
Sebuah berita penting tersajikan hari ini, hampir semua pihak stasiun televisi menyiarkan siaran langsung tentang berita yang sensasional dan menghebohkan masyarakat luas.
Tidak hanya media televisi saja yang menyiarkan secara langsung, namun, media cetak, baik surat kabar dan majalah pun berlomba lomba membuat berita Head line dalam surat kabar dan majalah mereka.
Suatu tontonan dan berita yang tak terduga sama sekali, dimana isi dari gambar yang ditayangkan secara langsung itu adalah, rekaman cctv, dimana Binsar, dan beberapa anggota organisasi Inside sedang bertransaksi untuk melaksanakan penggelapan uang negara dan pencucian uang, serta bernegosiasi dengan pihak asing dalam penjualan aset negara.
Tidak hanya sampai disitu, berita juga menyajikan bagaimana percakapan Binsar yang menugaskan Samsudin beserta Bramantio untuk menjebak Sanusi dan membunuhnya, juga agar mereka membungkam dan menghabisi Syamsul Bahri yang akan membongkar rahasia organisasi Inside.
Rekaman cctv itu didapatkan awak media televisi dan media cetak seperti surat kabar dan majalah dari Gavlin.
Gavlin lah yang sengaja mengirimkan beberapa file copyan flash disk berisi rekaman kejahatan organisasj Inside yang sangat terorganisir dengan baik selama bertahun tahun lamanya, dan tak ada yang dapat mencegah mau pun menghalanginya.
Ada satu rekaman yang membuat masyarakat umum terhenyak syock dan kaget, dimana dalam rekaman itu sedang di gelar rapat tertutup organisasi Inside yang berencana ingin menguasai hampir semua bidang perekonomian negara, dan diantara anggota yang hadir, terlihat juga Presiden Adiwinata yang duduk diam di samping Binsar.
Walau pun dia hanya diam saja, karena memang dilarang bicara oleh Binsar, namun kehadirannya dalam rapat itu membuat masyarakat tercengang, mereka tak menyangka bahwa Presiden juga terlibat dalam kejahatan organisasi Inside, dan dia juga ternyata salah satu anggota Inside.
Berita yang mengejutkan itu membuat amarah masyarakat meluap luap pada pemimpin dan pejabat negara, aksi protes pun terjadi dimana mana, keriuhan dan keributan mulai muncul dimana mana.
Aksi demo gabungan dari berbagai aliansi dan masyarakat digelar, mereka memprotes, dan meminta agar Presiden beserta para menteri menterinya yang bobrok dan bertindak korupsi dan berbuat kejahatan untuk mundur, karena masyarakat menganggap mereka hanya akan menghancurkan negara, dan tak pantas memimpin negara lagi.
Melihat aksi protes dan demo besar besaran, baik di gedung dewan majelis serta gedung kepresidenan, membuat Adiwinata, sang Presiden cemas.
Dia bukan mencemaskan dirinya yang muncul dalam rekaman cctv yang ditayangkan secara langsung di muka umum, namun, sebagai Presiden, biar bagaimana pun buruknya dia memimpin dan hanya menjadi boneka Binsar selama menjabat sebagai Presiden, tapi, dia tak menginginkan kehancuran dan perpecahan diantara masyarakat umum yang menjadi rakyatnya.
Wajah Adiwinata terlihat memelas duduk di kursi kerjanya, dia tercenung, Sang Presiden tengah memikirkan sesuatu hal, beban semakin berat dan besar dia rasakan saat ini.
Binsar masuk ke dalam ruang kantornya, dia menemui Adiwinata yang duduk diam dan tercenung di kursi kerjanya.
"Kamu tenang saja, jangan bertindak dan berbuat apapun juga, tunggu arahan dariku nanti!" ujar Binsar, menegaskan pada sang Presiden.
Presiden diam saja, dia tak bergeming dan tak menanggapi perkataan Binsar yang berdiri dihadapannya.
Binsar lantas mengambil ponselnya dari dalam kantong celananya, lalu, dia pun segera menelpon, menghubungi para anak buahnya.
"Hentikan para pendemo itu!! Usir mereka !!" ujar Binsar, memberi perintah dari teleponnya.
"Tapi massa semakin banyak datang dari berbagai daerah Pak. Kami sulit membendungnya , kami butuh bantuan!" Ujar Roman, bicara dari seberang telepon.
Roman ini pimpinan polisi militer, dia juga anak buah Binsar dan bagian dari tangan kanan Binsar, serta orang kepercayaan Binsar.
"Kerahkan seluruh kepolisian anti huru hara, tembak para pendemo itu dengan menggunakan gas air mata!!" bentak Binsar, memberi perintah diteleponnya.
"Baik, Pak." jawab Roman, dari seberang telepon.
"Kalo ada yang merepotkan dan berusaha untuk menerobos masuk ke gedung dewan atau pun ke gedung kepresidenan, gebuk dan pukul para pendemo itu, atau tembak saja dengan peluru karet ! Dan tangkap mereka , agar kapok dan gak berani lagi berdemo!!" tegas Binsar, memberi perintah dengan jelas di telepon.
