AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 71


__ADS_3

Rena menahan airmatanya yang ingin keluar bebas dari matanya. Hery masih di depannya mengahalangi Debora.


"Debora jika kamu ke sini hanya untuk mengganggu Rena maka aku mohon untuk pergi dari sini." Hery semakin tegas di berhadapan dengan Debora.


"Oohh sudah hilang ya rasa hormat kamu ke aku..?" Debora tidak suka nada bicara Hery yang barusan.


"Iya.. Aku tidak akan memberikan rasa hormat pada orang sepertimu.. Wanita yang membawa laki laki lain ke rumah bahkan sampai menikmati empuknya ranjang suamimu dengan laki laki lain." Hery semakin menjadi.


"Oo'hooo.. Silahkan saja.. Aku juga gak butuh hormat dari teman yang menemani istri tuannya.." Sindir Debora juga.


"Kamu..." Hery menunjuk Debora dengan jarinya.


Ingin rasanya Hery mengahajar Debora seperti menghajar preman pasar. Debora semakin menjadi melihat Hery yang rupanya mudah tersulut dengan ucapan itu.


"Rena aku tahu kamu dengar aku.. Dan ingat ingat ya yang tadi aku perlihatkan itu sangat bagus kan.. Roy sedang memupuk kandunganku.. Kamu pasti juga senangkan.. Hahaha.. Salah, sedih maksudnya.. Tapi gak apa apa kok Rena.. Ini ada Hery, Hery jomblo looo... Bisa kamu pakai dia mupuk kandungan kamu.." Tawa Debora semakin menjadi membayangkannya.


Rena tidak bisa menahannya lagi dan ia menangis tanpa suara di belakang punggung Hery.


"Debora aku mohon pergi dari sini sekarang juga..." Nada bicara Hery semakin tinggi.


"Rena... Rena.. Itulah yang kamu dapatkan kalau main rebut aja suami orang... Kalau udah biasa jajalin tubuh aku ya jajalin aja sana orang lain.. Bukannya sama suami Orang..." Debora berlalu setelah mengatakan itu.


Rena menutup mulutnya menahan tangisannnya. Hery berbalik dan melihat betapa terpuruknya Rena.


"Rena... Tenang ya.. Jangan dengar ucapan Debora.. Jangan percaya ucapannya.. Mungkin itu cuma video editannya saja.. Roy tidak mungkin mau melakukan itu.." Hery menenangkan Rena yang semakin masuk dalam tangisnya.


"Tidak Hery... Aku melihatnya dengan baik... Roy dan Debora melakukannya.. Roy sangat menikmati Debora.. Berarti selama ini semua yang di ucapankan Roy itu bohong.. Dia masih sangat mencintai Debora..." Rena semakin larut dalam tangisnya.


Hery mengendong Rena masuk unitnya. Tak ingin ada orang lain yang melihat kesedihan Rena. Tanpa Hery maupun Rena ketahui Dion sedari tadi melihat semuanya dengan matanya. Karna tadi saat Debora tiba di depan unit Rena, Dion juga ingin membuka pintu unitnya hendak melihat Rena ke sebelah dan malah melihat Debora sedang memencet tombol bell unit.


Dion memilih bersembunyi saja dan menjadi pendengarnya. Dion terkejut rupanya ada Hery juga di dalam Unit Rena. Padahal semalam Dion meninggalkan Rena dan tak ada tanda tanda kedatangan Hery.


"Mungkin Hery datang pagi ini.." Pikir Dion.


Dion juga sedih mendengar Rena yang di hina Debora habis habisan. Ingin rasanya Dion keliar dan juga menghina Debora. Tapi ia Urungkan karna ada Hery juga yang mewakilkannya.


Rena mengangi di pelukan Hery lagi, Hery memeluk Rena dengan Erat dan tanpa sadar mengecup kening Rena. Rena juga tak menyadarinya karna tengelam dalam tangis.

__ADS_1


Terus menerus Hery mengecup Rena.


"Hery.. Roy gak sayang sama aku.. Apa mungkin dia memang hanya menikmati aku saja... Apa mungkin yang Debora bilang itu betul... Roy sangat sayang sama dia... Dan aku.. Anakku.." Rena terus berguman dalam tangisnya. Hery tak memperdulikannya yang penting ia mengecup Rena.


Setelah beberapa puluhan menit, barulah Rena menenangkan dirinya. Hery masih memeluknya meski Rena sudah melepaskan peluknya.


"Her.. Aku salah apa sih...?" Rena masih terus membahasnya.


"Rena jangan dengarkan Debora.. Oke.. Dia itu ular lari bengkok.. Sudah ya.. oh ya kamu belum makan tadi.. Aku bikinkan makanan buat kamu ya..." Hery ingin bangkit mengambil makanan di dapur.


"Hery aku gak mau makan..." Rena menahan Hery.


"Terus mau apa? Nanti aku bikinkan atau aku carikan.. Heeemm apa..?" Hery sangat perhatian. Ia mengelus elus puncak kepala Rena.


