AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 87


__ADS_3

"Roy stop Roy stop.. Aaahhkkk.." Erang Debora dengan Roy yang tak henti henti melakukan aksinya.


Roy melihat seprainya, ada noda noda merah menyala yang mewarnaninya. Maka Roy menghentikan aksinya dan yakin ia berhasil.


Roy pun masuk dalam kamar mandinya dan membersihkan tubuhnya, meninggalkan Debora yang menahan sakit di ranjang. Setelah membersihkan tubuhnya Roy keluar dan dengan Ekspresi tak bersalah ia mengenakan pakaiannya.


"Roy.. Tolong aku Roy.. Aahhkk sakit Roy.." panggil Debora tapi Roy tak menggubris.


"Roy.." Debora semakin tak mampu.


"Apa?" Roy berjalan ke arah Debora.


"Roy.. Kamu mainnya kasar, ini perut aku sakit Roy.. Aaahhkkk.." Keluh Debora.


"Itu akibatnya kamu main main sama aku. Ya rasakanlah akibatnya. Aku gak pernah minta kamu untuk layani aku tapi karna tadi kamu yang aja ya itulah yang terjadi.." Roy malah meledek Debora yang tengah kesakitan.


Setelah mengatakan itu Roy berlalu keluar kamarnya dan tanpa memberitahukan siapa pun tentang keadan Debora. Dan bukan hanya diam, Roy pergi mengendari mobilnya entah kemana.


***


Rena dab Hery masih di apartemennya, Hery membuka kulkas Rena dan melihat masih ada beberapa kotak makanan yang beberapa hari lalu Hery tinggalkan untuk Rena.


"Syukurlah dia memakannya..." Gumam Hery saat melihat ada beberapa kotak makanan yang tidak ada disana.


"Kenapa Her..?" Rena datang jufak e dapur dan melihat apa yang tengah Hery lakukan.


"Aku cuma liat liat isi kulkas kamu, taku takut kamu gak makan lagi masakan aku.." Hery tersenyum sambil mengatakannya


"Ya gak mungkin aku gak makan Her.. Orang tinggal makan aja kok..." Jawab Rena.


"Ya udah aku masakkan lagilah kalau gitu.. Aku juga bosan gak ada kerjaan.." Hery menyiapkan semua ysng ia perlukan untuk memasak.


"Aku bantu ya.." Rena mengikat rambutnya juga ingin membantu Hery.


"Kamu kerjakan yang ringan ringan aja ya.. Tu kupaskan aku bawang.. Yang lainnya biar aku.." Rena menyipitkan matanya mendengar ucapan Hery yang seperti meremehkan dirinya dalam hal memasak.


"Aku gak remehin kamu Ren tapi kan kasian sayang aku juga harus ikut ikutan.. Kalau cuma kupas bawang kan bisa samhik duduk di meja itu..." Hery menunjuk meja makan yang tak jauh dari mereka.


"Ya lah itu.." mau tak mau Renam mengikuti yang Hery katakan.


***


"Aaaahhkk Roy.. Bang*At.. Kamu... Sssttthh anak ini aaawww.."Debora berusaha turun dari ranjang dengan susah payah karna sambil menahan sakit.


Kaki Debora sudah gemerar dan berubah warna menjadi merah. Karna darah yang mengalir cukup banyak. Debora tidak dapat melakukan hal lain selain meringis dan menangis.


"Tolong.. Tolong.." Bahkan untuk berteriak pun Debora tidak mampu. Tak ada yang busa mendengarkan Teriakan Debora karna sebegitu kecilnya suara.


Untuk menuju depan tangga saja Debora membutuhkan waktu 30 menit. Itu pun dengan mengesot dilantai. Dan lantai tempat Debora lewat semuanya di cap darah.

__ADS_1


"Tolong.. Tolong.. Bibi... Tolong.." berharap ada yang mendengarnya.


"Tolong.. Bibi.." Debora mengeraskan suaranya.


Akhirnya ada juga yang mendengarnya, asisten rumah tangganya menghampirinya dengan segera.


"Ya ampun nyonya..!" pekiknya ketika melihat Debor berlumuran darah.


"Bi.. Hubungi ambulans.." ucapnya lirih.


Bibi itu pun segera menghubungi ambulans untuk membawa Debora.


"Nyonya sebentar lagi ambulansnya datang.." Bibi itu menghampiri Debora lagi dan membantu Debora duduk dengan benar.


"Bi.. Mana Roy.. Eyang?" Debora mencari keberadaan orang orang itu.


"Eeemm Nyonya besar sedang ke restoran sama bibi yang lainnnya, kalau tuan saya gak tahu nyonya..." Terangnya.


"Ooohh ya ampun.. Bibi ini sakit sekali.." Debora memegangi perutnya.


