VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Menjadikan Patung Lilin


__ADS_3

Dari dalam mobilnya, Gatot tampak mengamati Gunadi dan Rasid yang sedang berjalan keluar dari dalam kantor Polsek menuju mobil mereka yang di parkir di halaman kantor polsek.


Dengan cepat, Gatot keluar dari dalam mobil dan menghampiri Gunadi serta Rasid. Wajah Gatot tampak tegang dan marah.


Gatot memukul wajah Rasid hingga berdarah. Gunadi kaget, mencoba menghalangi Gatot, agar tak memukul Rasid.


"Hei, Hentikan !" bentak Gunadi, sambil menghalangi Gatot, agar tak memukul Rasid lagi.


"Biadab Kamu Rasid!! Kamu sengaja menjebak Teguh dan membunuhnya!!" bentak Gatot marah.


"Apa buktinya?!" Jangan asal tuduh aja !!" Hardik Rasid marah, sambil menyeka darah di bibirnya.


"Ini !! Ini buktinya!! Dari kertas catatan yang di tinggalkan Teguh, kamu orang terakhir yang bersama Teguh!!" Bentak Gatot.


Gatot menunjukkan secarik kertas tulisan tangan Teguh.


"Di pesan yang ditinggalkan Teguh padaku, mengatakan, bahwa dia dan kamu pergi kelokasi Jafar dan Bram!! Itu artinya, saat terakhir, kamu ada bersama Teguh!!" bentak Gatot, penuh amarah.


"Kamu gak bisa nuduh aku hanya berdasarkan kertas itu, Gatot!! Bisa saja, aku pergi ninggalin Teguh, dan Teguh sendirian datang kelokasi Jafar dan Bram!" Ujar Rasid sinis.


"Kamu bisa buktikan, kalo aku bersama teguh, di lokasi kejadian itu?!" Hardik Rasid sinis.


Gatot geram, dia menatap tajam wajah Rasid yang tersenyum sinis padanya, mata Gatot menyala merah, dia menahan amarahnya.


"Ayolah Gatot, kita sama sama petugas kepolisian, untuk apa bermusuhan? Lagi pula, kamu udah cek pistol yang di pakai buat nembak Teguh, dan di pistol itu, hanya ada sidik jari Teguh, kan?!" ujar Gunadi sinis.


Gatot geram mendengar perkataan Gunadi yang meremehkan dia.


"Ingat, Gunadi, dan kamu juga Rasid!! Aku akan menemukan bukti, dan aku akan menjebloskan kalian ke penjara!!" bentak Gatot, geram dan marah.


"Silahkan, jika ada buktinya! Tapi aku yakin, bukti itu gak bakalan pernah ada." ujar Rasid sinis.


Dia lantas mengajak Gunadi pergi, Gunadi pun mengikuti Rasid, mereka pergi meninggalkan Gatot sendirian.


Gatot tampak semakin geram dan marah, dia lantas segera masuk kembali ke dalam mobilnya, lalu, dia pun pergi.


---


Malam harinya, mobil Gatot masuk ke halaman rumahnya, lalu meluncur masuk ke dalam garasi mobil.


Sesaat kemudian, Gatot keluar dari dalam mobilnya, lalu dia berjalan ke arah teras rumahnya dengan langkah gontai.


Ada beban pikiran yang sangat berat dirasakan Gatot, ya, dia tengah berfikir, mencari cara untuk menjerat Gunadi dan Rasid.


Saat Gatot melangkah, tiba tiba, terdengar suara memanggil namanya.


"Om Gatot." Ujar Gavlin.


Gatot menghentikan langkahnya, dia lantas berbalik badan, dia melihat, Gavlin berdiri di tempat yang gelap tak ada cahaya lampu, disamping garasi mobilnya.


"Gavlin?" ujar Gatot.


Gavlin pun lantas keluar dari persembunyiannya, lalu, dia berjalan mendekati Gatot.


"Buat apa kamu datang ke sini?! Kamu tau? Kamu udah jadi buronan karena kegilaanmu!!" Hardik Gatot marah.


"Ya, Om. Aku tau." Ujar Gavlin, dengan sikap dingin dan kaku.


"Itu satu satunya cara yang bisa ku lakukan, sebab, aku tau, Gunadi dan Rasid di lindungi Sutoyo, sampai kapanpun mereka akan bebas, ga ada pilihan lain, selain membunuh mereka langsung di kantor polisi!" tegas Gavlin, menjelaskan.


"Ya, tapi bukan berarti kamu membantai semua petugas kepolisian!" tegas Gatot marah.


