VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Buronan Kepolisian


__ADS_3

Melihat mobil Gavlin, atau Yanto sudah meluncur pergi menjauh, para petugas kepolisian bergegas masuk ke dalam mobil mereka masing masing, lalu, tim kepolisian mengejar mobil Gavlin.


Melihat para petugas kepolisian mengejar Gavlin, Gatot pun dengan cepat bergegas masuk ke dalam mobilnya. Dia lalu ikut mengejar Gavlin, dengan mengendarai mobilnya.


Kejar kejaran pun terjadi di jalan raya, sirene mobil polisi terdengar ramai dan kencang, membuat berisik di jalanan. Mobil Gavlin sudah melesat jauh, meninggalkan mobil mobil polisi yang mengejarnya.


Kecepatan mobil sport mewah milik Gavlin, atau Yanto, tidak dapat di tandingi mobil mobil polisi tersebut.


Gavlin terus menyetir mobilnya, berusaha kabur dari kejaran polisi polisi.


Di dalam mobilnya, Gatot terus menyetir, dia tetap ikut terlibat dalam pengejaran Gavlin.


Dari arah lain, mobil patroli polisi yang telah di berikan informasi tentang mobil Gavlin segera mengejar mobil Gavlin, saat petugas patroli melihat mobil Gavlin dengan ciri yang di informasikan tim polisi lainnya.


Tim gabungan kepolisian pun ramai mengejar mobil Gavlin. Dari kaca spion dalam mobilnya, Gavlin melihat, jauh di belakang, mobil mobil patroli polisi terus mengejarnya.


Wajah Gavlin terlihat geram dan marah, tiba tiba saja dia menghentikan mobilnya tepat di tengah jalan, pengendara mobil yang melintas di belakangnya, sontak kaget, lantas dengan cepat membanting stir, menghindari mobil Gavlin yang tiba tiba berhenti di tengah jalan.


Dengan wajah garang dan marahnya, Gavlin mengambil senapan bom roketnya, lalu, dia pun segera keluar dari dalam mobilnya.


Gavlin berdiri dengan gagah berani di belakang mobilnya, di tengah jalan raya, dia lantas membidik senapan bom roketnya kearah mobil mobil patroli polisi yang melaju mendekat ke arahnya.


Setelah dia rasa jaraknya pas, Gavlin pun lantas menembakkan bom roket dari senapannya. Bom roket melesat jauh mengarah ke mobil patroli polisi.


Satu mobil patroli polisi meledak, hancur terbakar, di belakangnya, mobil mobil patroli polisi lainnya, saling tabrakan.


Karena mereka tidak siap untuk menghindar, maka, mobil patroli polisi yang ada dibelakang mobil yang meledak pun menabrak mobil terbakar tersebut, tabrakan beruntun terjadi.


Di belakang, dari kejauhan, Gatot melihat mobil mobil patroli polisi berhenti karena mengalami tabrakan beruntun, lalu, dari dalam mobil, Gatot melihat, satu mobil patroli polisi hancur dan terbakar.


Bom roket kembali melesat dan menghantam satu mobil patroli polisi lainnya, dari kejauhan, Gatot melihat, Gavlin berdiri di tengah jalan raya dan menembakkan senjata bom roket pada mobil patroli polisi.


"Siaal, Gavlin!! Dia nekat, dia semakin gila! Gak terkendali lagi!!" Ujar Gatot kesal, di dalam mobilnya.


Gatot pun memacu mobilnya dengan cepat, agar dia bisa mengejar mobil Gavlin.


Dengan sikap dingin, Gavlin pun berbalik badan, lalu, dia segera masuk ke dalam mobil, di letakkannya senapan bom roket di jok belakang mobilnya.


Dia berhasil menghentikan mobil mobil polisi yang mengejarnya, lalu, dia pun segera menjalankan mobilnya.


Dengan kecepatan tinggi, mobil Gavlin melesat di jalan raya, pergi meninggalkan mobil mobil patroli polisi yang mengejarnya.


Mobil Gatot tiba di tempat kejadian tabrakan beruntun mobil patroli polisi, dia menghentikan mobilnya, lalu keluar dari dalam mobilnya.


Dia melihat, banyak tim kepolisian yang terluka parah, akibat mengalami tabrakan beruntun. Dengan cepat, Gatot pun menghubungi petugas medis dan mobil ambulance, untuk memberikan pertolongan pada tim kepolisian yang terluka.


