AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 350


__ADS_3

Debora merasaa persendiannya melemah dan seakan tak mampu untuk membantunya melangkah.


"Bi.. Bibiiii!!" teriak Debora.


"Ya ampun kayaknya Nyomya Debora lahiran itu.." Duga bibi yang sedang berada di dapur.


"Iya Nya.." Bibi itu datang dengan tergopoh gopoh.


"Nyonya mau lahiran ya..?" Tanya Bi Ani.


"Gak Bi.. Dion.. Bi. Dion kecelakaan.." Terang Debora dan membuat Bibi itu juga ikut panik.


"Bi.. Bntu Debora ke rumah sakit tempat Dion.." Debora tak sanggup lagi menahan tangisnya.


Ia ingin tangguh tapi air matanya tak dapat di tahan lagi.


"Dion Dion.." Raung Debora.


"Nyonya yang tenang donk.. Aduh kasian nanti Baby Nyonya." Bibi juga bingung harus menenangkan Debora bagimana lagi.


"Ini babynya Dion.. Dia bilang ini baby dia.." Tangis Debora bila mengingat ingat ucapan manis Dion padanya.


Debora dan Bibi sedang dalam perjalanan ke rumah sakit yang menghubungi Debora. Rupanya rumah sakit itu tidak terlalu jauh dari tengah kota dan mempermudah Debora dan Bibi menemukan rumah sakit itu.


Secepat kilat meski dengan susah payah Pula Debora mencari ruang rawat Dion. Ia bertanya pada penjaga yang ada di sana.


"Tadi.. Tadi suami saya kecelakaan, dia dia di bawa ke sini.." Tidak ada kata yang lebih singkat dari pada kata kata itu.

__ADS_1


"Siapa Namanya Bu..?" Perawat wanita datang menghampiri Debora.


"Dion.. Dion Wigara.." jawab Debora dengan cepat.


"Pak Dion. Sepertinya ini KTPnya silahkan lewat sini.." Perawat itu menuntun Debora setelah memberikan KTP Dion pada Debora.


"Iya ini suamiku.." Refleks Debora mengatakan kalau Dion adalah suaminya.


"Pasien masih di tangani dokter mohon untik menunggu di sini." Pesan Perawat itu.


"Astaga Dion.." Debora mengusap KTP berlumuran darah itu.


"Nyonya sabar.. Berdoa yang banyak Nya.. Tuan pasti selamat.." Bibi menguatkan Debora.


Pintu terbuka, dokter pun selesai menangani Dion. Dokter itu rapi dengan sarung tangan dan baju bedahnya.


"Tenang, nyonya, kondisi anda tengah mengandung. Pasien baik baik saja, hanya luka kecil di pelipis hingga membutuhkan jahita dan lengan yang terluka juga. Dan tulang bahunya retak, kami baru saja selesi menggipsnya, maka oleh karena itu saya katan Pasien baik baik saja. Anda sudah bisa menemuinya. Tapi mungkin nanti tengah malam baru pasien sadar, karena masih dalam bius total. Dan.." Terang sang Dokter panjang lebar tapi belum selesai karena Debora berteriak tiba tiba.


"Dion.." Debor langsung berlari masuk ke ruangan itu.


"Nyonya.. Maaf kami harus memindahkan pasien ke ruang rawat." Salah seorang perawat menahan Debora.


"Kalian..? Kalian liat tubuh suami aku ya.. Kalian..? Kalian..!" Debora emosi melihat perawat perawat muda mengelilingi Dion yang tenga terbaring lemah di dipan pasien.


"Astaga Nyonya.." cicit Bibi Ani yang melihatnya.


**

__ADS_1


Setelah perdebatan panjang antara Debora dan perawat perawat itu, barulah Dion di bawa ke ruang rawat oleh beberapa perawat laki laki.


Barulah Debora juga tenang melihat perawat yang membantunya adalah laki laki. Sungguh Debora tak tega berbagi pemandangan indah Dion pada mata wanita lain.


"Eehh nyonya kok melamun.. Bumil jangan banyak melamunnya.." Bi Ani menyadarkan Debora.


"Hehehe.. Iya Bii.." Debora patuh.


Kembali Debora memandangi wajah tampan yang kini di tambah lagi dengan bekas jahitan di pelipi kananya.


"Dion.." Panggil Debora.


"Eehh aku belum kabari suadara saudarinya, tapi aku gak punya nomernya.." Gumam Debora.


Sangat kebetulan, Perawat yang menghubungi Debora tadi datang dengan membawa ponsel Dion.


Barulah Debora mencoba menghubungi Diana dan Dario. Dario menerima panggilan dari Debora tersebut.


Tapi mendengar penjelasan Dario kalau ia sedang berada di Inggris membuat Debora diam.


"Makasih Dario.."


"Tapi gak apa apa kak Debora. Kak Dion itu memang sering kecelakaan, jadi kalau baru di jahit sama retak bahu sudah biasa" Cerocos Dario menghibur Debora.


"Iya Dario."


Selanjutnya Diana yang Debora kabari.

__ADS_1


Tapi..


__ADS_2