
Rena dari balik pintunya menangisi dirinya sendiri.
"Baru saja permulaan Rena, selanjutnya pasti akan lebih menyakitkan..." Dalam Hatinya juga menjerit.
"Hery bantu aku... Rena... Rena... Aku yang salah... Hery aku mohon..." Kini Roy yang tadi memarah marahi Hery malah balik meminta tolong pada Hery.
Hery menatap Roy dengan iba, kawannya itu benar benar dilema dan membuatnya tidak dapat berpikir dengan jernih. "Roy... Coba kamu bayangkan bagaimana rasanya Rena, kamu tidak mau dengar penjelasan kami, dan memilih untuk bertindak kasar padanya. Apa kamu pikir dia tidak syok...? Rena sangat syok Roy.. Selama ini dia percaya padamu, dia memberikan semuanya padamu.. Dan baru saja kamu bertidak kasar padanya. Apa kamu tidak pikir apa yabg Rena pendam sendiri saat ini... Dia khawatir Roy... Dia khawatir dengan hubungannya denganmu... Dia tidak ingin kehilangan kamu dan kamu kembali pada pelukkan Debora. Rena sangat takut akan hal itu. Rena menangis sejadi jadinya saat bersamaku kemarin, ia tidak mengatakan apa pun tapi aku tahu apa yang ia rasakan jauh di dalam lubuk hatinya.
Rena juga bertanya padaku bagaimana kondisi Eyangmu... Rena takut kamu meninggalkan dia dan anaknya demi kebahagian Eyangmu dan Debora. Rena takut anaknya tidak memiliki ayah..." Hery mengatakan semua yang ia ketahui.
"Hery... Aku mohon Her bantu aku bicara dengan Rena... Aku akan jelaskan semuanya..." Roy kini sudah tak tahan lagi dan menangis sambil memohon pada Hery.
"Maaf Roy.. Aku terlalu kecewa padamu... Aku kira kamu akan memperlakukan Rena dengan baik tapi aku dengan mataku sendiri melihat..." Hery tak melanjutkan ucapannya karna Roy sudah bersujud di kakinya.
"Hery aku mohon... Aku sangat mencintai Rena aku tidak bisa tanpa dia, dua sedang mengandung anakku..." Roy menangis dan memeluk kaki Hery.
"Roy... Jangan seperti ini.. Bangun... Aku gak butuh sujudmu." Hery menarik Roy untuk bangkit lagi.
"Her.. Aku mohon... Rena... Rena... Maaf... Aki cinta kamu..." Teriak teriak Roy dan memanggil manggil Rena di dalam unitnya.
Bohong jika Rena tak mendengarnya. Karna ia masih berada di balik pintu itu dan mendengar yang kedua pria itu bicarakan di luar sana. Rena tak sanggup ketikan mendengar Hery mengatakan apa yang tak sanggup ia katakan pada Hery malam itu, tapi rupanya Hery bisa membaca yang Rena saat itu.
Semua yang di katakan Hery sangatlah benar dengan apa yang di rasakan Rena saat itu dan saat ini. Baru saja ia melihat sisi Roy yang lainnya dan itu sangatlah sakit walaupun tak berdarah.
Roy terus meronta ronta di depan unit Rena dan Rena lelah mendengarnya dan masuk ke dalam kamarnya dan berbaring di tempat tidurnya. Menangis dan meratapi nasib buruknya.
"Kenapa Rena kenapa.. Kenapa kamu bisa masuk sangat dalam di dosa ini.. Lihatkan... Belum juga sampai neraka kamu sudah merasakan apinya.." Gumam Rena pada dirinya sendiri.
"Roy... Berikan Rena waktu untuk sendiri. Setelah yakin Rena baik baik saja maka kamu bisa menenuinya lagi.." Saran Hery tetap menyabarkan temannya itu. Bagaimanapun juga Hery juga tidak dapat melihat temannya itu sedih dan terpuruk seperti ini.
"Tapi Her.. Rena pasti sedih di dalam.. Dia sendiri..." Roy tidak mau meninggalkan tempat Rena.
__ADS_1
"Roy.. Rena gak sendiri... Rena punya anaknya... Ia tidak sendiri Roy...." Bujuk Hery lagi.
"Justru itu Her... Anaknya juga pasti akan sedih kalau mamanya juga sedih seperti itu..." Roy masih kekeh.
"Roy apa kamu tidak yakin dengan Rena...?" Hery mulai menanyakan pertanyaan yang Roy tak mengerti.
"Apa maksudmu Her.. Kamu mempertanyaakan keyakinanku dengan Rena.. Aku sangat percaya padanya Her... Aku sangat mencintainya..." Hery menyunggingkan senyum.
"Kalau kamu yakin padanya kenapa kamu tidak yakin Rena bisa menjaga dirinya dan anaknya.. Aku tahu itu anakmu, tapi aku percaya Rena bisa menjaganya..." Hery sangat percaya dengan apa yang ia katakan dan hanya bisa memandangi pintu berwarna coklat itu.