Gatot berdiri diantara mobil mobil patroli polisi yang rusak akibat tabrakan, wajahnya tampak menyimpan kegundahan. Dia sangat menyesali tindakan brutal Gavlin.


Buatnya, Gavlin terlalu berani dan sudah benar benar bertindak di luar batas, karena, Gavlin menyerang tim kepolisian, menghancurkan gedung kepolisian, serta membunuhi para petugas kepolisian yang tak bersalah.


Gatot sangat menyesali tindakan Gavlin, hanya karena murka pada Gunadi dan Rasid, serta Sutoyo, Gavlin gelap mata, dengan kalap membantai seluruh petugas kepolisian.


"Sangat disayangkan, Vlin. Dengan perbuatanmu ini, kamu akan menjadi buronan kepolisian, dan aku, gak bisa menolongmu lagi." Bathin Gatot bicara lirih.


---


Mobil Gavlin terus melesat dengan cepat di jalan raya, lalu, dia berbelok ke arah kiri jalan, lalu, berjalan terus lurus ke depan.


Mobil Gavlin meluncur ke arah gudang besar milik dirinya, lalu, dia pun segera membelokkan mobilnya, masuk ke pekarangan halaman gudang besar miliknya.


Gudang besar dan luas itu berada di lokasi yang terpencil di pinggir kota, dan sangat sepi, serta jarang sekali di lalui kendaraan kendaraan.


Karena sepi dan di rasa aman, sebab, jalanan di sekitar gudang tidak aktif, maka Gavlin membeli gudang besar dan luas itu, lalu, menjadikannya tempat, dia membuat patung patung lilinnya selama ini.


Mobil Gavlin masuk ke dalam garasi bawah tanah, sama seperti di rumahnya, ternyata, Gavlin pun membuat ruang bawah tanah di samping gudang besar tersebut.


Ruang bawah tanah itu berbentuk seperti rumah umumnya, tempatnya nyaman, dan ada garasi mobilnya juga. Dia menjadikan rubanah tempat persembunyiannya.

__ADS_1


Di gedung kantor kepolisian, tampak para petugas pemadam kebakaran datang mengamankan lokasi gedung yang terbakar, akibat bom roket yang meledak dan menghancurkan bangunan kantor kepolisian.


Tampak para tim kepolisian yang tersisa sibuk membereskan puing puing bangunan gedung kantor yang hancur.


Sementara itu, Gavlin berdiri di samping meja besar yang ada di dalam gudang tengah melepaskan rambut wig panjangnya, dia juga melepaskan kaca mata, kumis dan jenggot palsunya.


Lalu, dia menyimpan peralatan menyamarnya sebagai sosok Yanto ke dalam laci yang ada di meja besar. Lantas, Gavlin melepaskan topi, dan meletakkannya di atas meja besar.


Gavlin lalu berjalan masuk ke dalam kamar kecil yang ada dalam gudang tersebut, dia lantas mengambil remote, dan menyalakan televisi.


Lalu, di televisi, tampak seorang pembaca berita tengah membacakan berita hancurnya gedung kepolisian pusat.


Melihat gambar bangunan gedung kantor kepolisian yang hancur dan terbakar di televisi, Gavlin pun tersenyum sinis.


Tiba tiba saja, matanya terbelalak lebar, dia tampak sangat marah, matanya menatap tajam penuh amarah ke arah televisi.


Di televisi, dia melihat, Sutoyo tengah di wawancarai, dalam televisi, Sutoyo tampak marah, dan mengatakan, bahwa penyerang gedung kantor kepolisian sebagai buruan utama kepolisian.


"Keparaaaaat kamu Sutooooyoooo!!" teriak Gavlin, marah.


Dia semakin marah melihat wajah Sutoyo terpampang di dalam televisi, Gavlin pun murka pada Sutoyo.


Dia kenal Sutoyo, karena sebelumnya, Gatot dan Teguh sudah perlihatkan photo Sutoyo, selain itu, di televisi, Gavlin membaca namanya dan ada keterangan, bahwa Sutoyo sebagai Kepala Kepolisian Negara.


Wajah Gavlin tampak geram dan marah, dia lantas mematikan televisi, dia muak dan jijik melihat wajah Sutoyo yang ada di televisi.


Gavlin pun ingat sesuatu, lalu, dia mengambil ponselnya, kemudian, dia melepaskan sim card ponselnya, lalu, di patahkannya kartu sim card tersebut.


Lalu, Gavlin mengambil korek gas dari dalam laci meja besar.


