AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 21


__ADS_3

Debora menggempas tangannya yang John tarik tiba tiba dengan kasar.


"Kamu ini kenapa sih?" Ucap Debora kesal pada John yang tanpa aba aba yang menariknya tiba tiba.


"Sayang lihat itu.." John menunjuk Rena dan Dion yang sedang berjalan bersama sama mencari apa yang akan menjadi makan siang mereka.


"Hei itu wanita tadi.. Diakan tadi yang kamu lihat pakai kartu Gold bernamakan Roy Filip.!?" Debora juga mulai memperhatikan Rena dari jauh bersama John.


***


"Apa kamu mau makan ini?" Tawar Dion pada Rena menunjukan satu Stand di depan mereka saat ini. Stand dengan menu serba ayam.


"Eemm sepertinya ada yang enak enak juga. Baiklah kita makan di sini dan ingat aku yang bayar oke." Renam mengedipkan mata kirinya pada Dion. Sejenak Dion terpikat dan membalasnya dengan senyum manis di wajahnya.


"Ayo kita pesan. Mbak...!?" Rena mulai memesan beberapa makanan dan minuman. Begitu pula dengan Dion dia mulai memilih juga.


Keduanya tak sadar ada yang sedang diam diam mengintip keduanya. Kali ini John akan membuktikan kalau yang ia lihat itu benar. Jika nama yang tertulis di kartu gold itu adalah nama Roy.


Sedangkan di tempat lain pula, Roy dan Hery sedang makan siang juga. Mereka makan layaknya saudara saat berkumpul. Kadang berebut makanan dan saling mengejek.


Hery bersyukur sahabatnya ini sudah tidak terpuruk seperti pada bulan bulan lalu jangankan untuk makan seperti ini, makan sendiri pun Roy tidak berselera. Tapi sekarang kondisinya sudah berbeda. Sahabatnya telah kembali. Dan Hery berjanji akan selalu mendukung sahabatnya itu. Dia saat susah maupun senang Roy.


"Apa kamu tidak menghubungi istri kecilmu itu?" Istri kecil adalah panggilan Hery pada Rena. Menurut Hery itu cukup bagus.


"Tidak aku tidak ingin menggangunya, dia sedang berbelanja. Dan aku baru saja mendapat notifikasi dari bank. Dia baru saja menghabiskan 5 juta dari kartu Goldku." Ucap menceritakan cerita yang baru saja dia dapatkan.


"Wahhh hebat juga dia. Aku tadi mendapat notifikasi dari bank Debora dan katanya dia sudah menghabiskan 75 juta. Barang barang yang ia beli semuanya barang bermerk sehingga harganya melampau lebih dari harga barang lainnya. Dan sedangkan Istri kecilmu baru membelanjakan 5 juta. Aku acungi jempol Roy untuk istrimu itu." Ucap Hery lagi memberi pujian pada istri yang kini sangat Roy sayang dan cintai melebihi istri sahnya sendiri.

__ADS_1


"Hehehehe iya dong... Dan sampai sekarang dia belum membeli sesuatu lagi." Roy mengecek ponselnya.


"Aku yakin kamu ingin menghubunginya. Sudah huhungi saja dia." Hery meneguk habis air putih di dalam gelasnya.


"Aahh tidak tidak jangan mengodaku untuk mengangunya. Aku takut jika aku menghubunginya dia akan berhenti berbelanja dan malah pulang dengan belanjaan yang hanya bernomial 5 juta sedangkan Debora dan bajingan itu sudah hampir menghabiskan 80 juta hanya sekali jalan. Aku ingin lihat apa saja yang ia beli nanti." ucap Roy penuh keyakinan.


"Dia yang mana dulu? Debora atau Rena?" Ucap Hery lagi. Ia bingung siapa yang di maksud oleh Roy.


"Ya...." beberapa detik Roy berpikir siapa dulu yang akan dia datangi.


"Entahlah Her... Aku bingung. Kalau aku pulang terlamnat dari jam biasa, Debora pasti akan curiga padaku. Tapi jika aku tidak datangi Rena takut ia akan merasa sedih jika aku tidak datanginya walaupun hanya sebentar. Aku harus bagaimana Her..." Roy cukup bingung dengan kondisinya kini dan mulai menceritakan kebingungannya oada Hery.


