AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 145


__ADS_3

Roy menghentikan geraknya dan begitu pula dengan Debora. Bahkan Debora yang paling terkejut dengan ucapan Eyang barusan.


"Ahahahahaa. Eyang.. Apa yang Eyang bicarakan ini.. Roy kan udah nikah sama Debora. Dan bentar lagi Debora kasih Cicit untuk Eyang. Itu kan yang Eyang mau.. Sabar ya Eyang.." Roy berbicara seakan baik baik saja.


"Eyang lagi gak minta anak dari kamu Roy.. Eyang minta kamu nikah lagi.." Eyang mengeraskan suaranya.


"Eyang... Apa obat Eyang habis, eeemm Bi.. Panggil dokter ke rumah, kayaknya ada yang gak beres sama Eyang.." Roy segera bangkit dan hendak memopoh Eyang.


"Eyang gak sakit Roy. Eyang bilang kamu harus nikah lagi.." Ulangnya, Eyang juga menghempaskan tangan Roy.


"Eyang kan Roy sudah nikah.." Roy masih ngotot.


"Ya Eyang tahu kamu sudah nikah, makanya Eyang minta kamu nikah lagi.." Debora kali ini sampai terbangun mendengar ucapan itu lagi.


"Debora kamu itu istri yang bagaimana...? Kamu bawa laki laki lain ke rumah ini.. Kamu juga makan malam yang mesra sama laki laki lain. Kamu bahkan main sama laki laki lain.. Dan kamu masih dengan nyamannya Sama Roy..?" Debora mengelengkan kepalanya.


"Eyang..?" Roy terdiam dan hanya bisa memanggil Eyangnya.


"Eyang sudah tahu Roy. Eyang gak nyangka selama ini kamu di bohongi perempuan ini. Apa yang kamu mau hah.. Hartanya Roy..? Kalau ia, Roy... Kamu kasihlah dia ini sejumblah uang, biar dia pergi jauh dari hidup kamu.. Eyang gak sudi punya mantu kayak dia ini.." Eyang sekarang sangat kasar pada Debora tak seperti biasanya.


"Eyang, kenapa Eyang bicara begitu..? Eyang tahu dari mana juga..?" Roy menenangkan Eyang.


"Roy kenapa selama ini kamu gak bilang sama Eyang... Kenapa kamu simpan sendiri rasa sakit kamu. Kamu di sakiti perempuan kayak gini. Perempuan yang cuma mungut harta aja. Abis itu dia habiskan uang itu untuk laki laki lain..." Ponis Eyang untuk Debora lagi.


"Eyang..?" Roy semakin bingung.


"Eyang liat Roy.. Eyang liat.. Video yang kamu kumpulkan. Eyang nontonnya Roy. Makanya Eyang berpikir untuk menikahkan kamu lagi sama kenalan Eyang.." Roy diam seribu kata.


"Eyang itu cuma main main kok.. Itu Roy cuma mau prank Debora pakai itu.. Eyang.. Sudah ya Eyang." Roy mencoba menenangkan Eyang.


"Tapi Eyang rasa gak Roy.. Jangan kamu mau tutup tutupi kesalahan wanita kayak Debora ini. Pokoknya Eyang mau kamu nikah sama Nur..." Semuanya makin kacau.


Roy gelabakan di buat sang Eyang. Di sisi lain hubungan Debora dan Roy sudah membaik dan keduanya siap membina rumah tangga yang baru. Tapi di sisi lain Eyang malah tahu dan berharap Roy mau mengikuti permintaannya.


"Roy.. Sebaiknya bawa Eyang ke kamar aja.. Kayaknya Eyang kurang sehat." Debora memberi saran.


"Kamu gak usah ikut campur.. Kamu itu tukang selingkuh aja sana kamu.. Jangan dekat dekat sama cucuku.. Eyang gak nyangka kamu rupanya perempuan liar.. Cih... Gak sudi aku punya mantu kayak kamu.." Roy segera membawa Eyang masuk kamarnya.


"Astaga.." Debora memegangi dadanya.


"Bagaimana ini.... Debora tiba tiba panik dengan apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Eyang minta Roy cari istri lagi..? Aku kan masih istrinya.. Aku gak mau di madu lagi..." Debora sepertinya trauma dengab Roy yang memiliki istri lain darinya.


"Debora..?" Roy sudah berhasil menenangkan Eyang di kamarnya.


"Roy.. Jangan tinggalkan aku.. Aku gak mau Roy, aku bakal usahakan lagi untuk lebih baik, jangan cari istri lagi ya Roy.." Debora memohon mohon pada Roy.


"Debora kamu ini kenapa.. Aku gak akan tinggalkan kamu.. Kita akan yakinkan Eyang lagi. Kamu yang terbaik untuk aku... Tenang ya.. Aku sayang sama kamu aja kok.." Roy mengelus elus kepala Debora.


"Roy.. Aku sayang kamu, cuma kamu cinta aku.." Debora meneteskan air matanya di dada Roy.


"Sayang, aku juga sayang kamu..." Roy sekarang kembali serba salah.


