
Roy mendekatkan tubuhnya dan tubuh Debora.
Kini tubuh mereka bertemu dan berdekatan, Roy juga mendekatkan mulutnya dan telingan Debora.
"Kamu boleh melakukan apa pun yang kamu mau. Tapi dengan catatan, kamu yang lakukan dan aku hanya diam." Debora langsung menoleh setelah mendapat bisikkan itu.
"Roy...!!" Debora memeluk Roy dan tak heran juga mengecup Roy. Roy hanya terima apa yang Debora lakukan padanya.
"Oke Roy. Kamu gak perlu ngapa ngapain, aku yang layani kamu..." Melepaskan semua yang ia kenakan lalu menatap Roy. Melepaskan juga yang Roy kenakan dengan segera.
"Roy aku mencintai kamu Roy.." Debora mengecup bibir Roy sekilas dan setelah itu turun ke bawah pinggang Roy. Ada yang harus ia bangunkan di sana.
Roy tersenyum bahagia, malam ini ia terasa seperti menjadi seorang raja dan di layani oleh Debora. Laki laki mana sebenarnya yang tak ingin di layani wanita seperti Debora. Bertubuh indah, kulit putih dan juga cantik.
Debora melakukan apa yang ia mau. Sedikit demi sedikit pun Roy mengikuti apa yang Debora inginkan. Tak jarang juga Rpy memejamkan matanya karna nikmat. Kadang ia juga mendorong kepala Debora untuk semakin dalam.
Setelah Debira yakin sudah bisa di lakukan maka ia berhenti dengan pelayanannya ini.
"Roy... Boleh ya.." Debora menatap Roy yang Rupanya juga kini berhasrat sama sepertinya, terlihat dari matanya yang sudah sayu.
"Ya.." Hanya singkat tapi itu sangat berarti untuk Debora.
Malam ini malam terindah untuk Debora. Ia melakukan apa yang sejak tadi ia damba dambakan. Meski hanya ia yang melakukan tapi tak masalah, itu sudah lebih dari cukup.
Debora juga berharap agar peburan benih Roy bisa tumbuh dengannya, walaupuj ini baru hubungan pertama mereka dalam program hamil Debora.
"Roy kamu sangat nikamat.." Debora tak bisa menahannya. Ia pun pelepasan yang pertama seorang diri.
Roy tak menyangka akan secepat itu. "Apa kamu terlalu kepengen tadi..?" Dari sela permainan Debora yang berlanjut Roy bersuara.
"Ya Roy, tadi aku sangat pengen, tapi aku gak berani minta sama kamu.. Aku tadi pengen banget..." Debora mengakuinya.
Roy tiba tiba bangkit dan ia yang mengabil alih.
"Apa kamu ada pikiran untuk main sendiri di toilet tadi..?" Roy sangat ingin tahu itu.
"Aaaahh.. Mana ada.. Aku juga cuma pergi pipis.." Jawab Debora juga apa adanya.
"Lalu apa kamu punya pikiran begitu kalau. Misalnya kita gak main gini..?" Lanjut pertanyaan selanjutnya.
"Aa.. Ada Roy.." Debora berani jujur.
__ADS_1
"Ada..?" Roy sangat terkejut.
"Ya.. Tapi aku gak mau, yang aku mau itu sama Kamu Roy.." Permainan terus berlanjut meski keduanya berbicara.
"Awas aja kalau kamu berani main di belakang aku. Aku gak akan mau maafkan kamu lagi.." Roy semakin cepat dan Debora menyukainya.
"Yaaaa.. Roy ya..." Roy suka jawaban Debora.
***
"Sayang puas...?" Hery memperbaiki rambut Rena.
"Eeemmm..." nada yang sangat manja. Rena memeluk Hery dan begitu pun sebaliknya.
"Aku gak nyangka aku berani kayak gitu tadi.." Ucap Hery.
Tadinya Hery sangat rag untuk bercinta di ruang terbuka seperti ini. Tapi siapa sangka malah Hery yang sangat menikmati.
"Lebih serukan sayang...?" Rena memainkan dada indah Hery.
"Ya aku suka.. Kalau kita di rumah, kita gak akan bisa kayak gini.." Hery menatap Langit berbintang malam ini.
Waktu berlalu begitu saja, sudah seminggu sejak kejadian percintaan Debora dan Roy.
