
Roy pulang terlebih dahulu dari Hery dan Bisma.
"Debora.." Panggil Roy ketika baru memasuki Rumah.
"Apa..?" Debora buru buru turun dari kamar.
"Kamu ngapain..? Kok lama banget..?" Protes Roy padahal dia yang baru sampai.
"Aku tadi di kamar Roy.. Tapi kok kamu cari aku.. Tumben..?" Debora tak biasa.
"Aku mau tu kamu tunggu aku di situ.. Jadi kalau aku pulang aku langsung liat kamu. Aku gka khawatir sama kamu.." Tanpa terasa Roy mengatakan isi hatinya.
"Memangnya aku kenapa..?" Debora masih tak mengerti.
"Kamu..." Roy ingin berucap lebih banyak lagi tapi ia tahan dulu.
"Sudahlah kamu pasti lapar, aku tadi memang belum masak tapi aku buatkan kamu pudding coklat. Mau ya..?" Ajak Debora dengan lembut.
"Ya ayo antar ke kamar aku tunggu di sana.." Roy mendahului Debora.
Debora mengelengkan kepala. Ia pergi ke dapur dan mengambil pudding ya ia buat secantik mungkin untuk Roy. Di cetakan bunga bunga yang cantik dan rasa yang nikmat pula.
"Aku yakin Roy suka..." Debora membawanya ke kamar mereka.
"Roy ini Puddingmu.." Debora membuka pintu kamar dan Roy sudah menunggunya di sofa dan tak mengenakan pakiannya.
"Bawa sini. Suapi aku.." Pinta Roy lagi.
"Kenapa sebenarnya Roy ini, tiba tiba marah, tiba tiba perhatian, tiba tiba manja gini, maunya apa sih..?" Debora berjulid dalam hatinya.
"Aaaaa.." Roy sudah membuka mulutnya lebar lebar.
"Enak kan.." Debora menyuapkan satu suapan pada Roy.
"Eeemm enak..." Puji Roy kali ini.
"Ya.. Aku berusaha sebaik mungkin tadi buatnya. Syukurlah kamu suka." Debora lega.
"Ya dan aku mau setiap aku pulang kerja harus ada cemilan buatan kamu.. Dan kamu ingat kan kata aku tadi, kalau aku pulang kamu harus di mana dan melakukan apa..?" Roy berbicara dengan mulut penuhnya.
"Ya aku harus tunggu kamu di depan dan sambut kamu pulang.." Sahut Debora dan menyuapi Roy Lagi.
"Yap.. Ingat baik baik, mulai besok ya.. Untuk makan malam kamu gak usah repot repot biarkan bibi bibi di dapur yang masak. Kamu cukup buatkan aku cemilan." Tambah Roy dengan penjelasannya.
"Ya Roy.. Besok kamu mau apa..?" Roy berpikir sejenak.
"Aku mau apa ya..? Aaahh ya.. Aku mau peyek lagi.." Roy memutuskan pilihannya.
"Hah.. Tapi nanti gigi kamu sakit lagi." Debora ingat kejadian beberapa waktu lalu. Roy sakit gigi. Debora mengira sakit gigi Roy di karnakan peyek yang ia makan saat siang hari.
"Gak aku gak akan sakit gigi lagi.." kiranya.
"Apa kamu gak mau cabut gigi..?" Debora berhenti menyuapi Roy puddingnya.
__ADS_1
"Gak gak.. Sakit.." Roy memegangi pipinya.
"Iisss gak lah itu ada obatnya." Tambah Debora lagi.
"Pokoknya gak mau.."
***
Hari berganti hari. Semuanya berjalan lancar. Hanya Hery yang untuk satu bulan ini tidak turun kerja, karna ia tidak bisa meninggalkan Rena yang sudah hamil besar dan tinggal hitungan hari saja akan segera menjadi seorang ibu.
Roy pun yang menjadi sibuk bertemu dengan klien dan urusan yang berhubungan dengan Hery dan Perusahaan.
"Aku berangkat dulu..Cup.." Roy mengecup Debora dengan sangat lembut.
Hubungannya dan Debora semakin membaik, Debora juga melakukan apa yang menjadi tugasnya sebagai istri Roy.
Menyiapkan perlengkapan Roy, baju, makanan dan yang lainnya juga Debora semua mengurusnya.
"Hati hati ya.." Debora menjadi sosok yang lembut.
Sekiranya itulah suasana rumah tangga Roy dan Debora. Bagaimana dengan Hery dan Rena.
"Sayang.. Aku bisa sendiri.." Protes Rena karna kemana mana Hery mengikutinya, bahkan ke kamar mandi dan toilet Hery juga ikut.
