
Debora dan pria yang baru ia kenal itu mancari yang pria itu inginkan.
"Kamu cari apa..?" Debora bertanya.
"Eemm.. Aduh.. Apa ya.. Kan aku sudah bilang aku gak tahu yang gituan.. Eemm baju atau celana atau.. Apa ya..?" Pria itu malah bingung sendiri.
"Bayi itu kalau baru lahir belum pakai celana setiap hari, paling pakai popok, dan yang gak kalah pentingnya lagi guritanya.. Kadang gitu.." Ucap Debora.
"Hah.. Gurita..?" Ulang si pria.
"Iya.. Gurita. Yang di ikatkan di dada hingga perut bayi.." Debora menatap pria itu.
"Gitu ya.. Oohh baru tahu sih.. Ya udah.. Kamu kan beli perlengkapan bayi kamu juga, nah sekalian aja pilihkan untuk aku juga. Nanti aku yang bayar semuanya.. Gimana..?" tawar pria itu.
"Hah..?" Debora tak percaya yang ia dengar ini.
"Maaf tapi aku cuma pilih yang kualitasnya yang biasa biasa aja.." Debora mengaku.
"Looohhh kenapa gak beli yang kualitasnya bagus.. Untuk anak kan harus yang terbaik juga.."
"Eeemmm gak apa apa sih, cuma cocokkan sama bajet aja.." Debora sedikit terkekeh mengatakannya.
"Jadi dia benar benar sedang gak punya uang.." Gumam pria itu.
"Ya udah.. Kamu pilih aja yang kualitasnga yang bagus, nanti aku yang bayarin.. Gimana.." Tawarnya lagi.
"Ya udah ayok.." Debora mulai memilih.
__ADS_1
"Eemm tunggu keponakan kamu itu laki laki atau perempuan..?" Debora menoleh pada pria itu.
"Aaaaa... Entahlah.. Aku gak tanya sama dia apa anaknya perempuan atau laki laki.." Pria itu menggaruk kepalanya.
"Oohhh.."
"Kalau bayimu.. Perempuan atau laki laki?" Debora tersenyun saat mendengar pertanyaan itu dari pria yang tak ia kenali ini.
"Aku juga gak tahu.. Biar aja jadi kejutan pas kahirannya.. Sengaja gak tanya sama dokter yang biasanya periksaa..." Pria itu juga tersenyum mendengar cerita Debora.
"Kapan lahirannya..?"
"Eeemmm katanya sih ke bulan bulan bulan Februari nanti.." Pria itu mengangguk anggukkan kepalanya lagi.
"Siapa pria ini.. Kayaknya kenal kenal gitu tapi siapa..?" gumam hati Debora.
"Boleh tahu namamu..?" Debora menyerahkan beberapa baju ke dalam keranjang yang di pegang pria itu.
"Iya memangnya aku tanya nama siapa lagi selain kamu..?"Debora tersenyum lucu mendengar laki laki itu malah balik betanya seperti itu.
"Eemm aku, Wigara..." Ucapnya setelah berpikir sejenak.
"Wigara..?" Debora mengulangi.
"Ya.. Wigara.." laki laki itu tersenyum manis. Suaranya begitu khas.
"Oke.. Aku Debora.. Itu sudah belanjaannya.." Debora menunjuk keranjang yang di pengang laki laki yang mengaku namanya Wigara.
__ADS_1
"Oohhh.." Dia mulai memeriksa pilihan Debora.
"Cuma segini..?" Debora sedikit terkejut.
"Loohh kan buat keponakan kamu.." Sahut Debora.
"Bukan.. Untuk kamu dan bayi kamu mana?" Debora berkedip beberapa kali.
"Belilah untuk kamu dan bayi kamu ini, masa cuma beli untuk aku.." Proter Wigara.
"Aku gak apa apa kok.. Aku bisa cari yang aku mau.."
"Ck... Ayolah.. Gimana cara aku berterima kasih kalau gitu..?" Wigara masih bersikeras pada Debora untuk meneraktir Debora belanja.
"Ya itu sudah berterima kasih.." Debora menepuk bahu laki laki itu dan berlalu dari hadapannya.
Membuat laki laki itu menganga. "Dia bukan Debora yang aku ketahui.."
"Tunggu..!!" Wigara berbalik dan mengejar Debora.
"Apa lagi tuan..?" Debora berbalik menatap Wigara
"Aku mohon biarkan aku membayar belanjaan kamu.. Apa pun yang kamu beli aku bayarin.." Kali ini Wigara memohon.
"Oke oke.. Ya.. Ayo kita coba ke toko di sana.." Ajak Debora.
"Kan toko ini juga bagus tadi.. Kualitasnha juga aku suka, lembut kainnya bayi kamu juga nanti pasti suka.." Cicit Wigara.
__ADS_1
"Oke oke...." Debora tak ingin banyak berdebat dengan pria keras kepala ini.
***