Kemudian, Dia berjalan ke arah luar gudang dengan membawa ponsel dan kartu simcard yang telah di patahkannya.


Kemudian, di sudut ruang gudang, dia mengambil sebotol bensin, bensin selalu ada di gudang, karena dia gunakan untuk membuat lilin saat dia membuat patung.


Di luar, di belakang gudang besar dan luas, Gavlin berdiri di depan tong sampah besar, lalu, dia membuang ponsel dan simcardnya ke dalam tong sampah.


Kemudian, Gavlin menuangkan botol berisi bensin ke dalam tong sampah, lalu, dia pun menyalakan korek gas yang ada ditangannya, lantas, di lemparkannya korek gas yang menyala ke dalam tong sampah.


Agar tidak ada orang yang bisa melacak keberadaanya, begitu juga dengan Gatot, dia tak ingin ,Gatot melacak dan mengetahui tempat persembunyiannya.


Wajah Gavlin tampak dingin, lalu, dia berbalik badan, dan masuk ke dalam gudang miliknya.


---


Beberapa hari kemudian, setelah terjadinya teror peledakan gedung kantor kepolisian pusat, untuk sementara waktu, Gatot pindah kantor.


Dia untuk sementara waktu bekerja di kantor polsek. Karena gedung kantor kepolisian pusat sedang di perbaiki/di renovasi.


Di dalam ruang kerjanya, Gatot tampak menempelkan photo Yanto di papan white board yang ada di dinding ruangan.


Di atas photo tertulis 'Buronan Utama' Kepolisian, Gatot menjadikan Yanto target buruannya.


Gatot menjadikan photo Yanto sebagai buronan, karena saat beraksi, dia menyamar menjadi sosok Yanto, dan Gatot tahu, jika Yanto adalah Gavlin.


Walaupun Gavlin tak pernah mengatakan padanya, namun, sebagai polisi yang handal, Gatot tahu, jika sosok Yanto selama ini adalah Gavlin, sebab, dia menyelidikinya.


Selain itu, saat di rumah sakit, waktu dia masih di rawat dan bicara dengan Teguh di dalam kamar ruang ICU, Teguh mengungkapkan jati diri Gavlin, yang terkadang menyamar sebagai sosok Yanto, sebagai seniman pembuat patung lilin.


Dan Gatot sengaja diam, dia tidak memberi tahu Maya, agar Maya tidak pernah tahu, tentang dua pribadi dalam diri Gavlin.


Dengan sangat berat dan menyesal, Gatot menjadikan Yanto tersangka dan buronan utama kepolisian, dia sangat menyesal, karena akhirnya, dia harus berhadapan dengan Gavlin.


"Maafkan aku, Vlin. Aku gak bisa lagi membantumu." Gumam Gatot dengan pelan dan lirih.


"Tapi aku janji, Vlin, aku akan menangkap Gunadi dan Rasid ! Aku akan meringkus mereka dan menjebloskannya ke penjara!!" Bathin Gatot bicara.


Wajahnya tampak menahan amarahnya pada Gunadi dan Rasid yang telah membunuh Teguh.

__ADS_1


---


Di sebuah tempat, Gunadi dan Rasid menemui Sutoyo, yang saat itu, di temani Bramantio. Wajah Sutoyo sangat marah.


Dia menampar wajah Gunadi dan Rasid, Sutoyo melampiaskan amarahnya kepada mereka berdua. Gunadi dan Rasid tetap diam tak bergerak, berdiri di tempatnya.


"Goblook!! Kalian gak becus !!" Bentak Sutoyo marah.


"Karena ketololan kalian berdua si Yanto datang dan menghancurkan gedung kantor kepolisian pusat!! Dia pasti datang buat menghabisi kalian berdua !!" Bentak Sutoyo penuh amarah.


"Tunggu dulu, Yo! Kamu bilang Yanto yang menghancurkan kantormu?" tanya Bram serius.


"Ya, Anak buahku melihat jelas wajahnya, dan mereka tau, dia itu Yanto!! Seniman pembuat patung lilin!!" Teriak Sutoyo marah.


"Kalo dia Yanto, kenapa dia yang menghancurkan kantormu, dan mengincar mereka berdua?" ujar Bramantio, sambil menunjuk Gunadi dan Rasid.


Sutoyo pun terdiam mendengar perkataan Bramantio, dia pun tersadar, dan berfikir.


