
Sarah merasa ada yang mengikutinya, ia berbalil untuk memastikan, memang adas yang mengikutinya tapi bukan hanya satu orang melainkan beberapa orang lainnya juga. Maklum ini adalah jalan umum tentu banyak yang sama menggunakannya juga.
"Apa yang kmu pikirkan Sarah..?" Sarah bertanya pada dirinya sendiri.
Orang itu tetap mengikuti Sarah dari belakang dengan ponsel terus di tangannya mencari informasi dari wanita ini.
"Ternyata benar ini orangnya.. Dia gadis yang di.." Laki laki itu melirik Sarah.
"Untuk apa dia benang sebanyak itu..?" Gumamnya.
Sarah sampai di depan apartemennya. Ia masuk dan orang itu tetap mengawasi dari luar.
"Kasian dia.." Gumamnya.
"Laki laki seperti Roy memang perlu di beri pelajaran.." Gumamnya.
"Sudahlah Stu.. Kenapa kamu peduli betul sama wanita wanita ini, kemarin Adel istri Bisma, sekarang wanita itu..?" Albert bercicit di samping Stuart. Laki laki yang mengikuti Sarah adalah Stuart dan Albert.
"Bukan masalah wanita Al.. Tapi ketidak adilan yang di alami mereka.. Aku gak suka liatnya.. Aku juga pernah sakit Hati Al.." Ucap Stuart membara pada Albert.
__ADS_1
"Ya.. Ya.. Terserah.." Albert tak peduli.
"Ya kamu kan gak pernah sakit hati.." Cicit Stuart juga meninggalkan apartemen itu.
"Pernah.. Aku gak suka liat Bisma peduli sama Adel.. Aku gak suka liat perhatiannya sama wanita itu.." Ucap Albert sambil berjalan bersama Stuart.
"Makanya aku ajak kamu kerja sama. Kamu dapat yang kamu mau, dan aku dapat yang aku mau juga. Adel sudah jadi bagian dari aku, gak akan aku lepaskan dia gitu aja.. Dengan bantuan keadaan Bisma yang seperti itu aku yakin, Adel cuma punya aku hanya untuk aku.." Stuart berambisi besar.
"Ya.. Aku harap itu berhasil. Dengan kondisi Bisma juga.. Dia bisa pulih kapan aja.. Itu yang aku takutkan. Dan kalau dia pulih, Adel pasti di anunya" Cicit Albert lagi membuat langkah Stuart terhenti.
"Itu gak akan terjadi, karna ada kamu yang godai Bisma. Bisma gak akan pulih secepat itu dan jadi laki laki normal seperti yang lainnya. Adel cepat atau lambat akan jadi milik aku.." Stuart merencanakan sesuatu yang sangat besar di depan matanya.
***
"Ya..?" Roy dengan senang hati berbalik.
"Kamu.. Kamu sudah bantu aku jelasn ini semua, aku sangat berterima kasih.." Hery mengulurkan tangannya.
"Gak apa apa Her.. Kamu selama ini sudah baik banget sama aku.. Kamu sudah coba untuk sadarkan aku, tapi aku nya yang bodoh.. Aku di jebak diri aku sendiri.." Roy menerima jabatan tangan Hery.
__ADS_1
"Kita masih berteman kan..?" Roy menatap Hery dan Rena dengan malu.
"Tentu.. Kita adalah teman.. Dan selamanya akan jadi teman.." Hery tetaplah Hery yang pemaaf dan mengerti keadaan sesamanya.
"Rena aku juga minta maaf sama kamu, aku.. Laki laki yang buruk, beruntungnya kamu bisa bahagia sama Hery. Hery memang laki laki terbaik.. Aku yakin kamu bahagia sama Hery.
"Ya dia sangat bahagia.." meski tak terlihat cemburunya tapi itu adalah cari Hery untuk cemburu yaitu dengan menarik Rena ke dekatnya dan memeluknya supaya tak terlepas darinya.
"Aku turut senang juga untuk kalian, dan Sarah.. Aku juga akan tanggung jawab.." Roy mengambil semua ini untuk pelajarannya.
"Senang liat kamu sudah lebih baik Roy.. Aku harap selamanya kamu seperti ini. Pasti kamu jadi yang terbaik juga untuk pasangan kamu kelak." Rena menyemangati Roy juga.
"Ya.. Eemm kami harus pulang dulu ya.. Alf dan Elf di rumah sama pengasuh dan Debora aja.." Ucap Hery dan berpamitan dengan Roy.
"Ya.. Debora dan anakku.." Roy sedikit sedih mengingat keadan Debora yang tengah mengandung anaknya itu.
"Kamu tenang aja, aku jaga dia dengan baik.." Ucapan Rena itu membuat Roy sedikit tenang.
"Makasih Rena.. Hery.." Roy berhutang besar pada keduanya.
__ADS_1
Sore tiba, sore ini jadilah Bisma dan Adel ke Psikiarter. Tak ada lagi alasan dan cara melarikan diri, Bisma patuh dan mengikuti yang Adel inginkan.
Bisma..