
Dion tersenyum lebar. "Kamu gak usah khawatir.. Aku ini kan cuma khayalan kamu.."
"Iya kah..?" Debora mendekatkan wajahnya dan wajah Dion.
"Iya.. Gak percaya..? Coba aja..!" Tantang Dion. Ia berharap Debora melakukan sesuatu padanya.
Debora tak bergeming. Tapi ia meneliti tubuh Dion dari atas sampai bawah.
"Dion ini kamu.. Aku gak mungkin mimpi.. Ini kamu.." Debora menangkup wajah Dion.
"Dari mana kamu tahu kalau ini bukan mimpi..?" Dion melipat tangan di dadanya.
"Kamu nyebelin kayak di dunia nyatanya.." Cicit Debora membuat Dion terkekeh.
"Oohhh gitu.. Oke.. Berhubung ini cuma mimpi, kamu boleh ngapain aja sama aku sekarang.. Aku gak akan larang kamu.." Dion berbaring dan menahan kepalanya dengan satu tangannya.
"Yakin.." Debora menarik selimutnya.
"Yakin.. Kan ini mimpi.." Cicit Dion lagi.
"Ck.. Ini bukan mimpi.. Mana ada mimpi gini.." Debora berbaring di samping Dion.
"Ya udah kalau gak percaya ini mimpi juga gak apa apa.. Berarti aku bebas ngapain aja.." Debora membuka matanya.
"Bebas apa..?" Debora sampai mengangkat kepalanya sambil menatap Dion.
"Kamu ini ya.. Gak di mimpi di dunia nyata.. Pasti nyebelin.." Omel Debora.
"Lalu..?"
"Iya.. Kamu itu iissshhh tadi kamu." Debora menunjuk wajah Dion.
__ADS_1
"Aku..? Aku ngapain.. Cium kamu..? Mau cium balik kah..?" Godanya.
"Tuh kan.. Issshhh laki laki ini.. Besok gak jadi kita ke dokter.." Debora merajuk.
"Ooowww.. Kenapa..?" Dion mendekati Debora dan memeluknya.
Debora tak melawan, ia hanya memejamkan matanya.
"Gak mau.. Nanti kamu.." Debora membayangkan lagi kalau mereka berciuman.
"Isshhh" Debora menggelengkan kepalanya.
"Mau aku cium lagi kah..?" Tawar Dion.
"Dion..!" Debora menepiskan tangan Dion di pinggangnya.
"Aku cinta kamu.." Bisik Dion di telinga Debora. Debora mendelik setelah mendengar ungkapan itu.
Dion tersenyum lebar. "Aku kan sudah bilang kalau ini mimpi, ayo cerita sama aku.. Aku di maki maki juga gak apa.. Mau nyatakan isi hati juga gak apa apa.. Mau yang lain juga boleh.." Tawar Dion.
"Oke.. Karena ini cuma mimpi.. Aku benci kamu..!" Oceh Debora.
"Boleh.. Lagian benci sama Cinta itu bedanya tipis loooo.. Jadi gak masalah.. Mungkin aja bencinya kamu itu cinta buat aku.." Cicit Dion.
"Coba kamu gak usah jawab.. Dengar aja aku ngomong apa..!" Titah Debora.
"Tapi sini dulu.." Dion berbaring dan melebarkan lengananya.
"Bobo sini.. Di lengan aku.. Abis itu aku dengarin apa keluh kesah kamu sama aku.. Aku diam.. Karena mulut aku sudah kamu kunci dengan kamu bobo di lengan aku.." Cicit Dion.
"Okelah.." Debora dengan patuhnya berbaring di lengan Dion.
__ADS_1
"Lanjut tadi mau bilang apa lagi..?" Dion mengelus elus rambut Debora.
"Kenapa kamu ganteng...?" Pertanyaan tiba tiba itu terlontar cepat.
"Hah..?" Dion mendelik.
"Kamu tuh.. Terlalu tampan.." cicit Debora.
"Oohhh gitu.. Lanjut..!" Dion mengangguk.
"Kamu terlalu sempurna.." Suara Debora melemah.
"Lalu..!"
"Rena sama Hery juga sama comblang comblangkan aku sama kamu.. Ck.. Punya teman gitu amat.." curhatan ini semakin dalam.
"Lanjut sayang..!" Dion terus mengelus rambut Debora bahkan sesekali Dion menghirup wanginya.
"Sayang sayang..!" Protes Debora.
"Kenapa? Gak boleh kah..?" Dion bertanya dengan sangat lembut.
"Gak boleh, nanti aku baper.." Dion kembali terkekeh.
"Ya kan aku sayang kamu.." Cicit Dion lagi.
"Aku gak mau di sayang kamu.." Debora beroceh lagi.
"Kenapa.. Kan aku kata kamu ganteng, baik, kurang apa..?" Dion mengecup kening Debora.
"Aku yang kurang.." Debora menoleh sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Dion..