
Debora berdecak kesal. Belum lagi ia kasian pada sang dokter yang terus Dion pinta pinta melakukan yang ia inginkan.
Seperti saat ini. Debora dan Dion sedang menunggu Dokter Dina membawa hasil rekaman detak jantung bayi di kandungan Debora. Dion sanga kekeh untuk mendapatkan rekaman itu. Meski berapa pun harganya ia tetap tak memperdulikannya.
"Yang sehat ya nak.." Dion mengelus pertu buncit Debora.
Debora senang ada yang memperhatikan dirinya dan kandungannya seperti ini. Tapi rasa itu tetap ia sembunyikan untuknya seorang diri.
"Eeehh dia gerak..!" Pekik Dion ketika mendapat gerakan kecil dari dalam sana.
"Iya.." Debora mengiyakannya.
"Apa dia sering seperti ini?" Dion sangat penasaran.
"Iya.. Katanya kalau dia banyak gerak.. Dia lagi kenyang.. Kalau dia sediit bergerak berarti lagi lapar.."
"Iya kah..? Sayang.. Kamu kenyang.. Tadi makan siang aja di rumah.. Tapi belum makan malam..! Aduh.. Gimana ini..?".Dion panik seketika.
"Gak apa apa kok.. Buktinya dia gerak.. Berarti dia masih kenyang.." Debora tak ingin Dion lebih banyak tingkah lagi.
"Oke.. Mungkin tapi kita tetap akan makan malam ya.. Aku gak mau tahu baby harus kenyang." Sergah Dion.
"Iya iya.. Kamu juga belum makan.." Sahut Debora.
"Aku gak apa.. Kalian berdua itu yang harus banyak makan kan berdua.." Oceh Dion dengan tangannya yang tetap mengelus perut Debora.
"Bukan banyak tapi secukupnya.. Yang penting itu asupan gizinya tinggi dan cukup untuk kami berdua.. Bukan makannya yang banyak karena berdua.. Bukan.. Justru makan makanan yang sehat sehat aja.. Karena yang di terima, yang jadi asupan si kecil ya gizinya.. Bukan nasi atau lauknya." terang Debora.
"Oohhh gitu.." Dion mengangguk paham.
__ADS_1
"Ini dia.. Pak bu.. Ini rekaman detak jantung bayi di kandungan ibu.. Sebagai kenang kenangan anak pertama ibu dan bapak.." Dokter Dina kembali membawa hasil rekamannya.
"Iya dok.. Makasih.." Dion langsung menyahutnya sedangkan Debora masih syok mendengar penuturan Dokter yang mengatakan 'anak pertama ibu dan bapak'
Sepertinya kata itu kurang sinkron dengan Debora.
***
Debora dan Dion sudah selesai. Saatnya pulang meski harus melawati Roy dan Nur terlebih dahulu.
Tapi tumben sekali Roy maupun Nur tak ada yang mencari masalah dengan Debora dan Dion. Dengan percaya diri Dion menggandeng Debora bahkan merangkul pinggang Debora agar dekat padanya.
Debora tak menolak, ia juga suka dengan perhatian yang Dion berikan padanya. Tanpa Debora sadari itu seperti belati tajam yang menusuk hati Roy. Di depan matanya sendiri kini Denora tengah berbahagia.
Bagaimana tidak, Debora memiliki laki laki yang baik seperti Dion. Kalau baru 10 Roy bukan apa apa untuk Dion.
Dengan parasnya yang rupawan, sifanya yang memang penyayang, dermawan pula, dan kekayaan yang sama tak sda habisnya.
"Aaahhh" Debora sangat lega karena kini telah mendudukkan bobot tubuhnya di kursi mobil Dion.
"Debora..?" Dion masuk dan menutup pintu mobilnya.
"Eeemmm?" Debora menoleh.
"Kamu bilang tadi boleh kan..!?" Dion memasukkan kunci mobilnya.
"Boleh apa..?" Debora seperti lupa atau benar benar lupa karena tak tahu apa yang tadi keduanya bicarakan.
"Kamu bilang tadi, kalau di mobil, di kamar, dan tempat tempat sepi boleh.." Dion menghadap Debora.
__ADS_1
"Boleh..? Boleh apa?" Debora masih belum sadar.
"Boleh Ini..!" Dion mendekatkan wajahnya dan wajah Debora.
Menyatukan kenyalnya bibirnya dan bibir Debora. Menghisapnya dan meneguknya.
"Eeemmm" Leguh Debora tanpa sengaja.
"Aahh" Dion melepas pengutannya.
"Boleh ya..?" goda Dion lagi.
"Jangn nanti aku gak bisa tidur lagi..!" Cicit Debora.
"Hah..? Hahahahahaha.. Jadi kamu gak bisa tidur gara gara aku cium kamu kemarin..?" Dion pura pura tak tahu.
"Ck.. Gak juga.." Pipi Debora merona.
"Debora.." Panggil Dion sangat serius.
"Apa..?"
.
.
.
.
__ADS_1
.