VINDICTA ( BALAS DENDAM )

VINDICTA ( BALAS DENDAM )
Terluka Parah


__ADS_3

Gavlin menyetir mobilnya dengan kencang, di sampingnya, tampak Gatot sudah semakin lemas, dia terkulai lemah duduk di joknya. Gatot tak bisa bersandar di jok, karena punggungnya penuh dengan luka parah akibat di cambuk terus menerus.


"Om, bertahanlah, sebentar lagi kita sampai dirumah sakit." ujar Gavlin, dengan wajah yang cemas.


"Jangan kerumah sakit, bawa aku kerumahku." ujar Gatot, dengan suaranya yang sangat lemah.


"Tapi, Om. Om harus dirawat." tegas Gavlin, cemas.


"Ke rumah saja, tolong." ujar Gatot, dengan suara semakin lemah.


Gavlin pun diam, dia tak membantah, Gavlin pun akhirnya mempercepat laju mobilnya, kemudian, saat dia melihat ada putaran balik arah, dengan cepat, Gavlin membelokkan mobilnya.


Mobil Gavlin pun berputar balik arah, mobil lantas melaju cepat, menuju rumah Gatot. Sambil menyetir, sesekali Gavlin menoleh pada Gatot.


Gatot semakin melemah saja, tubuhnya lunglai, lemas tak berdaya, lalu, Gatot pun pingsan. Melihat Gatot pingsan, Gavlin pun tampak prihatin.


Gavlin menambah kecepatan mobilnya, dia pun menyetir mobil dengan sangat kencang, agar tiba lebih cepat dirumah Gatot.


---


Petugas kepolisian banyak yang datang ke lokasi bangunan runtuh dan belum jadi milik Wijaya yang terbengkalai sejak kematian Wijaya.


Petugas Kepolisian datang ke lokasi karena mendapatkan laporan, bahwa telah terjadi ledakan dan kebakaran di bangunan runtuh dan terbengkalai milik Wijaya.


Diantara Petugas Kepolisian yang datang, terlihat juga para petugas medis dengan ambulancenya di lokasi itu, dan juga tim Forensik, yang langsung bekerja menyelidiki lokasi tersebut.


Terlihat, Petugas Medis membawa tubuh Sutoyo di atas brankar dorong, seluruh tubuh Sutoyo terluka parah, dan penuh dengan luka bakar, dia sudah tak sadarkan diri.


Dengan cepat, Petugas Medis memasukkan tubuh Sutoyo yang sudah tak bergerak itu ke dalam mobil ambulance, lalu, segera menutup pintu mobil.


Setelah Petugas Medis masuk ke dalam mobil, dengan cepat, mobil ambulance pun pergi membawa tubuh Sutoyo yang penuh luka bakar tersebut.


---


Mobil Gavlin berbelok masuk ke pekarangan halaman rumah Gatot, lalu, mobil berhenti, tepat di depan halaman teras rumah.


Dengan cepat, Gavlin melepaskan sabuk pengamannya, lalu, dia bergegas keluar dari dalam mobilnya. Kemudian berlari ke arah samping mobilnya.


Gavlin membuka pintu depan mobil, di lepaskannya sabuk pengaman Gatot, lalu, dengan hati hati, dia menggotong tubuh Gatot yang pingsan, dan membawanya keluar dari dalam mobil.


Dengan cepat, Gavlin menggotong tubuh Gatot ke teras rumah, dia lantas berdiri di depan pintu masuk rumah Gatot.


"Maaay, buka pintuunya, cepaaat!!" teriak Gavlin, memanggil Maya.


Dari dalam rumahnya, Maya bergegas keluar kamar dan segera membuka pintu rumahnya. Melihat Gavlin menggotong tubuh Ayahnya, Maya pun kaget.


"Ayah ?! Kenapa Ayah, Vlin? Kenapa?" tanya Maya, dengan wajah yang panik dan khawatir.


Gavlin tak menjawab pertanyaan Maya, dia langsung masuk ke dalam rumah membawa tubuh Gatot.


Sebelum menutup pintu rumahnya, Maya melihat ke sekitar luar rumahnya, malam terlihat gelap dan sepi, tak ada orang yang lewat di depan rumahnya, Maya pun lantas menutup dan mengunci pintu rumahnya.


Gavlin meletakkan tubuh Gatot dengan posisi tengkurap di atas kasur, di dalam kamar Gatot, lalu, dengan pisau belatinya, dia merobek baju Gatot .


Dengan pelan dan hati hati, Gavlin melepaskan baju yang menempel di luka punggung Gatot. Maya masuk ke dalam kamarnya.


