AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 342


__ADS_3

Olin melemas melihat foto ketika dirinya baru keluar dan tiba di dunia.


"Akhirnya.. Foto yang sudah beratus kali aku minta sama Kak Hery, di perlihatkan juga.. Hikkss.. Itu aku..?" Olin benar benar kembali menangis.


"Iya.. Itu Olin kecil.. Lebih tepatnya Baby Olin.." Ucap Hery yang sedang di rangkul Bisma persis sama seperti yang di foto bayi itu.


"Huaaa... Aku kecil sekali.." Olin gemas sekaligus tersentuh melihat dirinya sendiri.


"Sini..!" Bisma menarik tangan Olin agar langsung berada di tengahnya dan Hery.


"Apa lagi..?" Olin masih ingin melihat dirinya di foto saat masih bayi


"Lihat kamera..!" Titah Rena menyadarkan Olin di sekitarnya sudah ada fotografer yang siap memotret mereka bertiga.


"Aaaa..." Olin menangis lagi.


Hery tetap meminta sang fotografer untuk mengambil gambar mereka agar terlihat sama seperti di foto bayi Olin, Olin menangis di dalam inkubator dan di luar inkubator, Hery dan Bisma saling merangkul.


Sekarang tercipta foto bersejarah baru, Olin dewasa dan tetap di belakangi oleh kakak kakak laki lakinya yang saling merangkul dan satu lagi kesamaannya, Olin menangis.


"Haaaaa.. Kalian jahat.. Kok foto Olin pas nagis..?" ptotes Olin.


"Biar sama.." Hery mengacak rambut Olin.


"Eeemmm kalian memang jahil.." teriak Olin kencang satu rumah sederhana itu.


.


.


.


.


.


.


"Eeemmm" Debora sedang di manja manjakan oleh pijitan pijitan lembut Dion di kakinya.


"Seenak itu..?" Tanya Dion.


"Iya.. Enak.." Nilai Debora.


"Kadang susah pijit kaki sendiri, harus membungkuk atau luruskan kaki.. Tapi aku gak sampai.." Cicit Debora.


"Iya'kan ada Debay.." Ucap Dion sangat manja.


"Hah..? Debay...?" Debora seperti baru mendengar kata itu.


"Dedek Bayi.." Sahut Dion lagi.


"Hmmm" Debora mengelus perutnya.


"Aku yakin, nanti dia lebih sayang sama aku.." Bangga Dion.


"Benarkah..?" Debora tidak percaya.


"Iya.. Pasti.. Liat aja nanti. Dia pasti jatuh cinta sama aku, aku akan jadi cinta pertamanya.."


"Jadi.. Dia perempuan..?" Duga Debora.


"Aku rasa.. Liat aja nanti.." Dion juga menduga duga.


"Eeemmmm.. Iya juga.. Mungkin.. Aku juga gak minta dokter kasih tahu perempuan atau laki lakinya, yang penting dia sehat.." Debora hanya fokus pada kesehatan bayinya.


"Tentu.. Aku juga begitu.. Tapi aku yakin dia cantik, pasti.." Dion sangat yakin.


"Jangan terlalu berharap ya mungkin aja dia ganteng.." Sela Debora lagi.


"Mungkin.. Gak salah juga.. Nanti dia ganteng kayak aku.." Cicit Dion lagi membuat Debora geleng geleng kepala.


"Kita tunggu aja ya.."


****


"Jadi mereka cuma berdua..?" Roy mengintip rumah Hery belakangan ini.


Yang ia tahu Hery dan Rena sedang keluar kota untuk beberapa hari ini. Oleh karena itu, Roy mencoba mencari tahu dengan siapa Debora kalau tidak ada Rena di rumah.


Tapi malangnya Debora malah sedang di jaga ketat oleh pujaan hatinya. Hati Roy kembali terluka mendengar pembicaraan Debora dan Dion dari luar jendela kamar Debora.


Mungkin memang tidak tahu malu itulah Roy. Menguping pembicaraan orang seperti ibu ibu kompleks, pintarnya gibah.


Tapi Roy bukanlah untuk menggibah tapi hanya untuk keinginannya. Merasa tak enak hati maka Roy pulang dengan perasaan tak karuan.


"Roy..?" Sapa Nur saat melihat suaminya pulang memasukki rumah.


"Eeemmmm?" Roy jadi acuh tak acuh pada Nur.


"Kamu baik baik aja..?" pertanyaan yang tak ingin di bahas Roy.


"Aku gak apa.. Sudah sana tidur.." Titah Roy.


"Roy.. Aku mau tidur sama kamu.." Rayu Nur.


"Nanti aku juga tidur." Sahut Roy terdengar sangat lesu.


"Roy.." Nur duduk di samping Roy.


