
Rena mengangguk anggukan kepalanya,
"Makanya aku bisa santi gini di rumah karna masih ada yang kerja di kantor." tambah Hery lagi.
"Lalu Debora tahu juga..?" semuanya Rena pertanyaakan.
"Eyang dan Debora gak tahu apa apa sayang.. Eyang kira itu adalah perusahaan yang Roy bangun dengan susah payah, dan itulah hasilnya. Debora juga gitu, dia tahunya itu punya Roy. Bahkan uang yang untuk Roy tebus Debora yang di culik itu juga Debora kira uang Roy, padahal itu uang aku kasih.." Rena mengangguk paham.
"Makanya aku bilang ini rahasia kita aja.. Karna gak banyak yang tahu.." Tambah Hery lagi.
"Terus sekarang apa kamu masih takut sama wartawan..?" Rena juga mengkhawatirkan sang Suami.
"Untuk sekarang sih masih ada gitu, kalau misalnya ada yang mau wawancara Roy, aku tuh rasanya takut banget... Aku masij keingat waktu kecil dulu.. Di kajar kejar, di amankan sama bodiguard... Haahhh pokoknya bikin aku takut gitu.." Hery rupanya sangat istimewa dan memang berbeda.
"Oowww sayangku ini..." Rena mengelus pipi Hery.
"Ya sayang makanya aku mau di sayang sayang kamu terus.. Biar cepat sembuh.." Hery bermanja manja pada Rena.
"Eh kok aku..?" Rena sangat heran.
"Ya karna kamu obat semua sakit aku.. Coba ingat pas aku mabuk dan sakit hati di bar, kamu datang dan aku langsung sembuh.. Gak mabuk lagi.." Hery semakin manja.
"Berarti kamu dulu sering mabuk mabuk ya..?" Rena mulai mengintrograsi Hery.
"Gak kok.. Gak sering, tapi pernah aja.." Jawab Hery dengan malu malu.
"Hery.. Kamu ngapain aja..?" Rena semakin menjadi.
"Ya aku minum aja kok gak ngapa ngapain.." Berusaha menjelaskan yang sebenarnya pada Rena.
"Gak ada yang lain gitu..?" Masih berprasangka buruk pada Hery.
"Gak ada sayang.. Aku cuma minum itu pun sama Roy.." Hery sangat serius dan tak ada kebohongan yang ia katakan, karna itulah yang dulu sering di lakukan Hery dan Roy saat mereka merayakan sesuatu atau merasa sedih, apalagi saat Roy terguncang karna masalhanya dan Debora.
Roy sering membawa Hery untuk minum minum. Mau tak mau karna setiap ada temannya yang satu ini Maka Hery mengikuti keinginan Roy.
"Gak ada pengalaman aneh kan pas minum minum gitu..?" Tanya Rena lebih dalam.
"Eeemm ada sayang, pastilah ada.." Hery jujur akan itu, ia tak mau menyembunyikan apa pun dari sang istri. Memang suami idaman.
"Apa..?" Sontak Rena sangat penasaran.
"Ya dulu aku pernah di rangsang pakai obat, aku kayak Roy kamarin itu, gak terkendali dan satu satunya cara ya itu.." Malu Hery untuk mengatakannya.
"Apa.. Kamu begitu.. Sama siapa..?" Rena rasanya tenggelam dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku gak ngapa ngapain, memang rasanya panas dan pengen gitu tapi, aku bisa atasi dengan mandi air es." tambah Hery.
"Air Es..?" Rena sangat terkejut mendengarnya.
"Iya, aku minta anak buah aku untuk buatkan aku kolam air Es.. Untungnya bisa terobati rasa itu, tapi besoknya aku demam." Hery sangat malu.
"Oowwww..." Rena sangat terharu dengan perjuangan Hery melawan rasa inginnya.
"Kenapa kamu gak kepikiran untuk main aja sama satu cewek gitu..?" Rena masih terus menggali.
"Ya aku gak mau, asal kamu tahu waktu dulu aku tu gak mau sama sekali dekat sama Cewek, jangankan minta main kayak yang kamu kira, duduk dekatan aja aku gak mau sayang.. Eeeemmm tapi kalau sama kamu ngapain aja boleh kok.." Goda Hery.
Cup..
