AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 216


__ADS_3

Hery mengangguk. "Ayo kita selesaikan.." Ajaknya.


"Ya kita selesaikan.." Keduanya keluar lagi dari ruangan itu menuju ruangan Roy.


**


"Hahh. Demi Hely, Adel, dan Mama.. Aku berusaha sembuh.." Bisma meyakinkan diri.


"Eehh?" Pintu Lift terbuka dan saat itu sudah ada Hery dan Debora di dalamnya.


"Kalian mau ke mana..?" Bisma sedikit terkejut keduanya bersama sama seperti ini.


"Kamu ke mana..?" Hery balik bertanya.


"Aku harus ke ruangan Roy. Ini data markerting yang harus Roy dan Sarah baca untuk sekalian promosi nanti pas wawancaranya." Jelas Bisma.


"Eemm masuk sini dulu Bisma.." Pinta Debora.


Bisma masuk tanpa curiga. Pintu lift pun tertutup, di dalam Lift pun Debora menceritakan kisahnya pada Bisma.


"Jadi ini ujungnya..?" Bisma tak percaya yang ia dengar ini.


"Iya Bisma.. Jadi nanti kamu tunggu dulu di luar ya, aku dan Debora akan masuk dan selesaikan urusan ini." Pinta Hery.


"Oohh ya.." Bisma mengerti.


Ting..


Pintu Lift terbuka dan mereka sudah sampai di ruangan Roy.


"Seharusnya dia ada di dalam sama Sarah.." Hery mengetuk pintu.


"Gak ada jawaban.." Bisma tetap di samping Hery dan Debora.

__ADS_1


"Iya.. Hery masuk aja.. Kamu kan pemimpinnya.." ajak Debora.


"Ya kan tata krama harus Debora.." Hery mengutamakan kebiasaannya.


"Issshh.." Tanpa menunggu Hery, Debora membuka pintu ruangan Roy.


"Gak ada siapa siapa..?" Bisma menengok.


"Kemana mereka..?" Hery yakin seharusnya Sarah dan Roy seharusnya ada di sini.


"Kamar itu Hery.." Pintu kamar Roy tertutup rapat.


Hery dan Bisma mendekati pintu itu. Hery sudah memegangi gagang pintu dan siap membukanya.


Bisma, detak jantungnya sangat kencang. Apa bisa ia melihat hal ini. Itu yang ingin Bisma pastikan.


Ceklek....


"Jangan Roy.. Jangan.. Sakit.. Aahh.. Tolong.. Tolong.. Aaawww..!!" Sarah dan Roy terlihat jelas dengan mata kepala masing masing.


"Aku mohon jangan.. Ini sakit.. Aduuuhhhhh.." Teriak Sarah lagi. Ia sepertinya benar benar kesakitan dengan yang Roy lakukan padanya.


"Aaahhh uuhhh.. Yaaaa.." Roy tak menyangka Sarah memiliki tubuh indah dan rasa yang indah pula.


"Roy.." Lirih Debora.


***


Adel tiba di kantor ini juga dengan maksud menjemput Bisma.


"Permisi Bismanya ada..?" Adel bertanya pada salah seorang pria di dalam kantor Bisma.


"Tadi katanya ke ruangan pak Roy.." Sahutnya.

__ADS_1


"Oohhh Roy.." Adel mengangguk.


"Apa aku nyusul juga ya..? Aahh jangan deh tunggu aja di sini.." Adel mendudukkan tubuhnya di kursi.


***


Sedangkan orang yang sedang Adel cari kini sedang gemetar hebat. Apa yang ia lihat ini tak pernah ingin ia lihat lagi. Wanita itu berteriak kesakitan dengan laki laki yang tak memberi celah untuk lari.


Permainan Roy masih berlanjut dan tak menyadari ada tiga pasang mata yang menontonnya.


"Tolong.. Hentikan Roy.. Sakit.. Aku.. Akkh sakit.. Itu.. Tolong.." Sarah sudah kelelahan sekali.


"Kamu.. Per**sa aku.. Kamu.. Bang***at. Roy..!!" teriak Sarah lagi dengan sisa tenaganya.


"Aku suka ini.. Kencang.." Roy meremas buah kembar Sarah.


"Aaakkhhh..." Sarah meregang.


"Tolongg.. Tolongggg.. Tolloonggg." Sarah kira itu adalah cara terbaik menyelamatkan dirinya dari aksi bejat Roy ini.


"Tuan.. Hery..!" Lirih Sarah ketika samar ia melihat Hery dan yang lainnya di ambang pintu kamar.


"Hery..?" Roy tak percaya yang di katakan Sarah dan malah makin mengacukan senjatanya untuk semakin laju dan membuat tubuh Sarah terguncang hebat. Sarah mengerang kuat dan meremas selimutnya.


"Rooooooooyyyyy!!!" Bentak Hery.


"He.. Hery..?" Roy baru sadar yang baru saja meneriakkinya adalah Hery.


Roy berbalik dan ternyata benar, ada Hery dan ada Debora juga. Sarah langsung lemas di tempat setelah senjata tumpul Roy di keluarkannya.


"Hery.. Debora..?" Roy tak tahu harus mengatakan apa sekarang. Ia sudah tertangkap basah. Bukan hanya basah saja, tapi kuyub juga.


Debora bukannya marah, ia malah tersenyum lepas. Ia senang rupanya Roy sangat bersenang senang di luar ini. Tak perlu lagi Debora ragu untuk meninggalkan Roy.

__ADS_1


Roy..


__ADS_2