
Stuart melirik Adel yang kesakitan di tangannya. Ia pun bangkit dan berjalan ke arah Adel.
"Sayang.. Bilang donk kalau tangannya sakit di ikat, kan aku bisa kasih lepas.." Cictit Stuart ikut meniupi tangan Adel.
"Sudahlah.. Lepas..!" Adel segera turun dari tempat tidur.
"Bisma.. Bisma.. Bisma.. Kamu kenapa..?" Adel mengguncang guncangkan Bisma.
"Bisma..?" Tak ada sahutan atau tanggapan dari Bisma. Matanya hanya terus memandang layar gambar projektor itu.
"Isssshhh!" Adel banggun dan membanting benda kotak itu.
"Bisma sadar..!" Teriaknya.
"Dia gak akan sadar Del.. Dia sudah lupa dunia.." Stuart memeluk Adel dari belakang, Stuart mengalungkan tangannyas di pinggang Adel.
"Lepas..!" Adel sangat terlihat marah.
"Bisma..!" Adel mengguncang Bisma lagi.
"Kamu kenapa..? Siapa wanita itu Bisma..? Kamu ini kenapa..?" Barulah Bisma menoleh pada Adel.
"Mungkin.. Stuart memang pantas untuk kamu Del.." Adel tak percaya ucapan yang baru saja ia dengar ini.
"Kamu.. Kamu dukung bajingan ini..?" Adel menunjuk Stuart.
"Sebajingan Stuart.. Aku lebih bajingan.." Sahut Bisma lagi.
"Syukur kamu sadar.." cicit Stuart.
"Bisma.. Kamu.. Kamu..!?" Adel mulai menangis.
__ADS_1
"Maafkan aku Adel.." Lirih Bisma dan menatap lantai.
"Ayo.. Sini sayang.." Stuart ingin menggengdong Adel lagi untuk di bawa ke atas ranjang.
Adel memberontak dan melapaskan diri dari Stuart.
"Kalian berdua gila.. Gila..!" Adel menuju jendela kaca besar kamar itu. Membukanya dan menatap ke bawah sana.
Mungkin semua orang di bawah sana akan berteriak histeris ketia ada seorang wanita langsung terjatuh dan terkapar di jalanan.
"Adel.." Panggil Stuart lembut.
"Apa..! Kalian gila.. Kalian laki laki gila..!" Adel semakin mendekati jendela itu.
"Adel.. Jangan.. Aku tulus cinta kamu.. Kita mulai hidup baru ya.. Kamu mau itu kan.. Ayo.." Sebenarnya Stuart juga panik melihat Adel yang mendekati jendela. Tapi ia tetap berusaha untuk tenang.
"Jangan mendekat..." Adel mengeluarkan satu kakinya.
"Adel..!" Bentak Stuart.
Adel tak peduli ia hanya tersenyum miring. "Jadi gini hidup aku.. Aku juga jadi gila kayak kalian.." Adel memejamkan matanya.
Dan....
Dion berbaring di ranjang yang masih rapi itu.
"Aaahhh mana calon istri aku ya..?" Dion meraba sisi di sebelahnya.
"Aku merindukan mu.." Cicitnya lagi.
Sementara itu, Debora merasa semakin aneh di hatinya. Tak bisa ia pungkiri kalau ia terus memikirkan Dion. Bahkan rasanya ia ingin merengek saat ini juga.
__ADS_1
"Ck.. Laki laki bodoh itu.." Debora memegangi bibirnya. Mengingat pengutan singkat dari Dion tadi siang.
Tidak ada rasa kesal saa Dion melakukan itu, tapi sekaranglah Debora kesal mengingatnya.
"Sudah ya nak.. Maafkan Mama.. Mama gak bisa tidur.. Sekarang kita istirahat ya.." Gumam Debora.
Ceklek..
Debora membuka pintu kamarnya.
Debora terus diam dan memperhatikan jalannya. Saat tiba di tempat tidur barulah Debora merasa ada yang berbeda.
"K.. Ka.. Kamu.?!" Pekik Debora.
"Sstttt.." Dion menaruh satu jarinya di bibir Debora.
"Kamu.. Kamu.. Kamu.. Kok di sini.. Kamu masuk kayak apa..?" Debora linglung seketika.
"Aku..? Aku ini dari khayal kamu sayang.. Kamu mikirin aku kan..?" Debora terdiam sejenak.
"Hah..?" Debora meraba wajah Dion, beralih ke leher dan dada Dion, berpindah lagi ke rambut Dion.
"Tapi kamu asli kok.. Nyata.." Cicit Debora.
"Kan namanya Khayalan.. Serasa asli toh.." Dion mendekati Debora.
"Sini.. Baring sama aku.. Maka kamu akan terlelap dengan cepat. Kamu terlalu ngantuk.. Kasian baby dari tadi kamu bawa jalan sana sini.." Cicit laki laki di depan Debora ini.
"Ini mimpi kah..? Aku tadi masuk kamar langsung tidur gitu ya..?" Debora mempertanyakan dirinya sendiri.
Dion...
__ADS_1