
Tiba tiba...
"RENA.... RENA.... RENA..... " Suara nyaring terdengar dari luar apartemen Rena, ada seseorang yang memanggil manggil namanya.
"Apakah itu... Roy???" Rena mematika kompornya dan berjalan keluar dari dapurnya, meski masih memegang spatula untuk menggoreng da tangan kanannya.
Baru saja di ruang tengah, Pintu apartemennya sudah terbuka dan sesosok yang tak asing bagi Rena muncul.
Roy dengan nafas terengah engah masih memegangi gagang pintu tapi pandangannya lurus pada wanita yang sedang berdiri terkejut dangan masih memegang spatula dan juga masih mengenakan celemek berwarna hitam.
Malam ini Rena menggunakan gaun tidur malam yang lumayan tipis berwarna putih bersih. Rambutnya yang di gulung sedikit ke atas memperlihatkan lehernya yang mulus dan bersih. Wajahnya yang begitu imut dengan tahi lalat di atas bibinya yang berwarna pink muda menambah kesan cantik seorang Rena.
Roy tersenyum melihat akhirnya ia menemukan unit Rena. Memang Roy yang membelikannya tapi ia lupa akan nomor unit yang ia beli, karna sangkin banyaknya pikiran Roy saat ini, bahkan tadi jika tidak di ingatkan Hery maka Roy akan lupa jika Rena sudah di bawa ke apartemen. Dan jangan di tanya kemana si Hery karna kini ia malah di tempatkan di dalam mobil saja membuat Hery melipat tangannya dan membuat wajah yang tampaknya tak bersahabat. "Tak apa Hery... kasian Roy terus terluka di buat istrinya, biarlah wanita itu yang obati." guman Hery sendiri di dalam mobil memberi semangat untuk dirinya sendiri.
"Roy..." panggil Rena melihat sang suami yang baru saja ia pikirkan telah hador di depan matanya. Lalu Rena tersenyum juga pada Roy. Roy malam ini begitu tampan, jasnya yang ia tinggalkan di dalam mobil dan kini Roy hanya mengenakan kemeja putih polos dengan 2 buah kancingnya yang terbuka membuat dada seksinya terlihat. Celana panjng hitamnya juga menemaninya kini menemui Rena.
Rena tersipu malu melihat suami tampannya telah tiba di depan matanya dengan penampilan yang tak biasa dan begitu menggoda.
"Kenapa kamu meneriaki namaku Roy...?" Rena membuka suaranya setelah puas terpesona oleh Roy.
"Karna aku merindukanmu.." Roy menutup pintu dan menguncinya dengan kunci yang ia punya.
"Eeehh kamu punya juga kuncinya??" Rena baru menyadari kunci yang di pegang Roy sama dengan kunci yang Rena miliki dengan gantungan kunci berbentuk kupu kupu berwarna pink barcampur kuning kelap kelip. Rena menunjuknya dengan menggunakan spatula yang ia pegang.
"Inikan unit kita berdua. Kenapa ku bisa tidak punya kunci unitku sendiri?" Roy berjalan mendekati Rena dan berkacak pinggang di depan Rena, membuat bahu dan dadanya semakin berbuka dan melebar. Mungkin Rena akan muat jika ia masuk kedalam kemeja Roy.
"Hahaha iya juga ya.." Rena berusaha mengusir kegugupannya di depan suaminya sendiri.
"Kamu sedang memasak ya?? Bawa bawa ini??" Roy ikut memengang spatula yang Rena pegang.
"I.. iya Roy.. apa kamu sudah makan malam??" Rupanya Roy bukan mengincar sptulanya melainkan tangan Rena.
"Oooh boleh juga aku sangat lapar dan mungkin saja aku akan melahapmukan jika aku terlalu lapar." Roy mengedipkan satu matanya kepada Rena dan mengambil spatula yang Rena pegang dan kangsung membawanya ke dapur.
"Eehhh..." Rena mengikuti Roy dari belakang dan k8ni mereka beruda sedang asik di dapur, Rena membuat sambal tomatnya dan Roy memasak Ayam goreng yang tadi sempat Rena tinggalkan.
