---
Di ruang kerjanya, tampak Herman sedang bertemu dengan Peter, mereka hanya berdua saja saat ini, karena yang lainnya sibuk menjalankan pekerjaan masing masing.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Herman.
"Nomor Bramantio sempat aktif, lalu aku lacak, tapi aku gak sempat menemukan lokasinya, karena waktunya tidak cukup buat melacak keberadaan lokasi nomor telpon tersebut." ujar Peter, memberi penjelasan.
"Sudah kamu coba lagi melacaknya?" tanya Herman lagi, dengan wajah yang penuh penasaran.
"Sudah, tapi nomornya sudah tak aktif, sepertinya nomornya sudah dibuang, mungkin saja dia tau, kalo nomor Bram di lacak." tegas Peter, dengan serius.
"Hmm...Sebaiknya kamu lacak nomor telepon Richard, cari tau, ke siapa saja dia berhubungan melalui teleponnya." jelas Herman.
"Siapa tau aja, diantara orang orang yang pernah di hubungi Richard, ada nomor teleponnya Gatot!" lanjut Herman.
"Kalo Richard pernah menghubungi Gatot melalui hape nya, kita bisa melacak keberadaan Gatot !" tegas Herman.
"Baik, akan ku coba melacak nomor telpon Richard!" ujar Peter, dengan wajahnya yang serius.
"Aku pergi dulu." ujar Peter.
Ya." Angguk Herman.
Lalu, Peter segera pergi keluar dari dalam ruang kerja Herman, Herman pun menghempaskan tubuhnya di kursi meja kerjanya.
Wajahnya tampak geram menahan amarahnya pada Richard, karena Richard berani melawan dia. Dan Herman tidak bisa hanya berdiam diri saja.
Sebelum Richard bertindak, Dia ingin lebih dulu menghancurkan Richard, agar semua kejahatan yang di lakukan dia dan komplotannya terkubur selamanya, tanpa ada yang mengetahui, dan kebenarannya selamanya tak akan terungkap.
---
Richard tampak sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, dengan tenang dan santai dia menyetir mobilnya menyusuri jalanan raya yang cukup ramai saat ini.
Di bawah mobilnya, lampu berwarna merah tampak berkedip kedip menyala, alat pelacak yang di pasang seorang berpakaian serba hitam tadi malam sudah aktif, dan Richard tidak menyadari, jika mobilnya terpasang alat pelacak.
Dody Mulyadi duduk di dalam mobilnya, dia memegang ponselnya, wajahnya tersenyum sinis, melihat ponselnya yang menunjukkan denah lokasi kemana mobil Richard bergerak saat ini.
Ternyata, Dody lah yang menyuruh anak buahnya untuk memasang alat pelacak di mobil Richard secara diam diam, agar mudah mengetahui kemana saja Richard pergi.
Hanya itu juga satu satunya jalan, untuk mencari tahu keberadaan Gatot, yang selama ini masih tidak bisa di temukan Dody dan komplotannya.
Dengan melacak mobil Richard, Dody berharap, dia akan menemukan titik terang lokasi persembunyian Gatot, hingga Dia bisa menyergap Gatot di tempat persembunyiannya.
Setelah dia mengetahui kemana arah mobil Richard dari alat pelacak di ponselnya, lantas, Dody pun menjalankan mobilnya, dia pergi untuk menyusul Richard.
---
Di dalam kamar dalam Villa, tampak Gavlin sedang mengeluarkan senjata senjatanya dari dalam tas ransel berukuran besar dan panjangnya. Senjata senjata di letakkan di atas meja, Gavlin membersihkan semua senjata senjatanya itu.
__ADS_1
Maya masuk ke dalam kamar, dan menghampiri Gavlin yang masih sibuk membersihkan senjata senjatanya.
"Semua senjata itu kamu pake dalam aksimu, Vlin?" tanya Maya, berdiri disamping Gavlin.
"Hanya sebagian saja, May. Aku gunakan senjata senjata ini, sesuai kebutuhan aja saat beraksi." ujar Gavlin menjelaskan.
"Oh, begitu." Ujar Maya, mengerti dan paham.
Gavlin lantas memasukkan senjata senjata yang sudah dia bersihkan ke dalam tas ransel berukuran besar dan panjang, setelah semua senjata masuk ke dalam tas ransel, hanya tersisa satu pistol saja di atas meja.
