AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 23


__ADS_3

"Itu kartu milik..." Tatapan John masih lurus ke depan. Otaknya sudah tidak dapat berpikir dengan jernih saat ini.


"Ooohh Tuhan... John coba bicara yang benar. Cepat katakan, kartu itu milik Roy apa bukan. Kamu bilang itu kartu milik Roy, ada nama Roy Filip di kartu itu?" Debora semakin jengkel dan John yang terlihat bodoh saat ini, bahkan berbicara saja tidak mampu.


Saat Debora sibuk mengintrograsi John, bunyi ponsel Debora berdering. Dengan malasnya Debora mangambil ponselnya dari dalam tas dan melihat siapa ysng menelpon. Yang menelpon adalah ayah dari John, Loir Carter.


"Ooohh astaga apa lagi ini..?" Debora menjawab telpon itu.


"Halo paman ada apa?" Tanya Debora dengan suara yang ia netralkan.


"Debora sayang, kamu bilang perusahaan ayah akan di terima di perusahaanmu, tapi kenapa itu pekerjamu yabg bernama Roy tidak menerima perusahaan ayah barusan. Bahkan dia bilang perusahaan ayah ini tidak dapat menyaingi perusahaannya karna perusahaan ayah kecil. Apa apaan dia itu. Ayah mau kamu pecat pekerjamu itu. Payah sekali dia, kamu sudah minta dia untuk menerima perusahaan ayah kan nak..." Ocehan Loir dari dalam telpon membuat Debora pucat. Bagaimana bisa Loir ayah dari John berani beraninya memarahi Roy yang adalah bos tertinggi di perusahaannya sendiri dan Loir meminta Debora memecat Roy dari pekerjaannya sendiri. Bagaimana Roy bisa melakukan itu.


"Ap.. Apa saja yang paman katakan ada Roy?" Debora ragu dengan jawaban yang akan ia dengar dari ayah pria yang ia cintai ini.


"Aku bilang aku akan adukan dia kepadamu, bosnya dan aku minta kamu memecatnya secepatnya. Dan lagi aku bilang dia payah mengurus perusahaanmu nak... Aku yakin kini dia sedang gemetaran mendengar ancamanku barusan." Loir benar benar percaya diri bahwa yang ia lakukan benar dan paling benar.


Sedangkan Debora semakin memucatkan wajahnya


"Dan ya aku juga bilang kalau aku ini adalah calon mertua darimu Debora dan kamu itu calon menatuku. Aku pasti akan menikahkan kamu dengan John Debora, jadi orang pasti tanpa di pecat pun akan keluar dari perusahaanmu nak.. Aku akan sangat puas akan hal itu." Loir semakin besar kepalanya mengingat Debora dan John memiliki hubungan yang sangat dekat dan John pernah bilang akan menikah Dengan Debora dan itu membuar Loir sangat bangga dengan anaknya yang bisa menaklukkan Debora yang mengaku pemilik dari perusahaan yang sebenarnya adalah milik Roy sepenuhnya.


"Ba... Baiklah paman, aku akan langsung ke perusahaanku paman dan mengeceknya sendiri." Debora mencari celahnya untuk melihat kondisi Roy sekarang.


Debora takut bila Roy mengetahui apa yang sudah Debora lakukan selama ini. Dengan segara Debora berangkat dari Mall itu dan meninggalkan John yang masih termenung.


***


"Kalau hadiah untuk adik laki lakimu apa?" Rena masih bersama Dion mengelilingi Mall besar itu.


"Eemm... Adikku itu orang kekinian, kita tinggal cari barang barang yang sedang trend saja untuknya. Tapi sebenarnya aku sudah pikirkan hadiah untuk untuk adikku itu. Dia mah gampang carinya. Aku akan membelikannya ponsel keluaran terbaru." Ucap Dion sambil berjalan di samping Rena.


"Emm boleh juga. Baiklah di mana tempat untuk membeli ponselnya?" Rena bertanya apa yang ia tidak ketahui tentang Mall.