Gavlin diam tak membantah, karena dia tahu, dia salah, sebab, sudah membabi buta membantai seluruh anggota kepolisian.


"Aku juga marah sama Gunadi dan Rasid ! Aku juga tau, mereka gak mudah di tangkap! Semua bukti gak ada, aku yakin, sidik jari Rasid sudah di hilangkan dari pistol Teguh, yang dipakainya menembak Teguh!" Jelas Gatot.


"Om." ujar Gavlin.


"Ya, kenapa?" tanya Gatot.


"Izinkan aku yang menyelesaikan semuanya, biar aku yang membantai Gunadi dan Rasid, juga Sutoyo!" ujar Gavlin, dengan wajah yang serius.


Gatot terdiam, dia tampak berfikir sesaat, Gavlin menatap tajam wajah Gatot yang tengah berfikir itu.


"Sebenarnya, aku juga putus asa, aku tau, aku gak akan bisa menangkap Gunadi dan Rasid dengan memakai hukum kepolisian, karena mereka dilindungi Sutoyo! Apalagi, aku gak punya bukti kuat." ujar Gatot.


"Memang, satu satunya cara memberi pelajaran pada Gunadi dan Rasid lewat cara di luar hukum kepolisian." lanjut Gatot menjelaskan.


"Ya, Om. Biar aku yang mengadili mereka, dengan memakai hukum rimba." ujar Gavlin, dengan wajah serius.


"Aku sengaja datang ke sini, nemui Om, untuk mengatakan hal ini." jelas Gavlin.

__ADS_1


"Baiklah, Vlin, karena aku ingin Rasid dan Gunadi mendapat ganjaran karena membunuh Teguh, aku serahkan mereka padamu!" Tegas Gatot.


"Terima kasih, Om." ujar Gavlin tersenyum, senang.


"Aku pergi dulu, Om. Nanti aku temui Om lagi." ujar Gavlin.


"Kamu gak nemui Maya dulu? Dia gelisah, karena kamu gak ada kabar sejak kematian Teguh." ujar Gatot.


"Nanti saja Om, setelah urusanku dengan Gunadi dan Rasid beres, akan ku temui Maya. Sekarang, titip salam saja buat Maya." ujar Gavlin.


"Ya, nanti aku sampaikan pada Maya." ujar Gatot.


Gavlin pun lantas menyelinap pergi meninggalkan Gatot, setelah kepergian Gavlin, Gatot pun lalu masuk ke dalam rumahnya.


Gatot masuk ke dalam rumahnya dan berjalan ke arah ruang keluarga, Maya menghampirinya.


"Ayah ngobrol dengan siapa di luar? Maya dengar suara Ayah tadi kayak ngebentak gitu." ujar Maya.


"Gavlin, dia ke sini." ujar Gatot.


"Gavlin?" Ujar Maya senang.


Maya hendak pergi keluar rumahnya untuk menemui Gavlin, namun, tangannya di pegang Gatot, Gatot mencegah Maya.


"Gavlin udah pergi, May." Jelas Gatot, melepaskan pegangan tangannya di tangan Maya.


"Kok dia gak nemui aku? Ayah ribut sama Gavlin, terus mengusirnya pergi?!" Tanya Maya kesal.


"Nggak May, Ayah gak ribut, Gavlin memang buru buru, dia kirim salam buat kamu, katanya, setelah urusannya beres, dia akan menemui kamu." Jelas Gatot tersenyum.


Maya pun terdiam, lalu, dia menatap lekat wajah Ayahnya yang tersenyum padanya.


"Urusan apa yang sedang dijalani Gavlin?" tanya Maya, ingin tahu.


"Dia mau balas dendam atas kematian Teguh." jelas Gatot serius.


"Memang dia tau, siapa pembunuhnya?" tanya Maya, penasaran.


"Ya, Gavlin tau, pelakunya Gunadi dan Rasid, aparat kepolisian." tegas Gatot.


Mendengar perkataan Ayahnya, Maya pun lantas kaget, dia seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar baru saja.


"Ya, May. Dan mereka di lindungi, Ayah gak bisa menangkap mereka berdua, bukti bukti juga gak ada, jadi, Ayah gak bisa menjebloskan mereka berdua ke penjara!" tegas Gatot, memberi penjelasan.


"Ayah serahkan semuanya pada Gavlin, karena, Ayah juga ingin keadilan di tegakkan buat Teguh, Rasid dan Gunadi harus mendapat ganjaran yang setimpal, karena membunuh Teguh!" tegas Gatot geram.


