VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Rencana Gila Gavlin


__ADS_3

Pintu kamar hotel tempat Gavlin menginap di ketuk dari luar, Gavlin yang terbaring di atas ranjangnya mendengar ketukan pintu, dia lalu malas malasan bangun dari ranjangnya.


Gavlin lalu turun dari ranjangnya dan melangkah pelan menuju pintu kamar, wajahnya terlihat murung, suasana hatinya masih galau dan sedikit menyimpan rasa kecewa karena cinta.


Di luar kamar, depan pintu, Malik berdiri menunggu Gavlin membukakan pintu untuknya. Tak berapa lama, pintu kamar terbuka, Malik langsung cepat masuk ke dalam kamar, Gavlin pergi begitu saja meninggalkan Malik yang lantas menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam.


Gavlin lalu menghempaskan tubuhnya di sofa besar yang ada di kamarnya itu, Malik menghampirinya, dia lantas berdiri tepat di hadapan Gavlin.


"Aku baru saja melihat jumpa persnya Pacarmu di ruang pertemuan hotel ini." ujar Malik, memberi tahu Gavlin.


Gavlin cuek, dia diam saja tak menjawab ucapan Malik, Malik menatap wajah Gavlin yang masih murung dan galau duduk di sofa.


"Vlin, Indri masih mengingatmu, dia gak pernah melupakan dirimu selama ini." ujar Malik, menjelaskan pada Gavlin.


Gavlin bereaksi, dia melirik wajah Malik yang berdiri di hadapannya itu, wajah Malik terlihat serius saat memberitahu Gavlin.


"Aku tadi mengajukan pertanyaan pada Indri, apakah orang yang dia maksud telah berjasa dengan karirnya dan yang memberi semangat serta dukungan adalah Gavlin? " jelas Malik, dengan wajah serius.


Gavlin menatap tajam wajah Malik, dia ingin mengetahui kelanjutan cerita Malik, Malik tahu, Gavlin penasaran, namun, Gavlin berpura pura bersikap biasa saja.


"Indri sempat kaget saat aku sebut nama kamu, Vlin. Dia lalu menjawab, 'Ya, Gavlin orangnya, dia kekasihku, yang sudah berpisah beberapa tahun ini.'ujar Malik, sambil menirukan ucapan Indri tadi kepada Gavlin.


"Katanya, rancangan desain baju pengantin yang menjadi pemenang dalam lomba saat itu berkat jasamu, Vlin. Itu artinya Indri masih mencintaimu, gak pernah melupakanmu!" ungkap Malik, menegaskan pada Gavlin.


"Ya, dulu, Indri buka usaha sebagai penjahit, Aku melihat, desain desainnya sangat bagus bagus dan unik serta menarik, Aku tau, Indri berbakat menjadi desainer , perancang mode pakaian, dia akan terkenal dan sukses, aku yakin itu." ujar Gavlin, mencoba cerita pada Malik.


Malik mendengarkan cerita Gavlin dengan serius , dia menatap lekat wajah Gavlin yang duduk di sofa.


"Aku melihat rancangan desain baju pengantin yang dibuatnya, diam diam, aku menambahkan sedikit lekuk lekuk dan memodifnya, agar menambah keunikan dan memperkaya estetika mode gaun pengantinya. Dan Indri suka." lanjut Gavlin menjelaskan pada Malik.


"Aku bilang padanya, jika dia membuat gaun pengantin yang sesuai dengan gambar yang di desainnya, lalu ikut lomba , dia pasti akan menang, menjadi juara, aku gak nyangka, Indri ternyata benar benar membuat gaun pengantin itu dan mengikut sertakannya dalam kejuaraan fashion show internasional dan menjadi juaranya, lalu terkenal." ungkap Gavlin tersenyum senang.


Ada rasa bangga dan kebahagiaan dalam diri Gavlin saat dia menceritakan tentang Indri sebelum menjadi terkenal seperti sekarang ini, Malik terus mendengarkan dengan serius penjelasan Gavlin.


