AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 139


__ADS_3

"Iya kah...?" Hery sedikit melemah.


"Iya sayang.. Aku belum rasa apa apa sih.. Mules juga gak ada..." Rena berusaha duduk lagi.


"Ayo bantu aku turun.. Tadi kamu gak dengar kata Dokter.. Ini baru pembukaan 2, jadi aku harus banyak gerak dulu, kayak jalan jalan, belajar atur nafas yang baik. Dan juga isi tenaga" Rena tahu Hery sama sekali tak menyimak apa yang di katakan oleh Dokter tadi.


"Betul.. Dan kamu Hel... Tolong tenangin diri kamu dulu Hel.. Rena gak akan bisa tenang kalau kamu gak tenang.. Kasian kan Rena harus sibuk sama kamu dan sibuk nahan rasa sakitnya nanti.." Bisma juga memberi saran.


"Oke aku coba.." Hery menarik nafasnya.


"Ya aku tenang.. Sayang.. Aku janji aku akan selalu di sisi kamu.. Aku bisa, aku kuat.." Hery mengenggam erat tangan Rena.


"Ya Hery... Ini kan saat yang paling kamu tunggu.." Rena terus menciumi wajah Hery.


"Ya Baby sebentar lagi keluar. Aku harus kuat, aku harus kuat di liatnya. Gak boleh lemah.. Gak boleh.. Masa di depan anak aku lemah. Cukup di depan mamanya aja aku lemah.." mendapat semangat dari istri dan juga saudara membuatnya kembali tenang dan lebih kuat.


Ini pasti terjadi pada setiap suami. Meski tak separah Hery, tapi kekhawatiran seorang suami pada istrinya tidak bisa di ungkapkan dengan kata kata saja. Masih banyak yang ia rasa dan tak bisa di nyatakan dengan kalimat dan cerita.


Kadang ada suami yang tampak biasa saja saat melihat Istrinya akan melahirkan tapi jauh dalam lubuk hatinya ia sangat khawatir. Dia ingin menggantikan istrinya untuk merasakan sakit yang mendera saat melahirkan sang buah hati.


Hery merasakannya. Rasa khawatir yang teramat, ingin ikut merasakan apa yang Rena rasa.


"Her...?" Roy dan Debora juga tiba di rumah sakit, Bisma yang menghubunginya.


"Roy.." Hery memeluk Roy.


"Sebentar lagi kamu jadi papa.. Selamat ya Her.. Kita tunggu sama sama.." Roy melihat rasa khawatir yang sangat jelas di wajah Hery.


"Rena.." Debora memeluk Rena.


"Ya Debora.. Ini saatnya.. Gak lama lagi Baby keluar..." Rena sangat antusias.


"Ya.. Aku juga akan di sini boleh ya..?" Debora dan Rena sangat dekat. Roy serta Hery senang akan kedekatan mereka berdua.


"Ya kita tunggu sama sama.." Rena setuju.


***


Delapan Jam berlalu. Kini Rena bisa merasakan apa yang para calon ibu rasakan di menit menit melahirkan buah hatinya.


"Aaawww.." Rena meremas lengan Hery.


"Ya sayang remas aja aku.." Hery tetap bersama Rena di ruangan dan yang lain menunggu di luar ruangan.

__ADS_1


Hery sudah di kuatkan oleh Mama Marrynya meski dari telpon. Mama Marry juga tentu pernah mengalaminya, ia memeberi semangat juga pada Rena dan Hery. Itu membuat Rena sangat senang bisa berbicara dengan sang mertua. Hery pun jadi lebih pahan tentang melahirkan.


Hery berusaha sebaik mungkin dan membantu sebisanya.


"Sakit Her..." Rena mengeluh akan sakit yang ia rasa.


"Ya.. Sayang.. Sini peluk aku.." Hery memeluk Hery sangat Erat menyalurkan sakitnya.


Menit semakin memakan jam, kini bertambah satu jam. Rena semakim mengerang kesakitan. Hery memijit punggung Rena untuk mengurangi rasa sakitnya.


Rena dalam posisi miring yang di sarankan oleh dokter. Dalam hatinya ia berdua kepada sang pencipta. Berharap semuanya di lancarkan.