"Eemm"


"Sudahlah Roy.. Jangan pikirin Debora.. Ida sudah bahagia kata kamu, tapi kamu masih juga kejar kejar dia.. Biarlah dia bahagia sepenuhnya.."

__ADS_1


"Tapi.." Roy sepertinya masih tidak terima.


"Roy..  Biar Debora mulai cari cintanya.." Eyang juga ada di sana untuk memberi  petuah untuk Roy.


"Eyang... Eyang yang bilang itu Anak Roy. Roy punya hak untuk anak itu.. Aku gak terima kalau ada laki laki lain yang mengakui kalau dia ayah dari anak itu, aku gak terima.." Tegas Roy.


"Tapi kamu lihat.. Debora sudah bahagia ya biarin aja.. Kamu juga bisa bahagia sama Nur.. Sudah gak usah cari cari tentang Debora lagi.. Fokus sama Nur aja.." Tukas Eyang lagi.


"Tapi.." Roy masih menginginkan Debora.


"Sudan pokoknya sampai di sini aja Roy.. Jangan banyak alasan.. Anak..? Sekarang Nur lagi hamil anak kamu.. Kalau baru satu di Debora itu bukan apa apa.. Angga aja sedekah.." pungkas Eyang lagi.


"Sedekah..? Sedekah bibit..? Adakah..?" Cicit Roy tak setuju.


"Sudahlah Roy.. Jangan banyak cincong lagi.. Cukup di sini..!"


"Haaah... Rpy usahakan.." Sahut Roy pasrah.


"Eem?" Eyang membulatkan matanya pada Roy.


"Iya iya.. Roy gak ganggu Debora lagi.


.


.


.


.


.


.


.


Stuart kucar kacir sendiri ruangannya, rasa lelah dan gundah dalam hatinya tak ada obatnya.


Membayangkan Bisma bisa membawa Adel bersamanya lagi menyadarkannya kalau Bisma sangat mencintai Adel.


Tapi bukan itu yang menjadi sumber kegundahan hati Stuart. Tapi wanita yang pernah menemaninya malam itu. Wanita itu sangat mengganggu hati dan pikiran Stuart.


Ia ingin mencarinya tapi ia tidak tahu harus mencari di mana. Ia sudah mencoba ke rumah sang wanita tapi tak ada jejak keberadaannya di sana. Stuart ingin meminta maaf ada wanita itu yang jelas jelas sudah ia paksa untuk melayaninya satu malam full.


"Berhentilah Stu.. Lihat di luar ada Leony.. Dia minta bertemu denganmu. Mungkin dia ingin.."


"Usir dia.. Aku gak butuh dia.." Sergah Stuart.


"Stu..?" panggil sang Daddy.


"Eeemmm?" Stuart hanya menoleh sekejap pada Sang Daddy.


"Temui Leony Stu.. Dia kan tunangan kamu.." Ucap Gilbert lembut pada Stuart.


"Maaf Dad.. Aku gak mau melanjutkan pertunangan aku dan Leony.." Pungkas Stuart yang membuat Albert dan Gilbert terdiam saling pandang.


"Kamu mau putuskan hubungan kita..? Stu.. Aku.. Aku hamil anak kamu..!" Amarah seorang wanita yang masuk  begitu saja ke dalam ruangan Stuart.


"Maaf Leony.. Aku gak bisa.. Kamu lanjut aja sama Tristan.. Kamu paham'kan..!" Tiba tiba wajah Leony pucat pasi.


"Aku.. Aku gak ngerti yang kamu katakan Stu.. Apanya..? Tristan..? Kenapa dengan Tristan..?" Leony gugup.


"Kamu dan Tristan tahu sendiri.." Stuart menghisap puntung rokoknya.


"Eeemmm Stu.. Itu.. Aku dan Tristan.. Kami.. Apanya..?" Tak perlu di jelaskan panjang lebar oleh Stuart sepertinya bisa di baca siapa pun.


"Pergi dari sini wanita ******..!" usir Stuart pelan tapi penuh penekanan.


"Eemmm issshhh.." Wanita itu pergi secepatnya.


"Stu..? Kamu gak nyesal..? Kamu sudah banyak keluarkan dana untuk kejayaan Leony sekarang.. Kamu..?" Albert tak habis pikir pada Stuart.


"Biarkan.. Masa bodoh.." Stuart menerapkan puntung rokoknya hingga apinya mati.


"Stu.." Gilbert merasa iba pada putranya yang biasnya selalu bersemangat tapi tegas.


Kini Stuart lebih pendiam, tak banyak keluar rumah, bahkan makan saja tak teratur.


"Stu.. Aku akan coba bantu kamu cari wanita itu.. Aku yakin kita bisa temukan dia.." Albert memberi semangat Stuart.