"Kami berpisah , karena aku harus melanjutkan misi balas dendamku, aku bilang pada Indri, jika aku gak kembali dalam beberapa tahun padanya, itu artinya aku terbunuh saat menjalankan aksi balas dendamku, tapi, jika aku masih hidup, aku pasti akan datang menemui dirinya kembali." ucap Gavlin, dengan wajah sedih.


Gavlin sedih, karena sekarang, dia telah melihat Indri bersama Pria lain. Dan itu membuatnya patah hati, hilang semangat dalam dirinya.


"Nah, sekarang kalian udah ketemu, kenapa kamu gak langsung menemui Indri? Memberinya kejutan Vlin? Aku yakin, Indri pasti senang dan bahagia melihat kamu lagi." ujar Malik, mencoba memberi semangat pada Gavlin yang terlihat galau itu.


"Untuk apa aku menemuinya, Lik? Semua udah terlambat, Indri sudah memberikan hatinya kepada Pria lain." ujar Gavlin, getir.


"Mungkin karena terlalu lama dia menunggu, dan aku gak juga datang menemuinya, Indri menganggapku mati terbunuh, seperti yang aku bilang padanya." ucap Gavlin, lirih dan getir.


"Apalagi, Indri dan Bapaknya pergi keluar negeri, tinggal bersama adik Bapaknya di Prancis, itu membuat kami semakin terpisah jauh." jelas Gavlin.


"Aku tau Indri keluar negeri dari suratnya yang aku temukan dirumahnya, saat aku datang lagi kerumahnya mencari tempat persembunyian yang aman dari kejaran polisi dan anggota organisasi Inside saat itu." ungkap Gavlin pada Malik.


"Oh, begitu." ujar Malik, mengangguk mengerti dan mencoba untuk memahami perkataan Gavlin.


"Tapi, menurutku, gak ada salahnya kamu temui Indri, kalian harus bertemu juga pada akhirnya, karena sudah lama berpisah, dan nanti, kamu bisa meminta penjelasan pada Indri langsung." ucap Malik, mencoba beri nasehat pada Gavlin.

__ADS_1


"Biar saja, Lik. Aku gak mau merusak hubungan Indri dan Pria itu, biarkan dia bahagia bersama Pria pilihannya." ujar Gavlin, lirih dan getir.


"Dan kamu, tetap dalam kubang lumpur kedukaan dan dan terperangkap dalam lembah kegalauan yang gelap dan berkepanjangan, Vlin?" ucap Malik, menatap tajam wajah Gavlin.


Gavlin diam, tak menjawab perkataan Malik , wajahnya terlihat menahan kesedihan, karena merasa cintanya telah hilang.


Tiba tiba saja, telepon Malik berdering, cepat Malik mengambil ponselnya dari kantong celananya, dia lantas langsung menerima panggilan telepon tersebut.


"Hallo? Bagaimana hasilnya?" tanya Malik, dengan wajahnya yang serius, bicara di teleponnya.


Gavlin yang masih duduk di sofa besar diam memperhatikan Malik yang sedang bicara serius di teleponnya.


"Baik, okay, Aku akan kesana sekarang, tunggu disana. " ujar Malik, serius bicara ditelepon.


Lalu, dia segera menutup telepon dan menyimpannya kembali ke dalam kantong celananya, dia lantas menatap serius wajah Gavlin yang duduk diam di sofa, masih dengan wajahnya yang murung dan sedih serta galau.


"Anak buahku mengabari, katanya, mereka telah melihat Binsar tadi." ujar Malik, memberi tahu Gavlin.


"Dimana mereka melihatnya?" tanya Gavlin tenang dan dengan sikap dinginnya.


" Di sebuah restoran yang terletak di desa mungil Goult." ungkap Malik, memberi tahu Gavlin.


"Desa Goult?!" Gavlin, diam berfikir.


Dia mencoba mengingat ingat nama Desa kecil tersebut, lalu, dia menatap wajah Malik yang berdiri dihadapannya.