"Ya aku bantu siram.." Alasannya.
"Ooohh Tuhan.." Rena putus asa untuk melarang Hery.
"Memangnya apa sayang..?" Rena memeluk lengan kekar Hery.
"Ya aku juga gak tahu.." Hery membawa Rena duduk di sofa.
Hanya Hery dan Rena, Bisma tetap turun kerja dan menjadi OB.
"Apa kamu gak rasa apa apa gitu..?" Tanya Hery.
"Eeemm gak ada sih..."
Hery menghela nafas mendengar jawaban Rena. Padahal Hery sangat merasakannya.
Malam tiba. Rena sudah tidur nyenyak sedangkan Hery masih tidak tenang. Ia terus menatap Rena.
"Halo Rumah sakit Husada. Bisa segera persiapkan ruang yang Saya pesan..? Eeemm atas nama Hery Krisnata untuk Rena Giren. Oke ya.." Hery sampai menghubungi Rumah sakit yang ia pesan untuk Rena.
"Aku gak tahu tapi aku rasa ini perlu sayang.." Keringat dingin mengguyuri Hery.
"Huuuhh... Huuuhh.. Huuuhh..." Hery menarik nafasnya dan menghembuskan beberapa kali.
"Oohhh Tuhanku.. Bantulah HambaMu ini. Apa pun yang terjadi tolong bantu Hamba, lancarkanlah semuanya." Hery melipat tangannya berdua menatap Rena.
Hery berusaha sebisa mungkin menutup matanya dan terlelap tidur. Akhirnya ia bisa terlelap dalam tidurnya.
Beberapa jam setelah Hery tertidur, Rena tersadar dari dalam tidurnya. "Uuuhh mau pipis.." Rena segera turun dari tempat tidur dan meninggalkan Hery sendiri di tempat tidur.
__ADS_1
"Aahhh leganya.." Rena selesai dengan urusannya di toilet.
"Eeehh..?" Rena melihat ada yang berbeda di air itu, sedikit berwarna merah seperti darah.
"Oohh astaga...!!" Rena terpekik.
"Heryyyyy!!!!!!" Rena langsung meneriaki Hery.
"Hah..?" Hery tarbangun dengan terkejut karna teriakan Rena.
"Rena..?" Hery melihat arah kamar mandi dam Rena sudah keluar dari kamar mandi.
"Rena, kenapa ke toilet gak bawa aku..?" protes Hery.
"Nanti dulu protesnya. Kita ke rumah sakit sekarang..!!" Rena menangkup wajah Hery.
"Rena..?" Hery sudah bisa menebaknya.
Tanpa basa basi Hery langsung mengendong Rena dan memencet tombol yang langsung terhubung pada Pak ada di Bisma.
"Ayo sayang.." Hery membawa Rena segera.
"Hely..?" Bisma juga terbangun dengan segera.
"Sudah saatnya ayo..." Tanpa banyak bertanya seperti biasanya Bisma segera mengikuti intruksi Hery.
***
"Dokter...!!!" Hery langsung mencari Dokter yang ia sudah pesan untuk menangani jika Rena akan melahirkan seperti sekarang.
"Ya tuan.." Dokter datang dan langsung membawa Rena ke ruang VVIP.
Rena di beri perawatan terbaik di rumah sakit ini. Hery selalu di sampingnya dan mengelus rambut Rena dan perut Rena juga tentunya.
"Sayang tenanglah... Tenang..!" Ini kata yang seharusnya di ucapakan oleh seorang suami pada istri yang akan melahirkan, tapi di sini kebalikannya. Rena menenangkan Hery yang tak henti menangis di sampinya.
"Sayang tenang aku gak apa apa kok.." Rena terus mengelus dada Hery.
"Bagaimana aku bisa tenang.. Kamu sebentar lagi lahiran.. Aku.. Aku.." Hery terlalu tertekan.
"Sayang... Apa kamu pernah rasain namanya lahiran..?" Rena masih sempat menggoda Hery. Bisma pun tak bisa menahan geli hatinya melihat Hery yang begitu cengeng di tambah lagi godaan Rena.
"Sayanggggg...?" Hery makin kencang menangis.
"Astaga hilang sudah Stay Cool kamu Hel..." Bisma memegangi bahu Hery.
"Aaaaaaaa..." Eh kayak di cubit.
"Sayang... Aku belum rasa apa apa looo.." Rena mengguncang tubuh Hery.
"Ya kah..?" Hery sedikit melemah.
Off dulu guys... Like dan komen ya..
__ADS_1