AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 72


__ADS_3

Roy membulatkan matanya melihat video panasnya yang sengaja Debora rekam di putaran di depan matanya.


"Debora apa kamu tadi bilang kalau kamu kasih ini sama Rena..?" Roy semakin tercengang.


"Iya..." Debora sangat bersemangat memberitahu hal itu.


"Debora kamu... Rena..." Roy tidak bisa mengatakan apa apa dan mulutnya menganga.


"Iya Roy.. Rena senang kok.. Sampai matanya terharu gitu.. hihihi.." Debora tertawa senang.


"Ohh ayolah Roy... Rena gak apa apa.. Toh ada Hery juga yang temani dia di apartemen.. Entah sejak kapan Hery berada di sana. Jangan Jangan sudah dari semalam dan Hery juga melakukan apa yang sering kamu lakukan Roy.. Wah atau juga jangan jangan anak yang di kanduny Wanitamu itu adalah anak dari Hery, makanya Hery segitu baiknya temani istrimu itu.. Royyy... Roy...." Debora mengeleng gelengkan kepalanya.


"Hery?" Roy tak mengerti.


"Mungkin Hery pagi pagi ini pergi ke Rena dan memastikan keadaan Rena dan saat itu juga Debora datang dan melihatnya. Ya pasti begitu.." pikir Roy berusaha jernih.


"Lalu.." Roy pura pura taj terpancing dengan ucapan ucapan Debora.


"Roy.. Kamu bilang ini anak John dan bukan anakmu.. Tapi kamu menerima anak Hery yang sedang di kandung wanita itu dan sangat menanyanginya... Itu tidak adil Roy... Anak Hery bisa kamu terima, lalu anakku ini bagaimana Roy.. Ini anakmu loo.." Bujuk Rayu Debora.


"Anakku dari mana.. Sp*mrku juga gak mau kali buahi kamu... Cih... Buang waktu aku aja..." Roy segera berlalu dari situ dan meninggalkan Debora yang mematung mendengar ucapan itu.


"Roy.. Kamu bisa terus menghindar.. Tapi itu tidak bertahan lama Roy..." Debora mengenggam tangannya dengan sangat kuat.


Roy masuk ke dalam ruang kerjanya, menutup dengan rapat dan memastikan Debora tak mengaggunya.


"Hery.. Aku harus menghubungi Hery..." Roy mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Hery Secepatnya.


"Halo.." Terdengar suara dari sebrang telpon Roy.


"Hery.."

__ADS_1


"Roy apa yang kamu lakukan.. Aku bingung ini.. Rena terus menangis.. Apa yang kamu lakukan dengan Debora dan membuat Rena sangat hancur seperti ini...? Bantu aku Roy.. Ke sini cepat... Dan jelaskan pada Rena sendiri.." Hery lebih duluan memotony ucapan Roy sebelum Roy yang berbicara.


"Jadi.. Rena sedang menangis sekarang..?" Roy semakin gundah.


"Iya Roy... Kamu pakai banyak tanya lagi.. Bisa gak ke sini.." Hery tak sabaran.


"Hery aku gak bisa kemana mana.. Eyang tadi mengajak aku untuk menemani di ke rumah sakit. Aku gak bisa nolak.." Roy penuh dengan dilema di sisi lain Eyangnya dan Roy sudah berjanji untuk ikut Eyangnya, sedangkan di sisi lain Rena yang butuh dirinya.


Kali ini Roy tidak akan memilih Eyangnya karna ia yakin Rena lebih membutuhkannya. Roy mengenakan kemeja dan jas kerjanya. Ia mematut dirinya di depan Cermin dan mulai mengatur alasan untuk turun kerja di siang hari seperti ini.


"Roy.." Eyang masuk ke dalam kamar Roy dan melihat Roy sedang bersiap siap.


"Eh Eyang.. Maaf ya Eyang Roy harus turun kerja, Hery gak bisa lama Roy tinggalin Memang. Nanti abis Roy pulang dari kantor baru kita ke dokter ya.." Ucap Rpy langsung saja tanpa takut dan ragu.


"Iya Roy.. Eyang paham kok.. Apalagi sekarang Hery punya yang harsu di jaga, oh ya kamu bilang ya sama Hery suruh dia untuk cepat cepat nikahi pacarnya itu. Kasian nanti anaknya keburu lahir tapi mereka belum nikah juga..." Eyang berbicara sambil menepuk nepuk bahu Roy.


"Maksud Eyang apa ya.. Siapa yang lahir..?" Roy bingung.


Debora memberitahukan apa yang ia rasa benar di depan Eyang tanpa takutnya. Roy ingin sekali memukul Debora sekencang kencangnya.


"Eemm itu Eyang.. " Roy juga takut berbicara, takut ia salah bicara dan semakin memperburuk keadaan yang Eyang ketahui.