"Hery... Temani aku saja dan dengarkan semua pertanyaan aku, jawab sebisa kamu...?" Mata Rena kembali berkaca kaca.


Mua tak mau Hery menuruti Rena. Tapi Hery teringat sesuatu. "Ren.. Aku buatkan kamu susu dulu ya.. Kasian ini sayang aku.." Hery mengelus elus perut Rena. Ia memanggil kandungan Rena dengan sebutan sayangku.


"Baiklah..." Hery segera bangkit bahkan berlari agar cepat membuatkan Rena susu.


"Ini dia susunya.. Minum dulu.. Sayangku pasti lelah.. Biarkan di minum dulu ya.." Pinta Hery agar Rena tetap ingat akan kandungannya.


"Hery.." Rena sudah berkaca kaca lagi.


"Rena aku mohon.. Sudah ya.. Aku di sini.. Aku mendukung kamu sepenuhnya.. Berhenti pikir Roy tidam sayang sama kamu.." Terus berusaha meyakinkan Rena.


Hery memang memendam rasa pada Rena dan siap menerima Rena dari mana pun. Tapi Hery tidak ingin merenggut istri temannya sendiri. Jika memang kondisinya semakin parah dan Rena harus meninggalkan Roy maka di situlah Hery akan beraksi. Dari Hery menjadi Hero mungkin.


"Hery aku rasa anakku sudah gak punya ayahnya.. Kasian kamu nak... Maaf ya nasib mama mu ini kurang baik dan malah membuat kamu juga ikut menderita. Seandainya kamu belum ada nak.. Mungkin sakit ini gak akan sesakit ini.." Hery membungkam mulut Rena dengan tangannya.


"Jangan katakan itu.. Aku gak mau anak ini menjadi korban seperti ini. Kalau Roy memang gak menginginkan anakmu.. Maka aku siap.. Aku gak peduli kata orang.. Aku akan menjadi ayahnya..." Hery berbicara dengan yakinnya. Ketegasan mata Hery merasuk di pandangan Rena.


"Hery..." Rena memeluk lagi Hery dengan sangat erat.


Hery memeluk juga Rena dengan Erat. Tanpa ragu lagi Hery mengangkat wajah Rena agar memandangnya dan langsung saja mengecup kening Rena dengan bibir lembutnya.


Rena tak peduli yang ia butuhkan hanya menangsi sejadi jadinya. Hery merasa sangat senang karna baru saja ia menyalurkan cintanya pada Rena meski hanya lewat kecupan di kening saja.

__ADS_1


***


Di kediaman Roy. Roy baru bangun dari tidur panjangnya. Ia melihat jam dan sangat terkejut melihat jam kini sudah cukup siang, menunjukan pukul 9 pagi. Roy bergegas turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.


Roy baru menyadari kalau tubuhnya tak mengenakan sehelai benang pun. "Ooohh astaga..." Roy baru sadar.


"Debora... Iisssshh..." Roy segera membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket.


Roy sudah rapi dan ia masih berada di rumah karna ia sudah sangat terlambat ke kantornya. Roy berada di ruang tengah sambil membaca berita berita baru di ponselnya.


Debora baru saja pulang dari apartemen Rena dengan puasnya. Senyumnya tak henti henti terbit di bibirnya. Eyang melihat senyum itu langsung menyambut Debora.


"Bora.. Senang benget kayaknya... Coba cerita dikit donk mama muda.." Bujuk Eyang sangat sayang pada Debora.


"Iya donk Eyang.. Tadi Debora habis melakukan apa yang harus Debora lakukan sejak lama Eyang.." Debora lurus menatap Roy yang juga menatapnya.


Roy Masih tidak paham dengan maksud terselubung Debora. Debora dan Eyang terus bercerita sesuka hati mereka dan Roy memilih diam dan setelah bosan ia naik ka ruang kerjanya saja.


Beberap menit Roy di ruang karja suara seseorang tak di undang datang.


"Roy.. Kamu gak mau tahu kah aku dari mana..?" Tanya Debora masih sangat ceria.


"Gak penting.." Singkat Roy menjawab.


"Oooh jadi sekarang istri kedua kamu itu gak penting ya..." Ungkap Debora.


Roy langsung saja fokus pada Debora dan mencari tahu maksudnya.


"Maksud kamu apa.. Rena...? Kamu pasti gangguin Rena.." Roy kembali menetralkan dirinya padahal ia sangat khawatir pada Rena.


"Ya aku ke apartemennya.. Aku memberikan dia hadiah... Mau tahu gak hadiahnya apa..? Dia senang banget looo dapatnya.." bohongnya.


"Apa itu..?" Roy kini tertarik.


"Ini.. " Debora memutar videonya dan Roy sangat terkejut.


"Debora kamu..." Roy sampai berdiri dari duduknya.

__ADS_1


Debora menyimpan lagi ponselnya., "Apa.. Aku di sini..?" Debora pura pura bodoh.


Roy..


__ADS_2