Kini semuanya kembali seperti semula, Roy yang sibuk dengan perkerjaannya, dan Debora yang sibuk dengan pelajaran memasaknya, bagaimanapun ia akan terus berusaha untuk mengambil hati Roy lagi. Walaupun hanya dari memasak.
Hery dan Rena pun lebih dari pada itu, citna dan sayang keduanya semakin mekar. Kandungan Rena juga sehat, Hery sangat sering mengajaknya bayi dalam kandungan Rena berbicara dan bercengkrama.
Hery juga beraktivitas seperti biasanya. Ia juga turun ke kantor perusahaannya dan bertemu dengan Roy. Tidak ada masalah di antara keduanya. Tapi tak jarang juga Roy bertanya pada Hery bagaimana keadaan Rena dan kandungannya. Hery mengatakan yang sebenarnya dan sejelas jelasnya karna menurut Hery bagaimana pun Roy adalah ayah dari anaknya.
Hari ini Debora sebenarnya memiliki niat untuk berkunjung ke rumah Hery untuk bertemu Rena. Ia ingin berbaikan dengan Rena. Tapi ia masih sangat ragu, apalagi Debora sering merasa sedih kalau melihat perut Rena yang sekarang semakin membesar.
"Huuuhhh Debora Ayo... Apa salahnya.. Sekarang Rena itu punya Hery. Tenang Debora tenang..." Debora menarik nafas panjangnya.
Debora pun dalam perjalanan ke rumah Hery berharal Rena mau bertemu dengannya.
Sedang Rena sedang mengupas apel untuk es buahnya.
Ting tong..
Bell rumah Roy berbunyi. Rena berjalan ke arah pintu dan membuka pintu.
__ADS_1
Debora tersenyum padanya. "Debora..?" Rena tak percaya yang ia lihat, Debora datang ke rumahnya.
"Hai Rena.. Apa kamu sibuk..?" Rena mengelengkan kepalanya.
"Masuklah.." Ajak Rena.
Keduanya duduk di sofa ruang tengah. Bohong kalau mereka tidak canggung. Tentu saja sangat canggung.
Debora melihat buah buahan yang ada di hadapan Rena. "Kamu mau bikin apa pakai buah buahan ini..?" Agar tidak terlalu canggung Debora mencari topik pembicaraan.
"Oohh aku tadi mau bikin Es buah. Jadi nanti pas sore Hery pulang es Buahnya sudah dingin." Rena juga berusaha menetralkan dirinya.
"Oohh begitu.. Eeemm Rena, sebenarnya aku ke sini.. Mau minta maaf sama kamu.." Rena dengan cepat mendonga.
"Hah..?" Rena takut ia salah dengar.
"Ya Rena aku mau minta maaf.. Aku buruk banget dulu sama kamu.. Aku harap kamu mau maafin aku.." Debora mengatakan ini dengan tulus hati.
"Debora.." Rena menatap Debora.
"Debora kamu tahu.. Dari kisah ini aku yang jahat... Aku yang ganggu hubungan kamu sama Roy.. Aku juga harus minta maaf.." Rena menatap Debora dengan nanar juga mengingat bagaimana ini semua bisa terjadi.
"Aku yang salah.. Aku yang duluan khianati Roy, dan Roy gak salah kalau mau balas aku.. Tapi aku malah salahkan kamu.." Debora sedih jika mengingat itu.
"Sudahlah Debora.. Aku sudah gak ingat itu lagi.. Aku dengar dari Hery kamu dan Roy sudah baikkan juga... Semoga aja hubungan kalian semakin membaik ya.." Rena menyemangati Debora.
"Ya.. Kamu betul, aku juga lagi berusaha Rena.. Aku berusaha ambil hati Rly lagi dengan cara memasak.. Aku baru belajar memasak sama Bi Mila di rumah." Ungkap Debora.
"Ya bagus donk.. Kamu tahu aku di sini sangat jarang sentuh peralatan dapur, kalau siang gini aja baru aku bisa masak karna gak ada Hery di rumah, tapi kalau dia pulang, heeemm aku cuma bisa diam aja.."
Debora dan Rena memulai bercerita bersama dengan berbagi apa saja yang mereka alami di rumah masing masing.
****
"Apa..?" Hery menerima telpon dari sopirnya yang mengatakan ada sopir Debora di rumahnya.
Hery segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Roy..
Roy...
Off dulu
__ADS_1