
Roy telah selesai dengan mandinya. Baru ia keluar dari kamar mandi, dan Roy melihat Debora yang sudah menunggunya di ranjang dengan pose yang sangat menggiurkan, pahanya yang terbuka memsperlihatkan putihnya, membuat Roy menelan salivanya susah payah.
"Tumben kamu seperti ini?"Dengan sedikit Ragu Roy mendenkati Debora di ranjangnya.
Setelah Roy sampai di dekat ranjang, Debora langsung saja bangkit dari duduknya dan mengalungkan tangannya di leher Roy agar Ror Fokus pada dadanya yang sengaja di buat terlihat jelas.
"Kenapa? Gak bolehkah seorang istri menggoda suaminya sendiri?" Debora menyandarkan kepalanya pada dada Roy dan bergalak seperti anak kucing yang ingin di elus elus.
"Debora...." Panggil Roy dan membuat Deboda mendongak dan kembali memandang wajah Roy. Keduanya saling pandang, dan sama sama terhanyut dalam pikirannya masing masing. Dan yang di pikirkannya adalah sama.
***
"Kenapa aku deg deg'gan gini ya?" Rena sedang di apartemennya dan sedang menonton televisinya. Tapi bukannya terhibur dengan apa yang ia tonton, Rena malah merasa ada yang aneh di hatinya, entah mengapa ia merasa tidak enak sekali.
"Aku hubungi Roy aja kali ya... Aku takut dia kenapa kenapa" Rena mengambil ponselnya dan mulai menghubungi Roy. Jangankan di anggkat, masuk saja tidak telpon dari Rena. Hal itu membuat hati Rena semakin tidak nyaman.
"Ck... Aku hubungi Hery ajalah.." Rena memilih untuk menghubungi Hery, orang yang pasti tahu tuanya itu di mana saat ini.
Tadi saat setelah makan bersama di salah satu Resto, Rena meminta nomor telpon Hery takut takut ia akan memerlukan bantuan Hery.
"Halo Hery...? Ini aku Rena..." Ucap Rena saat Hery menerima telponnya.
"Iya Nyonya Rena ada apa gerangan menelpon saya malam malam seperti ini?" Suara Hery terdengar dengan sangat jelas.
"Her... Tolong aku tidak ingin di panggil dengan sebutan itu. Sebutan itu aneh di pendengaranku." Protes Rena.
"Maaf... Baiklah ada yang bisa aku bantu Rena" Ralat Hery dengan ucapannya.
"Ini Her... Perasaanku tidak enak malam ini. Apa kamu tahu dimana Roy saat ini? Aku takut terjadi sesuatu padanya." Rena menjelaskan apa yang kini ia rasakan dan takutkan.
"Aku tidak tahu tapi yang pasti Roy pasti di rumahnya malam ini, kalau dia mau keluar malam malam dia pasti mengajakku Tapi aku juga akan mencoba menghubunginya kalau begitu." Hery menenangkan Rena.
"Baiklah cepat kabari aku ya.." Sambungan itu pun terputus.
Hery juga mencoba menghubungi Roy. Tapi sama saja ponselnya tidak dapat di hubungi sama sekali.
Tentu saja, karna Debora sudah mematikan ponsel Roy bahkan mencabut batrainya agar tak ada seorang pun yang dapat menganggu malam indah penuh gairah mereka berdua malam ini.
Debora bangga akan rencananya yang berhasil membuat hubungannya dengan Roy kembali menghangat sehangat saat ini.
Debora dan Roy melewati malam yang sangat menyenangkan malam ini. Sedangkan itu Rena melewati malamnya dengan suasana hati yang tak menentu. Bukan hanya Rena yang mengalaminya Hery juga melewati malam dengan penuh penasaran, kemana tuannya? Tumben tidak bisa di hubungi.
Otak Hery sudah berputar kemana mana, sempat terpikir oleh Hery apa yang tengah Debora dan Roy lakukan saat ini, tapi Hery mengelengkan kepalanya, Roy tidak mungkin sebodoh itukan, lupa akan tujuannya dan malah kembali ke pelukan Debora yang sudah dengan sangat fatal mempermainkan Roy.