"Ya, aku tau, aku ingat, Desa itu merupakan desa mungil yang berada di selatan negara Perancis.Iya, kan?" ujar Gavlin, bertanya pada Malik.


"Ya, kamu benar, Vlin." jawab Malik.


"Ya, aku ingat, selain itu, disana, Banyak sekali butik dan arena permainan modern. Kalo aku gak salah ingat, ada juga disana pabrik penggilingan pertanian kuno milik Yerusalem." ungkap Gavlin, menatap serius wajah Malik yang berdiri dihadapannya itu.


"Ya, kamu benar." jawab Malik, tersenyum senang, karena ternyata Gavlin tidak lupa dengan kota kota yang ada di Prancis, khususnya di sekitar kota Paris. Karena dulu, Gavlin memang lama tinggal di Paris.


"Pintar Binsar memilih tempat, dia sengaja ke desa mungil itu, agar gak ada yang bisa melacak dan mengetahui keberadaannya, selama dia di Prancis ini." ungkap Gavlin, dengan wajahnya yang serius menyatakan pada Malik.


"Tapi dia kan gak tau, kalo dia sedang berhadapan dengan gank Mafia 'Seira Costa 'yang sangat ditakuti di Prancis sini." ujar Malik, tersenyum bangga menatap Gavlin.


Gavlin ikut tersenyum tanpa menjawab perkataan Malik, Malik menatap wajah Gavlin yang masih duduk di sofa besarnya itu.


"Ayo kita kesana sekarang, Vlin. Anak buahku menunggu di sana, mereka tetap mengawasi Binsar." ujar Malik menatap serius wajah Gavlin.


"Ayolah." ujar Gavlin.


Gavlin lantas berdiri dari duduknya di sofa, namun, dia tak bersemangat, sikapnya dingin dan biasa saja, tak terlihat senang, padahal yang mau mereka temui adalah Binsar, musuh besarnya, Malik heran melihat Gavlin bersikap dingin dan tak bersemangat itu.


"Kamu kenapa lemas gini, Vlin? Ayo, semangatlah!! Binsar udah ketemu, sebentar lagi, kamu akan membunuhnya, lalu, misimu selesai!" tegas Malik, menatap tajam wajah Gavlin yang berdiri didepannya.


"Aku gak apa apa, Lik. Kalo kita terus ngobrol di sini, lama lama Binsar pergi dan menghilang." ujar Gavlin, menatap tajam wajah Malik.


"Ayolah." Ajak Malik.

__ADS_1


Gavlin mengangguk, mengiyakan, lalu, dia bersama Malik segera keluar dari dalam kamar hotelnya, setelah di luar, Gavlin menutup pintu kamar dan menyimpan kunci hotel di kantong celananya.


Lalu, mereka berdua bergegas masuk ke dalam lift, untuk segera pergi ke Desa mungil bernama Desa Goult, tempat Binsar bersembunyi dan tinggal selama melarikan diri ke negara Prancis.


---


Mobil meluncur di jalan raya dengan kecepatan tinggi, Malik yang menyetir mobilnya, sementara Gavlin duduk di jok depan, di samping Malik.


"Lik. Nanti, setelah kita berhasil menangkap Binsar dan membawanya ke Markas, tolong, carikan aku bahan bahan peledak, ya?" ujar Gavlin, menoleh dan melihat Malik yang menyetir mobil itu.


"Buat apa ?!" tanya Malik, heran menoleh sekilas pada Gavlin, sambil masih terus menyetir mobilnya.


"Aku rencananya mau merakit bom dengan bahan bahan itu." ucap Gavlin serius.


"Kamu mau meledakkan apa dengan bom rakitan itu nantinya?!" tanya Malik, menoleh sekilas lagi pada Gavlin.


Malik semakin heran dan bingung mendengar perkataan Gavlin yang punya rencana untuk merakit sebuah bom dan memintanya untuk menyediakan bahan bahan peledak yang akan dirakitnya nanti.


"Aku akan membuat bom bunuh diri." tegas Gavlin, menatap serius wajah Malik yang menyetir mobilnya.


