
"Apa yang sudah amu lakukan. Kenapa aku bisa sebodoh ini. Roy kamu bodoh Roy kamu Bodoh..." Ucap Rot dalam hatinya sendiri.
"Rena... Rena sakit hati padaku. Apa dia mau menerimaku lagi.. Debora? Debora kamu sungguh jahat. Kamu bilang ingin anak dariku tapi kamu juga meminta anak dari laki laki lain?" Tak habis pikir Roy dengan kebodohannya sendiri.
Roy terdiam cukup lama bahkan Debora dan John sudah selesai telponan. Roy masih mencoba menenangkan dirinya. Karna tak kunjung tenang Roy kembali menghubungi Hery sahabatnya.
"Halo Her.. Kamu belum tidurkan..?" Tanya Roy ketika Hery menjawab Telpon dari Roy.
"Belum aku masih sibuk.. Seharian ini aku bantuin nyonya Rena jadi tugasku menumpuk. Kenapa Roy? Tidak tidur dengan Nyonya Debora? Apa kalian tidak sedang menyibukan diri bersama?" Roy sangat paham apa yang Hery singgungkan.
"Tidak Her... Aku bodoh ya..?" Pertanyaan yang sungguh aneh terlontar Roy.
"Heh..? Kenapa ini kamu kok malah jadi bodoh beneran?" Tanya Hery juga ikut bodoh.
"Her... Aku.." Rasanya Roy tak bisa menahanya sendiri lagu seperti kemarin Roy butuh Hery untuk menjadi tempat mengadunya.
Hery memasang wajah serius dan tak ingin menggoda temanya yang sedang sedih ini. Pasti tadi Roy mengbuhungi Rena dan terjadi sesuatu di hubungan mereka. Hery tetaplah Hert yang selalu siap menghibur temannya itu.
"Katakan Roy.. Aku akan mendengarkannya."
"Her... Aku bodoh.. Aku menyakiti Rena. Dan sekarang Rena marah padaku. Rena sangat sedih, aku tadi menelponnya dan aku mendengarkan suaranya yang sangat rapuh itu. Sepertinya tadi saat aku menelponnya dia menangis Her..." Roy menghentikan curhatanya itu.
"Iya Roy kan aku sudah bilang tadi, aku ini melihat langsung Rena yang sedang bersusah hati. Aku tahu ini pasti akan terjadi, makanya tadi ku suruh kamu telpon dan hibur dia." Hery pun mendukung Roy yang merasa bersalah pada Rena.
"Iya Her... Tapi Her.. Ada yang lebih membuatku makin bodoh." Roy menarik nafasnya. "Debora Her... Dia berencana jika tidak mendapat anak dariku maka ia akan meninta anak pada pria brengsek itu. Kenapa aku bisa mempercayainya begitu saja Her...? Kenapa hanya karna semalam yang panas membuatku seperti ini Her..? Kenapa kamu tidak mengingatkanku sepertu biasanya...?" Roy benar benar frustasi saat ini.
"Aku sudah mengingatkanmu.. Tapi dari dalam hatiku saja. Kau tahu aku mengejek dari dalam hatiku. Aku bilang, aku ingin juga memiliki istri.. Tapi istriku itu tidak selingkuh di belakangku, tidak mengabiskan hartaku dengan laki laki lain, aku juga mau wanita yang pintar di ranjang, tapi jika ia pintar di ranjang hanya karna belajar dari laki laki lain dan setelah itu praktekkan denganku.. Sama saja bodoh." Ungkap Hery tentang umpatanya dan apa yang ia pikirkan saat Roy dan Debora akan berangkat tadi pagi.
Seolah lata kata itu merasuki Roy, Roy bangkit dari duduknya dan meyakinkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Benar Her... Yang kamu katakan memang benar. Aku benar benar bodoh. Hanya karna malam itu aku puas dengannya dan melupakan dari mana Debora belajar seperti itu." Roy kini sudah kembali menjadi Roy yang tak ingin di sakiti Debora lagi. Hery bersorak dalam hatinya.
"Roy... Kembalilah menjadi Roy sahabatku. Ingat apa tujuanmu Roy. Jangan hanya karna kenikmatan sesaat kamu melupakan semuanya. Kenikmatan apa yang Rena berikan padamu Roy? Apakah itu sepadan dengan kenikmatan Yang Debora berikan padamu malam itu dan apa kenikmatan malam itu sampai malam ini dimana Debora kembali menyakitimu? Tidak Roy... Debora tetaplah Debora. Rena tetaplah Rena." Ucap Hery dengan bijaknya.