"Siap, Pak. Akan saya laksanakan." jawab Ramon dari seberang telepon.
Binsar lantas menutup telepon dan memasukkannya kembali ke dalam kantong celananya, Adiwinata berdiri dari duduknya di kursi kerja.
Adiwinata berjalan melewati Binsar, Binsar heran melihatnya diam saja lalu mencegahnya untuk pergi.
"Mau kemana kamu?" tanya Binsar, mendekati Adiwinata.
Binsar berdiri tepat dihadapan Adiwinata, dia menatap tajam wajah Adiwinata yang terlihat lusuh dan sudah tak bersemangat itu.
__ADS_1
"Sudah waktunya bagiku sepertinya untuk mundur." ungkap Adiwinata datar.
"Gila kamu!!" bentak Binsar marah.
"Kamu jangan coba coba bertindak nekat Adi!! Jangan coba coba mengundurkan diri dari jabatanmu sebagai Presiden!" tegas Binsar, menatap tajam wajah Adiwinata.
"Ini sudah menjadi keputusanku, aku gak mau melihat kehancuran di negara ini, aku gak mau, sesama rakyat ribut dan saling menyerang satu sama lainnya, bahkan harus membunuh." Ungkap Adiwinata.
"Jika aku mundur sebagai Presiden, aku yakin, mereka akan bubar dan berhenti berdemo." tegas Adiwinata.
"Tidak !! Kamu jangan mundur, aku akan mengatasinya, aku akan mengusir dan menghentikan para pendemo itu!!" tegas Binsar.
"Kamu jangan nekat Adwinata!! Jika kamu tetap mundur, tau sendiri akibatnya nanti!" tegas Binsar, mengancam Adiwinata.
"Ya, aku tau resikonya atas apa yang sudah menjadi keputusanku nanti." ucap Adiwinata.
"Maaf, Pak Binsar, saya rasa, hubungan kita harus berakhir sampai disini, kita gak usah berhubungan lagi , dan jangan melarang saya untuk mengundurkan diri dari jabatan presiden." tegas Adiwinata menatap tajam wajah Binsar yang berdiri dihadapannya menahan geram dan marahnya.
"Permisi, Pak Binsar!" ujar Adiwinata.
Adiwinata lalu bergegas pergi keluar dari dalam ruang kantornya meninggalkan Binsar sendirian di dalam ruangan.
Binsar dongkol, dia sangat marah sekali atas sikap Adiwinata yang sudah terang terangan berani menentang, membantah bahkan melawan perintahnya.
"Adiii...Kamu lupa, siapa yang membesarkanmu selama ini hingga menjadi Presiden? Mau coba coba melawanku? Kamu akan menderita Adi!! Lihat saja nanti!!" Ungkap Binsar, dengan ekspspresi wajah yang penuh dengan kemarahan yang meledak ledak.
Lalu, Binsar pun lantas segera keluar dari dalam ruang kantor, dia pergi dengan membawa segala kemarahannya pada Adiwinata dan para pendemo.
---
Aksi dorong mendorong pun terjadi dan tindakan anarkis pun terjadi, ada penyusup yang sengaja di tempatkan organisasi Inside ke dalam barisan para pendemo agar demo menjadi semakin rusuh.
Beberapa orang melempar batu kearah polisi militer dan melukainya , tentu saja aksi pelemparan itu membuat marah polisi militer.
Keributan dan perkelahian pun terjadi dan tak dapat dihindari antara polisi militer, tentara dan para pendemo.
Andre yang juga datang ditugasi mengamankan dengan membawa tim anti huru hara melihat kejadian itu.
"Hentikan !! Hentikan !! Jangan saling menyerang!!" teriak Andre sekeras kerasnya.
Namun, suara teriakan Andre kalah dan tertutup dengan suara teriakan para pendemo yang mengamuk membabi buta menyerang para polisi militer yang menghalangi dan menyerang mereka.
Banyak yang terluka dan terkapar di tanah dari para pendemo, karena mereka tak memegang senjata, hanya tangan kosong saja, sementara polisi militer dan tentara menggunakan tameng dan tongkat pemukul.
Andre yang melihat itu terdiam tak bisa berbuat apapun juga, tak ada cara baginya untuk menghentikan keributan yang sudah terjadi itu, dia pun pasrah menerima kenyataan.
"Turunkan presiden, turunkan Presiden !!" teriak para pendemo beramai ramai.
"Usut dan tangkap semua pejabat dan mentri mentri yang terlibat dalam tindak korupsi dan kejahatan negara !!" teriak para pendemo dengan suara keras dan lantang.
Tiba tiba, gas air mata ditembakkan kearah para pendemo, tentu saja, para pendemo kaget dan kocar kacir, ada banyak dari mereka yang terkena siraman gas air mata yang disemprotkan dengan banyak dari kejauhan.
