
Roy senyum melihat lucunya video yang di kirimkan Asisten rumah tangganya itu.
"Kalau gak bisa masak ya gak bisalah.." Roy Meremehkan Debora.
Roy tidak ada pekerjaan sebenarnya di Gunha Group, dia hanya duduk duduk santai di kursi dan jika ada yang ingin bertemu dengannya akan di tangani oleh beberapa anak buah Hery, kadang juga Roy ambil bagian untuk masalah kerja sama Karna Roy pintar untuk mengecoh calon partnernya, jika itu bukan pilihan yang bagus maka Roy bisa mengetahuinya. Begitu juga sebaliknya.
Jadi tak heran jika Roy hanya bersantai menunggu tugas yang di berikan anak buah Hery padanya, mungkin ada pertemuan atau semacamnya. Sambil menunggu, kali ini Roy memiliki tontonan yang menyenangkan.
Jauh dari sana, Debora sedang berjuang mati matiab hanya untuk memasukkan dua sampai tiga potong Ayam.
"Ayo.. Debora untuk Roy.. Roymu.." Dengan perlahan Debora memasukan satu potong ayam.
"Aaaa..?" Tidaj terjadi apa apa.
"Pyuuhh.." Debora mengelap peluh di keningnya. Debora hendak memasukan satu potong lagi.
Lagi lagi perlahan tapi pasti, tiba tiba ada letupan kecil di minyak itu dan membuat Minyak memuncrat dan kena ke tangan Debora. Semua yang di pegang Debora langsung berjatuhan.
"Aaaaaaawwww..." Debora memegangi jarinya yang terkena minyak.
Bi Mila menutupi mulutnya sendiri. Roy melihatnya dari video. Tawa dan kelucuan yang Roy rasakan tiba tiba hilang karna melihat Debora kesakitan.
"Aaawww.. Aaaawww. Awww." Debora mengibas ibaskan tangannya.
"Oo'hhoooo.. Ssshhh untuk Roy untuk Roy.." Ucap Debora sambil memegangi jarinya.
"Nyonya.." Mila tak berani terus membiarkan Debora kesakitan.
"Mi.. Mila.. Kenapa..?" Debora pura pura kuat dan tak terjadi apa apa.
"Apa nyonya terluka... Mau saya bantu..?" Mila benar benar khawatir.
__ADS_1
"Gak kok siapa yang luka.. Aku baik baik aja kok.. Ni aku lagi goreng ayam.. Nih liat..!" pamer Debora.
"Nyonya, kalau nyonya kena percikan minyak panas, oleh garam Nya... Luka bakarnya gak akan kembung dan melepuh." Saran Mila.
"Iya kah..?" Debora tidak mengerti sepenuhnya masalah dapur apalagi masalah pengobatan seperti ini.
"Iya Nya.. Saya sering dulu.... Waktu pertama kali masak sama Ibu.. Nah saya kena deh percikan minyak panas, pake garam aja, di jamim gak melepuh Nya, kalau dah melepuh nah itu yang lebih sakitnya lagi." Jelas Mila.
Debora pun mencobanya. "Eeemm ya rasa kebakarnya kurang..." Gumam Debora.
"Makasih ya Bi Mila.." Baru kali ini Mila mendengar Nyonyanya ini berterima kasih padanya.
"Iya.. Nya... Saya lanjut dulu ya.. Di ruang tengah tadi belum beres." Bohongnya.
"Iya.." Debora mengangguk dan terus melihat memasakannya.
Roy di kantornya semakin melebarkan senyuman hingga gigi ratanya terlihat. Baru kali ini Roy juga mendengar Debora mengatakan terima kasih pada para pekerja rumah.
"Apa ini benar benar Debora..?" Roy memdengarkan dengan seksama karna meskipun sang bibi berbicara pada Debora, Roy masih bisa mendengarnya karna ponsel Bi Mila masih terhubung.
Ada beberapa mobil hitam di belakangnya dari tadi. Sudah sangat penasaran dan bercampur takut maka Rena bertanya pada Hery.
"Sayang, itu mobil yang di belakang kok kayak ikuti kita sih.. Benar gak sih aku..?" Rena sebenarnya merasa takut melihatnya.
"Ooohh itu.. Itu mobil anak buah aku, mereka aku tugaskan untuk giring kita sampe bandara. Dan ada satu group juga yang bakal ikut kita ke Bali untuk jaga jaga kalau terjadi apa apa." Ucap Hery sambil mengelus elus Rena.
"Anak buah...?" Rena menoleh lagi ke belakang.
"Sebanyak itu..?" Entah berapa mobil hitam yang mengikuti mobil Hery dan Rena.
"Iya sayang.. Semuanya demi kebaikkan kita bertiga.." Ucap Hery dengan santainya.
__ADS_1
"Kamu kan tahu aku ini suami langka di dunia.." Bangganya.