Suasana hangat menyelimuti keduanya, mereka bersenda gurau dan saling mengoda, apalagi Roy dia sangat senang menggoda Rena karna setiap kali Roy mengoda Rena, wajah malu malu Rena muncul dan itu sangat menyenangkan bagi Roy.
"Ayo kita makan Roy semuanya sudah siap, tapi maaf ya, biarpun ini di bilang sambal tapi tidak terlalu pedas karna aku tidak terlalu tahan pedas. Aku hanya sedikit mengunakan cabainya tadi." Rena takut seleranya dan Roy berbeda.
__ADS_1
"Baguslah kalau kamu tidak terlalu tahan pedas. Aku juga begitu." Roy menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Rena.
Meja makan minimalis yang Roy pilih memang cocok untuknya dan Rena. Hanya cukup untuk berdua. Membuat suasana makan mereka begitu menyenangkan.
"Eeemmm.. Enak sekali masakanmu.. Kamu pandai juga memasak ya.." Roy memuji masakan Rena yang ia santap.
"Tidak juga aku hanya kebiasaan masak sendiri dan dulukan aku pernah berkerja di warung makan kecil kecilan jadi aku sering menanyakan resep resep masakan enak seperti ini. Ya hitung hitung pengalamanakan..." ucap Rena sambil memasukan lagi lauk untuk Roy, karna nampaknya Roy begitu kelaparan. Tentu saja, dari tadi pagi setelah penikahanya dengan Rena, Roy tidak ada makan nasi sama sekali, Roy hanya mengandalkan Roti simpanannya di dalam lacinya.
"Terima kasih..." Roy tentunya senang dengan yang kini ia dan Rena lakukan. Tidak pernah sebelumnya Roy memakan masakan Rumah seperti ini, masih hangat dan sanagt nikmat di nikmati berdua.
Kini jarum jam menunjukan pukul delapan malam, Rena dan Roy sudah selesai makan malam dan kini Rena sedang bersanti di teras apartemennya yng langsung menghadap kota besar di depannya.
Bunyi klakson mobil dan juga hembusan angin malam begitu indah kedengaranya dari tinggkat apartemen Rena sekarang yang berada di tinggkat 30. Terlihat juga lampu lampu yang tak diketahui dari mana saja asalnya. Ada yang dari menara pencakar langit, ada yang dari apartemen di sebrang apartemen yang kini Rena tinggali. Dan masih banyak lagi. Sungguh Rena menyukai tempat tinggalnya kini.
"Hei..." Roy datang dari kamar mandi dengan handuk kecil yang ia pegang untuk mengeringkan rambutnya.
"Sudah segar....??" Rena menoleh ke arah Roy yang masih mengusap usap rambutnya uang basah dan berantakan.
Rena kembali menelan slivanya melihat suminya yang begitu menggoda imannya saat ini.
"Kenapa ada yang salah denganku???" Roy menyadari pandangan Rena padanya.
"Kau bohong..." Cup... Roy mengecup bibir Rena sekilas dan membuat jantung Rena berdetak dua kali lebih cepat sekarang.
Bibir tebal Roy yang masih dingin bertemu dengan bibir Rena yang sudah menghangat sungguh rasa yang tidak pernah ada sebelumnya di hidup Rena.
"Roy... apa boleh aku menanyakan sesuatu???" Rena membuka suaranya ketika kita sudah tidak degdegan lagi di buat Roy.
"Apa tanyakan saja jangan ragu begitu." Roy menoleh pada Rena dan menunggu jawaban darinya.
"Kamu malam malam begini ke sini apa istrimu tidak mencarimu?" Rena menanyakan pertanyaan yang sedari tadi ia ingin tahu.
"hah.... Untuk apa dia mencariku sedangkan kini mungkin dia sedang bersenang senang di ranjangku dangan laki laki lain kalau kamu ingin tahu." Roy kembali pada mode kesalnya tadi.
"Oooohhh... Kenapa kamu gak marah???" Rena memperhatikan wajah Roy yang masih biasa biasa saja.
"Marah??? untuk apa?? Inilah nasibku hanya untuk dihianati saja." Roy mengalihkan pandangannya keatas menatap langit hitam dengan bintang bertaburan berkedip kehadapannya.
