VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Sementara, Lolos dari Maut yang Mengancam


__ADS_3

Samsudin hendak turun dari atas ranjangnya, Istrinya yang juga terbangun karena kaget dengar suara ledakan di sekitar rumahnya mencegahnya.


"Kamu mau kemana, Pah?" tanya Istri Samsudin, dengan wajah yang tegang dan takut serta cemas.


"Aku mau liat, diluar ada apa." ujar Samsudin.


"Hati hati, Pah. Aku takut, ada yang sengaja menyerang dan mencoba menghancurkan rumah kita." ujar Istri Samsudin, dengan wajah takutnya.


"Kamu tenang aja, tetap di dalam kamar, aku keluar sebentar, nanti aku ke sini lagi nemui kamu." ujar Samsudin, mencoba menenangkan diri Istrinya.


"Iya, Pah." Angguk Istri Samsudin, dengan wajah yang masih penuh dengan rasa khawatirnya.


Samsudin lantas bergegas turun dari atas ranjangnya, dia lalu berjalan cepat keluar dari dalam kamarnya.


Samsudin keluar dari dalam kamarnya, dia melihat, para penjaga yang ada di dalam ruangan rumahnya tampak sedang sibuk berlari lari dan bersembunyi sambil memegang senjata ditangannya masing masing.


Samsudin berjalan dan menghampiri salah seorang penjaga yang tengah bersembunyi di balik tembok pembatas ruangan rumah Samsudin.


"Ada apa? Apa yang terjadi di luar?!" tanya Samsudin, dengan wajah tegang dan penasarannya.


"Kita di serang Pak. Rumah Bapak di bom." jelas Seorang penjaga keamanan rumah Samsudin.


"Di bom? Siapa Pelakunya?!" tanya Samsudin, dengan wajah syock dan kagetnya.


"Belum tau, Pak. Kami belum liat siapa pelakunya, sepertinya dia menembak dari tempat yang tersembunyi yang tidak bisa kami liat." ujar Penjaga keamanan.


Samsudin terdiam, seorang penjaga keamanan yang datang dari luar rumah Samsudin menghampiri Samsudin yang sedang bersama penjaga keamanan.


"Sebaiknya Bapak segera pergi dari sini bersama Keluarga Bapak!" tegas Mino, pimpinan penjaga keamanan rumah Samsudin.


"Kenapa?!" tanya samsudin heran.


"Ini berbahaya, Pak. Rumah Bapak berusaha dihancurkan dengan menggunakan bom roket, pelakunya bersembunyi ditempat yang tak terlihat." jelas Mino.


"Kami masih mencari pelakunya, sebaiknya Bapak segera mengungsi, karena, orang itu pasti sengaja memburu Bapak." tegas Mino.


"Oh, baiklah." ujar Samsudin.


"Antar Bapak keluar dari arah belakang rumah, pergi segera ke seberang jalan, di sana sudah ada mobil yang menunggu Bapak pergi dengan keluarganya." ujar Mino, pada penjaga keamanan.


"Siap, laksanakan!" ujar Penjaga Keamanan.


"Ayo, Pak." ujar Penjaga Keamanan.


"Tunggu, Saya bilang istri saya dulu." ujar Samsudin.


"Ya." Angguk Penjaga Keamanan mengiyakan.


Lantas, Samsudin bergegas pergi menuju ke kamarnya, sementara Mino kembali keluar dari dalam rumah Samsudin. Penjaga Keamanan berdiri di ruang tengah dekat kamar Samsudin, menunggu kedatangan Samsudin bersama Istrinya.


---


Dari tempat persembunyiannya, Gavlin terus menembakkan bom roketnya, dia bertekat ingin menghancurkan rumah Samsudin dan juga diri Samsudin. Tak ada waktu lagi buatnya untuk berlama lama, dia harus segera menyelesaikan balas dendamnya dan membunuh Samsudin, lalu segera mengejar Binsar, musuh utama dirinya, otak dan dalang yang membuat Bapaknya mati terbunuh.