"Aku sudah coba.. Entah dia kemana..?" Stuart lemas lagi.


"Ck.. Anak laki laki Daddy jadi lemes besti.." Gilbert menyiku Albert.


"Cih.." Stuart hanya berdecih kecil.


off dulu..


dan ini cuplikan bab 2 Bocilku


Nara menangis di kamarnya meratapi lemari bajunya. Ia menangis karna sang ayah selalu membeda bedakannya dengan sang Adik laki laki.


Baru saja Nara mendengar dari sang ayah kalau ia akan segera menikah dengan keluarga kaya raya. Bukannya senang Nara justru menolak habis habisan. Bagaimana tidak pernikahan itu hanya untuk kebaikkan ayah dan Ibu tirinya dan yang lebih sakitnya lagi kata sang ayah mengurangi bebannya dengan Nara menikah.


"Nara.." Panggil seseorang dari luar kamar Nara. Nara yakin itu adalah ibu tirinya yaitu Mira.


Nara tak menjawab, ia membiarkan saja Mira masuk kamarnya.


"Nara.. Nara.. Kenapa harus nangis..? Gak ada guna.. Mending kamu ikuti aja kemauan Ayahmu.. Bagus looo di sana.. Mereka kaya, apa aja yang kamu mau mereka kasih.. Dan ya.. Gak ada yang suruh suruh kamu lagi kayak di sini.." cicit Mira yang memang tak pernah baik pada Nara.


Nara menatap sinis Mira yang selama ini selalu memperbudak Nara untuk menjadi pembantunya. "Aku mohon bu.. Nara gak mau nikah sama laki laki itu. Nara gak mau.." isaknya.


"Ck.. Dasar anak gak tahu diri.. Udah di kasih kemudahan malah nolak. Ibu ya kalau jadi kamu gak akan nolak.." Mira meninggalkan Nara dengan isakkanya.

__ADS_1


Mira berjalan menuju suaminya, "Mas. Anakmu itu. Gak mau coba.. Kayak apa sih dia itu.. Wong Ferry lagi perlu uang loo mas.. Kalau ada uang seserahannya Nara nanti bisa di pakai kita dan juga Ferry huuuuhhh.." keluh Mira.


"Nanti Ayah yang paksa dia liat aja.." Doni meneguk secangkir kopinya hingga habis.


Keesokkan harinya Nara seperti biasa bangun dari subuh dan mengerjakan pekerjaan di dapur, seperti memasak, memcuci piring dan mencuci semua baju orang yang ada di rumahnya itu.


Datanglah Doni sang ayah. Hati Nara masih sakit dengan tindakan ayahnya yang setuju dengan pinangan itu.


"Nara.. Buatkan Ayah kopi hitam..!" titahnya.


"Hmm" Nara hanya berdehem menjawabnya. Doni tetap diam.


Kopi yang di minta Doni pun siap. Doni menyerutputnya seperti biasa.


"Puuuhhhhssss"


Doni meludahi kopi buatan Nara ke sembarang arah


"Nara..! Kamu ini.. Bisa gak sih buat kerjaan itu yang becus.. Kopi macam apa ini..? Pahit sekali." Doni tampak kesal pada Nara.


"Ya sehapahit rasa yang aku rasa.." Lirih Nara tapi Doni bisa mendengarnya dengan jelas.


"Apa yang pahit..?" Doni menjambak rambut Nara.


"A.. Ayah.. Sakit.." Rintih Nara merasakan kulit kepalanya juga robek akibat jambakkan Doni.


"Apa..? Apa yang pahit..? Hah.. Hidup kamu sudah beruntung karena bisa hidup selama ini di rumah aku.." Bentak Doni.


"Ayah.. Ampun... Aku... Aku ikuti yang ayah minta.. Lepas ayah.." isak Nara lagi.


"Dengar.. Hari ini.. Calon mertua kamu mau liat kamu.. Kamu harus tampil secantik mungkin dan juga bersikap ramah pada mereka.. Jangan buat mereka membatalkan pinangannya..!" Sekali dorong dan Nara terjatuh di lantai dengan rasa kepalanya yang serasa ingin lepas juga.


Doni pergi dari hadapan Nara, Nara semakin terpuruk dan menangis memeluk lututnya "Ibu.." Lirih Nara memanggil mendiang sang ibu.


"Haaaahh.. Nangis lagi.. Cepat siapkan makanan Ferry mau berangkat sekolah."


Nara bangkit perlahan dan menyiapkan yang di minta Mira. Dalam hatinya ia terus berdoa agar semua itu tidak akan terjadi, ia berdoa agar orang yang di katakan ayahnya tadi tidak jadi datang bahkan membatalkan pinangannya.


