AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 259


__ADS_3

Mau tak mau Debora bergabung denga mereka. Duduk di samping Dion yang sedang memegang gitar.


"Ikut kami ya.." Ajak Dion.


Hari ini Dion berbeda jauh dari yang Debora cari tahu di google dan yang Hery perlihatkan serta saat pertama kali bertemu dengan Dion di Mall.


Dion hari ini hanya mengenakan kaos putih polos dan celana jeans biru langit. Sangat cocok di dirinya. Rambutnya yang rapi dan aroma parfum yang halus tapi semerbak. Apalagi Debora duduk di sampingnya, ia bisa menciumi aroma parfum itu.


"Ayo kita nyanyi lagi.. Lanjut..?" Sorak Dion seorang diri dan di sambut sorakkan anak anak yang lebih nyaring lagi.


"Lanjut Popsy.." Seru mereka.


Dion mengatur posisi tangannya dan jari jarinya di gitarnya. Debora melirik Dion dan begitu sebaliknya. Dion tersenyum pada Debora membuat jantung Debora melakukan senang lagi.


Dion mencoba fokus pada anak anak itu lagi. "Na.. Nanana... Na.. Nanana.. Na.. Lama sudah ku menanti, banyak cinta datang dan pergi, tapi tak pernah aku senyaman ini.. Mungkin dirimulah cinta sejati... Tak akan ku ragu lagi.. Ku jaga sampai ujung nanti tak kan aku sia siakan lagi, buat hidupku lebih bararti.... cintamu senyaman mentari pagi, seperti palangi, selalu ku nanti.... Cinta mu tak akan terganti selamanya di hati, aku bahagia milikimu seutuhnya..." Dion mulai menggerakkan tubuhnya mengikuti irama yang di buat gitarnya.


Senyum di bibir Debora makin lebar melihat aksi Dion ini.


Anak anak itu juga senang melihat aksi Dion. "Lama sudah aku menanti, banyak cinta datang dan pergi, tapi tak pernah aku senyaman ini mungkin dirimulah cinta sejati..." Dion menoleh pada Debora dengan senyum manisnya yang mungkin lebih manis dari gula.

__ADS_1


Dion mulai bangkit membawa gitarnya.


"Oooooo.. Buat hidupku lebih berarti.. Cintamu senyaman mentari pagi, seperti pelangi, selalu ku nanti... Cintamu tak akan pernah terganti, selamanya di hati, aku bahahgia.. Milikimu seutuhnya."


Dion mengitari Debora sambil sedikit berlenggang dan tentu gitarnya. "Cintamu.. Senyaman mentari pagi.. Seperti pelangi, selalu ku nanti.. Cintamu tak akan pernah terganti, selamanya di hati.. Aku bahagia.. Milikimu seutuhnya..."


Hati Debora seperti di gelitiki, tak bisa menutupi rasa senangnya melihat Dion yang seperti ini.


"Aaaaaa... Popsy memang hebat.."


Berbagai seru dari anak anak kecil itu setelah Dion berhenti memainkan gitarnya.


Debora pun turut menepuk tangannya karna menyukai lagu yang indah di mainkan Dion.


"Eehhh itu.. Enna lagi bagi pudding..!!" Seru Dion menunjuk seorang bibi membawa nampan yang berisi pudding.


"Yeeeeyyyh.." Mereka pun berlari ke arah bibi itu.


"Ya Allah.. Tuan Dion ini..!" Cicit Bibi Enna karna anak anak mengerumuninya.

__ADS_1


"Hahahahaha.. Eeeeekkk" Dion meledek dengan lidahnya dan mendudukkan dirinya lagi di samping Debora.


"Kamu di sini..? Cari siapa..?" Dion yakin ada yang ingin di lakukan Debora hingga ke mari.


"Aku cari kamu.." Debora langsung saja pada intinya.


"Aku..? Oohh apa aku seterkenal itu..?" Cicit Dion.


"Emm bukannya gitu tapi.." Debora mengeluarkan secarik kertas.


"Hmmmm?" Dion menatap kertas itu.


"Aku.. Aku gak tahu kalau bukan dari kertas ini.." Debora memegangi kertas itu.


"Lalu..?" Dion bertopang dagu dengan beralaskan gitar di pangkuannya danĀ  melirik wajah Debora yang sedang serius.


"Aku..."


"Popsy... Ini untuk Popsy dan istri Popsy.." Seorang anak perempuan berlari ke arah Dion dan Debora dan menyerahakn dua cup pudding pada Dion.

__ADS_1


"Hah..?" Debora merasa tidak salah dengar tapi tetap ia mempertanyakannya.


Dion..


__ADS_2