Rena mengecup Hery. "Iya sama aku boleh kok ngapain aja.." Hery sangat senang dan membawa Rena kembali ke kamar mereka.
"Kayaknya sudah waktunya sayang..." ucap Hery, Rena sangat malu dan hanya menyembunyikan wajahnya di dada Hery.
Mereka pun melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan. Hery tidak ingin melakukan malam kemarin apalagi malam setelah acara pernikahan mereka, karna ia yakin Rena sangat lelah mengikuti acara acara yang mereka selenggarakan.
Mungkin ini saatnya meski belum malam tapi Hery sudah tak sabar. Ia juga ingin memamerkan kebisaannya di ranjang dengan Rena.
"Nak.. Papa mau ketemu bentar boleh gak..?" Hery mengecup perut Rena terlebih dahulu sebelun mulai nakal.
"Oke.. Ayo.." Hery memulai permainannya.
Permainan Hery dan Rena yang perdana pun di mulai petang ini. Permainan pelan tapi memasnasnya ruangan.
"Aaahh sayang kamu nikmat sekali.. Aaaww" Hery sebenarnya sudah tak tahan. Maklum baru pertama kalinya.
"Sayang.. Aku gak kuat.." Hery sebisa mungkin menahannya.
"Lepas aja sayang.." Saran Rena.
"Aaahhhhh....."
"Maaf ya sayang.. Gak bisa lama lama.. Oohhh gitu ya rasanya... Ahh.. Boleh lagi kah..?" Sepertinya Hery kecanduan.
"Ya sayang boleh.." Cup. Hery mengecup Rena setelah mendengar ucapan manis di pendengarannya itu.
***
"Naaa.. Na.. Naaa.." Debora baru selesai mandi, ia kini akan lanjut melakukan perawatan malamnya.
"Kamu gak bosan ya ngalakuin itu terus tiap hari, tiap malam, tiap pagi...?" Roy menggritik Debora.
__ADS_1
"Iisshh gak lah.. Ini tu namanya perawatan.. Kamu mau..?" Tawar Debora.
"Apa enaknya..?" Roy Mungkin sedang mencari hal baru dan menghibur dirinya.
"Mau aku pake kan.. Enak loo rasanya.. Dingin, sejuk, lembut.. Mau?" Debora memperlihatkan krim malamnya.
Tak ada jawaban dari Roy maka Debora menghampiri Roy dan langsung mengoleskan krim itu.
"Enak kan..?!" Tanya Debora setelah memasangkan krim itu.
"Eeemmm" Roy mengangguk pasrah.
"Ya.. Baguslah." Debora bangkit menuju meja riasnya lagi.
Kini ia berganti mengenakan vitamin rambut agar rambutnya sehat dan berkilau.
"Itu apa lagi..?" Roy terus memperhatikan Debora.
"Ini vitamin rambut, wangi.." Ucap Debora dan terus melakukan kegiatannya.
"Sewangi apa..?" Roy masih banyak tanya.
"Mau juga kah..?" Tawar Debora lagi.
Sepertinya Roy sadar mungkin dan ingin memperbaiki semuanya dari awal lagi.
Makanya ia mencoba menerima Debora apa adanya.
"Ya aku kasih pake lagi ya..." Debora membawa lagi vitamin rambutnya itu dan memakaikannya pada Roy.
Lagi lagi Roy hanya pasrah dan menerima yang Debora lakukan padanya. Roy juga sebenarnya menyukai wangi wangi ini. Wangi yang pernah membuatnya jatuh cinta pada Debora.
"Aku suka wanginya..." Tiba tiba Roy bersuara.
"Hah..?" Debora takut salah dengar.
"Wanginya aku suka..." Ulang Roy lagi.
Debora terdiam dan menatap Roy. Roy pun menatapnya, keduanya terdiam sejenak, mungkin keduanya sama sama mengingat kalau pernah saling cinta dan saling mengasih.
"Aahh.. Iya wanginya bagus, gak terlalu menyengat, tapi wangi gitu.." Debora bangkit dari duduknya dan menyimpun alatnya di meja rias.
"Apa benar Debora sudah berubah dan kembali seperti dulu.. Apa aku bisa percaya lagi sama dia..?" Roy terus menatap Debora.
off dulu guys.. koment dan like ya.. rate bintang dan favotitkan ya.. pencet love lovenya oke..
__ADS_1