
Tiba tiba Dion mendengar suara orang mual. Sepertinya itu dari kamar Debora. Dion mengeluarkan kepalanya.
Ia melihat jendela kamar Deborajuga terbuka. Oleh karena itu Dion bisa mendengar suara Debora.
"Debora kenapa ya..?" Rasa khawatir menyeruak Dion.
Ingin ia memanggil Debora dari jendela itu, taoi bila di pikir pikir Debora tidak akan tahu Dion di sana. Apalagi dengan kondisi Debora yang sedsng Mual mual itu.
"Aku ke kamarnya aja.." Dion keluar dari kamarnya.
Tok tok tok..
"Bora.. Bora.. Kamu gak apa apa..?" Dion mengetuk pintu kamar Debora.
"Ya.. Bentar.." Terdengar juga suara Debora dari dalam kamar.
"Kamu gak apa apa kan..?" Dion tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya pada Debora.
"Eemmm aku.." Debora malu malu.
"Aku dengar kamu mual mual.. Kamu gak apa apa kan..?" Dion meneliti wajah Debora.
"Iya.. Aku cuma mual mual. Kayaknya masuk angin aja.."
"Betul..?" Dion memastikan.
"Betul.." Debora mengangguk.
"Apa kamu mau minum susu atau semacamnya.. Aku buatkan ya.." Pinta Dion.
"Aku gak apa apa kok.. Gak ada rasa mau minum susu juga.. Gak apa apa Dion.." Tolak Debora.
"Gak.. Kata adikku Diana.. Wanita hamil baru abis muntah itu baiknya minum susu kehamilannya. Itu bisa memperbaiki dan mengurangi rasa mau mualnya.. Aku buatkan ya.." pinta Dion lagi.
__ADS_1
"Eemm ya udah.." Debora pasrah.
"Tuh.. Kamu aja lemas gitu.. Apa susunya di dapur..?" Tanya Dion lagi.
"Iya semuanya di dapur. Ayo.." Debora menutup pintu kamarnya.
"Eh... Kamu mau ke mana..?" Dion menahan Debora.
"Ya mau ikut kamu ke dapur.." Jawab Debora polos.
"Gak.. Kamu di kamar ini aja.. Nanti aku balik bawa susu mu.. Oke.. Aku gak mau kamu banyak gerak.. Udah lemas.. Mau banyak gerak sana sini lagi.. Masuk..!" Titah Dion.
"Dion."
"Masuk sayang..!" Titah Dion lagi.
Debora mematung. Baru saja dia salah dengar atau memang Dion memanggilnya dengan sebutan Sayang..?
"Masuklah.. Aku gak lama.." Janji Dion.
Debora memilih menurut saja dan bertanya tanya dalam hatinya.
Dion segera ke dapur, ia juga sebenarnya tak tahu di mana letak susu Debora. Tapi untungnya saat itu juga ada bibi yang bekerja di rumah Hery datang juga ke dapur.
"Bi.. Dimana susu kehamilan Debora.. Dia simpan di mana..?" Dion menanyakan bibi itu.
"Di lemari itu tuan.. Biar bibi ambilkan.." Sang bibi mengambil dan memberikan tempat susu itu pada Dion.
"Makasih Bi.." Dion bergegas memasak air dan menyiapkan bubuk susu di dalam gelas berukuran sedang.
"Tuan buatkan Nyonya Debora susu..?" tanya sang Bibi.
"Iya.. Bi.. Tadi Debora mual mual.. Makanya aku buatkan susu. Deboranya jugal lemas.." Jelas Dion
__ADS_1
"Ohh ya tuan. Ini.. Biskuit untuk Nyonya. Biasanya nyonya makan biskuit ini juga malam malam.." Bibi menawarkan sekotak biskuit milik Debora.
"Makasih Bi.." Dion menerima biskuit itu.
.
.
.
.
.
Tok tok tok..
Ceklek..
Seperti kamarnya sendiri, Dion langsung masuk dengan bawaannya.
"Eh kamu bawa biskuit ku juga..?" Debora Terkejut.
"Iya tadi ada Bibi di dapur. Dia kasih tahu kamu suka biskuit ini. Mau...?" Dion meletakkan napan berisi segelas susu hangat dan sekotak bikuit itu di tempat tidur Debora. Tepat di depan Debora.
"Makasih Dion.. Kamh baik banget.." Puji Debora.
"Iya donk.. Buat kamu gitu loo.." Dion menarik kursidan duduk di depan Debora yang menikmati susu buatan Dion.
"Eemmm enak.. Lebih enak dari buatan aku biasanya.." Cicit Debora.
"Kan buatan aku.." sombong Dion.
Debora..
__ADS_1