VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Seseorang Mengunjungi Wicaksono


__ADS_3

Chandra masuk ke dalam sel tahanannya dengan di ikuti Wicaksono, lalu Gentong dan juga Pijar.


Seperti biasanya, Chandra duduk dilantai pojokan sel tahanan, Wicaksono lalu berjalan mendekatinya. Chandra menatap wajah Wicaksono yang berdiri dihadapannya.


"Terima kasih sekali lagi, Pak. Kalian sudah menyelamatkan nyawaku." ucap Chandra bersungguh sungguh.


"Santai saja, kita ini satu sel, jadi wajib saling tolong menolong." ucap Wicaksono, tersenyum menatap wajah Chandra.


"Aku gak tau, sampai kapan, Samsudin berusaha membayar para narapidana di sini untuk membunuhku." ujar Chandra.


Wicaksono diam, dia lantas duduk di lantai, dihadapan Chandra, Gentong dan Pijar duduk diam di lantai, mereka hanya memperhatikan Wicaksono dan Chandra yang sedang ngobrol itu.


"Ya, sepertinya Samsudin sangat dendam padamu, karena kamu berusaha membunuhnya." ucap Wicaksono.


"Tapi kamu jangan khawatir, selama aku di sini dan masih hidup, gak akan ada satu narapidana di sini yang bisa menyentuhmu, apalagi membunuhmu." tegas Wicaksono.


"Aku akan tetap di sampingmu, melindungimu, dari incaran napi yang mau membunuhmu, dan jangan lupa, kamu masih ada Gentong dan Pijar, mereka berdua juga pasti akan menjagamu, seperti yang udah mereka tunjukkan dan lakukan." jelas Wicaksono, menatap serius wajah Chandra.


"Ya, Pak. Terima kasih." ucap Chandra.


Chandra lalu menatap lekat wajah Wicaksono yang duduk dihadapannya itu.


"Gerakan berantem Bapak mengingatkanku pada seseorang." ucap Chandra, menatap tajam wajah Wicaksono.


"Maksudmu?" tanya Wicaksono, heran menatap wajah Chandra.


"Ya, saat aku liat Bapak berkelahi tadi, mengeluarkan jurus jurus andalan Bapak, tiba tiba saya teringat teman saya di luar sana, kalo berantem, gerakannya sama persis dengan Bapak." ujar Chandra, memberi penjelasan.


"Saat Bapak membunuh napi dengan cara mematahkan lehernya, itu juga mengingatkan saya dengan teman saya itu." ungkap Chandra.


"Oh, ya? Boleh saya tau, siapa teman kamu itu?" tanya Wicaksono, menatap lekat wajah Chandra yang terlihat serius itu.


"Namanya Gavlin, dia salah satu anak dari korban kejahatan Binsar dan komplotannya, dulu waktu kecil namanya, Yanto. Dan Bapaknya, Sanusi, di jebak, di fitnah, di tuduh sebagai pembunuh dan pemerkosa oleh komplotan Binsar, lalu, di bunuh di dalam penjara dengan di beri racun." ujar Chandra, menjelaskan dengan wajahnya yang serius.


Wicaksono terdiam mendengar penjelasan Chandra itu, Chandra menatap tajam wajah Wicaksono yang diam duduk dihadapannya.


"Apa Bapak kenal dengan teman saya yang bernama Gavlin itu? Apa Bapak ada hubungan dengannya?" tanya Chandra.


Chandra menatap serius wajah Wicaksono, dia ingin tahu, apakah Wicaksono kenal dengan Gavlin, sebab, dia curiga, kalau diantara Wicaksono dan Gavlin saling kenal, karena gerakan ilmu bela diri mereka sama, hati kecil Chandra yakin dan mengatakan mereka ada hubungan, tapi dia tak tahu, hubungan yang bagaimana, terjalin diantara Gavlin dan juga Wicaksono.


Wicaksono diam saja, lalu, dia berdiri dari duduknya di lantai, lalu, dia menatap wajah Chandra.


"Aku gak kenal dengannya." ucap Wicaksono.


Lalu, Wicaksono berjalan pergi meninggalkan Chandra yang masih duduk di lantai pojokan sel, kemudian, Wicaksono merebahkan dirinya di tikar yang ada di lantai sel dalam tahanan itu. Dia lantas memejamkan kedua matanya untuk tidur.


Chandra diam, dia terus memandangi wajah Wicaksono yang rebahan di lantai. Chandra lantas menghela nafasnya. Dia tampak sedikit kecewa, karena tidak mendapatkan jawaban dari Wicaksono, atas pertanyaannya.


---


Di rumah persembunyiannya, Samsudin tampak murka pada Jalal, beberapa kali dia menampar wajah Jalal yang berdiri dihadapannya.

__ADS_1


"Bodoh !! Toloool !! Masa kamu tiga kali gagal membunuh Chandra? Katanya gampang, para napi di sana pasti bisa membunuhnya, tapi mana buktinya?!!" bentak Samsudin, penuh amarah pada Jalal.