"Iya, Ya. Kenapa bukan Gavlin yang datang mencari Gunadi dan Rasid?" ujar Sutoyo berfikir.


"Teguh itu saudara tiri Gavlin, harusnya Gavlin yang ngamuk, bukan Yanto, apa hubungannya dengan Yanto? Mengapa Yanto yang meledakkan kantor kepolisian dan membunuhi anak buahku!" Ujar Sutoyo berfikir keras.


"Ini artinya, memang Yanto dan Gavlin saling berhubungan, mereka berdua bekerjasama, saling membantu untuk membalaskan dendam Gavlin, anaknya Sanusi!" tegas Bramantio berfikir.


"Maaf bos. Saya pikir, Yanto, seniman itu adalah Yanto anaknya Sanusi!" tegas Rasid.


"Ah, mana mungkin!!" ujar Sutoyo, tak yakin.


"Namanya sama, bos, Yanto!" tegas Rasid lagi dengan serius.


"Hanya nama yang sama, kalian kan yang kasih ke saya, berkas riwayat hidup anak Sanusi, dan dalam berkas itu tertulis, bahwa anak Sanusi di adopsi dan berganti nama menjadi Gavlin!" tegas Sutoyo menjelaskan.


"Jadi, gak mungkin si seniman Yanto itu!! Yanto seniman itu hanya teman yang membantu Gavlin saja, Gavlin anak sebenarnya Sanusi!!" Lanjut Sutoyo menjelaskan dengan serius.


Rasid pun terdiam, dia tak membantah perkataan Sanusi, sementara, Bramantio tampak berfikir keras, dia memikirkan tentang hubungan antara Yanto dan Gavlin.


Bramantio merasa, ada yang ganjil diantara keduanya, dia tengah memikirkan sosok Yanto dan juga Gavlin, dan dia berfikir, mengapa Yanto yang harus mengamuk, bukan Gavlin.


"Mulai sekarang, kalian harus berhati hati! Jangan sampai anak Sanusi membunuh kalian berdua!!" tegas Sutoyo.


"Baik, Bos!" Jawab Rasid dan Gunadi bersamaan.


"Oh ya, Bos. Apa kami masih bisa bekerja seperti biasanya?" tanya Gunadi dengan wajah serius.


"Ya, karena, belum ada bukti yang mengarah pada kalian, sebaiknya, kalian bersikap biasa, dan bertugas seperti biasa!" Jelas Sutoyo.


"Ingat ! Jangan menunjukkan gerak gerik yang mencurigakan, karena saya yakin, Gatot mengincar kalian berdua!" tegas Sutoyo.


"Ya, Bos." Angguk Gunadi, juga Rasid.


"Bagaimana Bram, kamu udah hubungi Ronald?" tanya Sutoyo.


"Belum, aku belum bisa menghubunginya, aku kehilangan jejak Ronald, sejak terakhir kali dia pergi dan marah padaku, aku belum berhubungan dengan Ronald!" Jelas Bramantio.


"Dimana anak itu? Kita butuh Ronald, untuk membantu melawan anaknya Sanusi !" ujar Sutoyo.


"Aku juga membebaskan Ronald dari penjara dengan tujuan agar dia menghadapi Yanto, anaknya Sanusi! Tapi, sejak dia pergi, aku gak yakin, Ronald masih mau atau tidak!" Jelas Bramantio.


"Dia pasti mau, aku nanti yang bicara pada Ronald, dia kan tau siapa aku! Dan dia juga tau, kalo aku yang bermain di belakang kasusnya!" tegas Sutoyo.


"Aku yang membuat hukuman mati dia menjadi hukuman 15 tahun penjara! Jadi, dia pasti gak bisa menolak permintaanku!" Tegas Sutoyo menjelaskan.


"Ya, mudah mudahan aja dia mau." ujar Bramantio.


"Kalian berdua, cepat cari tau keberadaan Ronald, jika kalian menemukan lokasinya, kabari saya!" Tegas Sutoyo, memberi perintah.


"Baik, Bos!" Jawab Gunadi.

__ADS_1


"Sebaiknya, kita lebih waspada lagi mulai saat ini Bram, Anak Sanusi semakin menggila, kantor kepolisian pusat aja dia berani hancurkan, apalagi kita. Dia pasti gak segan segan menghancurkan kita!" Ujar Sutoyo, dengan wajah yang serius.


"Ya, aku akan tetap bersembunyi untuk sementara waktu." ujar Bramantio.


__ADS_2