AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 260


__ADS_3

Dion tersenyum dan menerima pudding itu.


"Popsy.. Dedek bayinya cowok atau Cewek..?" Tanya polos.


"Eemm itu.. Belum tahu Mila, tapi doakan aja ya semoga dedek bayinya sehat sampai lahir nanti." Dion membelai rambut anak perempuan itu.


"Oke Popsy.." Anak itu berlari lagi ke tempat anak anak yang lainnya berkumpul.


"Maaf ya.. Mereka pasti kira kamu istri aku.. Mereka gak tahu kalau aku bahkan belum nikah.." Dion sedikit terkekeh dan menggaruk tengkuknya.


"Oohh ya gak apa.." Jantung Debora sudah berdetak tak menentu.


"Jadi.. Apa tadi..?" Dion membawa Debora berbincang lagi, membahas yang ingin Debora bahas.


"Ya.. Eemm aku.. Aku ganti uang yang kamu pakai buat belanja kemarin.." Dion memaikkan alisnya.


"Yang mana..?" Seolah ia lupa.


"Kamu belikan aku perlengkapan bayi. Kamu bilang sebagai tanda terima kasih kamu karna aku bantu kamu pilih perlengkapan bayi untuk saudara kamu.. Dan ternyata.."


Flashback on..


Rena meninggalkan Debora yang sedang mengeluarkan belanjaannya dari paperbag.


"Hem. Lumayan bagus.." Debora melihat ulang pilihannya tadi bersama Wigara.


"Ehh ini..?" Setelah beberapa jenis barang di keluarkan Debora, ia menemukan yang berbeda.


"Ini pilihan aku untuk dia.." Gumam Debora baru menyadari.

__ADS_1


"Ke.. Kenapa ada di sini.. Bukannya..?" Debora langsung mengeluarkan semuanya.


"Ini..?" Debora tak habis pikir.


Semua pilihan Debora yang untuk Wigara ada di dalam paperbagnya. Padahal tadi, paperbag Wigara dan Debora berbeda.. Kini menjadi satu..?


Semua itu berputar putar di otak Debora. Sebenarnya apakah yang terjadi? Kapan Wigara menggabungkan semua belanjaan mereka.


"Apa Ini lagi..?" Debora menemukan secarik kertas.


"Ha... Maaf ya kalau kamu kaget.. Makasih udah temani aku belanja, tapi semua belanjaan itu untuk kamu kok.. Aku senang bisa kenalan sama kamu. Kapan kapam kita ketemu lagi ya.. Oh ya aku salah sebut nama.. Namaku.. Dion Wigara.."


Isi surat di kertas itu. Entah kapan itu ada paperbag Debora. Setelah itu Debora langsung mencari Rena dan mempertanyakan ciri ciri Seorang Dion.


Flashback off.


"Ck.. Kamu buat aku gak enak hati tahu.. Kamu.. Huuuhh" Debora melipat tangannya di dada.


"Iya.. Aku cuma.. Lagi gabut aja.." alasan yang tak sesuai sekali.


"Hmmmmm?" Debora mengeram.


"Sudahlah.. Jangan di pikir.. Ayo ikut aku.." Tanpa memberikan penjelasan lagi Dion menarik tangan Debora membawa bersamanya.


"Eehh mau ke mana...?" Debora melangkah mengikuti langkah kaki Dion.


"Udah ikut aja.. Pasti seru.." Dion tak memikirkan Debora yang terus bertanya tanya di belakangnya.


"Tara..." Dion membawa Debora ke sebuah rumah kaca dan isinya bunga bunga dan juga anggrek.

__ADS_1


"Wuoooaaaaahh.." Debora tak bisa menahan kekagumannya.


"Indah kan.. Sini temani aku sirami dan beri pupuk mereka.." Dion mengisi gembor untuk menyiram tanaman.


"Sedikit sedikit aja ya.." Dion menyerahkan gembor itu pada Debora.


Debora mengangguk dan mulai menyirami bunga bunga itu.


"Cantiknya.." Puji Debora pada bunga yang sedang mekar mekarnya.


"Ya kan.. Aku juga suka.." Dion juga ikut menyirami tanaman itu.


"Ini semua punya kamu..?"


"Iya.. Aku suka kumpul kumpul bunga.. Sengaja aku bawa ke sini.. Jadi anak anak itu juga ada kesempatan rawat bunga bunga ini." Jelas Dion.


"Oh ya.. Ini panti kan.." Debora menoleh pada Dion sekilas.


"Iya.. Aku sering ke sini sekedar untuk bemain dan menghibur mereka.." Debora mengangguk paham.


"Suara kamu tadi bagus banget." Puji Debora lagi.


"Ya kah.. Apa kamu suka..?" Dion mengambil gembor milik Debora dan mengisinya lagi.


"Iya.. Merdu.." Dion tersenyum bahagia mendengarnya.


"Iya aku juga suka suara aku.." Dion mengedipkan sebelah matanya pada Debora sambil menyerahkan gembornya.


Debora..

__ADS_1


__ADS_2