Gavlin mengambil pistol diatas meja, lalu, dia memberikan pistol itu kepada Maya.
"Ambillah, buat berjaga jaga." ujar Gavlin, dengan wajah serius.
"Tapi, Vlin?" ujar Maya heran.
"Bukankah kamu udah di ajarkan Ayahmu cara menembak dengan pistol?" tanya Gavlin serius.
"Ya, Vlin, aku mahir menggunakan pistol, karena sejak kecil, Ayah mengajariku, katanya untuk berjaga jaga saja." ujar Maya, menjelaskan.
"Ya, sekarang aku juga memberikanmu pistol ini, buat berjaga jaga, Aku mau, kamu juga melindungi dirimu, May." ujar Gavlin, bersungguh sungguh.
"Jika aku gak ada, dan kamu terdesak, kamu bisa gunakan pistol ini untuk membela dirimu!" tegas Gavlin, dengan wajah serius.
"Ambil dan simpanlah, gunakan seperlunya, saat musuh datang dan kamu terdesak." ujar Gavlin serius.
Maya pun akhirnya mengambil pistol dari tangan Gavlin, lantas dia memegang pistol, dan mengamati pistol di tangannya.
"Kamu mau pergi, Vlin?" tanya Maya.
"Belum, May. Aku nunggu pak Richard datang ke sini. Setelah itu, aku baru bergerak menjalani misi berikutnya." ujar Gavlin serius.
Lantas Maya pun keluar dari dalam kamar, meninggalkan Gavlin seorang diri, dia pergi sambil membawa pistol yang diberikan Gavlin padanya.
Mobil Richard masuk ke pekarangan halaman Villa, setelah mobil berhenti, Richard pun segera keluar dari dalam mobilnya, lalu, dia masuk ke dalam Villa.
Richard masuk ke dalam Villa, lalu menghampiri Gatot yang sedang duduk di ruang tengah Villa.
"Maaf, Baru sekarang Saya bisa ke sini." ujar Richard.
Dia lantas duduk di sofa, yang ada di samping sofa tempat Gatot duduk.
"Gak apa apa." ujar Gatot.
"Anak buah saya yang menyusup menyamar sebagai anggota intelijen ketahuan, dia di bunuh Dody." ujar Richard.
"Lalu, anak buah saya yang menghalangi anggota Dody mengikuti mobil saya juga mati terbunuh dalam tugasnya mengamankan saya dalam perjalanan." lanjut Richard, memberi penjelasan.
"Herman juga sempat mengancam saya di pesta pernikahannya anak Mensesneg. Tapi saya tidak menanggapinya." ujar Richard, dengan wajah serius.
"Kalau begitu, kita harus cepat bertindak, ada baiknya, barang bukti yang ditemukan Gavlin kita buka di depan umum, agar kita bisa mengungkap kasus pembunuhan Bapaknya Gavlin dulu." ujar Gatot serius.
"Nanti dulu, sebelumnya, saya mau cek dulu semua barang barang bukti itu, apakah masih ada yang menghilang, atau semua sudah terkumpul." ujar Richard.
"Aku liat, sepertinya sudah semua ada, tapi entahlah, mungkin ada yang kurang menurut kamu. Coba aja liat nanti." ujar Gatot.
"Ya. Di mana Gavlin?" tanya Richard.
"Ada di kamarnya, sedang membersihkan senjata senjatanya. Sebentar, aku panggilkan dia." ujar Gatot.
__ADS_1
Belum sempat Gatot berdiri dan memanggil Gavlin untuk bertemu Richard, terdengar suara tembakan beruntun dari luar Villa. Richard dan Gatot pun kaget.
Richard dan Gatot melompat menghindar, lalu mereka bersembunyi, Richard mengambil pistol dari pinggangnya, sementara, Gatot yang tak punya pistol, hanya diam bersembunyi dan berlindung.
Suara tembakan terus terdengar, Maya yang sedang berada di dapur juga kaget mendengar suara tembakan tersebut, dia lantas berlari ke depan, hendak melihat Ayahnya.
Saat Maya hendak masuk ke ruang tengah, sebuah peluru melesat masuk ke dalam Villa, hampir saja Maya terkena peluru jika dia tidak segera menghindar dan bersembunyi.
