
Dion menundukan kepalanya, ia kembali teringat dengan Rena, wanita yang menjadi simpanan Roy, "Bagaimana sekarang kabarnya... Tunggu... Kata istri Roy dia sedang mengandung. Lalu Rena...?" Dion menebak nebak apa yang terjadi pada Rena. Jujur rasa penasarannya sangat membara di lubuk hatinya, sudah hampir dua bulan ini Dion tidak mencari tahu tahu tentang Rena.
Dan mengubur harapannya tentang Rena.
"Apa Rena membutuhkan seseorang sepertiku untuk bersamanya...?" Hati Dion bergemuruh seketika membayangkan Rena terpuruk karna Roy.
"Aku harus menemukanmu.." Dion bangkit dari duduknya dan berlari menuju Mobilnya dan mobil tersebut menderu membelah kota malam ini.
***
"Rena... Aku di sini... Tenanglah... Semua akan baik baik saja.. Percaya padaku..." Rayu bujuk Hery pada Rena yang masih menangis di dalam pelukkannya.
"Anakku... Anakku..." Hery menghela nafasnya dan terus mengelus elus rambut Rena dan mengerti Rena hanya butuh teman untuk mengunngkapkan semua yang ia rasakan. Tapi Hery yakin Rena tidak ingin memberitahu dirinya karna dia adalah asisten Roy dan sahabat Roy sekaligus.
"Rena ini sudah hampir jam 3 dini hari. Tidur ya.. Ayok..." Tanpa menunggu jawaban dari Rena Hery langsung mengendong Rena dan membawanya ke tempat tidur.
Hery membaringkan Rena dengan perlahan dan memperbaiki rambut Rena dan menghapus airmatanya.
"Sudah ya.. Kasihan... Babynya nangis juga tuh.. Heeemm dia juta pasti mengantuk.. Tidur ya.." Hery benar benar sosok yang sangat hangat dan menenangkan. Dengan sekejap Rena berhenti menangis hanya masih sesegukan kecilnya yang tersengar akibat menangis terlalu lama tadi.
Hery mengelus elus rambut Rena, dan duduk di tepi tempat tidur Rena. di dekat kepala Rena. Tangan Hery yang tadinya mengelus elus rambut Rena kini memijat mijat kepala Rena.
"Tidurlah..." Ucap Hery lagi dan Rena hanya menoleh sekejap pada Hery dan Hery mengangguk anggukan kepalanya.
Mata Rena yang masih basah dan berkaca kaca menatap Hery du sampingnya. Dengan perlahan mata yang basah itu terpejam dan mulai terlelap ke dalam tidurnya.
"Kamu tidak perlu khawatir Rena, kalaupun itu terjadi padamu... Aku siap kok menjadi ayah dari anakmu itu, dengan senang hati juga aku akan menjadi suamimu. Walaupun itu pasti akan sangat sulit untukmu.. Tapi aku janji akan menjadi yang terbaik untukmu dan anakmu ini..." Ingin rasanya Hery mengelus perut rata Rena dan menyalurkan hangat tanganya di perut yang berisikan malaikat kecil itu.
__ADS_1
Rena bergerak dan Hery terkejut, sedari tadi tanganya rupanya masih memijit mijit kepala Rena dan sepertinya Rena terganggu.
"Eeehh..." Hery semakin terkejut karna Rena malah menarik tangan Hery dan meletakannya di atas perut ratanya seperti tahu apa yang tengah di pikirkan Hery.
Dari rasa terkejut yang Hery rasakan beralih menjadi rasa sendu ketika merasakan sentuhan tanganya pertama kali di atas perut seorang wanita yang sedang mengandung.
"jadi begini rasanya mengelus elus perut istri yang tengah mengandung..." gumam hati Hery lagi, Cukup nyaman.
Hery menoleh ke kanan dan ke kiri, Hery bingung harus tudur seperti apa karna ia berada di tepi Tempat tidur.
"Aku tidur di mana...?" Hery mencoba mencari posisi yang pas untuknya, "Tidak mungkinkan kalau aku begadang satu malaman ini." Hery mengaru garuk tengkuknya.
***
Dion berada di depan apartemen Rena dan kini apartemen itu masih gelap gulita, Dion mencari penjaga di apartemen itu.
