VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Ada Apa Denganmu , Vlin ?


__ADS_3

Di dalam kamar hotelnya, Gavlin sedang memasukkan pakaian pakaiannya ke dalam tas kopernya, Malik hanya berdiam mengamati Gavlin, dia berdiri di samping ranjang.


"Kamu benar benar mau tinggal di rumah yang di kasih Bos, Vlin?" ujar Malik, bertanya pada Gavlin.


"Iya, Lik. Aku pikir, aku lebih nyaman dan leluasa jika tinggal dirumah itu dari pada di kamar hotel ini." ujar Gavlin, sambil terus memasukkan pakaian pakaiannya ke dalam tas kopernya.


"Kalo kamu merasa gak nyaman di hotel ini, aku bisa carikan hotel lain yang lebih nyaman dari hotel ini." ujar Malik.


Gavlin lantas menutup tas kopernya, dia sudah selesai merapikan pakaian pakaiannya, Gavlin lantas berdiri di hadapan Malik.


"Bukan kamar hotelnya yang gak nyaman, Lik. Tapi, aku yang gak bisa bergerak dengan leluasa kalo di hotel terus." ujar Gavlin, menatap tajam wajah Malik.


"Maksudmu?" tanya Malik, menatap heran wajah Gavlin.


Malik tak mengerti sama sekali dengan apa yang dikatakan Gavlin kepadanya. Dia menatap heran wajah Gavlin yang tampak serius berdiri dihadapannya.


"Bagaimana pun aku harus secepatnya menangkap Binsar, dan, untuk itu, aku pasti akan membawa senjata senjataku dan mempersiapkan diriku." ujar Gavlin, mencoba menjelaskan pada Malik.


"Aku gak mungkin membawa banyak senjata senjata ke dalam kamar hotel, Lik. Pihak Hotel pasti melarangnya." tegas Gavlin.


"Jadi, saat Pak Aamauri menawarkan sebuah rumah untuk aku tempati selama aku di negara ini, aku langsung menerimanya, karena, dengan dirumah, aku lebih bebas dan leluasa menyiapkan senjata senjataku." ujar Gavlin, menjelaskan pada Malik.


"Oh, begitu." ujar Malik, mulai mengerti dan paham.


"Lagi pula, akan sangat boros kalo aku terus tinggal di hotel, aku gak tau, berapa lama aku tinggal di paris ini, jika aku terus di hotel, berapa duit yang akan aku habiskan? Walau aku mampu membayar biaya penginapan di hotel ini, tapi, aku gak mau menghambur hamburkan uangku begitu saja." jelas Gavlin, menatap serius wajah Malik yang berdiri dihadapannya.


"Ya, Vlin. Aku paham." Jawab Malik.


Gavlin lantas mengambil tas kopernya yang tergeletak di atas ranjang, lalu, di letakkannya tas koper di lantai kamar.


"Ayo, antar aku sekarang ke rumah itu, Lik." ujar Gavlin, sambil memegang tas kopernya.


"Ya, Vlin." Angguk Malik.


Lantas, mereka berdua pun segera pergi meninggalkan kamar hotel, Gavlin keluar sambil mendorong tas kopernya.


---


Sementara itu, di markas gank mafia "De Brain" , terlihat Binsar sedang bicara serius dengan Acheel, Ketua dari gank mafia tersebut.


"Pihak Aamauri sudah menghubungiku, dia setuju dengan harga yang aku tawarkan untuk senjata senjata itu." ujar Binsar, menatap serius wajah Acheel yang berdiri dihadapannya.


"Bagus, Pak. Kapan mau ketemuannya?" tanya Acheel.


"Lusa, di tempat pertemuan sebelumnya." ujar Binsar memberi tahu Acheel.


"Oh, baiklah." ujar Acheel.


"Kamu tolong nanti kerahkan anak buahmu untuk mendampingi dan menjaga kita berdua selama bertransaksi dengan Aamauri." ujar Binsar, dengan wajahnya yang serius menjelaskan.


"Aku yakin, orang yang berusaha menangkapku pasti akan mengintai aku lagi nantinya." lanjut Binsar.


"Lagi pula, aku kurang percaya dengan Aamauri, seperti ada hal yang mencurigakan dari omongannya di telepon." jelas Binsar, dengan wajahnya yang serius.


"Apa itu, Pak?" tanya Acheel, ingin tahu.

__ADS_1


"Sebelumnya Aamauri terlihat menolak harga beli yang aku tawarkan padanya untuk 20 senjata senjata, dia bersikeras dengan harga yang dia tentukan. Terus, Aamauri juga gak langsung mengatakan kapan akan bertemu lagi melanjutkan pembahasan transaksi jual beli senjata senjata itu." tegas Binsar, menjelaskan dengan serius.


"Lantas, sekarang, tiba tiba saja dia menelpon aku, dan dengan ramahnya bilang, kalo dia sepakat dengan harga yang aku tawarkan, lalu meminta langsung bertemu dan menentukan sendiri tempat pertemuannya." ujar Binsar, menjelaskan pada Acheel.