Dengan wajah geram dan penuh amarahnya Gavlin terus menembakkan senjata bom roketnya ke arah rumah Samsudin, para petugas penjaga keamanan terpontang panting, diantaranya, ada beberapa penjaga keamanan yang mati terkena ledakan dari bom roket yang di luncurkan Gavlin.


Di dalam rumah, Samsudin keluar bersama dengan istrinya sambil membawa tas koper kecil berisi pakaian ganti mereka. Wajah Istri Samsudin tegang dan ketakutan.

__ADS_1


"Kita mau kemana Pah?" tanya Istri Samsudin, dengan wajah bingung dan takutnya.


"Pergi ngungsi, sementara waktu kita gak akan tinggal di sini, sampai situasi aman dan tenang kembali." ujar Samsudin.


"Sebenarnya, apa yang terjadi, Pah? Dan Bagaimana nanti Jika Yanuar, anak kita tiba tiba datang bersama istri dan anak anaknya, tapi kita gak ada dirumah ini?!" ujar Istri Samsudin bertanya.


"Ada yang mau membunuhku dan sengaja ingin menghancurkan rumah kita, makanya, kita harus segera pergi, kalo tetap di sini, kita bisa mati konyol!" tegas Samsudin, menatap tegas wajah istrinya yang penuh rasa takut dan cemas itu.


"Yanuar nanti aku kabari, agar jangan dulu datang main ke rumah kita untuk sementara waktu!" ujar Samsudin.


"Ya, Pah." Angguk Istri Samsudin, menurut perkataan Samsudin.


"Mari, Pak. Kita pergi sekarang." ujar Petugas keamanan.


Bom roket meluncur dan menghantam salah satu bangunan rumah Samsudin lagi, seluruh tembok ruangan bergetar, Samsudin, Istrinya dan juga petugas keamanan limbung karena getaran ledakan bom roket, wajah Istri Samsudin semakin takut, begitu juga dengan Samsudin, dia mulai panik.


"Gila ! Dia terus menembakkan bom ke rumah ini!!" ujar Samsudin, dengan wajah tegangnya.


"Ayo, cepat Pak. Kita pergi dari sini." ujar penjaga keamanan.


"Ya, ayo Ma." ujar Samsudin, mengajak istrinya pergi.


Samsudin beserta istri dan penjaga keamanan segera pergi, mereka berjalan ke arah belakang rumah, dari belakang rumahnya Samsudin berusaha untuk lari dan menyelamatkan dirinya.


Sementara itu, Gavlin yang geram dan marah tak puas menembakkan bom roketnya, dia lantas keluar dari persembunyiannya, Gavlin berdiri ditengah tengah jalan, tepat di depan rumah Samsudin, lalu, dia melepaskan bom roket kembali ke arah rumah Samsudin.


Kali ini, Bom roket menghancurkan dan meruntuhkan bangunan rumah Samsudin yang berlantai tiga, tembok bangunan rumah runtuh dan hancur berantakan. Rumah Samsudin porak poranda.


Gavlin lantas menyimpan senjata bom roketnya ke dalam bagasi mobilnya. Gavlin datang dengan menggunakan mobil baru, mobil itu sengaja dia beli lagi, untuk mempermudah pergerakan dan menjalankan aksi balas dendamnya.


Dengan mobil barunya itu, Gavlin jadi lebih leluasa bergerak dan membawa banyak senjata senjata di dalam bagasi mobil barunya.


Gavlin lantas bersembunyi di balik tembok pintu pagar masuk ke dalam rumah Samsudin, dari tempat persembunyiannya dia mengintai dan mengamati ke dalam rumah, dia melihat banyak penjaga yang tengah bersembunyi dan bersiap siap sambil memegang senjatanya. Gavlin tersenyum sinis melihat para penjaga yang bersembunyi dan menunggu kedatangannya.


Gavlin pun lantas menyiapkan senapan mesinnya, lalu, dengan cepat, dia keluar dari tempat persembunyiannya, Gavlin lalu melemparkan granat granat yang diambilnya dari dalam tas pinggangnya. Di lemparkannya granat tersebut ke arah tempat para penjaga yang bersembunyi. Ledakan bom granat, membuat banyak para penjaga terpental mati kena ledakan.