Nara selesai membereskan meja dan piring piring kotor. Ini saatnya Nara sarapan, setelah semua orang di rumah itu sudah makan barulah Nara boleh makan dan itu pun makan sisa makanan ayah, ibu dan adik tirinya. Setiap hari itulah yang di lakukan Nara.


Doni, ia akan pergi ke tempat perjudian terdekat dan mengadu keberuntungannya walaupun kebanyakkan ia kalah. Mira setelah makan tidak akan keluar dari kamarnya, dan Naralah yang harus mengurus rumah sendiri.


Tepat tengah hari sang ayah pulang, ia tak pulang seorang diri tapi ia di temani dua orang yang tak pernah di lihat Nara.


"Hei Nara.. Beri salam pada calon mertuamu ini..!" titah Doni.


"Mira mana kamu ini tamu besar kita sudah sampai.." Teriak Doni.


"Nara.. Sambut mereka..!" Titah Doni dengan wajah mengancam.


"Selamat siang.. Paman, Bibi.." Nara membungkukkan badannya beberapa kali.


Kedua orang itu tersenyum sepertinya keduanya adalah sepasang suami istri.


Doni dan Mira datang tergopoh gopoh. "Selamat siang calon besan.. Ini istri saya Mira.. Dan yang ini tadi anak saya.. Dia yang siap bapak dan ibu besan pinang.." Doni memegangi bahu Nara.


"Hai nak.. Siapa namamu..?" Bibi itu bertanya.


"Na.. Nara Bi.." Nara ragu ragu.


"Artinya pemberani kan.. Aku suka..." Komentar bibi itu pada Nara. Komentar yang bagus dan tak mengecewakan Doni dan Mira.


"Nara.. Buatkan paman dan bibimu itu Teh.." Titah Mira lebih halus dari biasanya.


"Iya.." Nara segera meninggalkan ruangan itu, sebelum air matanya juga menetes. Sebisa mungkin Nara menyembunyikan tangisnya.


"Itu anak gadismu.. Apa dia berpendidikkan...?" Rafa mulai mengajukan pertanyaan pada Doni.


"Tentu.. Masa kami tidak menyekolahkan Nara.. Putri tercinta kami.." Bohong Doni.


"Baguslah.. Aku ingin wanita yang berpendidikkan untuk putra kami.." Mera juga ikut menimpali.


"Iya Nara sangat cocok dengan yang kalian cari, selain itu Nara juga pandai di dapur, mengurus rumah dan yang lainnya apalagi mengurus suami, Nara pasti bisa.." Doni berusaha sebisanya agar mendapatkan apa yang ia inginkan.


"Hmmm" Rafa menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian Nara kembali datang dengan Mira dan membawa teh untuk di hidangkan pada Rafa dan Mira.


"Selamat di nikmati paman.. Bibi.." Ucap Sopan Nara. Setelah itu Nara berlalu lagi menuju dapur.


"Maaf ya calon besan.. Nara kami memang pemalu.." Cicit Doni lagi.


Mera mengangguk paham, mereka pun berbincang lebih banyak lagi meski itu lepas dari tujuan awal mereka datang kemari. Nara hanya bisa meringkuk di lantai menunggu ponisnya yang di buat sang ayah.


Mira datang menyusul Nara. "Heh.. Coba rambutmu itu di rapikan sedikit.. Kamu kayak gembel aja.." omel Mira pada Nara.


"Iya.. Mungkin aku memang gembel.." Cicit Nara sambil memperbaiki rambutnya.


"Hah..? Berani jawab kamu ya.." Mira menjambak rambut Nara lagi.


"Aku bisa teriak dan mereka dengar nanti gimana..? Apa mereka mau berbesan dengan kalian.." rintih Nara.


"Oo'hooo berani mengancam.." Mira tak terima.


"Bukankah benar.. Aku sakit maka aku akan berteriak.. Aaaaa..." Nara akan berteriak tapi tiba tiba Mira melepaskan jambakannya.


"Cih.. Dasar anak gak tahu diri.." Makinya.


"Mira mana kamu..? Mana kuenya..?" seru Doni dari ruang tamu.


"Dengar.. Kalau kamu gak terima lamaran mereka nanti, maka kamu akan di siksa oleh ayahmu sendiri.. Liat aja nanti..!!" ancam Mira.


Nara menatap punggung Mira yang kembali meninggalnya penuh luka.


Haruskan Nara memang menerima lamaran itu dan meninggalkan rumah ini selamanya. Nara juga tak punya tempat laim untuk lari.

__ADS_1


"Mungkin ada baiknya memang yang Ibu Mira katakan.. Aku lebih baik ikut mereka.."


Setelah sekian lama Nara bangkit dan mencuci wajahnya yang sembab dan  merapikan rambut dan bajunya yang kusut.


__ADS_2