"Ya Tuhan Nyonya yang kuat ya.." Sang bibi mengeluarkan ponselnya berharap ada yang bisa ia hubungi dan akan tanggap lebih cepat.


"Tuan Hery.." gumamnya dan langsung menghubungi Hery.


***


"Her.. Ada panggilan ini.." Karna hanya getar maka Rena yakin Hery tidak mendengarnya.


"Dari siapa?" Hery hanya berbalik dan Spatula masih di tangannya.


"Eeemm bibi rumah Roy.." Rena membaca nama yang tertera di ponsel Hery.


"Bibi?" Hery pun mematikan kompornya dan berjalan ke arah Rena di meja.


"Ya Halo bi.. Kenapa..?" Hery menerima panggilan itu.


"Tuan Hery.. Tolong saya tuan.. Ini nyonya Debora sakit perut dan pendarahan..." Sarkas sang bibi langsung tanpa basa basi.


"Debora...?" Hery mengulangi untuk memastijan pendengarannya tidak rusak.


"Ya tuan.. Sepertinya Nyonya Debora keguguran. Darahnya banyak banget, dan nyonya gak tahan sakitnya tuan... Aahhkk..." Terdengar juga suara Debora di dalam panggilan itu.


"Oke bi.. Saya ke sana sekarang.." Hery mematikan panggilan dan melepas celemeknya.


"Her.. Kenapa..?" Rena juga ikut panik melihat Hery yang bergerak dengab sangat cepat.


"Itu Ren.. Debora berdarah di rumahnya, kata pembantunya mungkin keguguran.." Hery menjelaskan pada Rena.


Rena menutup mulutnya tak menyangka.

__ADS_1


"Her aku ikut ya.." pinta Rena.


"Ya tapi jangan jauh dari aku ya.." Hery ingin menunjukan pada Rena betapa berbahayanya Roy tadi.


Hery dan Rena dalam perjalan ke rumah Roy. Rena meremas tangannya dan sebenarnya dia juga takut. Hery berusaha tetap tenang dan ia yakin Rena akan sangat mempercayainya setelah kejadian ini.


"Ya ampun.. Ambulansnya mana ya kok lama banget.." Sang bibi sudah tak sabar.


"Bibi.." Debora meremas sang bibi untuk menyalurkan sakitnya.


"Iya nya. Remas aja bibi ya.." Bibi itu hanya pasrah. Meminta tolong tetangga juga tidak karna ia sangat panik dan lupa akan memiliki tetangga.


"Bi.." Suara seseorang dari bawah.


"Tuan Hery datang nya.." Bibi itu bangkit dan melihat kedatangan Hery dan Rena.


"Tuan.. Di sini tuan tolong.."


Debora merasa lega akan kedatangan Hery. Meski itu tidak mengurangi rasa sakitnya yang ia rasa.


Dengan cepat Hery menaiki tangga dan Rena mengikutinya dari belakangnya. Saat tiba di depan Debora dan sang bibi Rena menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Debora.." Hery juga sangat terkejut dengan pemandangan ini.


Tempat Debora duduk semuanya darah, bukanya hanya itu bahkan darah darah itu sudah menggenang di sana. Ambulans pun tiba tak beda beberapa menit dari Hery dan Rena.


"Tuan itu ambulansnya sudah datang.." Ucap Sang bibi.


Hery pun menggedong Debora walaupun darah terus mengalir di kaki Debora. Rena mematung di tempat melihat darah yang menggenang itu, tak habis pikir Rena melihatnya. Bagaimana itu bisa terjadi oada Debora.


"Rena..?" Panggil Hery.


"Rena.. Ayo kita bawa Debora je rumah sakit.." Rena menganggukkan kepalanya dan ikut Hery ke mobilnya lagi.


Tapi pemandangan darah itu tetap melekat di mata Rena.


"Kamu jangan pikir darah itu ya.. Oke..!" Hery sambil menyetir dan mengingatkan Rena.


"Tapi Her.. Kenapa bisa..?" Rena masih penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Rena tadi aku kan sudah bilang, Roy di kendalikan obat prangsang, dan kayaknya kalau dugaan aku gak salah, Roy kehilangan kendali dan Debora dan anaknya yang jadi korbanya.." Duga Hery yang sebelas duabelas dengan yang terjadi sebenarnya.


"Masa sih Her.. Tapi gak mungkin Roy begitu.." Rena masih membela Roy.


"Ya kalau Roy gak dalam pengaruh obat ya gak akan gitu, tapi kan masalah utamanya obat itu Ren.." Bantah Hery lagi.


Rena sebenarnya masih tidak percaya tapi ia berusaha mencerna yang Hery katakan, ia akan menunggu saja di rumah sakit nanti apa penyebabnya akan mereka ketahui.


Off dulu guys.. Likenya donk..

__ADS_1


__ADS_2