
Samsudin duduk di kursi dalam ruang interogasi, dan Andre ada dihadapannya, tengah menginterogasi Samsudin.
Semua pertanyaan yang berhubungan tentang pertemuan dia dan Masto ditanyakan Andre saat ini, Samsudin dengan sikap tenangnya diam tak menjawab.
"Jangan diam saja, jawab pertanyaan Saya!" Hardik Andre, marah.
Samsudin diam, dan tersenyum sinis menatap wajah Andre yang duduk di kursi, dihadapannya dengan wajah kesal dan marah.
Pintu ruangan terbuka, masuk seorang pengacara ke dalam ruang interogasi, Andre melihat Pengacara yang berjalan mendekati Samsudin.
"Mulai saat ini, semuanya harus melalui saya, Klien saya gak akan memberikan pernyataan apapun." jelas Pengacara.
"Lepaskan klien saya, jika anda mau menangkapnya, sertakan bukti lebih dulu." jelas Pengacara.
Andre geram menatap tajam wajah Pengacara yang berdiri disamping Samsudin. Samsudin tersenyum sinis, dia lantas berdiri dari duduknya di kursi, Samsudin mengulurkan tangannya yang di borgol pada Andre, Andre menahan amarahnya, dengan terpaksa dia melepaskan borgol Samsudin.
"Sudah aku katakan, aku gak akan bisa kamu penjara!" ujar Samsudin tersenyum sinis.
Samsudin lantas berjalan keluar dari ruang interogasi bersama pengacaranya, Andre berdiri diam, dia menatap geram kepergian Samsudin.
Tak lama kepergian Samsudin, masuk Masto ke dalam ruang interogasi dan mendekati Andre yang masih berdiri diam.
"Kenapa dia di lepas, Pak?" ujar Masto heran dan kesal melihat Samsudin dilepas.
"Karena kita gak punya bukti fisik untuk menjeratnya." jelas Andre.
"Tapi, saya kan korbannya Pak. Saya bisa memberikan kesaksian atas apa yang terjadi." tegas Masto.
"Tidak bisa hanya mengandalkan pernyataan kamu saja, setidaknya kita harus punya satu bukti yang mempertegas tindakan Samsudin!" tegas Andre.
Masto terdiam, dia tampak tak puas dan sangat kecewa, karena Samsudin tidak ditahan dan malah dilepaskan begitu saja, sementara Edo harus meregang nyawa mati karena ulah Samsudin.
"Sudahlah, kamu gak usah kecewa, kita pasti bisa menjebloskan Samsudin ke penjara, masih banyak kasus kejahatan dia yang lain bisa kita angkat dan kita usut!" jelas Andre, menenangkan Masto.
"Ya, Pak." Angguk Masto lemah.
Andre lantas berjalan keluar dari dalam ruang interogasi, Masto diam sesaat, dia tampak sedang memikirkan sesuatu hal, lalu, Masto pun menghela nafasnya dengan berat, kemudian, dia berjalan gontai keluar dari dalam ruang interogasi.
---
Di dalam mobilnya, Gavlin sambil menyetir mobilnya sedang bicara ditelepon melalui earphone wireless bluetoothnya.
Untuk memudahkannya berkomunikasi dengan orang orang yang dia perlukan, Gavlin pun akhirnya membeli sebuah ponsel baru, agar dia bisa berkomunikasi lancar dengan siapapun yang dia inginkan. Dan saat ini, dia menghubungi Chandra.
"Aku lagi di jalan ke rumahmu, tunggu aku." ujar Gavlin, bicara ditelepon, sambil tetap menyetir mobilnya.
"Baik, aku akan menyiapkan berkas berkasnya." jawab Chandra , dari seberang telepon.
"Ok." jawab Gavlin.
Gavlin lantas mematikan ponselnya, kemudian, dia menambah kecepatan laju mobilnya, mobilnya pun melesat cepat di jalanan.