"Ada di lantai atas. Ayo kita ke sana." Ajak Dion pada Rena. Dan Rena mengikuti kemana pun Dion berjalan.


Kini sampailah Dion dan Rena di tempat yang Dion maksud untuk membeli ponsel baru untuk Adiknya.


Dion kemudian memilih milih ponsel yang ia akan berikan pada adiknya. Sedangkan Rena ia sibuk melihat lihat gantungan ponselnya. Rena ingin mencari gantungan yang cantik untuk ponselnya.


"Hei warna apa yang cocok, hitam atau putih?" Dion memanggil Rena yang sedang memilih gantungan.

__ADS_1


"Eemm kamu bilang, kamu tahu apa yang di sukai adikmu?" Rena meledek Dion dengan kata kata Dion sendiri.


"Hehehe... Ya tapi untuk ini aku perlu pilihanmu juga." Dion sedikit memelas pada Rena.


Rena berjalan ke arah Dion saat ini. Rena juga melihat lihat ponsel yang Dion pilih. "Kalau aku si sukanya warna putih, tapi itu kembali lagi pada adikmu, apa dia suka warna hitam atau putih" Ucap Rena memegang ponsel yang berwarna putih.


"Baiklah. Yang warna putih saja." Dion mengambil ponsel itu dari Rena dan melakukan pembayarannya.


"Hei... Kamu kok langsung ambil. Kamu gak tau apa warna kesukan adikmu." Protes Rena dengan Dion yang langsung mengambil keputusan yang kurang meyakinkan.


"Tidak usah. Kamu kan sudah milih yang ini. Jadi ya ini saja." ucap Dion yakin sekali.


"Heemm baiklah terserah kamu saja." ucap Rena kembali ke gantungan gantungannya tadi.


Dion pun kali ini mengikutinya.


"Kamu cari gantungan yang cantik atau yang bagaimana?" Tanya Dion sambil melihat lihat gantungan di situ juga.


"Eemm ya yang kira kira cocok untuk ponselku." ucap Rena.


Dion pun mengambil satu demi satu gantungan mencari yang mungkin di sukai Rena.


"Maaf tuan apa yang tuan dan nyonya cari? Mungkin saya bisa banti carikan!?" ucap wanita yang bertugad di situ.


"Ini kami mencari gantungan cantik. Apa ada rekomendasinya?" tanya Dion lada Wanita itu.


"Ooohh sebentar tuan" Wanita itu berlalu dan mencarikan apa yang baru saja Dion sebutkan karna ada beberapa item gantungan baru bulan ini.


"Ini tuan. Ada yang motif Love dan ada yang motif kupu kupu. Keduanya ini sama besok jenisnya. Yang ini akan menyala jika jarang antara ponsel uang satu dengan ponsel satunya lagi berdekatan. Ya untuk jarang ya sekitar 2 sampai 3 meter tuan, ini keluaran baru dan yang tercanggih saat ini." Rena pun sama mendengarkan penjelasan dari wanita itu.


"Bagaimana, yang mana kamu suka?" Tanya Dion pada Rena.


"Aku ingin yang couple Love tapi..." Rena teringat bahwa dia bukanlah istri sesungguhnya dari Roy. Jika Debora istri sah dari Roy melihat benda seperti itu di ponsel Roy maka Roy pasti akan ketahuan jika mempunyai istri simpanan seperti Rena.


Dion paham yang di pikirkan oleh Rena saat ini. Mungkin Dionlah yang paling memahami pikiran Rena saat ini.


"Tapi aku suka yang kupu kupu. Lihat warnanya saat berdekatan. Indah sekali" ucap Dion menyadarkan Rena dari lamunannya.


"Iya kamu benar... Yang kupu kupu indah. Mbak saya beli yang kupu kupu ya.. " ucap Rena dan langsung di anggukan oleh wanita itu.