Tapi bukan seperti yang Hery pikirkan, Roy malah melakuakan apa yang Jery tak percaya itu. Mau bagaimana pun juga Roy masih menyisihkan tempat di hatinya untuk Debora. Sejujurnya Roy masih mencintai Debora hanya saja kebohongan kebohongan Debora membuatnya gelap mata dan mencari pelarian kepada Rena.
Memang menurut beberapa orang mungkin Roy yang sangat bodoh dengan masih saja menerima Debora yang jelas jelas sudah menyakitinya. Tapi mau bagaimana lagi, Roy tidak bisa membohongi perasaanya pada Debora apalagi melihat Debora yang seperti ini. Roy sama sekali tidak dapat menolaknya.
***
Pagi kini tiba kembali. Debora dan Roy masih bersantai santai di bawah selimut mereka menikmati hangatnya tubuh satu sama lain. Rasa yang sudah lama di dambakan Roy, dan dari semalam hingga pagi ini Debora memberikannya.
Roy masih sangat betah memeluk Debora yang tampak seperti bayi yang baru lahir, tak menggunakan apa pun.
Dan begitu pula dengan Debora seakan tidak ingin melakukan apa apa hari ini, hanya ingin begini saja dengan Roy.
Cup...
Roy mengecup kening Debora membuat Debora mengangkat kepalanya dan menata Roy seoalah bingung. "Kenpa Roy...?"
"Terima kasih sayang. Kamu sudah kembali menjadi Deboraku.." Ucap Roy dan langsung memeluk Debora dengan eratnya.
"Bukankah itu yang harus di berikan istri pada suaminya. Kamu pikir hanya kamu yang merindukan ini, aku juga..." Debora mengelus elus dada Roy dengan lembut.
"Aku ingin selamanya kamu tetap seperti ini Bora.. Jangan pergi jauh dariku. Aku mencintaimu." Ucap Roy dengan mata sendunya.
"Iya Roy... Aku akan tetap bersamamu, dan apalgi jika nanti..." Debora senyum senyum sendiri sambil memegangi perutnya.
"Kenapa sayang..?" Roy bingung dengan apa yang Debora lakukan saat ini.
"Apalagi jika nanti ada malaikat kecil di sini..." Debora mengambil tangan Roy dan menelpelkannya di perutnya, ia yakin Roy pasti akan mengerti apa yang ia maksud.
"Apa? Kamu tidal bohongkan? Apa kamu yakin sayang?" Tanya Roy bertubi tubi pada Debora.
"Iya sayangku... Dari semalam aku sudah tidak mengunakan alat kontrasepsi. Karna aku ingin memilikinya." Ucap Debora seperti anak kecil agar terlihat imut.
Bukan main senangnya Roy mendengar ucapan Debora barusan. Debora mengaku ingin anak darinya dan sudh siap. Pada tahun tahun lalu, Roy sangat mendambakannya, tapi Debora berkata jika dia belum siap dan lebih memilih karirnya terlebih dahulu. Oleh sebab itu Roy sangat senang sekarang, Debora sendiri yang mengatakan kalau dia sudah siap menjadi seorang ibu.
__ADS_1
***
Serasa di lupakan, Rena termenung di balkon apartemennya. Memikirkan apa yang pantas ia lakukan. Roy masih belum mengirimimya kabar satu pun, begitu pula dengan Hery, sama sama tidak tahu tuanya melakukan apa.
"Apa Roy menikmati malam tadi dengan istri jahatnya itu. Kenapa Roy tidak ingat kalau Debora sudah beberapa kali membuatnya menangis dan terluka." Rena masih memikirkan Roy.
Tapi hati kecilnya kini bersuara. Kembali Rena mengingat jika dirinya hanya istri simpanan Roy. Dirinya bukan apa apa jika di mata Debora istri sah Roy. Rena berpikir jika ia terus posesif pada Roy seperti ini maka ia sama saja seperti para p*l*kor di luar sana.