Di jalan raya lainnya, terlihat di dalam mobilnya Samsudin tersenyum senang, dia lantas menelpon Binsar.
"Hallo, Pak, Saya baru saja pulang dari kantor polisi." ujar Samsudin, bicara ditelepon.
"Kamu sudah di bebaskan?" tanya Binsar, dari seberang telepon.
__ADS_1
"Ya, Pak. Terima kasih bantuannya." ujar Samsudin, di telepon.
"Ok. Nanti kita ketemu, saat ini, ada urusan penting yang mau saya jalani." ujar Binsar, dari seberang telepon.
"Baik, Pak." ujar Samsudin, ditelepon.
Lantas, dia menutup teleponnya dan menyimpan ponsel kedalam kantong celananya, dia tersenyum puas. Pengacara yang duduk di sampingnya menoleh padanya.
"Pak Binsar memberi perintah pada pejabat sementara Kapolri yang baru untuk membebaskan Bapak, saya datang atas perintah pak Binsar dan membawa surat pelepasan Bapak dari pejabat sementara kapolri." ujar Pengacara.
"Ya, saya tau itu, Pak Binsar sudah merencanakan semuanya, dia yang menempatkan Pak Bryan, sebagai penjabat sementara, mengisi jabatan kapolri yang masih kosong hingga saat ini. Dengan begitu, ruang gerak anggota Inside semakin mudah, karena polisi kita kendalikan!" tegas Samsudin, tersenyum senang.
"Iya, benar Pak." jawab Pengacara.
Samsudin tampak puas karena dirinya tidak bisa di tangkap dan dipenjara, mobil pun melaju dengan kecepatan sedang dijalan raya.
---
Di ruang kantornya, Binsar sedang menelpon anak buahnya yang sedang ditugaskannya menjalankan misi rahasia darinya.
Dan anak buah Binsar sekelompok orang orang yang terlatih dalam militer, ahli berkelahi dan juga tembak menembak, mereka lah yang selalu di jadikan Binsar sebagai alat pembunuh.
Terlihat, enam sosok pemuda berpakaian rapi menyelinap masuk ke halaman rumah Chandra, saat seorang dari ke enam pemuda ke teras rumah dan memegang gagang pintu rumah, alarm tanda bahaya di pintu berbunyi secara otomatis.
Chandra yang sedang berada di dalam kamarnya terhenyak kaget mendengar bunyi alarm itu, dengan cepat dia mengambil pistolnya dari laci meja kerjanya yang ada di dalam kamarnya.
Chandra cepat membuka laptopnya yang ada diatas meja, dia melihat dari layar laptop, terlihat dari kamera cctv, ada beberapa orang berusaha membuka pintu rumahnya.
"Sial ! Sepertinya mereka orang suruhannya Binsar ! Pasti mereka mau membunuhku!!" ujar Chandra.
Chandra lalu mematikan laptopnya, kemudian, dia bergegas jalan keluar dari dalam kamarnya, dengan memegang pistol ditangannya.
Di luar rumahnya, lima pemuda yang bertugas sebagai pembunuh bayaran berdiri berjejer di halaman rumah, mereka mengarahkan senapannya ke arah rumah Chandra, lalu, ke lima pemuda itu melepaskan tembakannya.
Rumah Chandra pun habis di berondong tembakan peluru dari senapan ke enam pembunuh bayaran yang ditugaskan Binsar untuk membunuhnya. Sementara, satu pemuda masih berusaha membongkar pintu rumah Chandra.
Pemuda itu menembak gagang pintu rumah, pintu pun rusak lalu terbuka, pemuda segera menendang pintu hingga terbuka lebar, Saat dia hendak masuk ke dalam rumah, Chandra yang bersembunyi diruang depan menembaknya.
Pemuda itu kaget, dengan gerak refleks dia bersembunyi, dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam rumah. Ke lima rekannya segera menghampirinya.
