VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Identifikasi Korban


__ADS_3

Pintu ruang kerja Andre di ketuk, andre yang sedang tercenung duduk di kursinya tersadar dari lamunannya karena mendengar suara ketukan pintu.


"Ya, masuk." ujar Andre, menoleh ke pintu masuk ruang kerjanya.


Tak berapa lama, pintu terbuka, lalu, masuk seorang petugas kepolisian berjalan mendekati Andre yang masih duduk di kursi kerjanya.


"Ada apa?" tanya Andre, menatap tajam wajah Petugas Polisi yang berdiri di hadapannya.


"Lapor, Pak. Ada dua orang yang ingin bertemu dengan Bapak. Mereka sekarang sedang menunggu di ruang tunggu." ujar Petugas Polisi, memberikan laporan pada Andre.


"Siapa mereka?" tanya Andre, dengan wajah yang heran menatap tajam wajah petugas kepolisian itu.


"Beliau menyebut dirinya Wicak, Pak." ujar Petugas Polisi.


"Wicak?! Oh, baiklah. Kamu boleh pergi." ujar Andre.


"Baik, Pak." ucap Petugas Polisi, mengangguk hormat.


Petugas Polisi lalu berbalik badan dan berjalan pergi keluar dari dalam ruang kerja meninggalkan Andre.


Andre yang mendengar nama Wicak tahu, bahwa yang datang menemui dirinya saat ini tak lain dan tak bukan adalah Pak Wicaksono, Pemimpin gank Mafia terbesar dan orang tua angkat Gavlin.


"Pasti beliau datang ingin memastikan tentang Gavlin." Gumam bathin Andre.


Andre lalu menghela nafasnya, kemudian, Dia cepat berdiri dari duduknya di kursi dan berjalan keluar dari dalam ruang kerjanya untuk menemui Wicaksono yang sedang menunggunya.


Di ruang tunggu khusus tamu di kantor kepolisian, terlihat Wicaksono duduk santai di sebuah bangku yang tersedia di ruangan itu. Dia datang bersama Chandra, yang duduk diam di sampingnya.



Tak berapa lama kemudian, datang Andre ke ruangan tersebut, Dia melihat Wicaksono dan Chandra sedang duduk di bangku tunggu menunggu dirinya. Andre menghela nafasnya, sebenarnya dia berat untuk menemui mereka berdua, karena Dia tak mau di tanyain soal Gavlin.


Namun, karena keduanya sudah datang ke kantornya, dan Petugas Polisi juga sudah mengatakan kalau dia ada diruangannya, mau tak mau, Dia harus menemui Wicaksono dan juga Chandra.


Andre berjalan gontai menghampiri Wicaksono dan Chandra, Chandra melihat kedatangan Andre yang berjalan mendekati mereka berdua, Chandra langsung berdiri dari duduknya. Wicaksono melihat ke arah Andre, dia juga ikut berdiri karena melihat kedatangan Andre.


"Apa kabar, Chan? Pak Wicak?" tanya Andre, sambil menyalami Wicaksono dan Andre secara bergantian.


"Kabar baik." jawab Wicaksono dan Andre, hampir bersamaan.


"Ndre, Apa benar, Pesawat yang ditumpangi Gavlin membawa Binsar pulang ke negara ini meledak saat terbang ?!" Ujar Chandra, menatap tajam wajah Andre yang berdiri dihadapannya.


Chandra langsung bertanya pada Andre, untuk memastikan kabar yang baru saja dia terima dan dia dengar, tentang musibah meledaknya sebuah pesawat di negara Prancis.


Bukan Chandra yang pertama kali mendengar musibah pesawat itu, tapi Wicaksono. Sebagai pemimpin gank Mafia nomor satu dan sangat terkenal hingga ke manca negara, Wicaksono memang sebelumnya secara diam diam meminta bantuan pada rekan gank mafia yang dia kenal di negara Prancis untuk memantau Gavlin selama mengejar Binsar di sana.


Ketua Gank Mafia di Prancis tersebut sangat segan pada Wicaksono, karena itu, secara diam diam, dia melakukan apa yang di perintahkan Wicaksono, yaitu mengawasi Gavlin secara diam diam dan tanpa diketahui siapapun termasuk Gavlin.

__ADS_1


Dari rekan gank Mafianya itulah Wicaksono mendapat kabar tentang matinya Acheel, ketua gank mafia 'De Brain' saat terjadinya perang antar gank mafia bersama gank mafia 'Seira Costa' pimpinan Aamauri, yang juga di kenal baik oleh Wicaksono, sebab, dulu, mereka pernah bertemu muka saat menjalani bisnis ilegal mereka dalam jual beli senjata api.


