AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 343


__ADS_3

Kebahagain terkumpul penuh di rumah masa kecil Hery dan Olin.


Kini bertambah anggota lagi membuat rumah itu sangat ramai dan penuh cerita.


"Semua rencana kamu berjalan lancar sayang.." Hery sedang mengeringkan rambut Rena yang baru selesai mandi.


"Iya.. Makasih udah dukung aku sayang.." Hery mengecup puncak kepala Rena.


"Kamu memang yang terbaik.." Rena memuji muji suaminya.


"Suami tercintamu ini.. Pasti terbaiklah.." Hery lanjut menyisir rambut lurus panjang istrinya.


"Sayang.." Panggil Rena terdengar serius.


"Apa..?" sahut Hery dengan cepat.


"Apa kamu gak punya kenangan di kampung halaman kamu ini..?" Rena memicingkan matanya sambil bertanya pada Hery. Mencari tingkah tak terduga suaminya.


"Kenangan masa kecil..?" Yang terpikirkan oleh Hery.


"Bujang..!" Sahut Rena.


Ucapan Rena itu sontak membuat Hery terkekeh. Istrinya tidak ada habisnya penasaran dengan kecemburannya sendiri.


"Kenapa kok malah ketawa.. Wajar aku mau tahu.." Protes Rena.


"Hahahaha.. Iya sayang iya.. Ya ampun.." Hery tak habis pikir.


"Issshhh" Desis Rena.


"Iya sayang iya.. Eemmm kenangan bujang..? Kayaknya ada.." Hery mengerti yang ingin di ketahui Rena. Tapi tidak dengan kisah yang akan ia ceritakan ini, Hery takut Rena akan mengamuk bila tahu. Tapi Hery akan mengusahakan agar dirinya berkata jujur.


"Ada..!!" Rena semakin gencar.


"Iya ada.." Hery tidak berani langsung mengatakan poin pentingnya.


"Eeemmm banyak..?" Rena terlihat lesu.


"Gak banyak.."


"Ceritain..!" Pinta Rena lagi.


"Iya nanti sebelun tidur ya.. Setelah urus Alf dan Elf.. Baru aku ceritakan ya sayang.." Hery mengecup bibir Rena lembut.


"Heeemm okelah.." Rena pasrah.


"Tuan, Nyonya.. Saatnya makan malam.." panggil bibi yang bekerja di rumah ini.


"Iya bi.." Sahut Hery.


"Ayo sayang kita makan dulu.. Alf Elf.. Makan yukk.. Atau kalian berdua mau sesuatu.. Nanti di buatkan Bibi.." Sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab atas semua anggotanya, mulai dari istri, dan anak anaknya.


"Ayo Papa.." Seperti biasa Elf yang paling manja pada Hery.


****


Semuanya sudah berkumpul di meja makan.


Makan malam yang sangat menyenangkan, semua anggota keluarganya berkumpul, kecuali satu orang lagi, Marry..


Tapi seperti ini saja Olin sudah sangat bersyukur, dia bisa bersama para kakak kakaknya dan juga keponakan keponakannya.

__ADS_1


Ia yakin secepatnya ia juga akan bisa mendapat suapan dari sang ibu. Itu harapan Olin selanjutnya.


***


Malam tiba di perkampungan ini, Rena sedang menunggu Hery yang sedang menggosok giginya di kamar mandi.


"Aaaaahhhh" Hery mengelap bibirnya dengan ujung bajunya.


"Sayang.." Rena langsung memanggil suaminya.


"Ya sayang..? Bentar.. Haaa.. Panasnya.." Hery membuka bajunya.


"Sini.." Sudah jelas ada yang di inginkan Rena. Hery bisa menduganya.


"Ya sayang.. Alf dan Elf sudah tidur..?" Hery melirik kedua anaknya di kasur yang berletak jauh dari kasur Rena dan Hery.


"Iya kayaknya kecapek'an.." Rena mengelus dada bidang Hery.


"Sayang gak kecapek'an kah..?" Hery membelai rambut Rena.


"GAK..!" sangat penuh penekanan.


"Heheh.." Hery menggaruk tengkuknya.


"Sayang kamu tahu yang aku mau.. Jadi jangan menunda nunda..!" Pungkas Rena lagi.


"Anakku sayang. Hormon apa yang kamu tanamkan pada Mamamu ini.. Kenapa Mamamu jadi begini..?" keluh Hery dalam hatinya.


"Iya sayang.. Tapi janji jangan marah marah looo" Hery membawa Rena dalam peluknya dan merabahkannya pelan.


"Ayo cepat..!"Titah Rena tak ada tandingannya.


