
Hery melirik Dion, "Iya.. Yang aku dengar dari temanya, dia minum banyak, ada wanita wanita yang godain dia.. Cih di tolak.. Orang dia masih sadar.. Sehat dari atas sampai bawah." Dion menunduk dan menggelengkan kepalanya.
"Tapi itu dulu.. Sekarang gak lagi.." Dion segera menyanggah.
"Yakin..?" Debora seolah tak percaya.
"Yakiiinnn.." Dion mengelus pipi Debora. Seolah di antara mereka sudah ada Hubungan erat saja.
"Apaan sih..?" Debora menyingkirkan tangan Dion.
Dari tempat tak jauh dari dapur itu, Roy mendengarkan dengan jelas, bukan hanya mendengar, tapi ia juga melihat kedekatan antara Dion dan Debora.
Yang membuat Roy semakin sakit adalah Debora yang sama sekali tidak risih di sentuh Dion. Tapi malah terlihat senang dan suka.
Roy tahu, ia sudah tak ada hak untuk marah pada Debora karena hubungan keduanya sudah tidak ada. Tapi api cemburu di hati Roy tetap ada. Bagaimana pun juga, Roy masih mencintai Debora. Melihat ada Seorang pemuda mendekati Debora, itu adalah pukulan maut untuk Roy.
.
.
.
.
.
"Bora..?" Dion mengetuk pintu kamar Debora lagi.
"Iya..?" Debora membuka pintunya, kelihatannya Debora baru selesai mandi.
"Ini aku kembalikan dress mu takut aku bawa pulang dengan kamu kamunya nanti.." Goda Dion.
__ADS_1
"Ck.." Debora berdecak. Ia hendak mengambil dress itu dari tangan Dion, tapi Dion menariknya lagi.
"Dion..?" Debora melotot.
"Ada syaratnya.." Mata Debora membulat.
"Eh itu Dress Siapa yang kasih syarat siapa..?"
"Kan kamu milik aku.." Gumam hati Dion.
"Iya.. Tapi aku sangat ingin.." Bulu roma Debora bangun seketika.
"Ingin..? Ingin apa..?" Debora was was.
"Inginnnnnn.............. Tahu kapan kamu ke dokter kandungan.." Dion tersenyum manis setelah menggoda Debora.
"Ck.. Kirain apa tadi.." Debora memegangi dadanya.
"Ya.. Gak apa apa.. Dokter kandungan.. USG..?" Debora segera mengalihkan pembicaraan.
"Iya.. Aku mau ikut."
"Iissshh banyaknya mau mu.." Protes Debora.
"Ayolah.. Gak banyak itu.. Eemm gini aja anggap aku ini suruhan kamu.. Apa aja yang kamu mau suruh aja aku.. Misalnya ya itu tadi.. Antar dan temani kamu pergi dokter kandungan.." Dion merentangkan tangannya.
"Haaahh.. Bermacamlah lagi.." Debora melipat tangannya di dada.
"Ayolah.. Boleh ya.." Pinta Dion lagi.
"Eemmm kapan ya..? Kok aku lupa.." Debora menggaruk kepalanya.
__ADS_1
"Jangan alasan pura pura lupa lagi.." cicit Dion.
"Gak.. Aku betul betul lupa.. Bentar.." Debora masuk kamarnya dan mencari surat pemeriksaannya.
Dion pun dengan santainya masuk dan ikut Debora mencari surat itu.
"Yang ini..?" Dion memperlihatkan surat dari rumah sakit tempat Debora pernah di rawat.
"Bukan.." Debora menggeleng. "Surat yang aku cari itu warna pink gitu.. Namanya bukan rumah sakit tapi tempat prakteknya gitu Dion.." Debora memberikan ciri cirinya.
"Nah ini.." Debora menemukannya di dalam tasnya.
"Kapan..?" Dion mendekati Debora. Ia berdiri tepat di samping Debora. Bahkan sangat dekat.
"Hah..? Besok.." Lirih Debora.
"Besok..? Yes aku ikut.." Sebenarnya Dion sudah menangkap dari ujung matanya. Ada seseorang yang tengah berdiri di depan kamar Debora tapi ia pura pura tak melihatnya.
"Iya.. Besok.." Debora memberikn surat itu pada Dion.
"Oke.. Oohh sore besok..? Kenapa gak agi aja.. Kok sore..?" Dion sangat cerewet.
"Iya.. Kan siangnya dokter dokter kayak mereka sibuk di rumah sakit. Sementara kita kan mau pergi tempat prakteknya.. Jadi sore atau malam waktunya.." Jelas Debora.
"Oh iya juga ya.." Dion baru mengerti.
"Janji ya..! Besok aku jemput jam 3.."
"Hah..? Kok jam 3..? Kan ini sore jam 6.." Debora menunjuk suratnya.
Dion..
__ADS_1
wah lima bab dua hari ini looo guys.. senyum donk buat othor.. like gitu.. komen gitu.. hadiah gitu, vote gituh xixixi...