"Baiklah karna aku teman yang sangat baik maka kamu boleh pulang awal dan aku akan mengantikan kamu dan temuilah istri kecilmu dan bila sudah sampai jam kamu pulang kerja maka pulanglah dan temui lagi istrimu yang satunya lagi." Saran Hery dengan penuh gaya bisa melakukan semuanya tanpa Roy.


"Benarkah??" Roy antusias. Hery mengangguk yakin pada Roy. Melihat Hery mengangguk Roy langsung memeluk Hery dengan sangat erat. "Terima kasih Hery... Kamu memang yang terhebat." Roy mulai mengelu elukan Hery yang begitu baik padanya.


Dengan segera Roy menghabisikan makanannya karna ia ingin cepat cepat menyelesaikan tugas yang mungkin tidak bisa Hery kerjakan sendiri dan membutuhkan tangan Roy langsung yang turun.


Sedangkan tdi tempat lain Debora dan John masih diam diam memperhatikan gerak gerik Rena dan Dion.


"Sayang siapa laki laki yang di sebelahnya itu. Sepertinya mereka akrab" ucap Debora melihat interaksi Dion dan Rena yang sering bercanda tawa bersama dan membagi cerita.


Tak lama kemudian pesanan Rena dan Dion datang di hantarkan pelayan di stand itu.


"Silahkan nona.. tuan.. Apa masih ada yang kurang nona? tuan?" pelayan itu bertanya pada keduanya.


"Tidak ada" ucap Rena dan Dion bersamaan. Keduanya tersenyum mendengar ucapan yang sama sama keluar di waktu yang sama dengan kata yang sama pula. Pelayan itu pergi meninggalkan Rena dan Dion yang akan mulai makan.

__ADS_1


Dari pandangan Dion nampak ada dua orang yang sedang mengintip dirinya dan juga Rena. Dion pun mulai memperhatikan siapa sebenarnya uang sedang mereka intip.


Dion yakin bukan dirinya karna setahu Dion wanita yang sedang ikut mengintip itu adalah Kadek Debora. Salah satu desainer terkenal dan tentu saja orang seperti Dion mengetahui itu.


Pasti orang orang itu mengincar wanita ini. Pasti ini masalah dari laki laki yang membelinya kemarin. Aku harus lakukan sesuatu untuk menolong wanita ini.


Dion mencari tahu apa sebenarnya tujuan Debora dan John yang seperti orang bodoh di sana.


Dengan tetap tenang pun Dion menghabiskan makanannya dan setelah itu Rena mengajak Dion untuk jalan jalan lagi mencari apa yang Rena ingin beli. Dion mengiyakan dan Rena siap siap untuk membayar makanannya dengan kartu gold yang ia punya. Dan saat itu John maju dan menebrak Rena hingga kartu Gold Rena terjatuh ke lantai Mall.


"Maaf nona.." John membantu Rena dan hendak mengambil kartu Rena yang terjatuh.


Dion akhirnya paham apa yang di inginkan John dan Debora. Yaitu kartu Rena yang pastinya akan menjadi barang bukti kalau Rena adalah simpanan suami Debora.


"Maaf bisa anda pelan pelan sedikit..." ucap halus Rena menegur John.


Dion bangkit dan berjalan ke arah Rena. "Kamu tidak apa apa?" Dion mencari luka takut takut John berbuat nekad barusan, karna lebih baik menyelamatkan nyawa Rena di banding kartu Gold itu.


John mengambil kartu itu dan mulai mencari nama di kartu itu. John menemukannya dan membaca nama besar yang terpampang jelas di sana.


John menoleh lagi pada Rena dan John yang masih berdiri di situ.


"Kembalikan kartuku..!" pinta Rena ada laki laki yang baru saja menabraknya.


"Ini ka.. Kartu.." ucap John dengan terbata bata membaca nama yang terpampang di sana.


Off dulu.. santuy... author istirahat dulu ya...

__ADS_1


__ADS_2