
Dion tersemyum memelas. "Aku janji aku cuma bawa tidur.. Emangnya kamu mau aku bawa ke mana..?" Dion duduk lagi di kursinya.
"Apanya..?" Debora mendelik.
"Ya.. Dressnya kamu kira aku mau bawa kemana..?" Debora menggelengkan kepalanya.
"Ya.. Takutnya kamu bawa pulang.." Dion terkekeh mendengarnya. "Udah sana tidur.. Hampir subuh looo.."
"Iya iya.. Ya udah aku balik ke kamar aku dulu.. Pinjam ya beberapa jam ke depan." Debora mengangguk, Dion bangkit dari kursinnya.
"Oh ya.." Dion berbalik ketika hendak keluar dari kamar Debora.
"Kalau aku mau bawa dress ini pulang.. Gak ada gunanya.. Mending bawa yang punya dress ini pulang.. Banyak gunanya.." Dion mengedipkan matanya pada Debora.
"Cih.. Gombal.." Cicit Debor, padahal Debora juga sedang senam jantung mendengar guyonan Dion yang entah maksudnya.
"Astaga Dion.. Apa kamu gak bisa menahan diri..?" Ketika Dion sudah di kamarnya sendiri.
Dion membawa Dress Debora itu ke atas tempat tidurnya.
"Hmmm wangi Debora.." Gumam Dion.
"Sepertinya aku akan tidur nyenyak."
Dion menyelimuti tubuhnya dengan dress itu. Perlahan matanya terpejam dan terlelap dalam tidur meski jam sudah menunjukan pukul 4 dini hari.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Roy sedang bersiap siap untuk menemui Debora. Roy juga membawa beberapa buah buahan yang mungkin Debora sukai.
Hatinya begitu tak sabar ingin bertemu dengan wanita yang tengah berperut buncit berisi malaikat kecil.
"Debora.. Aku datang.."
.
.
.
.
.
Rena, Hery, Debora dan Dion sedang sarapan bersama. Rena melayani Hery dan Dion melayani Debora. Debora sudah menolak Dion berkali kali tapi laki laki dengan suara merdu itu tidak ingin mendengarkannya.
"Dion..!?" Debora melihat Dion tak bisa diam dan selalu menyiapkan segalanya untuknya.
"Sstttt.. Kalau lagi makan jangan banyak bicara." Hery menahan tawanya.
"Dion kamu siapkan untuk aku.. Kamu sendiri..?" Debora mencari alasan
"Aku kenyang liat kamu kenyang.." Jawab Dion.
"Debora.. Dion itu punya lambung baja.." Hery akhirnya ikut angkat bicara.
"Lambung baja..?" Rena melirik Hery.
"Iya sayang.. Dulu Dion itu, paling kuat gak makan, apalagi sarapan. Sarapannya Dion itu jam jam 9 atau 10. Jadi jam segini itu Dion belum lapar.." Hery menceritakan yang ia ketahui.
__ADS_1
"Yups.. Tepat tuan Krisnata.." Dion meletakkan gelas jus untuk Debora di meja makan tepat di depan Debora.
"Cobalah.. Jus buata aku itu enak banget.." Dion mengedipkan mata dan mengusap puncak kepala Debora.
Tak ada rasa ingin melarang atau menolak dari Debora saat Dion melakukan itu padanya. Seperti mendapatkan perhatian yang melimpah yang Debora rasa.
"Tapi aku gak tahu sekarang sih, apa kamu masih suka minum minum anggur kayak dulu Yon..?" Debora menoleh ke arah Dion seolah mencari tahu.
"Gak juga.. Gak.." Dion menatap Debora memberi jawabannya.
"Betulkah..?" Debora masih tak percaya.
"Betul.. Dulu aja aku suka minum itu.. Sekarang aku cuma suka makan buahnya.." Dion duduk di samping Debora.
"Ya makanya Alf suapi kamu pakai anggur mainannya.." Cicit Hery lagi.
"Hehehehe.. Iya.. Hmmm Alf Alf.. Tahu tahu aja dia.."
"Kenapa kamu berhenti minum minum..?" Debora masih ingin tahu.
"Iya.. Aku sudah berhenti.. Dulu aku memang suka minum minum.. Tuh aku minum sama Hery.. Dulu Hery kan jaya duluan, jadi dia sering traktir aku minum anggur.. Tapi sekarang aku gak berani minum minum lagi.." Cerita Dion terdengar nyata.
"Kamu juga..?" Tuduhan pada Hery dari Rena pula.
"Ee.. Itu dulu sayang.. Cuma... Minum berdua aja.. Di dalam kantor kecil ku dulu.." Hery memeluk pinggang Rena.
"Awas macam macam" Ancam Rena.
"Aahh.. Iya sayang.. Ini lagi.. Bongkar bongkar.." Hery memicingkan mata pada Dion.
"Eehh kamu duluan.."
"Ya udah aku bongkar lagi.. Dion itu suka minum anggur. Dan itu yang buat dia paling tahan gak mabuk.. Biar pun sudah berapa botol dia minum, dia gak akan mabuk.." cibir Hery lagi.
__ADS_1
"Lalu..?" Debora sangat penasaran.
Hery...