"Cuma ngabisi uang saja, gak ada satu napi pun yang berhasil, bodoh kalian semua!!" bentak Samsudin, dengan suaranya yang keras menggelegar.


"Maaf, Pak. Chandra di lindungi Jawara dalam penjara itu. Jadi, para napi itu sulit membunuhnya, karena Chandra selalu di jaga Jawara tersebut!" ujar Jalal, mencoba memberi penjelasan mengapa dia gagal membunuh Chandra.


"Saya gak mau tau alasan apapun juga !! Pokoknya, kamu harus membunuh Chandra, habisi juga Jawara itu !!" bentak Samsudin.


"Saya kan sudah bilang, siapa pun yang membantu Chandra, habisi mereka semua, jangan beri ampun, bila perlu, kamu bayar semua napi dalam rumah tahanan itu buat ngeroyok dan membunuh Chandra serta Jawara itu!!" bentak Samsudin, melampiaskan amarahnya.


"Ya, Baik Pak. Akan saya lakukan, apa yang Bapak perintahkan." ujar Jalal.


"Sekali lagi saya dengar kamu gagal membunuh Chandra, kamu akan saya hukum !! Kamu akan Saya bunuh !!" bentak Samsudin, memberi ancaman nyata pada Jalal yang berdiri tertunduk dihadapannya.


Jalal kaget mendengar perkataan Samsudin yang mengancamnya, namun, sebagai pengawal pribadi Samsudin, dia tak berani membantah, apalagi sampai melawan Samsudin, dia memilih untuk diam saja.


"Baik, Pak. Saya permisi dulu." ujar Jalal, mengangguk hormat pada Samsudin.


"Iya, sana pergi, lakukan pekerjaanmu dengan baik dan benar, kali ini jangan sampai gagal, ini terakhir kalinya buatmu!!" tegas Prawira menatap tajam wajah Jalal dengan penuh kemarahan.


"Ya, Pak. Saya paham." Angguk Jalal, memberi hormat pada Samsudin.


Lalu, Jalal segera pergi meninggalkan Samsudin, setelah Jalal pergi, Samsudin langsung menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di dalam ruangan itu.


Raut wajahnya merah padam , Samsudin sangat marah sekali, dia murka, karena dia terus terusan gagal membunuh Chandra, orang yang sudah melukainya dan mencoba membunuhnya.


"Kamu udah membuat badanku cacat dengan luka tembakmu Chandra, seumur hidupku, aku gak bisa memaafkan perbuatanmu, kamu harus mati, ya, kamu harus mati!!" ujar Samsudin, dengan wajah geram dan penuh kemarahan dalam jiwanya saat ini.


---


Wicaksono melihat siapa yang datang dan menemuinya saat ini, dia pun lantas tersenyum senang, saat melihat orang yang datang menemuinya.


Wicaksono lantas berjalan, dia menghampiri orang yang sedang duduk di kursinya menunggu Wicaksono, lalu, Wicaksono duduk di kursi, dihadapan orang tersebut. Mereka saling berhadapan, di tengahnya, ada kaca tebal dan lubang lubang ditengahnya sebagai pembatas, dan lubang lubang kecil di tengah kaca berfungsi agar para napi bisa bicara langsung dengan orang yang datang mengunjunginya.


Wicaksono tersenyum senang menatap wajah orang yang duduk dihadapannya. Orang tersebut berambut gondrong, dan berkumis tebal. Ada Tompel besar di pipi kirinya Orang tersebut.


"Apa kabar, Pak? Bapak sehat kan?" tanya orang tersebut pada Wicaksono.


"Kabar Bapak baik, dan Bapak sehat sehat saja, bagaimana denganmu?" ujar Wicaksono, tersenyum senang menatap wajah Orang yang datang mengunjungi dirinya itu.


Wicaksono bertanya balik pada orang tersebut, Orang tersebut tersenyum senang mendengar perkataan Wicaksono.


"Syukurlah kalo Bapak sehat, saya senang dengarnya. Saya juga baik baik saja, Pak." ujar Orang tersebut.


"Bagaimana kabar Chandra? Apa dia baik baik saja selama di dalam tahanan ini?" ujar Orang teesebut, bertanya pada Wicaksono.


"Chandra baik baik saja. Walaupun tiga kali dia di serang dan hampir terbunuh." ujar Wicaksono menjelaskan.


"Oh, begitu.Tapi Bapak menolongnya kan?" ujar Orang itu bertanya pada Wicaksono.


"Ya, aku dan dua anak buahku menolongnya, kami selalu menjaga dia." jelas Wicaksono.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak, karena Bapak sudah mau memenuhi permintaan saya untuk menjaga dan melindungi Chandra, selama dia berada didalam rumah tahanan ini." ujar Orang tersebut, berterima kasih kepada Wicaksono.