"Dia punya senjata, hati hati!" tegas, seorang pemuda.
Kelima pemuda mengangguk mengiyakan, lalu, seorang dari mereka memberi isyarat untuk berpencar dan pergi ke segala penjuru rumah Chandra untuk menyergapnya.
Dari dalam rumahnya, Chandra terus menembaki mereka semua, tanpa ada rasa takutnya dia menyerang ke enam pembunuh bayaran tersebut.
Para pembunuh bayaran mengurungkan niatnya untuk berpencar karena Chandra terus menembaki mereka. Dengan membabi buta, mereka lantas melepaskan tembakan dari senapan mereka kembali, hingga menghancurkan kaca jendela rumah dan tembok rumah Chandra.
Aksi tembak menembak pun terjadi, Mobil Gavlin berbelok hendak masuk ke halaman rumah Chandra, dari dalam mobilnya dia kaget karena mendengar suara tembakan.
Dengan cepat Gavlin menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk halaman rumah Chandra, dari dalam mobil dia melihat, ada enam pemuda sedang menembaki ke rumah Chandra, dan terdengar suara balasan tembakan dari dalam rumah Chandra.
Mengetahui hal itu, Gavlin pun geram, cepat dia mengambil dua pistolnya dari dalam dashboard mobilnya, lalu, dengan cepat, Gavlin pun segera keluar dari dalam mobilnya.
Gavlin berdiri di samping mobilnya, pintu mobil di biarkannya terbuka untuk dijadikannya pelindung dirinya.
Gavlin menembak ke arah para pembunuh bayaran, mendapat serangan dari arah belakang, ke enam pembunuh bayaran kaget, dengan cepat mereka berbalik badan dan melihat ke arah Gavlin yang menembaki mereka.
__ADS_1
Melihat Gavlin berdiri menembak, ke enam pembunuh bayaran pun lantas menembaki Gavlin dengan penuh amarah.
Berondongan dari senapan para pembunuh bayaran membuat Gavlin keteteran, akhirnya, dia pun berlari mundur, Gavlin bersembunyi ke belakang mobilnya.
Di dalam rumah, Chandra keluar dari persembunyiannya, dia lalu perlahan lahan berjalan menuju ke depan pintu rumahnya. Chandra bersembunyi di balik pintu, dia mengintip keluar, Chandra melihat, ke enam pembunuh bayaran masih terus menembaki Gavlin.
"Sepertinya Gavlin datang!" ujar Chandra, dengan wajah senang.
Lalu, Chandra pun menembakkan pistolnya, dia menyerang ke enam pembunuh bayaran yang sedang menembaki Gavlin.
Seorang pemuda memberi isyarat, membagi tugas, ke lima pemuda mengangguk paham, lalu, tiga orang berbalik badan ke arah Chandra dan menembaki Chandra yang bersembunyi di balik pintu rumahnya, sementara, tiga orang lagi menyerang dan menembaki Gavlin yang bersembunyi dan berlindung di belakang mobilnya.
Satu tembakan Gavlin akhirnya mengenai tubuh seorang pembunuh bayaran, namun, luka tembaknya tidak membahayakan, dia masih bisa bertahan dan berdiri. Aksi tembak menembak terus terjadi.
Hingga akhirnya, Peluru peluru dari senapan ke enam pembunuh bayaran habis, mereka sudah tak bisa menembak Gavlin dan Chandra lagi.
Mengetahui hal itu, Gavlin pun tersenyum sinis, lalu, dia keluar dari persembunyiannya, dia menyimpan kedua pistolnya ke dalam pinggangnya, lalu, dengan cepat, dia berjalan menghampiri ke enam pembunuh bayaran yang berdiri diam ditempatnya.
Melihat kedatangan Gavlin yang berjalan cepat ke arah mereka, ke enam pembunuh bayaran bersiap siap menyambut serangan Gavlin.
