
Hery membantu Rena menenagkan Baby Alf dan juga baby Elf sekaligus. Tak ingin membuat Rena semakin marah padanya.
"Eehh ini baru jam makan siang.. Kenapa kamu cepat pulang...?" Rena baru menyadarinya.
"Eeemm ada hal penting yang harus aku lakukan sayang.. Sangat penting.." Jawab Hery sambil mengendong Jagoannya.
"Sangat penting..?? Sepenting itu kah..?" Rena sedang menganti baju dan popok Baby Elf.
"Lebih penting dari apa pun malah.." Tambah Hery.
"Heeemm lebay.. Paling nikahnya Bisma kan.." tebak Rena.
"Eemm gak ada sangkutanya kok.." Hery membaringkan Baby Alf dengan perlahan di keranjangnya.
"Eeehh apa Alf sudah tidur...? Dia belum nyusu looo.." Rena segera meletakan Baby Elf juga di dalam keranjang bayinya.
"Sayang buka mulutnya.. Minumlah.." Rena menyusui Baby Alf lagi kini.
"Dari tadi mama coba kasih bangun tapi keenakan tidur.. Apa gak lapar kah perut kecilnya ini..?" Rena sangat gemas pada jagoannya ini.
"Ya kan kalau sekali nyusu Alf nyusu banyak jadi kenyangnya lama.." Jawab Hery ikut duduk bersama Rena.
"Ya tapi kan gak baik gitu.. Mereka dua itu harus 2 jam sekali nyusu.. Masa baby Alf beda hanya karna dia banyak nyusu.." Hery menganggukan kepalanya setuju.
"Ya makanya itu.. Aku kasih bangun dia biar dia nyusu. Takutnya dia terlalu nyenyak tidur sampai lupa perutnya lapar. Kan masih bayi mana tahu apa itu lapar.." Tambah Rena lagi.
Hery masih menunggu saat yang tepat untuk mengatakan semuanya, saat ini bukan saat yang tepat karna Rena sedang menyusui Baby Alf.
***
Rena keluar dari kamarnya setelah menyusui Baby Alf. Hery tertidur bersama kedua putra putrinya.
Tak lama kemudian Rena kembali lagi. Ia membawa pakaiannya dan Hery yang sudah di setrika pembantunya. Akan ia simpan ke dalam lemari. Rena tak membiarkan siapa pun masuk kamarnya, karna kamarnya adalah singgasananya dan Hery.
Sambil Rena memasukan baju bajunya ia juga mengawasi Hery dan anak anaknya. Hery tertidur pulas. Wajah tampannya juga tidak hilang malah sangat imut.
Karna baru pulang dari tempat kerja, kemejanya, celana panjangnya, dasinya, masih di kenakan Hery.
Rena sudah selesai dengan bajunya. Ia ingin sekali memandang Hery dari dekat. Maka ia pun bergabung bersama Hery di tempat tidut.
Ia memandangi Hery. Kadang senyum Rena timbul, kadang juga lidahnya yang meledek. Entah kenapa ia gemas sendiri pada Hery.
"Suami aku ganteng banget ya.." gumam Rena sambil menantap Hery.
Tiba tiba senyum Rena hilang. Terlintas di pikirannya apa yang terjadi pada Alf dan Elf. Anak anak yang sangat Hery sayangi melebihi yang lainnya meski ia tahu, Alf dan Elf bukan anaknya. Bahkan Rena tidak tahu siapa lagi yang menghabiskan waktu bersamanya bahkan menabur bibit selain Roy saat itu.
__ADS_1
Rena memandangi langit langit kamarnya. Otaknya berputar mencari dan mengingat. Tiba tiba Rena membulatkan matanya.
"Apa malam itu bukan mimpi?" Rena teringat sesuatu.
"Kalau itu bukan mimpi maka Alf dan Elf..?" Rena mulai menyusun semua yang ada di pikirannya.
"Tapi siapa itu aku gak tahu.. Itu cuma mimpi.. Dan cuma semalam.." Rena mengelengkan kepalanya.
"Sayang..?" Hery ternyata sudah bangun dari tidurnya.
"Sayang..?" Rena terkejut.
"Kamu mikir apa tadi...?" Hery sepertinya mendengar semuanya tapi pura pura bodoh seperti biasanya.
"Gak ada sayang.. Aku cuma..." Tidak ada yang pas untuk menutupi ucapanya tadi. Ia yakin Hery pasti mendengarnya.
"Sayang.. Aku mau tanya.. Aku mau kmu jawab dengan jujur.." Hery mendekati Rena dan menarik Rena dalam peluknya.
"Apa..?" Rena memeluk balik Hery di dadanya.
"Selain sama Roy kamu kemarin ada laki laki lainkah...? Jujur sayang.." Ucap Hery.