****


"Waaaaahhhhh Elf cantik banget.. Hai Elf.. Hoooo'yuuuhhh... Alf juga gak mau kalah ya.. Waaaaahhh..." Bisma ribut pagi pagi ini.


"Kamu kenapa...? Pagi pagi udah berisik.." Hery datang melihat Bisma yang sudah keren dan rapi.


"Lihat ini aku tadi bantu adik ipar dandani Alf dan Elf.. Liat mereka ganteng dan cantik banget.." Bisma sangat gemas.


Sisi posesif Hery bangkit mendengar Bisma membantu Rena.


"Kamu memangnya bantu apa.. Sok tahu ya.." Duga Hery.


"Sayang.. Kamu sarapan dulu ya.." Rena datang dari dapur dan masih mengenakan daster rumahannya.


Meski istri seorang CEO, Rena tak ingin mengenakan pakaian serba mewah, apalagi hanya di rumah seperti ini. Tapi meski Rena hanya mengenakan daster, tapi di mata Hery Rena sangat seksi dan menggoda. Hery sangat suka dengan daster Rena yang berwarna warni itu. Belum lagi ia mudah membukanya.


"Aaaiissss.." Hery menggaruk kepalanya.


"Eeeemm kamu kenapa sayang..?" Rena melihat tingkah Hery yang aneh itu.


"Apa kamu liat liat? Sana turun kerja cepat, nanti bos kamu marah.." Hery malah beralih pada Bisma.


"Eleeeehh.. Kan adikku bosku..." Bisma mengambil tasnya dan berlalu.


"Iisssss.. Ada aku punya kakak kayak gini.." Hery berkacak pinggang.


"Sayang tadi aku suruh sarapam looo kok malah pegang pinggang gitu..?" Bos besar Hery yang memberi perintah.


"Hehehe.. Sayang.. Aku mau sarapan sama kamu.." Hery miliki niat lain.

__ADS_1


"Aku..? Aku sudah sarapan sayang. Aku sarapan pagi pagi karna banyak kerjaan hari ini.. Aku mau bersihkan pakaian baru Alf dan Elf.. Kemarin Kamu beli banyak banget pakaian untuk mereka, sebelum di pakai kan harus di cuci, setidaknya pakai Disinfektan." Rena menyusui kedua bayi kembarnya bersamaan.


Rena cukup lihai menyusui bayi kembarnya. Alf di kanan dan Elf di kiri. Dan Hery hanya memandang sayu.


"Aku mau juga..." Hery membasahkan bibinya dengan lidahnya.


"Hery sayang kenapa kok gak pergi sarapan..." Tegur Rena lagi.


"Aku mau di temani kamu sayang.. Aku pokoknya tetap tunggu kamu.. Setidaknya kan kamu temani aku..." Semakin dalam perjalanan pikiran Hery.


Sudah lima belas menit Rena menyusui kedua bayinya. Hery masih siap menunggu Rena selesai.


"Sayang udah selesai kan.. Ayo sarapan sama aku.." Hery segera memanggil Bi Jihan dan pamit membawa Rena ke kamar.


"Sayang kita gak sarapan di meja makan aja kah..? Kok ini ke kamar..?" Rena bingung kenapa Hery mengajaknya ke kamar.


"Sayang aku sudah lama puasa Belum, aku sudah lama banget rasanya puasa... Masih belum kah..? Dia kangen..."Hery menarik tangan Rena dan meletakan di senjatanya.


"Ya ampun sayang.. Belum kan Baby Alf dan Elf baru 1 minggu.. Aku masih masa Nifas.. Masa nifas itu, adalah masa yang di hitung dari sejak seorang ibu melahirkan hingga enam minggu setelah selesai melahirkan. Dengan kata lain masa nifas berlangsung selama 40-42 hari." Rena menjelaskan lagi yang sudah pernah dokter jelaskan padanya dan juga Hery.


"Ya tapi itu lama.. Aku sudah pengen..." Hery merengek.


"Sayang... Sabar ya aku bantu mau kah...? Bantu aja looo..!" Rena menoel nole hidung Hery.


"Gak enak...!!" Hery seperti anak kecil.


"Sayang aku mau itu aja boleh gak..?" Hery menunjuk bagian milik kedua anaknya tadi.


"Sayang, aku gak pede loooo.. Apa kamu gak aneh gitu sama rasanya..?" Rena sedikit malu.


"Gak sayang tadi malam kan aku sudah coba enak aja kok..." Hery sangat antusias.


"Semalam kamu coba...?" Rena tak mengerti.


"Ya aku coba pas kamu ketiduran semalam, aku liat basah gitu.. Jadi aku buka dan aku coba.. Eehh pantasan Alf dan Elf suka.. Enak toohhhh..." Hery sangat bahagia menceritakan ceritanya semalam.


"Ooohhhh jadi Papa ambil bagian anak anaknnya..?"


"Ya aku rindu yang dua itu..." Hery kembali malu dengan yang sudah ia katakan.


"Haaaaahhh... Suami aku ini..." Rena sangat gemas pada Hery.

__ADS_1


"Ya udah bentar aja ya.. Kan tadi malam udah.." Hery kegirangan.


"Ayooo..." suara nakal Hery sangat menggoda.


__ADS_2