Andre kaget melihat hal itu, dia segera berlari ke arah mobil yang menyemprotkan gas air mata pada para pendemo.
"Hentikan, hentikan !! Jangan siram lagi!!" teriak Andre.
__ADS_1
Para petugas polisi tak perduli dengan teguran Andre lagi, mereka terus menyiramkan gas air mata ke arah para pendemo.
Mau tak mau, para pendemo pun kocar kacir berlarian kesana kemari mencari perlindungan bagi diri mereka masing masing.
Andre sekali lagi terdiam, dia tampak geram, dia tahu, perintahnya tak dituruti karena para polisi polisi itu sudah mendapatkan perintah langsung dari Binsar.
Di antara para polisi militer yang menghadang para pendemo menerobos masuk ke dalam gedung dewan majelis rakyat, ada Roman yang memimpin.
Andre geram melihatnya, lantas, dengan langkah kaki yang cepat dia berjalan hendak menghampiri Roman.
Namun , tiba tiba saja Masto memegang tangannya dan menghentikan langkah Andre. Andre kaget, lalu menoleh pada Masto yang berdiri disampingnya.
"Jangan labrak Ramon , Pak. Biar saja. Semua sudah mereka rencanakan , kita gak bisa berbuat apa apa." jelas Masto.
"Tapi, kasihan para pendemo itu, mereka protes dengan cara baik baik, tanpa ada yang membawa senjata, kenapa mereka harus di pukul dan di siram gas air mata?!" tegas Andre.
"Saya yakin, ada orang yang memprovokasi, agar terjadi kerusuhan, dan mereka pasti orang bayaran Inside, sehingga terjadi keributan besar seperti ini." ujar Andre, dengan wajah geram dan marah.
"Iya, Pak. Bapak benar." ujar Masto.
"Sebaiknya, Bapak tarik mundur anggota tim anti huru hara kita Pak. Jangan biarkan mereka ikut ikutan menyerang para pendemo, biar saja polisi militer dan tentara yang menghadapi pendemo." jelas Masto.
"Baiklah, kamu tarik mundur tim kita dari sini, juga yang ada di depan kantor kepresidenan, lagi pula ini sudah masuk malam, sebaiknya memang kita hentikan saja." ujar Andre menegaskan.
"Ya, Pak. Saya akan menarik mundur pasukan kita, ,Saya tinggal dulu." ucap Masto memberi hormat.
"Ya, silahkan." ujar Andre mengangguk.
Masto lantas bergegas pergi untuk segera menarik mundur timnya dari tempat itu, Andre masih melihat para pendemo yang kocar kacir berlarian di terjang gas air mata.
Bukan hanya itu saja, Andre melihat, beberapa polisi militer berani melepaskan peluru karet ke arah para pendemo yang membandel masih melawan.
Andre terenyuh melihatnya, dia sangat prihatin atas apa yang terjadi saat ini.
"Andai aku dan Samuel bisa lebih cepat menangkap semua anggota Inside dan mengungkap semua kejahatan mereka, ini gak akan terjadi." ucap Andre, menyesali atas apa yang sudah terjadi.
Andre lantas menghela nafasnya dengan berat, dia lalu pergi meninggalkan tempat tersebut dengan membawa sejuta amarah dan rasa kecewa yang menggelayut dalam jiwanya.
"Bubaaaar... Bubaaaarr !! Kita akhiri untuk hari ini, besok kita datang lagi, menggelar demo dengan membawa lebih banyak orang lagi!!" teriak pemimpin demo melalui Toa , alat pengeras suara.
"Kita gak akan berhenti menggelar aksi demo, sampai Presiden meletakkan jabatannya bersama para menteri menterinya!" tegas pemimpin demo.
"Apapun yang terjadi besok , jangan mundur, tetap hadapi!!" teriak pemimpin demo penuh semangat berapi api.
Sorak sorai terdengar dari suara suara para pendemo yang datang saat ini, mereka tampak bersemangat membubarkan diri masing masing .
Karena sudah masuk malam, mereka pun menghentikan aksi protesnya dan pemimpin demo menghentikan orasinya.
Melihat para pendemo membubarkan diri semuanya, lalu, pihak polisi pun berhenti menyiramkan gas air mata, begitu juga dengan polisi militer, mereka berhenti juga menembakkan peluru karet ke arah para pendemo.
Aksi demo besar besaran itu ditayangkan oleh stasiun televisi.
Gavlin yang berada dirumah bilik pak Sarono, sedang duduk di ruang keluarga rumah sambil menonton berita di televisi.
Gavlin tampak tersenyum senang, dia puas, melihat apa yang terjadi. Gavlin merencanakan membongkar kejahatan Inside, dengan cara menyiarkan langsung hasil rekaman cctv yang menjadi bukti kejahatan Inside.
__ADS_1
Dengan begitu, pengadilan dan hukum rakyat yang langsung bertindak pada seluruh anggota Inside, sebab, jika lewat jalur hukum yang benar, anggota Inside akan lolos dari jerat hukum.