"Benar Her kamu sangat benar. Aku janji aku akan segera kembali. Mungkin aku di sini hanya untuk Eyang saja. Siapkan tempatku lagi dalam waktu dua hari aku akan segera kembali." Ucap Roy sangat yakin kini. Ia tidak akan bodoh lagi.
"Yes... berkuran tugasku.." Sorak sorai hati Hery, pemilik perusahaan yang sedang pusing pusing Hery handle ini akan segera kembali pulang.
Roy kembali ke dalam kamarnya, Debora sepertinya sudah terlelap. Roy pun naik ke atas kasur empuk itu. Tapi jujur Roy sekarang merasa Jijik dengan Debora. Kembali Roy mengingat malam ketika ia dan Debora bersama hingga melupakan segalanya. Bukannya senang Roy malah jijik akan itu. Roy membayangkan jika itu semua John yang ajarkan pada Debora.
"Cih.. Aku memutik bekasnya." Guman Roy sendiri.
***
Pagi ini sangat cerah untuk Rena, hari ini Dion akan mengajaknya untuk kepasar, dan semalam juga Dion langsung menghubungi teman temanya yng berkerja di pasar. Dan yang mebuat Rena makin senang katanya ada satu lowongan untuk Rena. Bukan main girangnya Rena.
Ting tong..
Rena membunyikan bell Unit Dion. Tak lama pun Dion keluar dari unitnya dan mereka berdua pun berangkat.
Tidak mengunakan mobil Dion semalam karna Dion sudah memerintahkan anak buahnya untukm mengantar motornya dan membawa Mobilnya itu. Dan tak lupa beberapa Lembar bajunya juga. Agar terlihat benar benar nyata.
"Ayok..." Ajak Dion pada Rena yang sedang mengenakan Helm yang Rena pinjam dari penjaga Apartemen.
**
Sampailah mereka di pasar, banyak sekali penjual penjual di sini. Rena bingung yang mana teman yang di maksud Dion.
"Ren.. Kita belanja dulu ya... Kamu temani aku donk.." Ajak Dion.
__ADS_1
"Iya ayok aku temani."
Dion dan Rena pun mulai berbelanja. Awalnya Renactak ingin berbelanja tapi Dion memaksanya untuk ikut membeli bahan makanan yang Rena inginkan.
"Ayolah Ren.. Beli saja. untuk masalah uang itu gampang." Bujuk Dion pada Rena yang ingin membelu daging ayam kampung yang masih segar itu.
"Anggap saja ini ganti Coklat hangat semalam Ren.. Coklat hangat kamu semalam itu benar benar enak.. Mau ya..." Bujuk Rayu Dion tak ada habisnya.
Mau tak mau pun Rena menerima tawaran dan bujukan Dion. Kini keduanya beristirahat sejenak karna sepertinya keduanya kelelahan karna berdesak desakan apa lagi mendengar teriakan para penjual dan pelum lagi suara tawar menawar para pembeli juga tak ramainya.
Dion dan Rena beristirahat sambil menimati es cendol. Eemm nikmat...
"Oh itu dia temanku..." Tunjuk Dion pada seorang anak remaja mungkin baru berusia belasan tahun.
"Ini Fery.. Dia berkerja di bagian pemotongan ayam" Dion mempekenalkan Fery yang adalah anak dari tempat yang sama dari tempat Vallen.
"Hai kak.. Ini yang mau kerja..?"Tanya adik kecil itu.
"Iya dek.. Ini namanya kak Rena.. Dia ingin berkerja, apa aja boleh kok." Ucap Dion yang di anggukan oleh Rena kerna Rena tak peduli dengan pekerjaan yang akan ia dapatkan yang penting ia aman dari Roy untuk sementara.
"Ooohh kak.. kerjaannya itu gampang.. Kaka tinggal jagain standnya kita itu.. Ayo kak sini sini.." Ajak Fery kepada Dion dan Rena.
Fery dan kakanya mulai menunjukan pekerjaam Rena, Rena mengerti dengan cepat apa yang Lina, kakaknya Fery ajarkan.
"Mudahkan.. Ini kemarin ada yang jaga tapi dia berhenti karna gak ada yang ngurus adeknya di rumah" Kata Lina memberitahu.
Rena pun tak khawatir dengan pekerjaannya bahkan Rena siap mulai perkerjaannya hari ini juga. Dion sungguh tertarik dengan semangat yang Rena punya ini.
Tak ada lagi wajah kesedihan Rena dimatanya hanya kuat dan tabah yang bisa Dion lihat dalam di dalam diri Rena.
__ADS_1