"Gak apa apa, kita ini keluarga, jadi, wajib tolong menolong, Bapak kan sudah bilang, apapun yang kamu butuhkan, Bapak akan berikan, jika kamu butuh bantuan , Bapak akan membantumu, apapun itu!" tegas Wicaksono, tersenyum menatap wajah Orang yang duduk di hadapannya dan sedang mengunjunginya itu.


"Ya, terima kasih, Pak." ujar Orang tersebut.


"Tapi, Bapak rasa, Samsudin gak akan berhenti membayar para napi, sebelum Chandra mati, dan Bapak yakin, sekarang, bukan saja Chandra yang menjadi incarannya, tapi juga Bapak dan dua anak buah Bapak." tegas Wicaksono.


"Oh, begitu?" ujar Orang tersebut, tersentak kaget.


"Iya. Untuk menghentikannya, kita harus membantai dan membunuh orang yang ditugaskan Samsudin untuk membayar napi dan menyuruhnya membunuh Chandra." ujar Wicaksono menjelaskan dengan wajah serius dan bersungguh sungguh.


"Jika bisa membunuh orang suruhannya Samsudin di luar sana, Chandra pasti aman, gak akan ada lagi napi yang mau membunuhnya." tegas Wicaksono.


Orang tersebut diam dan berfikir mendengarkan semua perkataan dan penjelasan Wicaksono itu. Wicaksono menatap lekat wajah orang itu.


"Kamu harus cari dan dapatkan orang suruhan Samsudin di luar sana, lalu, bunuh dia, hanya itu satu satunya cara menghentikan rencana busuk Samsudin membunuh Chandra." ujar Wicaksono, menegaskan pada orang tersebut.


"Baiklah, Pak. Aku akan mencari orang suruhan Samsudin itu, akan ku bantai dia." tegas Orang tersebut menatap serius wajah Wicaksono.


"Ya. Bapak prihatin dan khawatir pada Chandra, dia gak akan sanggup sendirian melawan Binsar dan samsudin serta komplotannya." ungkap Wicaksono bersungguh sungguh.


"Seharusnya Chandra gak ada di rumah tahanan ini, karena dia bukan seperti napi napi yang ada di sini, semua napi di sini penjahat kelas kakap, pembunuh berdarah dingin, pembunuh berantai, psikopat dan sebagainya." ujar Wicaksono serius.


"Dan Chandra bukan !! Dia bukan pembunuh, Chandra gak akan mampu membunuh orang!!" tegas Wicaksono, serius menjelaskan pada Orang yang duduk dihadapannya itu.


"Ya, Pak. Saya tau itu, makanya, saya minta tolong, agar Bapak menjaganya, saya tau, karena berusaha mau membunuh Samsudin sebagai Menkopolkam, Chandra pastinya akan dijebloskan ke penjara dan di bawa ke rumah tahanan khusus para pembunuh ini. Kasus tindak kejahatan berat." tegas Orang tersebut memberi penjelasan pada Wicaksono.


"Iya, Bapak paham. Makanya, pas kamu datang menemui Bapak sebelum Chandra datang ke sini, Bapak langsung tahu, apa yang harus Bapak lakukan nantinya." jelas Wicaksono .


"Bapak lalu menemui Kepala Sipir Penjara ini, dia teman baik Bapak selama ini, Bapak meminta, jika ada napi baru yang bernama Chandra dengan kasus pembunuhan berencana terhadap Menkopolkam, tolong di masukkan ke dalam sel Bapak. " jelas Wicaksono.


"Karena, dengan satu sel, Bapak mudah menjaga dan melindungi Chandra." tegas Wicaksono, memberi penjelasan pada Orang tersebut.


"Dan Kepala Sipir memenuhi permintaan Bapak. Itu sebabnya Chandra berada dalam satu sel dengan Bapak. Dan saat dia datang, Bapak sudah langsung tau, kalo dia lah orang yang kamu bilang dan harus Bapak lindungi." jelas Wicaksono.


"Iya, Pak." Angguk Orang tersebut.


"Jam bezuk habis." ujar Penjaga kepada Wicaksono.


Wicaksono mengangguk mengiyakan pada Penjaga, lalu, dia menatap wajah Orang yang duduk dihadapannya.


"Jam berkunjung habis, lain kali kita bahas lagi soal ini." ujar Wicaksono tersenyum.


"Iya, Pak." Angguk orang tersebut.


Wicaksono lantas berdiri dari kursinya, lalu bersama Penjaga, Dia segera keluar dari dalam ruang pertemuan.


Namun, Wicaksono menghentikan langkahnya, dia lalu berbalik badan dan menatap wajah Orang yang mengunjunginya, dan masih duduk di kursinya.


"Chandra tau gerakan ilmu bela diri Bapak. Dan dia bertanya tentangmu, bertanya pada Bapak, apakah Bapak ada hubungan dengan kamu? Karena ilmu bela diri kita sama katanya." ujar Wicaksono, berdiri menatap Orang tersebut.

__ADS_1


Orang tersebut tersentak kaget, dia menatap lekat wajah Wicaksono yang berdiri menatap wajahnya itu.


__ADS_2