"Oke.. Dulu.. Aku memang tubuh di kampung kecil ini. Bahkan aku bawa Olin ke sini dulu . Dan Olin di besarkan sama Bibi yang tadi, aku.. Aku kejar pendidikkan sebisanya.. Dulu aku tial minggunya pulang ke sini.. Pulang dengan penuh harapan Olin langsung gede.. Langsung bisa diajak ke kota.. Tapi gak bisa.. Olin masih kecil.. Jadi perlahan aku temani Olin." Hery memulai ceritanya.


"Iya.. Dulu.. Ada anak dari kampung yang juga sekolah ke kota.. Kami sering ketemu di bis... Jadi.."


"Anak sekolah..?" Rena membulatkan matanya.


"I.. Iya sayang.. Kenapa..?" Hery sudah khawatir seribu kata dari sang istri akan segera keluar.


"Jadi cinta monyet..?" Tuduh Rena langsung.


"Gaklah sayang.." Hery sudah menduga akan ada saja tuduhan Rena padanya.


"Ck.. Lanjut.." Rena mulai kesal.


"Iya jadi kalau aku pulang ke kampung dia juga pulang ke kampung, kalau aku balik ke kota, ya dia balik ke kota juga.." Tutur Hery lagi.


"Terus..? Sama sama terus deh tiap bulan.." Tuduh Rena lagi.


"Iya gitulah.. Tapi gak kayak yang kamu pikirin itu looo.. Aku ya urus aku sendiri dia ya urus diri dia sendiri.." jelas Hery lagi.


"Cantik gak..?" Rena mencubit dada Hery.


"Eemmm gimana ya..?" Hery menggaruk pelipisnya.


"CANTIK YA..?" Rena makin menaikkan suaranya.


"Eemmm aku gak terlalu perhatikan. Ya kalau pulang ya aku fokus pulang.. Gak ada lirik lirik.. Sayang kan tahu aku kayak apa dulu.. Aku gak peduli sama yang kayak gitu.. Sama sayang aja karena aku khilaf.." Cicit Hery.


"Eeemmm" Rena tersenyum.

__ADS_1


"Apa dia masih ada di sini..? Di kampung ini..?" Rasa penasaran seorang istri tidak ada habisnya.


"Gak tahu Sayang.. Emangnya aku cari tahu dia.."


"Namanya namanya, pasti tahu donk namanya.." Celoteh Rena lagi


"Namanya.. Mina.. Nina Nila..? Gak tahu..?!" Hery menggelengkan kepalanya.


"Ck.. Jadi kamu gak kenalan sama dia.. Tapi tiap minggu pulang barengan.." Cicit Rena lagi.


"Gak.. Aku gak pernah kenalan sama dia, duduk aja jauh jauhan.." Elak telak Hery.


"Tapi kamu tahu namanya dari mana..?"


"Aku sering di ledekkin sama bapak bapak dan ibu ibu di depan gang.. Katanya berduaan terus tiap minggu.." Rena membulatkan matanya.


"Oo'hooo... Di jodoh jodohin gitu..?!"


"Iya.. Gitu deh.. Ya cuma itu aja kenangan masa bujangnya." Rena memicingkan matanya.


"Aku mencium bau bau kebohongan kali ini.." Ucap Rena lugas.


"Hah..?" Hery menatap Rena.


"Ada yang sembunyikan rahasia masa mudanya.." Sergah Rena lagi.


"Hah..?" Hery seperti orang bodoh.


Rena mengeluarkan dompet Hery. "Aku sudah tahu looo.." Rena mengembalikan dompet itu pada Hery.


Hery dengan polosnya melihat isi dompetnya, "Heeemmm?" Hery menaikkan satu alisnya.


"Kenapa..?" Rena semakin mengambil kendali.


"Ini.. Mana yang lainnya..?" Hery tampak terkejut ada yang hilang dari dompetnya.


"Entah.." Rena mengelus elus perutnya yang masih rata.


"Sayang..? Kamu kemanain..?" Hery pun penasaran.


"Pentingkah..?" Rena menatap janggal Hery.


"Eh.. Bukan.. Bukan gitu sayang tapi ya.. Ini.." Hery kelimpungan.


"Apa..?" Rena mendominasi.


"Sayang.. Jangan bilanh kalau kamu..?" Hery yakin ada yang Rena lakukan dengan dompetnya.


"Aaaahh..?" Rena pura pura tak tahu apa apa.


"Sayang.. Kamu kemanain..?" Hery bertanya dengan lembut pada Rena.


"Kemana aja boleh kok. Aku kan istri kamu.. Boleh toh.." Rena tak terim terus di tanyai


"Iya boleh sayang.. Tapi kemana.." Hery menunjuk nunjuk dompetnya.


"Di.." Rena membuat Hery menunggu jawabannya.


"Diiii...." Rena makin nakal.


"Diiiiiihihihihi.." Rena malah bertawa karena Hery menggelitik pinggangnya.

__ADS_1


"Di mana..?" Hery yakin ada yang di lakukan Rena tanpa sepengetahuannya.


Rena..


__ADS_2