"Hery..." Roy masih ingin merengek.
"Roy.. Dewasalah... Sebelum ini aku melihat Roy yang lebih dewasa dan bijak sana... Roy yang bisa menghadapi semuanya. Tapi siapa Roy yang ini, yang sedang berada di hadapanku ini.. Kenapa Roy yang ini berbeda... Kenapa Roy ini lebih payah, penakut, lemah, kemana Roy temanku itu.. Apa kamu membuangnya...?" Hery ingin Roy kembali tegar dan kuat menghadapi Rena dan Juga masalah lainnya seperti Debora dan Eyangnya. Sementara itu Roy yang ia lihat ini bukanlah Roy yang biasanya. Ini sangat jauh dari Roy yang Hery kenal.
Mungkin karna situasi dan kondisi saat ini membuat Roy tidak dapat berkonsentrasi dengan baik dan malah membuat masalahnya bertambah lebih banyak.
"Baiklah... Aku pergi dulu... Novel onlineku sudah update... Aku pergi dulu.." Karna tak ada jawaban dari Roy maka Hery pun berlalu dari hadapannya dan berpikir untuk pulang saja menikmati novel onlinenya.
"Rena..." wajah memelas sajay ang bisa Roy berikan di depan Pintu yang tertutup itu.
"Jika saja tidak ada Debora yang menganggu hubunganku dengan Rena maka Rena dan aku tidak akan terjadi salah paham ssperti ini. Eyang juga... Kenapa Eyang harus sakit segala... Aaarrgghh.." Roy menendang Ban mobilnya sendiri.
***
Roy pulang dalam kondisi marah dan uring uringan dengan semua yang ia lalui tadi. Debora datang pada Roy yang baru masuk Rumah rencananya ia akan menyambut Roy dengan lemah lembut dan jika Roy akan membentaknya Debora pasti akan di bela ole Eyang karna kini Eyang sedang menonton televisi di dekat situ.
"Roy.. Udah Pulang.. Gimana semua baik baik aja kan... Kok muka kamu sedih kayak gitu... Parah banget ya..." Pancing Debora.
"Aku lelah.. Aku mau ke kamar dulu..." Rupanya Roy tak terpancing, mungkin karna sudah tahu dari gelagat Debora yang sedang mengganggunya saja.
"Roy... Kenapa gitu... Sinilah temani Eyang dan Debora..." Pinta Eyang juga rupanya.
__ADS_1
"Eyang Roy mohon jangan dulu ya... Roy capek banget ini.. Nanti ya... Ini juga sudah malam.. Eyang baiknya istirahat..." Tanpa menunggu lama Roy naik ke kamarnya dan segera menutup pintunya.
"Debora kamu temani saja Roy... Dia sepertinya lelah sekali... Kamu tahukan kalau suami lelah itu obatnya adalah Seorang Istri cantik dan baik seperti kamu..." Saran Eyang yang akan di artikan sangat bodoh untuk orang yang tahu jati diri Debora.
"Iya Eyang.. Eyang juga istirahat.. Debora naik dulu ya..." Debora juga menyusul Roy yang sudah duluan ke kamarnya.
Cklek..
"Ehh.." Debora binggung dengan pintu kamarnya yang tidak dapat di buka.
"Roy..." Tok tok tok... Debora mengetuk pintu tersebut berharap Roy membukakannya.
Tidak ada sahutan dari dalam kamarnya dan entah sudah berapa kali Debora mengetuk dan memanggil manggil Roy di dalam kamar tapi tetap saja tak ada sahutannya.
"Apa dia tertidur...?" Pikir Debora yang terus mengetuk ngetuk pintu itu.
Cklek...
Akhirnya pintu kamar itu terbuka, rupanya Roy tadi mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang rasanya terbakar karna semua kejadian ini.
"Apa..?" Tanya Roy ketika membukakan pintu.
"Aku mau masuk Roy.. Ini kan kamar Kita..." Debora pura pura Manis di hadapan Roy.
"Oohh kiranya kamar kamu dan John..." Mau tak mau Roy membukakan pintu itu dan membiarkan Debora masuk karna tak ingin Eyangnya mendengar mereka berdebat.
"Roy... Berhenti terus menyalahkan John.." Debora sudah masuk ke dalam kamar.
"Kenapa kamu belain gitu...?" Roy tak peduli dan mencari baju dan celananya di lemari.
"Tidak aku..." Debora memperhatikan Riy yang sedang masuk baju dan mengenakan celananya hingga tidak dapat meneruskan ucapannya.
__ADS_1
Roy terlihat sangat seksi dan menggoda sekali seperti itu. Padahal selama ini Roy kan selalu melakukan itu, tapi entah kemana Debora sehingga baru sadar jika Roy sangat menggoda dan seksi.
Debora..