"Dan, Gavlin mau membunuh mereka?" ujar Maya.


"Ya, May. Selain itu, Gavlin harus menghilang dan bersembunyi, karena dia sekarang jadi buronan utama kepolisian, dia target polisi!" Jelas Gatot, dengan tegas.


"Buronan ?! Kenapa?! Apa Polisi tau, bahwa pelaku pembunuhan yang terjadi selama ini ulahnya Gavlin?" tanya Maya cemas.


"Bukan, May. Gavlin mengamuk dan datang ke kantor kepolisian pusat, dia mencari Gunadi dan Rasid, Gavlin meledakkan gedung kantor." jelas Gatot.


"Selain itu, Gavlin ngamuk, membunuh aparat kepolisian yang ada di dalam gedung kantor kepolisian pusat." Lanjut Gatot, menjelaskan.


"Gavlin? Senekat itu?!" ujar Maya syock.


"Ya, Ayah juga gak nyangka, dia berani melakukan hal gila itu!" tegas Gatot.


"Karena itu dia di jadikan buronan kepolisian, karena aksinya tersebut." Tandas Gatot.


Maya pun terdiam, dia tak bisa berkata kata, dia tahu, Gavlin bertindak seperti itu, karena dia sangat marah atas kematian abangnya, Teguh, yang ditembak mati.


---


Rasid keluar dari rumah makan, dia baru selesai makan siang, Rasid berjalan santai menuju mobilnya yang parkir di halaman rumah makan.


Rasid tak menyadari, bahwa saat ini dua mata tengah mengintai dirinya. Rasid membuka pintu mobilnya, lalu, dia pun masuk ke dalam mobilnya.


Sepasang mata yang mengintai Rasid, milik Gavlin, tampak Gavlin, di samping dinding rumah makan berdiri melihat ke arah Rasid.


Wajahnya tampak geram dan marah, dia melihat, mobil Rasid bergerak dan berjalan pergi dari rumah makan.


Dengan cepat, Gavlin pun naik ke motornya dan memakai helmnya, lalu, Gavlin pun mengendarai motornya, dia mengejar mobil Rasid.


Di jalanan, Rasid santai menyetir mobilnya, dia tak tahu, jika di belakang, motor Gavlin mengikutinya.


Tampak Gavlin mengendarai motornya, lalu, dengan kecepatan tinggi, dia pun menyalip mobil Rasid.


Rasid kaget, dia langsung menginjak rem mobilnya, mobil Rasid pun berhenti, tepat di depan motor Gavlin yang berhenti di depannya dengan posisi menghalangi jalan.

__ADS_1


Dengan cepat, Gavlin turun dari mobilnya, dia mengambil pistol dari pinggangnya. lalu, Gavlin pun menembaki mobil Rasid.


Di dalam mobil, Rasid kaget dan takut, melihat Gavlin menembaki mobilnya. Gavlin sambil menembak, mendekati Rasid.


Lalu, dengan pistolnya, Gavlin memecahkan kaca jendela pintu depan mobil Rasid. Rasid pun kaget dan semakin takut.


"Keluar kamu!!" bentak Gavlin, penuh amarah membara.


Dengan ketakutan, Rasid mencoba diam diam mau mengambil pistolnya yang ada di pinggangnya, namun, Gavlin melihat gerakan tangannya.


"Jangan coba coba, keparat!! Sekali kamu ambil pistolmu, kepalamu akan di tembus peluru!!" bentak Gavlin, marah, sambil menodongkan pistolnya ke kepala Rasid.


Rasid pun takut, dia tak jadi mengambil pistol dari pinggangnya, lalu, dengan terpaksa dia pun keluar dari dalam mobilnya sambil mengangkat kedua tangannya.


Dengan cepat, Gavlin pantas mengambil pistol milik Rasid, Rasid sambil mengangkat kedua tangannya dan wajah pucat karena takut, berdiri di hadapan Gavlin.


Gavlin tampak geram, Rasid tidak bisa melihat wajah Gavlin, sebab, dia memakai helmnya yang menutupi seluruh wajahnya.


Tiba tiba, dengan cepat, Gavlin pun menghantamkan pistol ke belakang leher Rasid. Seketika, Rasid pun terkapar pingsan.


Dengan cepat, Gavlin mengambil karung besar yang sudah dia siapkan sebelumnya di dalam dashboard motor.


Lalu, dengan karung ditangannya, Gavlin memasukkan tubuh Rasid kedalam karung. Lalu, dia mengikat kuat ujung karung.