"Aaawww Yank.." Rena terkejut dengan air yang keluar. Sepertinya ketubannya pecah.


Para dokter dan perawat siap di tempat mereka, sepertinya anak bayi pintar ini akan segera keluar.


"Her.. Apa itu..?" Rena merasakan sesuatu yang berada di pangkal pahanya


Dokter bangkit dan memeriksa Rena lagi.


"Tuan bayinya akan keluar.." Sara, sang dokter memberi intruksi pada perawat yang menemaninya.


"Tuan tolong terus semangat Nyonya dan ajak ia mengatur nafas lagi." Saran dokter Sara.


"Nyonya ikuti saya ya.. Tarik nafas, hembus, tarik nafas... Hembuskan.." Rena mengikutinya.


"Waaahh Bayi ini sangat pintar.." Sang dokter memuji Bayi yang sepertinya sudah tak sabar untuk tiba di dunia.


"Ayo.. Nyonya kita teruskan.." Dokter terus mengintruksi Rena. Bukan hanya Rena yang mengikuti intruksi dokter, Hery juga ikut ikutan.


"Ya ayo terus dorong.. Terus.." Proses melahirkan yang tak mudah. Sebentar lagi bayi pintar ini akan tiba di dunia.


"Aaaarrrrgggggghhhh..." Dengan satu dorongan keras dan teriakan yang keras pula sang bayi pintar keluar dengan aman dan selamat.


Tangisnya pun mengelegar di dalam ruangan itu. Rena juga menangis haru ia baru saja melahirkan anaknya. Hery lebih dari pada itu, ia juga menangis sejak tadi dan kini ia tersenyum sambil menangis.


"Selamat sayang selamat.." Hery mengecup seluruh inci wajah Rena.


"Anak kita lahir Her..." Rena sangat terharu.


"Ya dia sayangku.. Itu dia tu.. Ooowww manisnya." Hery menunjuk Bayinya yang sedang di bersihkan oleh perawat.


"Sudah lahir...!!" Roy dan Bisma sangat ribut di luar ruangan sedangkan Debora sudah tak sabar untuk masuk ruangan itu juga.

__ADS_1


"Yeeeeeyyy i'am uncle Bisma.. Aaaaaaa..." Bisma yang paling ribut.


Roy menangis sambil tertawa. Bagaimana pun itu juga adalah anaknya. Roy juga senang sang anak lahir dengan selamat dalam pengawasan Hery sang Papa.


"Roy.." Debora melihat Roy menangis bahagia.


"Janji ya.. Abis ini kita juga.." Roy memeluk Debora.


"Ya Roy.. Pasti.. Kita usahakan.." Debora menghapus airmata Roy dengan jarinya.


***


Satu jam setelah Rena melahirkan kini semua orang di luar ruangan masuk dan menengok Rena dan bayinya.


"Waaahhh dia ganteng banget.." Bisma memuji sang keponakan.


"Dia gak ganteng, tapi cantik.. Kamu gak liatkah..?" Protes Roy yang berbeda pendapat.


"Looohh dia ganteng kok tuuhh.." Bayi itu bergelut dalam bedongnya.


"Mana ada, cantik.." Tak mau kalah.


"Hely.. Dia ganteng kan..!" Bisma bertanya pada sang papa Bayi.


"Eeemm.." Hery menggaruk kepalanya.


"Dia cantik.. Kamu ini ngotot.." Roy dan Bisma tak pernah cocok.


"Eeeeee..." Rena juga bingung harus mengatakan apa.


"Rena Baby perempuan atau laki laki..?" Debora langsung bertanya pada Rena.


"Eeeeemm..." Rena melihat ke arah Hery dan Hery juga melihat Rena.


Satu bayi di letakan lagi di samping bayi Rena dan Hery. Semua orang terdiam.


"Apakah...?" Roy dan Bisma terkejut.


Debora juga semakin bingung.


"Rena kamu bilang sama aku hari itu bayinya satu.. Tapi ini..?" Debora terus menatap inkubator bayi bayi itu.


"Aku.. Juga gak tahu.. Debora.." Rena sangat malu.

__ADS_1


Debora...


__ADS_2