Dan dari rekan gank mafianya juga, Wicaksono mendapat kabar, bahwa pesawat yang membawa Binsar dan Gavlin meledak dan hancur berkeping keping. Itu sebabnya, Wicaksono memberitahu Chandra.


Lalu, bersama Chandra dia datang ke kantor polisi menemui Andre, untuk memastikan kebenaran tentang kematian Gavlin.


"Apa benar, Gavlin mati dalam pesawat itu?" tanya Wicaksono, menatap tajam wajah Andre.


"Belum tau, Pak. Saya belum mendapat kabar lagi. Menurut laporan, mayat yang baru bisa di indentifikasi hanya mayat pilot pesawat, sementara, satu mayat lagi belum teridentifikasi jati dirinya." ujar Andre, mencoba memberi penjelasan pada Wicaksono dan juga Chandra.


"Sebenarnya, kamu dan Gavlin punya ikatan janji apa? Mengapa pesawat yang ditumpangi Gavlin saat membawa Binsar bisa meledak saat terbang?" tanya Wicaksono, menatap tajam wajah Andre.


"Saya dan Gavlin membuat kesepakatan, Dia harus membawa Binsar kembali ke sini, lalu, saya bilang, dia boleh membunuh Binsar setelah tiba di sini, dan Gavlin membuat syarat saat menyetujui permintaan saya, agar membebaskan kalian berdua, itu saja Pak." ungkap Andre, menjelaskan pada Wicaksono.


"Apa ada yang membajak pesawat dan mensabotasenya, sehingga pesawat sengaja di buat meledak? Agar Gavlin dan Binsar mati bersama sama di dalam pesawat?!" tanya Chandra, menatap tajam wajah Andre.


"Entahlah , semua itu mungkin saja terjadi, tapi yang jelas, pihak kepolisian Prancis sedang menyelidiki kasusnya. Dan sampai detik ini masih mengidentifikasi korban yang tak dikenal itu." ujar Andre, serius memberi tahu Wicaksono dan juga Chandra.


"Apa hanya ada dua korban saja di dalam pesawat?" tanya Wicaksono pada Andre.


"Ya, menurut laporan yang saya terima begitu, Pak." ujar Andre, menatap serius wajah Wicaksono yang berdiri didepannya.


"Kalau benar Gavlin membawa Binsar ke dalam pesawat, pastinya di dalam pesawat itu ada tiga orang, selain Gavlin dan Binsar, ada Pilot pesawat. Dan mayat yang ditemukan salah satunya sang Pilot pesawat, lalu, Apakah mayat yang belum diketahui siapa itu adalah Gavlin atau Binsar?!" ujar Wicaksono, berfikir keras.


"Belum bisa dipastikan, Pak. Masih menunggu kabar, karena, Pihak kepolisian Prancis sedang mengidentifikasinya hingga saat ini


" Jelas Andre.


"Iya, Pak. Saya berharap, Gavlin gak mati dalam ledakan pesawat itu." ujar Chandra, dengan raut wajah menahan kesedihannya.


"Ya. Kita tunggu saja kabarnya." ujar Wicaksono, menenangkan Chandra.


"Baiklah Pak Andre, kami permisi dulu, maaf sudah mengganggu waktu kerja anda." ujar Pak Wicaksono pada Andre.


"Tidak apa, Pak. Nanti, jika ada kabar dan hasilnya, akan saya kabari pada Bapak langsung, dan juga sama kamu , Chan." ujar Andre, menatap lekat wajah Wicaksono dan Chandra yang berdiri di hadapannya.


"Baiklah, Aku tunggu kabarmu, Kamì permisi." ujar Chandra.


"Ya." Angguk Andre.


Lalu, Wicaksono dan Chandra berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan ruangan tersebut. Andre memandangi kepergian mereka berdua, dia menghela nafasnya dengan berat.


"Bukan hanya kalian saja, Aku juga gak ingin Gavlin tewas dalam pesawat itu." Bathin Andre bicara.


Andre lantas berjalan meninggalkan ruangan tersebut untuk kembali ke ruang kerjanya lagi.


---

__ADS_1


Sementara itu, di kamar Jenazah, terlihat Gavlin yang menyamar datang bersama Indri dan juga Rifai. Mereka datang untuk memastikan mayat yang tidak di kenal tersebut.


Atas usaha Rifai yang bicara dengan pihak kepolisian, mereka di izinkan untuk keruang jenazah dan melihat mayat serta di izinkan untuk mengidentifikasinya.


Rifai menjelaskan bahwa salah satu korban dalam pesawat adalah keluarga mereka, karena itu mereka datang untuk memastikannya, sebab, alasan Rifai berbohong pada polisi Prancis, mereka tahu, kalau keluarganya pergi dengan menggunakan pesawat tersebut, karena mereka yang mengantarkannya. Karena percaya pada Rifai, dan Rifai bisa meyakinkan polisi, akhirnya mereka di izinkan melihat mayat tersebut.