"Permisi pak... Kenapa gelap begini?" Dion bertanya pada Sekuritu yang berjaga di tempat itu. Sekuriti itu sedikit terlelap dan saat Dion datang bertanya padanya maka ia kembali terjaga.
"Oohhh.. Kalau begitu saya masuk dulu." Dion pamit dan masuk ke dalam apartemen yang gelap itu. Dan sekarang lift semuanya mati sehingga Dion harus naik tangga darurat demi mencapai unitnya dan Unit Rena yang berdampingan.
"Apa Rena baik baik saja ya..." Dion masih menaiki tangga satu persatu.
Dengan terengah engah Dion tiba di lantai unitnya. Dion pun memencet bell di unit Rena. Setelah memencet beberapa kali tak ada jawaban dari dalam unitnya.
"Kemana Rena...?" Dion bertanya tanya.
Dion memilih untuk menuju unitnya terlebih dahulu dan nanti Dion akan datang lagi untuk memeriksa Rena. Mungkin Rena sudah terlelap apalagi ini masih jam yang sangat nyaman untuk terlelap dalam mimpi.
__ADS_1
Dion memilih untuk brristirahat dulu di unitnya dan mengunggu pagi baru ia kembali ke unit Rena.
***
Pagi tiba di kediaman Hery, Rena membuka matanya yang terasa berat sekali dan melihat semuanya dengan buram.
Setelah beberapa menit kemudian barulah Rena bisa melihat semuanya dengan baik. Rena menoleh pada tubuh tempat ia bersandar semalaman. Tenyata di sana Hery tertidur dengan bersandar di headboard tempat tidur dan dengan tangan yang merangkul bahu Kiri Rena dan membuat Rena di dalam rangkulannya dengan bersandar di dada Hery.
Rena mencoba mengingat semuanya, barulah ia mengingat semalaman ia menangis di pelukan Hery dan Hery yang membawanya tidur, sambil memijit dan mengelus rambut Rena dan tenyata Rena malah tertidur dan Hery juga rupanya tertidur dengan posisi yang sangat tidak nyaman sepertinya.
"Hery..." Rena bangkit dari baringnya dan Hery juga terkejut dengan pergerakan tiba tiba Rena dan terbangun juga.
"Aahh.." Hery masih dengan wajah bantalnya dan mata yang menyipit tapi dengan cepat Hery mengucek ucek matanya dan pengelihatannya jelasn dan melihat Rena sudah terbangun dan mengingat lagi dirinya yang juga tertidur dengan Rena du tempat tidur yang sama maka dengan ceapt Hery bangkit dan memperbaiki bajunya yang berantakan dan takut juga Rena melihat sesuatu yang tak patut di lihatnya.
"Maaf aku... Tertidur juga tadi malam di sini." Hery mendadak Grogi dengan semua ini.
"Gak apa apa Her... Aku paham..." Ucap Rena lagi mengerti kondisi Hery yang malah membuatnya salah tingkah sekarang padahal semalam Hery sangat membantu Rena dalam masalah cintanya dan Roy.
"Aku keluar dulu ya..." Pamit Hery dan setelah melihat Rena mengangukkan kelapanya barulah Hery pergi dari hadapan Rena dengan jantung yang berdebar debar.
"Untung saja Rena tak lihat..." Pikir Hery ketika sudah di dalam kamar mandi dan langsung membersihkan tubuhnya pagi ini. Padahal Rena pasti melihatnya dengan jelas. Karna bohong Rena tak tahu tentang itu apalagi beberapa kali Rena sering menanyakan itu pada Roy. Tentang masalah laki laki, apalagi masalah di pagi hari.
Kini Rena dan Hery sudah berada di dapur, Hery membuatkan Rena roti panggang saja dan di temani selai stroberi sesuai kesukaan Rena saat ini.
"Maaf ya... Hanya aku buatkan roti panggang dan selai sroberi untukmu.." Ucap Hery memberikan roti panggang yang sudah ia olesi dengan selai stroberi.
"Tidak apa apa Hery.. Aku menyukainya.."
__ADS_1
Keduanya serapan Dengan nikmatnya, tanpa memikirkan ini jam berapa.
off dulu kawan.. Like ya.. janji nihh.. Ceritanya baru aja di mulai.. lanjut terus bacanya ya... like like like...