
Roy menatap tubuh Nur. Tubuh yang selalu bisa memuaskannya. Rasa hampa tanpa Debora membuat Roy tergoda lebih mudah pada Nur.
Tanpa di minta pun Roy mengelus Nur. Dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kenapa kamu sangat cantil malam ini...?" Roy menatap mata Nur.
"Karna aku punya kamu sepenuhnya.." Nur langsung mengalungkan tangannya di leher Roy.
"Kalau kamu memang milik aku.. Puaskan aku.." Roy ingin melampiaskan rasa ini pada Nur.
"Siap.." Nur seperti biasa, ia mengambil alih permainan seperti malam malam sebelumnya.
"Ya.. Nur.. Hanya kamu yang bisa.. Ya.. Terus.. Itu enak.. Yaa'aahh.." Erang Roy.
***
Pagi menyapa lagi. Bisma bangun dari tidurnya. Sejak subuh tadi ia tidak dapat tidur. Bisma mencari keberadaan Adel di dslam ruangan itu, tapi Bisma tak menemukannya.
"Di mana Adel..? Adel.. Del..?" Panggil Bisma.
"Eeemm?" Suara dari bawah brankar Bisma.
"Adel..?" Bisma turun dari brankar dan melihat Adel tidur di bawah brankarnya semalaman.
"Adel kok kamu bobo di situ.." Adel bangun dari baringnya hendak duduk, tapi kepalanya malah terbentur brankar.
"Aduh.." Rintihnya.
__ADS_1
"Adel.." Bisma merasa ngilu juga karna suara yang di ciptakan benturan kepala Adel dan brankar cukup kuat.
"Aah iya aku gak apa apa.." Adel keluar dari bawah brankar perlahan.
Setelah Adel sudah benar benar keluar barulah Bisma bertanya lagi. "Kamu kok bobo di bawah situ kan sempit terus kalau bangunnya kayak tadi kan sakit.." Bisma mengusap kepala Adel yang terbentur tadi.
"Maaf.. Aku semalam gak bisa tidur, lampunya terang banget.. Aku silau, gak bisa tidur pakai lampu seterang ini." Adel menunjuk langit langit ruangan dengan lampu yang masih menyala.
"Ooohhh.. Kamu suka lampu remang remang kan..?" Bisma baru ingat juga kebiasaan Adel.
"Eee'heemm" Adel mengangguk.
"Selamat pagi.." Hery masuk ke dalam ruangan.
"Hely.." Sapa Bisma.
"Gimana.. Baik baik aja..?" Hery sangat mengkhawatirkan Bisma.
"Makanya jangan nakal.." Adel balik meledek.
"Iya.. Maaf..." Bisma merasa hangat bersama Adel pagi ini.
"Apa dokter belum datang memeriksa..?" Hery menatap pintu lagi.
"Belum.." sahut Adel dan Bisma bersamaan.
"Cieee barengan.." Ledek Hery juga.
__ADS_1
"Ck.." Lagi lagi Adel dan Bisma bersamaan.
"Aaaa.." Hery makin jadi.
***
"Debora kamu yakin..?" Rena terkejut dengan cerita Debora.
"Ya.. Aku yakin Rena. Gak ada gunanya lagi.. Aku harus ambil tindakan ini. Gak ada harapan lagi buat aku bertahan. Roy sangat suka Nur.. Nur paling ngerti maunya Roy. Aku.. Aku cuma ibu hamil bertubuh gempal sekarang.." Debora merasa malu dengan penampilannya.
"Debora.. Tapi itu sangat menyakitkan.." Rena tak bisa membayangkan apa yang akan Debora lakukan ini.
"Harus Ren.. Itu satu satunya jalan... Kita jujur semuanya aku juga sudah lelah terus liat kelakuan Roy." Debora menundukan kepalanya.
"Ya.. Kalau itu yang terbaik. Aku setuju.. Gak ada gunanya lagi juga mungkin Roy sudah bukan jodoh kamu lagi Debora.." Rena juga mengerti keadaan Debora yang hampir mirip keadaannya dulu.
"Oke.. Mungkin hari ini juga aku bilang sama Roy. Tapi.. Aku belum rekap semuanya.." Debora berpikir sejenak.
"Nanti aku minta tolong Hery aja gimana.. Mau.. Kalau Hery yang buat pasti cepat. Dia kan juga dukung kita berdua.." Saran Rena.
"Oke.." sahut Debora.
"Tapi, setelah ini kamu mau ngapain..?" Rena juga berpikir kedepannya apa yang akan di lakukan Debora.
"Eemmm aku juga gak tahu.. Tapi secepatnya aku cari kerjaan lagi dan hidupi aku dan anak aku sendiri." Debora bersemangat.
Rena mengacungi jempol pada Debora.
__ADS_1
***
Adel..