"Ya, kalo seperti itu, memang sangat mencurigakan, Pak." ujar Acheel.


"Karena itu aku minta kamu siapkan anak buahmu buat berjaga jaga, mana tau, tiba tiba aja hal buruk terjadi saat transaksi berjalan nanti, firasatku mengatakan, ada yang ganjil." jelas Binsar, dengan wajahnya yang serius menatap wajah Acheel yang berdiri dihadapannya.


"Baik, akan saya kerahkan anak buah saya nanti buat melindungi Bapak selama transaksi itu berjalan." ujar Acheel, serius menjelaskan pada Binsar.


"Ya." Angguk Binsar.


Binsar lantas berfikir, ada sesuatu hal yang mengganjel dalam dirinya, dia mencium ada suatu rencana yang di lakukan Aamauri, tapi dia belum bisa menebak atau mengetahui, rencana apa itu.


Sebagai penjahat profesional yang sudah puluhan tahun melakukan tindak kejahatan, Binsar sangat tahu sekali jika ada hal yang mencurigakan, dan bahaya, dia bisa membaca gerak gerik dan ucapan seseorang, Selain itu, firasatnya juga kuat. Binsar sudah sangat berpengalaman menghadapi banyak orang, jadi dia tahu, mana yang benar serius dan mana yang mencurigakan.


---


Gavlin tiba bersama Malik di rumah yang diberikan Aamauri untuk ditempatinya selama dia ada di negara Prancis dan mengejar Binsar.


Mereka berdua masuk ke dalam rumah, Gavlin berjalan masuk sambil mendorong tas koper ditangannya.


Saat mereka berada di dalam rumah, Gavlin terlihat wajahnya sangat senang sekali, karena di atas meja ruang tamu, sudah tergeletak dan tersusun rapi senjata senjata berbagai macam jenis.


"Pak Aamauri benar benar menepati janjinya, Beliau cepat menyediakan senjata senjata ini." ujar Gavlin, tersenyum senang.


"Buat si Bos, mudah aja mengadakan senjata senjata sebanyak ini, Vlin, karena salah satu bisnisnya kan menjual senjata senjata, bukan hanya di negara Prancis ini saja, tapi si Bos juga menjualnya sampe keluar negeri." ujar Malik, menjelaskan pada Gavlin.


"Ya, aku tau itu." ujar Gavlin, tersenyum senang.


Gavlin lantas melihat, di lantai, ada bungkusan kotak besar didekat meja, Gavlin mendekat dan membuka kotak tersebut dengan pisau belati yang selalu dibawanya.


"Waaah, pak Aamauri juga menyiapkan bahan bahan peledak ini. Bagus, dengan begitu, aku bisa langsung merakitnya." ujar Gavlin, dengan wajah senangnya.


"Vlin. Kamu tetap mau merakit bom ? Sebaiknya kamu urungkan niatmu itu, Vlin." ujar Malik, berusaha mencegah Gavlin agar tak membuat bom bunuh diri.


"Ini udah jalan yang aku pilih, Lik. Sorry, kamu gak bisa mencegahku." tegas Gavlin, sambil melihat pada bahan bahan peledak didalam kotak besar yang ada dilantai.


Mendengar perkataan Gavlin itu, Malik hanya bisa menghela nafas dan diam saja, dia tahu, tak ada gunanya berdebat dengan Gavlin, karena Gavlin akan tetap melakukan apa yang sudah dia niatkan dan rencanakan, dan tak ada yang bisa mencegah atau melarangnya, dan jika Malik memaksa agar Gavlin tidak merakit bom, pastinya Gavlin akan marah besar pada dirinya, dan akan terjadi keributan pada mereka berdua.


Malik memilih diam dan mengalah, namun, bukan berarti dia membiarkan saja Gavlin akan melakukan bunuh diri dengan bom rakitannya, diam diam, Malik tetap mencari cara yang aman, bagaimana agar dia bisa menghentikan perbuatan Gavlin nantinya.


Malik mengamati wajah Gavlin yang tampak sangat senang sekali melihat senjata senjata dari berbagai macam jenis di atas meja dan juga bahan bahan peledak yang ada di lantai ruang tamu. Malik menghela nafasnya dengan berat.


---


Beberapa hari kemudian, terlihat di sebuah gedung, ramai orang yang datang berkunjung, saat ini, tengah berlangsung acara pameran pakaian dari desainer Indri.


Para tamu yang hadir tampak sangat mengagumi pakaian pakaian yang di pajang diberbagai etalase yang ada di ruang gedung pameran tersebut. Acara gelaran pameran tunggal sangat ramai sekali dengan para pengunjung.


Di satu sisi ruangan, terlihat Indri dengan ditemani teman Pria nya sedang di wawancarai oleh para wartawan dan wartawati serta reporter, Indri bicara seputar pameran yang sedang dia laksanakan tersebut.


Diantara tamu yang datang menghadiri acara pameran tunggal Indri tersebut, tampak Gavlin juga hadir, dia berada ditengah tengah para pengunjung. Tak ada yang mengenali diri Gavlin, sebab dia datang dengan menyamar.