"Ayaaah?!" teriak Maya, histeris.

__ADS_1


Maya sangat syock, melihat seluruh punggung Ayahnya terluka parah dan berdarah.


"Apa yang terjadi dengan Ayahku, Vlin? Kenapa lukanya sangat parah?!" tanya Maya, menangis sedih.


"Sudah, cepat ambil obat !!" Ujar Gavlin.


Dengan cepat, sambil menghapus air matanya, Maya pun bergegas keluar dari dalam kamarnya, lalu, dia mengambil kotak berisi perlengkapan obat obatan P3K.


Dengan cepat, Maya berlari masuk kembali ke dalam kamar Ayahnya dengan membawa kotak obat obatan.


"Ini, Vlin!" ujar Maya, memberikan kotak obat pada Gavlin.


Dengan cepat, Gavlin mengambil kotak obat dari tangan Maya, di letakkannya kotak di samping Gatot, di atas kasur. Lalu, Gavlin membuka penutup kotak obat.


Dengan gerak cepat, Gavlin menuangkan botol berisi cairan alkohol ke seluruh punggung Gatot yang terluka parah.


Maya membantu Gavlin, dia memberikan kapas pembersih pada Gavlin, dengan kapas pembersih, Gavlin pun membersihkan luka luka Gatot.


Lalu, setelah membersihkan lukanya dengan cairan alkohol, Gavlin pun menaburkan obat bubuk anti infeksi, lalu, dia mengambil botol obat luka.


Dengan hati hati, Gavlin menaburkan obat luka yang berbentuk bubuk tersebut pada luka luka Gatot.


Maya berdiri di samping Gavlin, wajah Maya tampak sedih, dia menggigit bibirnya cemas dan menangis sedih melihat kondisi Ayahnya yang sangat parah lukanya.


Setelah selesai memberikan obat obatan, Gavlin kemudian meletakkan kain kasa di seluruh punggung Gatot yang penuh luka.


Lalu, Gavlin pun membalut luka Gatot dengan menggunakan kain perban, Gavlin pun selesai mengobati Gatot. Gatot masih dalam kondisi tak sadarkan diri, karena pingsan.


"Sebenarnya, lukanya harus di jahit, May. Aku khawatir, jika gak di jahit, lukanya lama sembuh." jelas Gavlin, dengan wajah yang cemas.


"Ayahmu menolak, dia maksa, agar aku membawanya pulang kerumah." jelas Gavlin.


Maya terdiam, untuk sesaat dia berfikir, lalu, dia menatap wajah Gavlin yang tampak cemas itu.


"Ayahku gak mau kamu bawa kerumah sakit, karena kamu saat ini buronan, Vlin. Wajahmu terpampang di berbagai tempat." jelas Maya lirih.


"Pastinya di rumah sakit, gak akan aman buatmu, banyak orang yang bisa mengenalimu, sebab itu, Ayah gak mau ke rumah sakit, dia menolak, demi kamu, Vlin." tegas Maya dengan wajah sedihnya.


"Mengapa dengan kondisi parah begini, Om Gatot masih peduli dan memikirkan keselamatanku?" ujar Gavlin getir, dengan wajah sedihnya.


"Itulah Ayahku, Vlin. Dia sangat perduli denganmu. Dia gak mau kamu celaka dan terluka, bahkan terbunuh, dia selalu memikirkanmu, aku tau itu, karena Ayah yang bilang padaku, bahwa dia memikirkanmu." jelas Maya, dengan wajah yang bersungguh sungguh dan serius.


Gavlin pun terdiam memandangi Gatot yang pingsan, wajah Gavlin menyimpan kesedihan, dia tak menyangka, jika selama ini, ternyata Gatot sangat khawatir dan perduli pada dirinya.


Gavlin pun paham, mengapa Gatot rela membantunya, itu semua dilakukannya demi melindungi diri Gavlin, Gatot rela mempertaruhkan pekerjaan dan bahkan nyawanya sekalipun demi keselamatan Gavlin.


"Om, cepatlah sembuh. Ada satu orang lagi yang belum ku habisi, dan orang itu yang membuat Om koma berminggu minggu di rumah sakit." ujar Gavlin lirih dan getir.


Maya menatap tajam wajah Gavlin yang terlihat menahan geram dan marahnya.


"Ronald maksudmu, Vlin?" ujar Maya getir.


"Ya, Ronald, Manusia busuk itu yang menikam Ayahmu, dan aku pasti menemukan Ronald , dan membalas perbuatan kejinya!" tegas Gavlin menahan geram dan marahnya.