Gavlin dan Indri serta Rifai berdiri disamping mayat yang terbaring di atas tempat khusus Jenazah saat dilakukan autopsi.


Secara perlahan, Tangan Gavlin membuka kain putih yang menutupi seluruh tubuh mayat tersebut. Wajahnya tegang, dia cemas, kalau kalau mayat itu adalah Malik.


Disampingnya, Indri berdiri sambil merangkul dan menggenggam tangan Gavlin yang satunya, Indri mengelus elus lembut tangan Gavlin yang digenggamnya, memberikan ketenangan buat Gavlin agar tidak cemas.


Perlahan lahan, kain putih yang menutupi seluruh tubuh mayat mulai di buka Gavlin. Perlahan lahan wajah mayat mulai terbuka. Dan setelahnya, Gavlin membuka kain putih sampai ke dada mayat tersebut.


Gavlin terhenyak syock melihat mayat yang ada dihadapannya, dia terdiam sesaat, dan wajahnya masih tegang, Indri juga melihat mayat tersebut.


"Di...Dia bukan Malik...ta...pi...Binsar." ujar Gavlin.


Gavlin menghela nafasnya, dia lega karena ternyata mayat tersebut bukan Malik, melainkan Binsar, musuh besarnya selama ini.


"Apa Bapak mengenali mayat ini?" tanya Seorang Polisi yang menemani Gavlin , Polisi itu ada diruang jenazah bersama Dokter forensik yang mengautopsi mayat korban ledakan pesawat tersebut.


"Ya, Pak. Saya yakin, Dia Binsar, saya kenal beliau. Dia memang ada di dalam pesawat itu bersama saudara saya, Malik." ujar Gavlin, menjelaskan dengan wajah tegang dan seriusnya.


"Baiklah. Kalau begitu, kami akan mencatat dan mendata keterangan Bapak, bahwa mayat ini sudah di kenal sebagai Binsar." ujar Petugas Polisi pada Gavlin.


"Ya, Pak." ujar Gavlin.


"Terima kasih sudah mengizinkan kami memastikan mayat ini, Pak. Kami izin meninggalkan ruangan ini." ujar Rifai pada petugas Polisi dan juga Dokter Forensik.


"Ya, Pak." Jawab Petugas Polisi dan Dokter Forensik secara bersamaan.


Lalu, Gavlin dan Indri serta Rifai berbalik badan dan bergegas berjalan pergi keluar dari ruangan kamar jenazah itu.


---


Singkatnya, Gavlin dan Rifai juga Indri sudah berada didalam mobil, Gavlin duduk di depan ,disamping Rifai yang menyetir mobilnya, dan Dia sudah melepaskan penyamarannya tadi, sementara Indri duduk di jok belakang mobil. Sesaat kemudian, mesin mobil dinyalakan, lalu, Rifai segera menjalankan mobilnya. Mereka pergi dari lokasi itu.



Di sepanjang jalan, tampak wajah Gavlin masih tegang, dan dia sedang berfikir keras saat ini, Indri yang duduk di jok belakang memperhatikan Gavlin yang diam berfikir itu.


"Kamu kenapa, Vlin?" tanya Indri.


"Aku masih mikirin Malik. Kalo dua mayat yang ditemukan itu Pilot pesawat dan juga Binsar, lantas, kemana mayat Malik?! Mengapa sampai detik ini, mayatnya atau potongan tubuhnya belum juga ditemukan, kalo Malik benar benar melakukan bom bunuh diri dalam pesawat itu?!" Ujar Gavlin , menjelaskan pada Indri dan Rifai yang terus menyetir mobilnya.


"Apa mungkin mayatnya terpental agak jauh dari lokasi jatuhnya pesawat? Atau, Apa mayatnya jatuh kelaut, atau kejurang mungkin saat pesawat meledak dan tubuhnya terpental keluar dari dalam pesawat?!" ujar Indri, mencoba mengira ngira.

__ADS_1


"Gak mungkin, In. Pihak kepolisian sudah mengevakuasi semua lokasi, mereka juga sudah menyusuri jurang dan lembah serta bukit dan sungai yang ada di dekat lokasi jatuhnya pesawat itu, tapi, mereka memang belum menemukan mayat Malik hingga saat ini." Jelas Rifai , menjelaskan, sambil tetap serius dan focus menyetir mobilnya.


Gavlin diam tak menanggapi perkataan Rifai, yang benar itu. Dia masih terus memikirkan Malik, mengapa dan kemana mayat Malik menghilang?


__ADS_2