Malik terkesiap kaget, dengan cepat dia membanting stir mobilnya ke pinggir jalan, lalu, dia menginjak rem mobilnya, mobil pun lantas berhenti di pinggir jalan.


Malik lantas menatap tajam dan serius wajah dingin Gavlin, dia perhatikan , Gavlin serius mengucapkan niat dan rencananya itu.


"Jangan bertindak Gila kamu, Vlin!! Kamu mau bunuh diri dengan bom itu?!" ujar Malik, bertanya pada Gavlin.


Malik menatap tajam wajah Gavlin yang tampak dingin dan serius itu. Malik cemas dengan niat dan rencana Gavlin itu, dia tak setuju dengan rencana Gavlin.


"Ya, saat aku dan Binsar nanti sudah berada di dalam pesawat pribadi yang di sediakan teman polisiku dari negaraku, aku akan meledakkan bom yang ada di badanku, agar Aku dan Binsar mati meledak di dalam pesawat, Aku akan melakukannya saat pesawat terbang diudara." ungkap Gavlin, memberitahu Malik rencana dirinya itu.


"Gila !! Aku gak mau !!" tegas Malik.


"Lik, hanya itu satu satunya cara membunuh Binsar, karena aku gak yakin, Binsar bisa di hukum, dia pasti akan bebas, hanya dengan cara meledakkan dirinya dalam pesawat yang bisa mengakhiri hidupnya!" tegas Gavlin, memberi pengertian pada Malik.


"Tapi, bukan lantas harus kamu yang melakukannya, Vlin!" tegas Malik, menatap serius wajah Gavlin.


"Kalo bukan Aku yang melakukannya, mau siapa, Lik? Lagi pula, Aku sendirian di dunia ini, gak punya siapa siapa lagi, jadi, mati pun aku, gak akan ada yang mencari dan menangisi kematianku." ungkap Gavlin, dengan serius menjelaskan pada Malik.


"Aku, aku yang mencari dan menangisimu, selain itu, Bapak angkatmu, pak Wicak yang pernah kamu ceritakan padaku." ujar Malik, mengingatkan Gavlin


"Dan, Indri, Vlin, Apa kamu lupa dengannya? Indri akan menangis sedih jika tau kamu mati karena bunuh diri!" tegas Malik.


"Apa kamu punya rencana gila itu, karena berfikir, udah gak ada harapan lagi bagimu bisa bersatu dengan Indri, begitu Vlin?!" tanya Malik, menatap serius wajah Gavlin.


"Ingat, Vlin. Kamu belum tau pasti, apakah Pria yang bersama Indri itu benar benar kekasih hatinya, atau hanya sekedar teman, bahkan pengawal pribadinya saja?!" ujar Malik menjelaskan.


"Karena itu aku menyuruhmu untuk menemui Indri, agar jelas semuanya, dan kamu gak menduga duga, lalu patah hati dan nekat berbuat hal gila pada akhirnya!!" ungkap Malik, menegaskan dengan wajahnya yang serius kepada Gavlin.


Gavlin diam saja tak menjawab perkataan Malik, dia malah membuang mukanya, menatap ke depan , melihat jalanan yang cukup ramai itu.


Malik menghela nafasnya, dia tahu, Gavlin pastinya tak akan mau mendengarkan semua penjelasannya, walau pun dia sudah panjang lebar menjelaskan, Gavlin akan tetap pada pendirian dan niatnya semula.

__ADS_1


Malik sangat mengetahui dan mengenali karakter serta pribadi Gavlin, karena mereka sangat dekat sekali dulunya, dan hingga saat ini, Malik melihat, bahwa diri Gavlin tak ada yang berubah, karakter dan sifat serta pembawaan dirinya masih sama seperti dulu, sosok Gavlin yang sangat dia kenal, saat mereka bersama sama menjadi anggota gank Mafia 'Seira Costa" selama beberapa tahun di negara Prancis tersebut.


Malik berfikir, dia ingin mencari cara , bagaimana menghentikan niat Gavlin yang ingin merakit bom bunuh diri tersebut.


__ADS_2