__ADS_1


Dion tersenyum melihat Rena juga mengambil pilihanya. Karna jika Rena mengambil plihannya yang pertama, mungkin Roy akan keberatan memakiannya.


"Ini..." Rena menyerahkan pasangan kupu kupunya itu pada Dion. "Pasanglah!"


"Ini untukku?" Dion menerima gantungan itu. Dengan cepat dan yakin Rena menganggukan kepalanya.


"Jadi kalau kita akan bertemu lagi pasti gantungan ponsel kita duluan yang bersinar." ucap Rena dengan semangat mengingat Dion mau mengajaknya berjalan jalan dan menjawab pertanyaan pertanyaannya tentang Mall ini selama perjalanannya ini. Rena sudah menganggap Dion temannya walau pun baru bertemu beberapa kali.


Dengan bahagia dan tanpa banyak tanya Dion memasangkan gantungan itu di ponselnya agak aneh jika gantungan kupu kupu berada di ponsel seorang laki laki seperti Dion tapi jika Dion mengingat ini pemberian siapa maka Dion tidak akan mempermasalahkannya


***


Debora kini berada di depan perusahan suaminya yang ia akui sebagai perusahannya di depan keluarga John.


Debora memasuki gedung itu. Ada beberapa pekerja yang mengenalnya menyapanya dengan takut takut. Debora tida menghiraukannya. Dengan penuh gayanya Debora menaiki lift khusus CEO yang langsung menuju ruangan Hery dan juga Roy.


Debora sampai di depan ruangan Roy. tanpa mengetuk Debora masuk. Tidak ada orang di dalam ruangan itu. Karna tidak ada tanda tanda Roy di sana Debora beralih ke ruangan Hery.


Di ruangan Hery kini ia sendiri, karna kini Roy sendiri yang menangani rapatnya. Debora juga masuk tanpa permisi.


"Hery di mana Roy?" Debora masuk dan sungguh tidak ada sopan santunnya.


"Tuan Roy sedang rapat, dia sendiri yang memimpin rapatnya." Ucap Hery santai tanpa melihat ke arah Debora. Hery sungguh tidak mau meladeni orang seperti Debora saat ini. Apalagi setelah tau semua perbuatannya pada kawanya.


Mendengar penurturan Hery pun berlalu keluar dan menuju ruang rapat di gedung itu. Debora yang sudah hafal tata letak rauangan di gedung Roy ini dengan mudahnya mencari di mana kini Roy mengadakan rapatnya.


Sama seperti sebelumnya, tanpa mengetuk atau bertanya Debora langsung saja trobos membuka pintu ruangan itu. membuat berpasang pasang mata meliriknya dengan tatapan terkejut.


"Maaf anda siapa?" ucap Roy santai.


"Nyonya tolong tinggalkan tempat ini. Sekarang tuan tuan inj sedang melakukan rapat. Tolong jangan di ganggu." ucap seorang pria yang berjaga di dekat ruangan rapat Roy yang memang sengaja di perintahkan Roy untuk berjaga jaga takut ada gangguan seperti ini.


"Hei berani kamu bilang begitu padaku? Kamu tahu aku ini siapa?" Tanya Debora dengan penuh percaya diri yang membara.


"Maaf itu tidaklah penting nyonya." ucap laki laki penjaga itu.


"Roy katakan aku ini siapa, semua orang di depanmu patut tahu aku Roy." Rengek Debora pada Roy yang masih memperhatikan ketidak tahuan malunya Debora.


"Maaf ya saya tidak mengenal anda. Tolong pergi jangan ganggu kami." ucap Roy pada Debora. "Maaf rekan kerja semuanya, karna saya terlalu banyak fans seperti ini, banyak yang mengaku ngaku mengenal saya seperti wanita ini. Sekali lagi saya minta maaf. Tolong usir wanita itu..!" Titah Roy pada sekuriti yang ia tugaskan.

__ADS_1


Deg... Hati Debora bagaikan di iris mendengar Roy mengaku tidak mengenalnya.


__ADS_2