Gavlin lantas membabi buta menembakkan senapan mesinnya ke arah para penjaga, para penjaga gelagapan dan kaget, mereka pun lantas mencoba memberi perlawanan, aksi tembak menembak pun terjadi antara Gavlin dan puluhan penjaga keamanan rumah Samsudin.


Sebuah peluru berhasil mengenai Gavlin, peluru melesat dan menghantam dada Gavlin, Gavlin terjajar ke belakang, dia meringis menahan sakitnya, namun, Gavlin tak apa apa, tak ada luka sedikit pun di dadanya.


Kali ini, Gavlin ternyata memakai baju anti peluru, agar dia tak terkena tembakan di tubuhnya, karena memakai baju anti peluru, Gavlin selamat, dan peluru tidak bisa menembus dan melukai tubuhnya.


Gavlin terus melepaskan tembakannya, Gavlin terus menembakkan senapan mesinnya pada para penjaga, banyak penjaga penjaga yang tewas terkena tembakan peluru dari senapan mesin Gavlin. Para penjaga keamanan kewalahan menghadapi Gavlin,yang menggunakan senapan mesin, sementara mereka hanya menggunakan pistol.


Di sisi lain, tepatnya di halaman belakang rumah, Samsudin beserta istri dan penjaga keamanan mendekati sebuah tangga yang ada di tembok pembatas rumah.


"Cepat naik, Pak. Di samping tembok ini, sudah ada mobil yang menunggu Bapak dan Ibu untuk pergi." jelas Penjaga keamanan.


"Kamu yakin?!" tanya Samsudin.


Samsudin ragu memanjat tangga dan melompat ke balik tembok rumahnya itu, dia menatap tajam wajah penjaga keamanan, penjaga keamanan meyakinkan Samsudin.


"Percayalah, Pak. Pak Mino tadi kan bilang, kalo ada mobil yang sudah menunggu bapak di samping rumah ini." ujar Penjaga keamanan.


"Kalo Bapak dan Ibu gak cepat pergi sekarang juga, saya khawatir keselamatan nyawa Bapak dan Ibu." tegas penjaga keamanan.


Samsudin terdiam dan berfikir sesaat, lalu dia melihat istrinya yang terlihat sangat ketakutan dan cemas itu, Samsudin mendekatinya.

__ADS_1


"Bagaimana, Ma? Kamu bisa naik ke tangga ini?" ujar Samsudin, bertanya pada istrinya.


"Ya, ayo cepat, Pah. Aku gak mau mati, cepat kita pergi dari sini." ujar Istri Samsudin, dengan wajah yang penuh rasa takut dan khawatirnya.


"I...iya...kita pergi." ujar Samsudin, gugup melihat istrinya yang panik dan cemas itu.


Lalu, Samsudin cepat naik ke tangga yang ada di tembok pembatas rumahnya itu, lalu, dia segera melompat keseberang pembatas tembok, ke samping rumahnya. Lalu, Istri Samsudin pun naik ke tangga, dia juga melompati tembok pembatas rumahnya. Setelah Samsudin dan istrinya berhasil pergi, lalu penjaga keamanan juga menaiki tangga dan melompat dari tembok pembatas rumah ke samping rumah Samsudin.


Di samping rumah Samsudin, tepatnya sebuah tanah kosong, Samsudin dan istrinya berdiri dan melihat ada sebuah mobil yang sudah terparkir.


Seorang Supir yang sudah menunggu dari tadi segera menghampiri Samsudin dan istrinya beserta penjaga keamanan.


"Ayo, cepat masuk ke dalam mobil, Pak." ujar Supir.


"Iya, Ayo Ma." ujar Samsudin, mengajak istrinya.


Lalu, Samsudin bersama istrinya segera berjalan mendekati mobil, penjaga keamanan mengikutinya, mereka lantas masuk ke dalam mobil, Samsudin dan istrinya duduk di jok belakang, istri Samsudin memegang erat tas berisi pakaiannya, tas berisi pakaian diletakkanya di pangkuannya , sementara penjaga kemanan duduk di jok depan, di samping supir.


