
"Hery.. Bisma.. Mama.. Ini dia.. Kenapa.. Dia.. Mama mirip..?" Hati Merry bergemuruh melihat wajah yang sedang ia tatap ini.
Olin sudah tidak dapat membendung air matanya, ia menangis. Rupanya benar yang di katakan Rena dan Adel, dirinya memang sangat mirip dengan Mama Merry.
Kini Olin melihat sendiri wajah sang Ibu, meski sepertinya sang Ibu tak mengenalinya.
"Hai" Sapa Olin.
"Kamu.. Kamu siapa?" Tanya Merry seakan tak percaya.
"Aku ... Aku Olin .. "Jawab Olin ragu ragu.
"Bukan itu, kamu siapa..? Kenapa kamu ada di sini ..? Hery! Bisma!" Merry melempar pandangan tajam ke arah Hery dan Bisma bergantian.
"Ma.. Mungkin saatnya Mama tahu .. Ini Olin ... Adikku" Jawab Hery lugas.
"Adikmu?" Merry masih belum berpikir positif.
"Adikku juga" Sahut Bisma lagi.
"Ck.." Merry menepuk keningnya.
"Astaga .. Anak anak ini!"Merry menangis.
__ADS_1
Dari jawaban Bisma Merry sudah menduga siapa gadis cantik bernama Olin ini. Tangisnya pun pecah mengingat kejadian kejadian silam.
Di sisi lain Olin juga menyeka air matanya yang tumpah pula. Adel mendekati Olin dan memeluknya.
"Mama .. Aku yang bawa bayi Mama, aku yang besarkan adik kecil itu, ini dia sekarang Ma" Hery mengusap punggung wanita yang selama ini berjasa padanya.
"Hikksss.. Hery.. Bisa gak kamu jangan buat ulah, cukup Bisma yang selalu buat ulah .. Kamu juga ikut ikutan?" Marah Merry.
"Dan kamu!" Panggil Merry pada Olin.
Perlahan tapi pasti Merry turun dari dipan rawatnya. Berjalan ke arah Olin dan Adel.
"Minggir dulu Del" Titah Merry dingin.
"Maafkan Mama Del. Mama gak mau dengarin kamu dulu.." Ucap Merry tetap dingin.
Olin menghela nafasnya, ia tahu rencana kedua kakaknya ini tidak akan berjalan mulus.
Buugghhh...
***
Hari ini Dion sudah di bolehkan pulang oleh Dokter. Hati Debora pun semakin riang, di tambah lagi Dion yang menjanjikan akan mengadakan pernikahan secepatnya untuk mereka berdua, meski tanpa adanya Rena dan yang lainnya di samping Debora dan Dion saat ini, tapi Debora akan melakukan pernikahan itu.
__ADS_1
"Aku tinggal hubungi Dario di luar negeri.. Minta dia pulang, Mama dan Diana sudah tahu kok.."
"Hah? Kok secepat itu sejak ka..."
"Sejak kemarin, aku kecelakaan, sengaja aku minta Mama dan Diana gak jenguk aku, aku cuma mau di rawat kamu, mereka juga sudah tahu rencana aku, mereka setuju. Mama juga restui kita berdua tinggal kita berdua yang jalani dan lakukan yang terbaik." Ucap Dion sambil berjalan di lorong rumah sakit.
"Astaga, kenapa kamu gercep banget sih?" Debora tak habis pikir.
"Maaf kalau gak bilang bilang sama kamu.. Tapi aku yakin kok kamu pasti mau aku nikahi.." Bisik Dion membuat pipi Debora merona.
"Eemmm?!" Debora cepat cepat membalik wajahnya takut ketahuan sedang merona.
"Makin imut kalau pipi kamu kayak tomat gitu" Dion menahan tawanya melihat aksi Debora yang memalingkan wajahnya.
"Isshh tomat apa coba.." Dengus Debora.
"Pipi tembem, bulat kalau merah kayak tomat.." Ucap Dion lagi sambil terkekeh pula.
"Iisssshhh" Debora makin malu.
Tiba di loket pemyaran, Dion dan Debora mengenali pria dan wanita yang sedang terduduk di kursi tunggu. Kaki dari si pria di balut perban tipis sedangkan wanita itu setia di sampingnya dengan perutnya yang semakin terlihat buncit.
Siapa lagi kalau bukan Roy dan Nur. Debora hanya memandangi mantan suaminya dan mantan madunya itu sekilas.
__ADS_1
Roy..