Gavlin lalu menggotong tubuh Rasid yang sudah di karunginya, di letakkannya di atas motornya, lalu, Gavlin mengikat karung berisi Rasid didalamnya dengan tali tambang.


Gavlin mengikat kuat karung ke motornya. Lalu, Gavlin naik ke motornya, lantas segera pergi dari tempat itu, membawa Rasid yang ada dalam karung.


---


Di dalam gudang besar dan luas milik Gavlin, atau Yanto. tampak Rasid terikat dan tergantung dengan posisi kaki berjinjit.


Gavlin berdiri menyeringai jahat, dihadapan Rasid. Rasid sadar dari pingsannya, dia kaget melihat Gavlin ada di depannya.


"Gavlin?!" Ujar Rasid kaget.


"Ya, aku Gavlin, aku akan membunuhmu, karena kamu telah membunuh abangku, Teguh!" Bentak Gavlin, marah.


Rasid pun terhenyak kaget, dia tak menyangka, Gavlin berhasil menangkapnya, wajahnya tampak sangat takut.


"Tolong, Vlin. Bukan aku yang bunuh, tapi Gunadi, dia yang membunuh Teguh!" ujar Rasid.


Rasid sengaja memfitnah Gunadi, untuk mencari selamat dirinya sendiri, dia berharap, dengan mengatakan Gunadi sebagai pembunuhnya, Gavlin percaya dan melepaskannya.


"Kalian sama sama membunuh Teguh!! Aku tau, kalian di perintahkan Sutoyo untuk membungkam Teguh, karena tau, dia abang aku, kan?!!" bentak Gavlin penuh amarah.


"Iya, Vlin, Iya. Sutoyo yang perintah, sebagai anak buahnya, kami gak bisa menolak !"jelas Rasid.


Gavlin diam, dia tak menanggapi perkataan Rasid tersebut, sebab, tanpa di jelaskan Rasid, dia sudah tahu semuanya.


Gavlin berjalan mendekati sebuah remote mesin katrol yang ada di sebuah tiang besi tebal di dalam gudang tersebut.


Tepat diatas Rasid, ada sebuah tong yang berukuran besar tergantung, tong itu berisi lilin panas, yang sudah di siapkan Gavlin sebelumnya.


Lalu, dengan sikap dingin, Gavlin pun menekan tombol remote mesin katrol. Seketika, tong besar yang ada di atas Rasid bergerak dan menumpahkan cairan lilin panas ketubuh Rasid.


Rasid pun berteriak kesakitan dan kepanasan, karena seluruh tubuhnya, dari ujung kepala hingga kaki, tersiram lilin panas.


Dengan tatapan mata dingin, Gavlin melihat Rasid yang kejang kejang meronta merintih kepanasan, dan teriak teriak.


Gavlin tak perduli, dia berdiri diam, Gavlin sangat menikmati pemandangan, dimana Lilin mengguyur tubuh Rasid, dan menutupi seluruh tubuh Rasid.


Gavlin menjadikan Rasid patung lilin hidup hidup, dia membunuh Rasid dengan cara sadis, menyiramkan lilin panas ke seluruh tubuh Rasid.


Tubuh Rasid melepuh, karena terkena panasnya cairan lilin yang mengenai kulit seluruh tubuhnya. Rasid pun meregang nyawa, karena tak tahan dengan rasa sakit akibat terkena siraman lilin panas.


Beberapa saat, tubuh Rasid sudah tak bergerak, lilin yang menyelimuti seluruh tubuhnya mulai mengering dan mengeras.


Gavlin mendekati tubuh Rasid yang sudah terbungkus dengan lilin. Dia mengamati seluruh tubuh Rasid, lalu, tersenyum sinis.


"Hanya tinggal memoles sedikit lagi, maka, kamu akan menjadi koleksi patung lilin terbaruku!" ujar Gavlin tersenyum sinis.


Dia lantas mulai mengambil peralataannya, kemudian, Gavlin pun mulai bekerja, memoles Rasid menjadi patung lilin dia berikutnya.


Rasid mati di bunuh Gavlin, dengan cara unik, membuatnya jadi patung lilin, secara langsung.


Gavlin menyalakan tape recorder yang ada di atas meja besar, terdengar alunan musik klasik dari tape tersebut.


Gavlin pun tampak sangat menikmati alunan irama dan lagu serta musik klasik dari tape recordernya.


Sambil mendengarkan musik, Gavlin mulai bekerja, merapikan lilin lilin yang membungkus seluruh tubuh Rasid.

__ADS_1


__ADS_2