"Ini mah ngerepotin orang lain sayang... Mereka cuma ikutin kita gitu, terus nanti balik lagi pulang, lah.. Sudah habis waktu buat ikuti kita, plus bensinnya juga terbuang percuma.." Protes Rena.
"Iya mereka mau gimana lagi toh udah kerjaan mereka sayang, mereka kerja itu untuk melindungi kita, ya itu aja kerjaannya.." Sahut Hery juga.
Saat ini Hery dan Rena duduk bersebelahan di kursi penumpang. Pak Adi yang menyopir mobil.
"Apa kamu tiap mau jalan jauh utu gini kah.. ?" Rena menoleh lagi ke belakang untuk mencoba menghitung mobil yang mengikuti mereka.
"Gak juga, kalau itu menyangkut pekerjaan, biasanya gak ada yang begini, kalau aku mau kunjunngi makan Mama dan Papa baru aku bawa mereka." Rena menoleh seketika pada Hery.
"Maksudnya, berkunjung ke makam aja harus di kawal..? Kok bisa..?" Rena memiringkan kepalanya tak mengerti, jika hanya untuk berkunjung ke makam orang tau bukankah itu hal yang wajar.
"Iya sayangku..." Hery mencium Rena.
"Sebenarnya begini.. Di cerita aku yang sebelumnya kan aku sudah bilang kalau aku minta bantuan Roy untuk tukar tempat sama aku, dia jadi CEO aku jadi asistennya. Nah jadi seorang CEO itu sangat susah dan buat aku takut. Aku pun jadi asisten CEO. Tapi itu justru buat aku makin susah lagi.. Aku gak bisa bebas berkunjung ke makam Papa dan Mama. Karna status aku yang cuma Asisten CEO Gunha Group. selain Gunha banyak saingan, banyak juga yang mencari tahu tentang Gunha. Apalagi masalah kekeluargaannya. Itu yang paling di incar. Makanya kalau aku berkunjung, aku harus di jaga ketat. Bukan cuma itu, wajah, rambut, apa pun itu gak boleh keliatan. Selain karna ketakutan aku akan wartawan, aku juga dapat pesan dari mendiang Papa. Waktu masa masa terakhirnya bernafas, "Hery... Papa dan Mama selalu restui kamu dalam setiap langkah, apa pun pilihan kamu Papa Dan Mama restui. Doa kami akan selalu menyertai kamu. Tapi jangan sekali kali kamu mengunjungi makam Papa dan Mama lalu mendoakan kami dengan wajah polos kamu itu, sembunyikan wajah kamu seperti biasanya kamu bersembunyi di jas Papa.." Hery tersenyum lalu menoleh pada Rena yang dari tadi sangst fokus pada Ceritanya.
"Sayang.. Kok diam..?" Tanya Hery. Ya tentu saja Rena diam, dia ingin tahu cerita itu dan tak ingin memotongnya.
"Ya kan aku dengarin.. Lanjut...!" Rena memperbaiki duduknya dan menghadapn Hery.
Hery tertawa kecil lalu menggenggam tangan Rena. "Ya makanya semenjak itu penjagaan ketat, nama yang di sembunyikan.. Dan orang orang yang sama aku sekarang ini adalah kepercayaan kepercayaan Papa dulu. Pak Adi, dia sopir Papa, dia kerja sama Papa dari umur 19 tahun makanya sempai sekarang Pak Adi tetap kerja sama aku. Orang orang yang di belakang itu. Itu juga jajaran Papa, mereka juga dapat amanah dari Papa untuk jaga aku kemana pun aku pergi." Hery menoleh ke belakang melihat mobil mobil yang mengikutinya.
"Nama yang di sembunyikan..?" Ada satu yang menarik perhatian Rena.
"Iya nama asli aku di sembunyikan." Rena membulatkan matanya.
"Banyak banget yang aku gak tahu tentang kamu.. Kenapa aku bisa nikah sama kamu ya.. Jangan kan keluarga kamu, nama asli kamu aja aku gak tahu.. Gimana sih jadinya...?" Rena menggaruk kepalanya.
"Sayang.. Itu gak masalah buat aku, kamu tahu aku yang sekarang aja sudah cukup. Tapi aku pasti kasih tahu nama asli aku sama kamu. Tenang aja, kan kita mau Babymoon ini.. Aku juga bakal ceritain semuanya sama kamu... Gak akan ada rahasai lagi, karna kamu sudah jadi Bagian hidup aku.." Tanpa malunya pada Pak Adi, Hery mengecup bibir Rena dengan lembut dan cukup lama untuk menabur cintanya.
__ADS_1
Keren gak tuh.. Like dan koment ya.. Makin serukan.. Yok... Mampir lagi ya.. Selamat datang untuk para pembaca baru dan pembaca Setia, senang melihat anda mampir dan membaca cerita ini.. Lanjut baca terus ya, masukkin daftar buku favorit kalian...
Plus, tgl 18-04 sampai Tgl 24-04 novel ini crazy up sip deh mampir terus ya..