Tak berapa lama, mobil pun segera pergi meninggalkan tempat tersebut, dari dalam mobilnya, Samsudin masih bisa melihat kobaran api dari ledakan rumahnya terlihat, Samsudin wajahnya semakin tegang dan takut melihat rumahnya terbakar dan meledak.


Sementara itu, Gavlin terus melancarkan serangannya, dengan penuh amarah dia menghajar para penjaga keamanan dengan senapan mesinnya. Tak ada satu orang pun yang selamat dari tembakan Senapan mesin Gavlin. Seluruh penjaga keamanan dirumah Samsudin tewas, terkena tembakan.


Gavlin lalu cepat masuk ke dalam rumah Samsudin yang sudah hancur porak poranda, wajah Gavlin tampak sangat marah sekali.


"Samsudiiiiinnn... Keluuuaaarr kaaammmuu!!" teriak Gavlin.


Dengan penuh amarah Gavlin menembakkan senapan mesinnya keseluruh ruangan, penjaga keamanan yang masih ada di dalam ruangan terkena tembakan dari senapan mesin Gavlin, lalu tewas terkapar di lantai ruangan rumah Samsudin.


Ada seorang penjaga yang tidak mati, namun terluka parah akibat terkena senapan mesin Gavlin, Gavlin pun lantas segera mendekatinya, Gavlin berdiri didepan penjaga yang terluka parah itu.


"Dimana Samsudin?!! Cepat bilang!!" Bentak Gavlin, sambil mengarahkan senapan mesinnya pada Penjaga Keamanan yang terluka parah.


"Di...Dia...sudah melarikan diri dari belakang rumah ini, memakai mobil, yang sudah disiapkan sebelumnya." ujar Penjaga Kemananan terbata bata menahan rasa sakitnya.


"Keparaaaattt !!" Geram Gavlin penuh amarah.


Lalu, Gavlin pun menembakkan senapan mesinnya pada Penjaga Keamanan yang terluka parah itu, Penjaga Keamanan seketika mati terkapar di lantai, akibat di berondong peluru dari senapan mesin Gavlin.


Dengan dinginnya Gavlin membantai penjaga keamanan itu, lalu, Gavlin bergegas pergi keluar dari dalam rumah Samsudin yang sudah hancur lebur dan porak poranda itu.


Wajahnya tampak geram dan marah, karena Samsudin berhasil melarikan diri dari kejarannya, dia berdiri tepat di tengah halaman rumah Samsudin.


"Aaaaaarrrrggggghhhhhh!!" Gavlin berteriak sekeras kerasnya.


Dia melampiaskan amarahnya dengan berteriak kuat dan keras, karena merasa gagal menangkap Samsudin.


Dengan wajah penuh amarah Gavlin lantas bergegas jalan keluar meninggalkan rumah Samsudin, dia berjalan cepat menuju mobilnya untuk mengejar Samsudin.


Di dalam mobil, Samsudin sesekali menoleh kearah belakang mobil, melihat ke jalanan, wajahnya terlihat masih tegang dan cemas, sementara istrinya hanya duduk diam saja.


"Apa kita udah aman?" tanya Samsudin, dengan wajah tegang dan cemasnya.


"Saya gak tau, Pak. Mudah mudahan saja kita aman sekarang." ujar Penjaga Keamanan.


Samsudin pun lantas diam, supir terus menyetir mobilnya, mobil melaju di jalan raya dengan kecepatan tinggi.


Sementara itu, Gavlin masuk ke dalam mobilnya, dia meletakkan senapan mesinnya ke jok depan, disampingnya, lalu, dia segera menyalakan mesin mobil.

__ADS_1


Tak berapa lama, mobil pun melesat pergi meninggalkan rumah Samsudin, wajah Gavlin tampak sangat marah sekali menyetir mobilnya. Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi menyusuri jalan raya.


__ADS_2