Lalu, dengan cepat, Gavlin melesat lari menyerang ke enam pembunuh bayaran. Baku hantam pun terjadi antara Gavlin dan ke enam pembunuh bayaran.
Dengan gagah berani Gavlin menyerang dan menghantam enam pembunuh bayaran yang ditugaskan Binsar itu, Gavlin mampu memberi perlawanan, Chandra keluar dari persembunyiannya.
Melihat Gavlin berkelahi dan di keroyok oleh enam pembunuh bayaran, Chandra tak bisa hanya tinggal diam saja, lalu, dia meletakkan pistolnya di lantai, kemudian, dengan cepat Chandra berlari.
Chandra masuk ke arena pertarungan, dia bergabung bersama Gavlin untuk melawan ke enam pembunuh bayaran tersebut.
Gavlin melirik Chandra, Chandra memberi isyarat dan tersenyum padanya, lalu, bersama sama, mereka menyerang ke enam pembunuh bayaran, perkelahian tiga lawan satu terjadi antara mereka berdua dan para pembunuh bayaran.
Ternyata, Chandra juga memiliki bekal ilmu bela diri, sejak lama dia juga ternyata belajar ilmu bela diri, dia sengaja mempelajari ilmu bela diri karena dia akan menjalani misi aksi balas dendam Papahnya yang mati di bunuh oleh para anggota organisasi Inside.
Jual beli pukulan terjadi, tendangan dan hantaman tinju saling diberikan, Gavlin berhasil menguasai jalannya pertarungan, dua orang pembunuh bayaran roboh jatuh terkulai di tanah terkena tendangan memutar Gavlin, hingga tak mampu lagi bangun dan berdiri.
Sementara, Chandra masih berusaha memberi perlawanan pada ke tiga pembunuh bayaran yang mengeroyok dirinya.
Perkelahian satu lawan satu antara Gavlin dan pembunuh bayaran memudahkan Gavlin, Gavlin pun memenangkan pertarungan, dengan hantaman tinju dan tendangannya, Gavlin berhasil menjatuhkan pembunuh bayaran, lalu, dengan cepat Gavlin mencengkram leher pembunuh bayaran itu, dengan lengannya, dia mencengkram kuat leher si pembunuh bayaran.
Tak berapa lama, terdengar suara 'Kreek' , Leher si pembunuh bayaran patah, tubuhnya terkulai lemah dan tak berdaya, dia mati menghembuskan nafasnya.
Gavlin lantas melemparkan begitu saja tubuhnya ke tanah, lalu, dengan cepat Gavlin berdiri dan memberi bantuan pada Chandra yang dikeroyok tiga orang.
Perkelahian dua lawan tiga pun terjadi, pertarungan berjalan sengit, lebih dari setengah jam berlalu, dan akhirnya, Gavlin serta Chandra berhasil melumpuhkan ketiga pembunuh bayaran itu.
Dengan tanpa ampun, Gavlin pun mematahkan leher mereka semua, tak ada yang di biarkan Gavlin hidup, baginya, semua musuhnya wajib di bunuh, dan tak akan di biarkannya hidup.
Ke enam pembunuh bayaran itu pun mati terkapar di tanah, Chandra berdiri di samping Gavlin yang menatap sinis mayat mayat para pembunuh bayaran itu.
"Terima kasih, Vlin." ujar Chandra.
"Ya." jawab Gavlin dingin.
"Tempatmu sudah gak aman, kamu sekarang jadi incaran Inside, untuk sementara waktu, sebaiknya kamu ikut aku, jangan tinggal di sini dulu." ujar Gavlin serius.
"Ya, Aku ikut kamu, tapi tunggu, aku ambil dulu berkas buatmu di dalam." ujar Chandra.
"Ya." Angguk Gavlin.
__ADS_1
Chandra bergegas masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil beberapa potong pakaian dan berkas yang akan diberikannya pada Gavlin. Dan Gavlin menunggunya di samping mobilnya.