"Makanya dia pasti susah mengurus perusahan dengan keadaan Pacarnya lagi hamil. Pasti Hery pusing tujuh keliling. Lainnya ngurus Perusahaan besar, ada lagi pacarnya yang pasti juga perlu Hery di sisinya. Eyang juga dulu pernah hamil, dan Eyang dulu sangat merasa perlunya seorang suami atau ayah dari anaknya itu di saat saat seperti ini...." Dan masih banyak lagi ocehan ocehan Eyang di depan Roy Sedangkan Roy melamun mendengarkan Eyangnya.


"Iya Eyang Roy juga tahu Istri Roy perlu Roy sekarang... Makanya Roy harus tapi pergi secepatnya..."


***


"Rena aku mohon tenang ya.. Dan ya Sebentar lagi Roy akan datang dan menjelaskan semuanya sama kamu.." Hery berusaha menenangkan Rena yang masih menangis.


"Untuk apa lagi kamu panggil Roy ke sini.. Aku gak butuh Dia Her.." Rena Mengankat wajahnya dan menhapus air matanya.

__ADS_1


Sedari tadi sejak kepergian Debora Rena menangis, video yang Rena tonton di ponsel Debora terus terputar dengan Jelas di ingatan Rena. Sangat sakit untuk Rena melihatnya, Suaminya yang selalu mengatakan kalau ia tak mencintai istri pertamanya dan mengatakan kalau ia hanya mencintainya malah bercumbu mesra dengan sang istri pertama.


"Tapi Her... Aku baru sadar barusan... Untuk apa aku menangisi Roy yang masih mencintai Debora. Debora kan memang isitrinya. Dan aku hanya..." Rena menghentikan ucapannya dan menatap lantai.


"Her... Bawa aku pergi dari sini Hery aku mohon..." Rena malah kini memohon pada Heru untuk di bawa pergi.


Jauh di dalam lubuk hati Hery ia ingin langsung membawa Rena dengan permintaannya itu. Tapi Hery masih sadar akan kesalahan kalau ia membawa Rena pergi, maka Roy bagaimana.


"Rena.. Aku sangat mendukung kamu.. Aku juga ingin membawa kamu pergi dari semua masalah kamu ini tapi aku juga mengingat Rena. Kamu itu masih sah istri Roy.. Gak baikkan untuk aku sahabat Roy membawa kamu pergi..." Hery berusaha memberitahu Rena isi hatinya juga dengan perlahan.


"Itu tetap saja kamu mendukung Roy... Alu gak percaya sama kamu Her.. Tadinya aku kira kamu bisa aku percaya. Tapi ternyata..." Rena putus asa.


"Ssstttt.." Kini Hery maju dan membungkam bibir Rena untuk terus berucap.


"Jangan bilang kamu gak percaya sama aku... Aku sangat..." Ingin sekali Hery mengatakan perasaannya saat itu juga.


"Rena aku akan membawa kamu pergi ke mana pun kamu mau Rena.. Aku juga mau jadi ayah anakmu... Aku siap... Tapi Rena... Roy.. Aku gak bisa langkahi Roy.. Roy kawanku.. Dan dia juga suamimu. Kalau dia izinkan aku untuk membawa kamu maka aku siap. Apapun yang kami minta aku siap juga. Tapi aku mohon Rena.. Tunggulah.. Kalau memang Roy gak mampu jaga kamu maka izin aku yang menjaga kamu.. Dan satu lagi jangan kamu bilang gak percaya sama Aku.. Aku gak terima..." Hery berusaha memberi pemahaman pada Rena di masa seperti ini.


"Tapi Her.. Kamu gak liat tadi videonya... Roy itu gak butuh aku atau anak ini.. Yang di butuh itu Debora..." Rena sangat sakit hati dan tidak dapat menerima kenyataan ini.


Tok tok tok.. Ting tong.


Berkali kali bell maupun ketukan di pintu apartemen Rena. Hery bangkit dari duduknya hendak membuka pintu karna yakin itu adalah Roy yang baru saja tiba.


Rena memegangi tangan Hery. "Apa..?" Tanya Hery dengan nada penuh kasih sayang.


"Hery... Aku mohon.. Bawa aku pergi aja.. Aku gak mau ketemu sama Roy.."


Hery bingung harus memilih yang mana. Disisi lain ia ingin menolong Rena di sisi lain Roy yang ia panggil tadi sudah datang. Hery mulai goyah dengan pendirian persahabatannya tapi sekuat mungkin Hery tetap pertahankan.


Hery akhirnya memilih jalan tengahnya saja...

__ADS_1


off dlu.. Dah up ya.. Semoga semua pembaca terhibur ya...


__ADS_2