"Tidak... Rena kamu tidak perlu seperti itu. Roy bukanlah sepenuhnya milikmu. Kamu hanya simpanan. Ya... Aku yang di simpan.. Sudah bersyukur Roy membiayai hidupku seperti ini. Tapi jika aku juga tidak berjuang, maka bisa saja suatu hari Roy tidak membutuhkan aku lagi dan lebih memilih istrinya. Seperti hari ini, maka sudah pasti aku akan di buangnya. Aku harus mencari pekerjaanku yang lebih bermakna. Baiklah aku mulai hari ini!" Tekad Rena setelah merenung cukup lama, rupanya ada gunanya juga ia merenung, pikirannya terbuka dan hatinya lebih tenang dan bisa memikirkan kedepannya.
Rena bersiap siap dan keluar dari apartemennya dengan semangat yang membara.
"Rena kamu bisa..." Ucap Rena dalam hatinya dan melanjutkan langkahnya dengan lebih ringan dan penuh tujuan.
Yee..... banyak ne yang koment novel author ne...
Sesuai janji author waktu itu akan kasih bocoran, kita mulai....
...🎵🎵🎵...
...I see your monsters...
...I see your pain...
...Tell me your problems...
...I'll chase them away...
...I'll be your lighthouse...
...I'll make it okay...
...When i see your monsters...
...I'll stand there so brave...
...And chase them all away...
...In the dark we we...
...We stand apart we we...
...That we need are staring right at us...
...You just went to hide hide hide...
...Never show your smile smile...
...Stand alone when you need someone...
...It's the hardest things of all...
...That your see you are the bab bab bab...
...Memories take your time and you'll find me...
...I see your monsters...
...I see your pain....
...Tell me your problems...
...I'll chase them away...
...I'll be your lighthouse...
...I'll make it okay...
...When i see your monsters...
...I'll stand there so brave...
...And chase them all away...
...I could see the sky sky sky...
...beautiful tonight night...
__ADS_1
...When you breathe we can't you...
...See the clouds are in your head...
...I would stay there there there's...
...No need fear, fear...
...And when your need to talk it...
...Out with someone you can trust...
...What you see you are the bad bad bad...
...Memories take your time you'll find me...
...I see your monsters...
...I see your pain...
...Tell me your problems...
...I'll chase them away...
...I'll be your lighthouse...
...I'll make it okay...
...When i see your monsters...
...I'll stand there so brave...
...And chase them all away...
...You've got the chance...
...To see the light...
...Even in the darkest night...
...And i'll be hare like you were for me...
...So just let me in......
...I see your monsters...
...I see your pain...
...Tell me your problems...
...I'll chase them away...
...I'll be your lighthouse...
...I'll make it okay...
...When I see your monsters...
...I'll stand there so brave...
...And chase them all away...
...And chase them all away......
...🎵🎵🎵...
Seorang pria dan seorang anak kecil dengan suara imutnya menyanyikan lagu untuk seorang wanita yang paling berharga untuk mereka. Laki laki itu seolah mengatakan isi hatinya langsung kepada sang wanita. Berharap sang wanita menerima cintanya.
Dan bukan hanya untuk menyatakan cinta tapi juga untuk menghilangkan masa lalu dari wanita ini. Itu tujuan awal dari keduanya lagu itu di persembahkan spesial untuk orang tercinta mereka.
Sementara itu sang wanita hanya bisa menangis terharu dengan apa yang sedang ia saksikan.
Anaknya yang manis menyanyi dengan imutnya di temani orang yang selalu ada untuknya dan juga untuk anaknya. Walapun hanya berinstrument gitar kedua orang yang sering di sebut ayah dan anak itu menyanyi dengan sangat bagus.
Cieee... Yang senyum senyum....
Tebak yukkk.....
__ADS_1
Koment koment...
Maafkan Typo nya...