
Debora sangat nyaman berada di posisi ini. Tak sengaja ia tersenyum lebar dan terpancar kebahagiaan di wajahnya.
Roy mengepal tangannya, tak ia sangka Debora secepat itu bisa melupakannya, dan laki laki itu. Laki laki yang juga cukup terkenal dalam Bisnisnya, jika di ingat ingat kembali, sekarang Roy tak memiliki apa apa sedangkan Dion, semuanya bisa ia berkan pada Debora.
Satu yang membuat Roy semakin tak kuasa menahan amarahnya. Nama yang di sebutkan Dion pada Debora. "Bora." Nama panggilan yang tak biasa di telinga Roy.
Panggilan itu adalah paggilan awal Roy saat mengenal Debora. Roy hanya memanggil "Bora.." Agar terdengar lebih dekat.
Tapi baru saja ada laki laki lain yang juga menggunakan panggilan itu.
.
.
.
.
.
Bisma pulang di jam biasanya. Adel sedang menonton siaran olah raga di televisi, olah raga kesukaan Adel adalah Volly.
"Aku pulang.." Sapa Bisma saat memasukki rumah.
"Hmmmm..?" Bisma melihat Adel sangat tagang dengan tontonannya.
Tak terasa Bisma juga ikut menonton sambil berdiri dan berkacak pinggang.
"Smas..!! Yaaaeeeeee" Adel sangat senang. Tim favoritnya menang.
"Hei.." Panggil Bisma mengagetkan Adel.
"Heh..? Kapan kamu pulang kok gak ada suaranya..?" Adel menatap pintu masuk dan Bisma bergantian.
__ADS_1
"Apa kamu kalau nonton tv gitu..?" Bisma sedikit terkekeh.
"Hehehe.. Iya kan mereka menang.." Adel menggaruk tengkuknya.
"Hmmmm.. Iyalah.." Bisma hendak berlalu ke kamar.
"Ma... Bisma.." Adel ingin bertanya apa yang di katakan Rena padanya itu adalah benar.
"Nanti dulu badanku lengket rasanya..." Sahut Bisma dan melambaikan tangannya.
"Eeemmm" Adel melipat bibir bawahnya keluar.
"Aku siapkan makanan mau..? Atau kamu masih kenyang..?" Adel setengah berteriak pada Bisma.
"Ya.. Aku kan selalu makan masakan kamu.." Kepala Bisma keluar dari balik pintu kamarnya. Sepertinya ia sedang membuka kemejanya.
"Oke.." Adel berlalu ke dapur dan menyiapkan semunya di meja makan.
Sudah siap semua dan tinggal menuggu Bisma datang.
"Iya kan masakkan aku enak.." Cicit Adel bangga diri.
"Ya ayo kita makan.." Ajak Bisma sudah tak sabar.
Hanya dentingan piring yang bersahutan di meja makan. Sesekali Adel melirik Bisma, Bisma sangat menikmati makanannya dan Adel tentu tak ingin mengganggunya.
"Nanti saja.." Adel melanjutkan makannya juga.
.
.
.
__ADS_1
.
.
"Kamu yakin mereka akan datang, hampir berminggu ini gak bercinta.. Aku sangat ingin.." Rengek Albert pada Stuart.
"Aku yakin.. Hery pasti akan meminta Bisma, karena sekarang kan Bisma adalah asisten Hery. Jika Hery tak bisa maka Bisma dan Adellah yang harus menghadiri undangan. Apalagi ini undangan besar dari kolega Hery. Dan untungnya kita juga di undang.. Itu keuntangan untuk kita Al.." Stuart mengedipkan matanya.
"Kali ini aku gak akan lewatkan kesempatan indah bersama Adelku.." Stuart menitik rokok di bibirnya.
Mengepulkan asap dan
Menikmati rasa manis yang menempel di kerongkongannya.
.
.
.
.
.
Adel dan Bisma sedang mencuci piring dan peralatan makan mereka tadi. Bisma selalu melakukannya karena hitung hitung mengurungi pekerjaan Adel.
"Bisma... Ada yang mau aku tanya kan.." Adel memulai pembicaraan.
"Heemm aku juga ada.. Kamu duluan..!" Sahut Bisma.
"Kata Rena, kamu harus pergi ke undangan salah satu kolega kalian kan..? Apa kamu pergi..?" Bisma menoleh pada Adel.
"Iya, dan itu yang mau aku tanyakan.. Apa kamu mau ikut aku..? Aku takutnya kamu gak mau Del.." Cicit Bisma juga
__ADS_1
Adel..