"Vlin, sebenarnya, apa yang udah terjadi, mengapa Ayahku penuh luka parah di punggungnya? Apa yang dilakukan para polisi pada Ayahku?!" tanya Maya dengan wajah cemasnya.


"Sepertinya, Ayahmu mengalami penyiksaan terus menerus, May." ujar Gavlin serius.

__ADS_1


"Kalo di liat dari luka luka di punggungnya, dengan kondisi luka parah, dengan kulit yang mengelupas seperti itu, aku yakin, Ayahmu di cambuk ratusan kali." tegas Gavlin, menjelaskan dengan wajahnya yang serius.


Mendengar penjelasan Gavlin, Maya pun tampak marah, dia sangat benci pada orang yang sudah menyiksa Ayahnya.


"Biadaaabb !! Siapa yang melakukannya, Vlin?" tanya Maya, marah.


"Sutoyo, Kepala Polisi, sepertinya, dia menyuruh anak buahnya untuk menyiksa Ayahmu, aku yakin, Ayahmu di siksa, agar buka mulut, dan membocorkan tempat persembunyianku." jelas Gavlin, dengan serius.


"Dan aku yakin, Om Gatot tetap bungkam, karena itu, Sutoyo terus menyiksanya, mencambuknya." tegas Gavlin geram.


"Vlin, aku gak mau tau, bagaimana caranya kamu bisa membebaskan Ayahku dari polisi polisi itu, tapi, aku ingin, kamu membalaskan perbuatan keji mereka pada Ayahku." ujar Maya serius, dan bersungguh sungguh.


"May, aku udah membalaskan perbuatan keji Sutoyo. Dia sudah hancur, aku meledakkan dia dan anaknya, saat aku membebaskan Ayahmu." jelas Gavlin, dengan wajah serius.


"Kamu yakin, Sutoyo biadab itu mati, Vlin?!" tanya Maya penuh amarah dihatinya.


"Aku yakin, May. Gak mungkin dia selamat dari ledakan bom itu." tegas Gavlin.


Maya pun terdiam, dia menarik nafasnya dalam dalam, Maya menenangkan dirinya, lalu, dia pun menatap tajam wajah Gavlin yang sedang memandangi tubuh Gatot, dengan pandangan iba.


"Lantas, setelah semua ini, apa yang akan kamu lakukan, Vlin?" tanya Maya serius.


"Masih banyak yang harus aku selesaikan, May. Musuh musuhku yang lain masih berkeliaran hidup." jelas Gavlin.


"Aku baru bisa tenang, setelah semua musuh musuhku mati ditanganku." Tegas Gavlin menahan amarahnya.


"Aku cuma berharap, Vlin. Agar kamu berhati hati, jangan sampai kamu mengalami hal yang sama seperti Ayahku ini." ujar Maya, dengan wajah cemasnya.


"Kamu jangan khawatir, May. Aku akan selalu berhati hati. Musuh musuhku, gak akan bisa melukaiku." Tegas Gavlin.


"Tetap kamu jangan gegabah, Vlin. Ingat, Ronald dulu bisa melukaimu, nanti, kamu jangan sampai lengah lagi, saat berhadapan dengan Ronald!" tegas Maya, menjelaskan.


"Ya, May. terima kasih udah mengingatkan aku." ujar Gavlin, tersenyum senang.


Maya pun lantas tersenyum senang memandang wajah Gavlin yang tersenyum padanya itu.


Tiba tiba, Gatot mengerang pelan, dia terdengar meringis.


"Om, syukurlah Om sudah sadar." ujar Gavlin lega.


"Ayah." ujar Maya getir.


Gatot perlahan membuka kedua matanya, dia hendak membalikkan tubuhnya yang tengkurap saat ini, namun, dia meringis kesakitan.


"Om, jangan banyak bergerak dulu, biar luka Om mengering." jelas Gavlin cemas.


"Maya mana?" tanya Gatot, dengan suara pelan dan lemah.


"Aku di sini, Yah." ujar Maya, tersenyum getir.


Maya pun lantas mendekati Gatot, dia mendekatkan wajahnya, agar Gatot melihatnya dengan jelas. Dengan samar samar, Gatot melihat wajah Maya.


"May, maafkan Ayah. Udah buat kamu cemas dan takut." ujar Gatot, dengan suaranya yang lemah dan pelan.


"Gak apa apa, Yah. Maya senang, Ayah sadar, itu aja udah buat Maya bahagia, Maya berharap, Ayah cepat sembuh." ujar Maya, menahan tangis sedihnya.


Gatot pun tampak tersenyum kecil, lalu, dia kembali pingsan, Gavlin dan Maya tampak cemas melihat Gatot, kembali pingsan.

__ADS_1


__ADS_2