AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 336


__ADS_3

Dion menatap wajah yang sedang memwlas padanya ini.


"Bukannya tadi kamu usir aku karenacada Roy di sini.. Dia pasti mau ketemu kamu dan mungkin.." Dion menatap tempat tidur Debora.


Debora mengikuti arah pandang Dion.


"Astaga.. Dion sayang.. Kamu itu kenapa sih.. Kok gak paham paham.." Debora semakin frustasi.


"Eeemmm?" Diom menggaruk tengkuknya lagi.


"Haaaah... Aku mau kamu tetap di sini.. Aku gak mau kamu ke Inggris.. Nanti kamu ketemu cewek cewek bule cantik, terus kepincut, terus bawa pulang Indonesia, terus buat pernikahan besar besaran terus punya anak.." di tutupi dengan sedikit cubitan di lengan kekar Dion.


"Astaga..! Sayang.. Gak gitu juga kali asumsinya.." Dion memeluk Debora.


"Eeemmm" Akhirnya panggilan yang di rindukan Debora terlontar lagi dari mulut Dion.


"Maaf aku gak peka sayang.. Aku.. Aku terlalu grogi di depan Roy tadi.." Dion menangkup kedua pipi Debora lembut.


Debora membalas pelukkan Dion bahkan ia mengecup kedua tangan yang menangkup pipinya.


"Maaf.." Dion merasa sangat bersalah dengan ingin meninggalkan Debora.


"Eeemm" Debora hanya membalasnya dengan mengeram.


"Hehehe.. Lelaki kamu ini sangat bodoh sayang.. Ingat itu.." Dion ******* Bibir manis Debora.


Tak ada perlawanan dan hanya di beri balasan. Dion amat menyukainya bahkan sangat menyukainya.


"Biarpun bodoh, lolak, apakah.! Tetap punya aku.."Hati Dion berbunga bunga medengarnya.

__ADS_1


Berkali kali Dion mengecup setiap inci wajah Debora, seolah memberi terapi pada wajah cantik itu.


Bibir lembut yang selalu menanjakan Debora bahkan membuatnya ingin lagi lagi dan lagi.


"Ohya.. Satu lagi hukuman kamu..!" Ucap Debora.


"Hah..? Apa?" Dion menyelipkan salah anak rambut Debora ke belakang telinga.


"Kamu tadi panggil aku apa..?" Debora mengulangi pertanyaan yang sama pada Dion.


"Aaaa.. Astaga.." Dion menepuk keningnya.


"Maaf sayang.. Apa tadi aku panggil nama kamu..?" Dion menangkup wajah Debora lagi.


"Eeemmm" Debora mengangguk.


"Maafkan laki laki bodoh ini." Rengek Dion.


"Awas..! Nanti panggil panggil aku yang lain lain..!" Debora mencubit pipi Dion.


"Iya sayang.. Maaf ya.. Maaf.." Dion merasa amat bersalah pada Debora.


"Makanya hukuman kamu.. Nginap di sini sama aku." Tukas Debora.


"Siap bos sayangku." Dion menarik Debora ke dalam pelukkannya dan menghujaninya dengan kecupan kecupannya.


***


Menunggu Debora tak segera menemuinya membuat Roy ingin tahu apa yang di lakukan Debora.

__ADS_1


Roy mengendap endap ke kamar Debora. Saat sudah tiba di depan kamar Debora ia mendengar semua percakapan Dion dan Debora. Berkali kali Dion meminta maaf dan suara suara kecupan yang Dion berikan pada Debora.


Hati Roy berdenyut nyeri. Debora menemukan seorang yang bisa mencintainya melebihi dirinya.


"Maaf ya sayang ya.. Papa buat Mama sayang marah.. Sayang jangan marah sama Papa juga ya.." Terdengar sangat jelas di pendengaran Roy.


"Itu anak aku.. Kenapa kamu yang jadi Papanya.." Mulai semakin tak menyukai Dion.


***


"Roy.." Panggil Debora ketika ia sudah siap menemui Roy.


"Debora.." Senyum di wajah Roy mekar.


"Kenapa.. Tumben sore sore ke sini..?" Debora sedang bersuasana baik sore ini.


"Aku cuma rindu kamu dan Baby.. Boleh aku sentuh dia..?" Roy lancang bertanha berharap ada celah untuknya.


Debora spontan menggeleng sebagai jawaban. "Ini anak aku Roy.. Kamu juga tahu itu.. Sudah sah di mata hukum.." Debora tidak ingin mengalah masalah anak ini.


"Lagi pula.. Nur juga sedang mengandung.. Itulah anakmu.." Sambung Debora lagi.


"Tapi.. Ini juga anakku Debora.. Darahku juga mengalir padanya.." Roy tetap pada pendiriannya.


"Darahmu boleh padanya.. Siapapun tidak bisa memisahkan darahmu yang ada pada anak itu.. Tapi apa yang kamu lakukan sudah cukup memisahkan hubungan kamu dan anak itu.." Jawab seseorang dari belakang Roy.


Siapa lagi kalau bukan Dion. Dion sedang mengancing kemejanya dengan tatapan sombongnya pada Roy.


Roy..

__ADS_1


__ADS_2