Benar kan yang Rena pikirkan Hery pasti mendengar ucapannya tadi. Kini hanya satu pilihan Rena yaitu jujur pada Hery apa yang ia ketahui.
"Hery... Aku gak pasti.. Aku.. Mungkin itu mimpi... Malam itu.. Aku... Tidur.. Lalu lampunya mati, pas itu aku buka mata semuanya itu gelap. Persis kayak mimpi.. Terus aku ya langsung panik.. Aku takut. Terus ada bayangan laki laki gitu. Dia datang terus peluk aku, dia bilang gak apa apa.. Terus aku..." Rena berhenti bercerita karna sepertinya ia mengingat semuanya.
"Aku cium wangi dia.. Dia wangi banget.. Aku.." Rena mengigit bibir bawahnya.
"Lalu..?" Hery malah menahan tersenyum saja.
"Hery..." Rena malah memeluk Hery makin Erat.
"Apa yang sudah aku lakukan... Aku.. Jangan jangan itu bukan mimpi lagi.. Jangan jangan Alf dan Elf..?" Rena menduga duga lagi.
"Lalu kamu apakan laki laki itu..?" Hery sangat penasaran.
"Hery.. Aku.. Aku cium dia.. Aku tangan aku.." Rena tidak mendapat kata kata yang pas untuk selanjutnya.
"Ya... Kamu...?" Hery ingin tahu kelanjutannya.
"Aku.. Dia.. Ranjang.. Aku..." Rena menggelengkan kepalanya tak ingin mengingat lagi karna sepertinya itu yang terjadi.
"Lalu.. Kenapa kamu gak ingat kalau kamu sama dia di ranjang.. Atau paginya gak langsung ingat gitu..?" Mungkin Hery memang berbeda. Oleh karna itu ia malah makin mencari tahu bukanya kesal atau pun marah dengan yang terjadi pada Rena.
"Ya aku bangun pagi itu semuanya baik baik aja, baju aku masih rapi.. Tempat tidur juga rapi.. Gak ada pakaian kotor, basah atau apa pun. Semuanya normal aja..." Rena menggeleng lagi.
__ADS_1
"Lalu..?"
"Ya aku kira itu mimpi tapi masa ada mimpi gitu untuk wanita.. Terus rasanya itu.... Kayak asli.. Terus aku masih ingat kayaknya laki laki itu ada bilang sesuatu deh.. Kalau gak salah.. (Buka yang lebar..)" Rena menirukan kalimat yang ia dengar.
"Tapi... Baju aku, dalaman aku, semuanya ada dan masih rapi.. Cuma.. Pagi itu.. Agak perih sih...?" Rena masih ragu kalau itu mimpi.
"Aaaarrhhhgggg.." Rena kesal pada dirinya sendiri kenapa tidak bisa membedakan apa malam itu mimpi atau memang terjadi.
"Kenapa kamu gak sadar setelah semuanya selesai..?" Hery masih bertanya.
"Aku capek banget.. Aku langsung tidur... Terus gak ingat apa apa lagi..." Rena mengigit bibir bawahnya lagi.
Hery menganggukkan kepalanya paham. "Lalu... Apa rasanya beda gitu.. Maksudnya sama Roy..?" Hery benar benar ingin tahu sampai ke akar masalah sepertinya, bahkan hal semacam itu ia tanyakan juga.
"Apanya yang beda..?" Rena malah tak mengerti.
"Ya rasa..." Hery menganggkat alisnya beberapa kali.
"Oohh... Eeemmm rasanya.. Beda.." Rena hanya berani jujur.
"Besar yang mana..?" Pertanyaan yang sangat pelik.
"Hery...?" Rena terhentak.
"Ya aku mau tahu sayang mana yang kamu rasa besar..?" Hery seperti tak ada keraguan dalam pertanyaannya.
"Jujur sayang, aku cuma perlu kejujuran kamu.." tambah Hery lagi.
"Eeemm iya sayang.. Aku jujur kok..." Rena berpikir sejenak.
"Yang besar... Laki laki itu.." Jawab Rena ia sampai memejamkan matanya tak berani melihat wajah Hery.
"Hahahahhahaha..." Hery malah tertawa sesukanya.
"Hery..?" Rena sangat bingung.
"Gak sayang.. Gak apa apa kok.. Jadi punya laki laki itu lebih besar..? Apa nikmat..?" Pertanyaan itu semakin sulit di jawab Rena.
"Hery nahh.. Apa sih.. Jangan gitu.. Aku.." Rena merasa sangat malu sampai ingin menangis rasanya.
"Kalau aku tahu laki laki itu siapa bagaimana?" Bisik Hery di telinga Rena.
"Hah..?" Rena mendongak pada Hery.
Hery...
__ADS_1
Off dulu kawan...