Gavlin menyamar sebagai Pria muda yang bertubuh gemuk, dengan perut buncitnya serta memakai kaca mata minus ala kutu buku, serta rambut ikal.

__ADS_1


Gavlin menyeruak diantara kerumunan para wartawan dan wartawati yang sedang mewawancarai Indri, dia berusaha melihat Indri lebih dekat lagi.


Beberapa saat kemudian, sesi wawancara selesai dilaksanakan, dan para wartawan serta wartawati dan reporter membubarkan diri masing masing, mereka semua pergi meninggalkan Indri bersama teman Prianya.


Hanya tinggal Gavlin sendiri saja, dia mengamati wajah Indri, terlihat Indri sangat puas dan lega, dia tersenyum penuh kebahagiaan, sebab, acaranya berlangsung lancar, dan dia senang, karena pakaian pakaian rancangan yang dia ikutkan dalam pamerannya itu di sukai para tamu yang hadir.


Gavlin tersenyum kecil melihat wajah Indri yang tampak senang dan bahagia itu, Gavlin lantas melangkahkan kakinya, berjalan mendekati Indri yang masih berdiri di dampingi teman Prianya.


"Selamat ya. Kamu udah sukses menggelar acara pameran tunggalmu." ucap Gavlin, tersenyum sambil menyodorkan tangannya pada Indri.


"Terima kasih." ujar Indri, tersenyum ramah, sambil menyambut uluran tangan Gavlin.


Indri tak mengenali Gavlin, sebab dia menyamar, mereka saling berjabatan tangan, tanpa disengaja, mereka berdua saling bertatapan mata. Jantung Indri berdegup saat melihat kedua mata Gavlin.


"Seperti matanya Gavlin." Gumam hati kecil Indri.


Indri cepat menepis dan membuang pikiran dan ingatannya akan Gavlin, Dia sadar, bahwa Pria gemuk yang berdiri dihadapannya bukan Gavlin, karena sosok dan wajah serta bentuk tubuhnya sangat berbeda dengan Gavlin.


"Akhirnya, apa yang kamu impikan tercapai, dan kamu sudah berhasil mewujudkan cita citamu menjadi desainer terkenal." ujar Gavlin tersenyum, memberi pujian pada Indri.


"Terima kasih." ucap Indri, tersenyum ramah.


"Silahkan di lanjut, Saya permisi." ucap Gavlin.


"Ya." Angguk Indri.


Lalu, Gavlin yang menyamar cepat berjalan pergi meninggalkan Indri dan teman Prianya. Indri memandangi kepergian Gavlin.


Saat Indri hendak berjalan, datang seorang gadis, gadis ini bertugas sebagai penerima tamu dalam acara pagelaran pameran desain pakaian Indri.


"Maaf, bu. Ada surat untuk ibu." ujar Gadis tersebut.


"Surat? Dari siapa?!" tanya Indri heran, sambil mengambil amplop berisi surat dari tangan sang Gadis.


"Katanya, namanya Gavlin, Bu." ujar Gadis tersebut memberi tahu Indri.


"Gavliiinnn?!!" Indri langsung tersentak kaget, mendengar perkataan sang Gadis.


"Dimana dia sekarang? Dan bagaimana ciri cirinya?!" ujar Indri, dengan wajah senangnya pada sang Gadis.


"Beliau sudah pergi dari gedung ini, Bu. Sosoknya bertubuh gemuk, rambut gimbal, dan berkaca mata minus serta perut yang buncit." jelas Sang Gadis.


"Haaa ?!! Dia Gavliiin?!!" Indri semakin tersentak kaget.


Indri syock, dia sama sekali tak menyangka, bahwa Pria gemuk yang tadi bicara dan memberikan ucapan selamat padanya ternyata Gavlin.


"Pantas tadi aku seperti meliat Gavlin dari tatapan matanya." Gumam bathin Indri.


Indri lantas diam mengamati amplop surat yang ada ditangannya, sang Gadis pergi meninggalkan Indri dan teman Prianya.


Wajah Indri terlihat sedih sekali, karena Gavlin tidak berusaha menemuinya dengan sosok aslinya dan malah menyamar lalu menitipkan surat untuknya.


"Mengapa kamu gak langsung menemuiku, Vlin. Aku sangat merindukanmu, aku sangat menantikan kehadiranmu." Gumam bathin Indri lirih.


"Mengapa kamu harus menyamar lalu pergi dengan menitipkan surat untukku, ada apa dengan dirimu, Vlin? Tidakkah kamu rindu padaku juga?!" ungkap bathin Indri bicara dengan lirih dan getir.

__ADS_1


Wajah Indri semakin sedih, dia lantas menghela nafasnya , berusaha menenangkan dirinya agar tak menangis.


Dia tak ingin menangis, dan para tamu yang hadir melihatnya menangis, itu akan merusak acaranya. Indri pun berusaha sekuatnya menahan dirinya agar tak menangis. Dia menyimpan amplop surat dalam tas kecilnya.


__ADS_2