"Roy.... Dari yajg aku lihat kamu sedang menahan sesuatu sendiri.. ayo bagi denganku..." Pinta Rena yang semakin paham akan Suaminya Yang baru saja ia nikahi belum genap satu hari ini.
__ADS_1
"Ciih apa yang aku tahan??" Roy masih tetap menatapi langit malam itu.
"Air matamu yang kamu tahan." ucap Rena lagi, kini Rena memberanikan diri untuk menggenggam tangan Roy.
"Kamu..." belum sempat Roy protes dengan perkataan Rena, Reja malah memotongnya lagi.
"Aku melihatnya dan merasakannya juga..." Rena menggengam kuat tangan Roy dan Rena bawa ke atas pahanya. Sehingga posisi keduanya sangatlah dekat.
Rena melihat manik mata Roy yang sepertinya akan pecah mengeluarkan bulir bening.
Karna sudah tak sanggup menahannya lagi Roy pun menangis di pelukan Rena. Rena hanya bisa menghembuskan nafasnya melihat apa yang tlkini tengah terjadi dengan Roy suaminya.
"Sampai kapan aku akan terus ia sakiti... aku kurang apa..." Roy berbicara dengan suara yang hamoir hilang dalam tangisannya sendiri. Tapi ia terus menyampaikan isi hatinya kini.
"Aku mencintainya tapi ia mencintai laki laki lain. Aku memanjakannya dengan harta layaknya seorang suami, tapi dia menghamburkan hartaku pada laki laki lain. Kenapa ini terjadi padaku... Banyak laki laki di luar sana kenapa malah aku yang mendapat masalah seperti ini. Ini sangat sakit..." Roy terus mengaung ngaungkan keluh kesahnya sambil menangis.
"Tenanglah aku ada untukmu... Kamu pasti bisa melewati rasa sakit yang kini kamu derita. Aku yakin kamu pasti bisa" Rena menepuk nepuk punggung Roy yang bergetar karna tangisnya. Menenangkan Roy dengan perlahan tapi tetap membiarkan Roy untuk mengeluarkan semua yang ingin ia katakan meskipun tak akan terdengar oleh yang di bicarakan.
Setelah sekian lama mangadu pada Rena Roy melepaskan pelukannya dari Rena dan berusaha menyeka air matanya yang masih tersisa di wajahnya.
Rena menahan tangan Roy melakukan itu. Rene kemudian menyeka air mata Roy dengan tangannya sendiri. Roy terus memperhatikan Rena yang telah menjadi tempatnya mengadu bagaikan anak kecil kepada ibunya.
Cup.... Rena membaranikan dirinya untuk mengecup bijir tebal yang Roy miliki setelah ia menyeka air mata Roy. Roy yang tadinya merasa sedih kini telah kembali senang. Baru saja ia dikecup oleh istri kecilnya.
Rena tersenyum setelah mengecup Roy dan kembali menatap Roy. Begitu pula dengan Roy matanya tidak bisa lepas dari mata Rena.
Keduanya saling mendekat dan kembali larut dalam ciuman penuh kemesraan.
Ciuman itu berlangsung cukup singkat karna Rena tidak begitu paham masalah cium mencium seperti ini.
"Kamu masih amatiran ya....?" Roy mencolek hidung kecil Rena dan membuat Rena malu.
"Jangan khawatir aku akan mengajarimu agar kamu pandai melakukannya padaku nantinya." Roy kembali mendorong tengkuk Rena ahar tidak ada lagi jarak di antara keduanya. Kini bibir keduanya telah menyatu. Dan perlahan tapi pasti Roy mengajarkan hal tak biasa ini pada Rena. Dan Rena seperti orang yang penasaran ingin terus mencoba dan mencoba, terkadang pengutan itu lepas tapi kembali di sambungkan lagi oleh Roy.
Setelalh lama melakukan bimbingan langsung pada Rena. Kini gairah laki laki Roy yang meminta pertanggung jawaban..
"Bolehkah???" Bisik Roy di telinga Rena dengan begitu halus dan menggoda.
off... udh jam 4.56. waktunya tidur.. bye bye... selamat subuh..!!??. Adakah???😌😌😌😛
__ADS_1