"Jangan ke sini, May. Berbahaya!!" teriak Gatot, dari tempat persembunyiannya di ruang tengah.
Maya pun tampak panik dan bingung, dia lantas berdiam diri ditempatnya, bersembunyi dan berlindung.
"Sepertinya kamu di ikuti !" Ujar Gatot berteriak, ditengah suara tembakan beruntun.
"Iya ! Entah bagaimana mereka bisa melacak Saya!" ujar Richard.
Sambil bersembunyi, Richard bersiap siap untuk menembakkan pistolnya pada para penyerangnya di luar Villa.
Dari dalam kamarnya, Gavlin juga mendengar suara tembakan beruntun dari arah luar Villa, lalu, dari balik horden jendela kamar, Gavlin cepat mengintip keluar.
Dia melihat, begitu banyaknya pasukan kepolisian dan petugas militer yang memegang senjata dan menembaki ke arah Villa.
"Keparaaaattt!!" ujar Gavlin, geram dan marah.
Dengan cepat, Gavlin membuka tas ransel besar dan panjangnya, lalu, dia mengeluarkan senapan mesinnya, kemudian, diambilnya beberapa buah granat, dan di letakkannya di atas meja.
Lalu, dengan cepat, Gavlin memasukkan peluru peluru ke senapan mesinnya, kemudian, dia pun beranjak ke jendela kamarnya dengan membawa granat di tangannya.
Di luar Villa, tampak Dody berdiri di samping mobilnya, tidak jauh dari pasukannya yang tengah menembaki Villa. Wajah Dody terlihat sinis dan sombong.
Tiba tiba saja, sebuah granat melesat dari arah kamar, dan granat itu meledak, tepat jatuh di tengah tengah pasukan Dody. Satu granat lagi melesat kembali, dan meledak, menghantam pasukan Dody.
Pasukan kepolisian dan Polisi Militer pun berjatuhan di tanah, mati dan terluka parah, terkena ledakan granat.
Dody melihat itu geram, dia langsung bersembunyi di belakang mobilnya sambil memegang pistol di tangannya.
"Kurang ajar!! Mereka punya granat ternyata!" ujar Dody geram.
Tidak puas hanya melemparkan granat saja, Gavlin yang sudah marah besar lantas mengambil senapan mesinnya, lalu, dengan wajah marah dia keluar dari dalam kamarnya.
Tidak lupa dia juga membawa beberapa granat, dan menyimpannya dalam tas pinggangnya.
Richard dan Gatot saling pandang heran di tempat persembunyian mereka, karena mendengar suara ledakan bom.
Gavlin berjalan ke arah mereka, dia melewati Maya yang sedang duduk di lantai bersembunyi, lalu, Gavlin terus berjalan melewati Gatot dan Richard sambil menenteng senapan mesinnya.
Richard dan Gatot saling pandang melihat Gavlin keluar dengan membawa senapan mesinnya. Mereka berdua pun tahu, Gavlin lah yang melemparkan granat tadi.
Gavlin keluar dari dalam Villa, lantas dia berdiri di luar, di teras depan Villa , Wajahnya memerah karena sudah sangat marah.
"Keparaaaaatttt !! Matiiii kaliaaan seemuuuaaa !!" ujar Gavlin berteriak marah.
Dengan membabi buta penuh amarah membara, Gavlin menembaki senapan mesinnya ke arah para pasukan kepolisian dan polisi militer.
Para pasukan Dody itu pun banyak yang mati, terkena tembakan Gavlin, yang menembaki senapan mesinnya dengan membabi buta.
Melihat kebrutalan Gavlin menembaki senapan mesinnya, Nyali Dody ciut, dia yang bersembunyi di belakang mobilnya tampak pucat, dia takut, karena Gavlin mempunyai senapan mesin.
"Gawat ! Aku malah terjebak di sini! Sial!!" Gumam Dody, kesal.
__ADS_1
Gavlin penuh amarah masih terus menembaki para pasukan Dody, semua pasukan kepolisian dan Polisi militer yang menyerang Villa mati terkapar ditanah, karena di tembak Gavlin. Tak ada satu pun yang hidup, semua mati, hanya tersisa Dody saja.