
Adel meringis, tubuhnya terpental di tempat tidur empuk itu.
"Adel..." Stuart meraba paha Adel.
"Aahh.. Jangan..!" Adel masih berharap bisa lari dari Stuart.
Stuart meremas paha kecil itu dengan tangan besarnya.
"Stu..!" Pekik Adel.
"Kita mulai ya.." Stuart tersenyum bak iblis.
"Jangan.. Stu.. Kamu laki laki yang baik kan..!?" Adel berharap Stuart akan sadar yang ia lakukan itu salah.
"Iya.. Aku laki laki yang baik, baik untuk tidak melepaskan kesempatan lagi. Laki laki yang baik juga memuaskan pasangannya.. Itu kan yang kamu inginkan sayang..!?" Stuart menarik ****** ***** Adel.
"STUART...!!!!!" Stuart dan Adel menoleh kearah suara.
"Bismaaaaaa...! Tolong aku.. Tolong..!" Adel merasa senang melihat Bisma datang di saat yang tepat untuk menyelamatkannya.
"Lepaskan Adel.." Wajah Bisma memerah ingin menerkam Stuart saat itu juga.
"Oohhh pangerannya datang..!?" Ledek Stuart.
Stuart berjalan santai dan menghidupkan LED Projektornya.
"Masih ingat..?" Stuart duduk bersama Adel di atas ranjang.
"Apa... Ini?" Bisma tiba tiba melemah.
"Kamu pasti ingat dia dengan jelas. Dia banyak mengajarkan kamu segala hal di ranjang.." Cicit Stuart sambil memainkan gundukan Adel.
__ADS_1
"Lepas Bedelah..!!" Titah Adel. "Bisma tolong aku..!" Pitna Adel ada Bisma.
"Sssttt.. Sayang.. Bisma sedang mengenang kisahnya dulu.. Jangan di ganggu..!" Stuart semakin nakal di tubuh Adel.
"Bisma.. Bisma.. Bismaa.!" Adel menatap dinding di mana tempat gambar gambar slide itu tampil.
"Bisma...!" Tak lelah Adel memanggil Bisma berusaha menyadarkannya.
"Aaahh!" pekik Adel ketika Stuart semakin menjadi.
"Ayo sayang biarkan saja Bisma.." Stuart melepas br* yang di gunakan Adel.
"Jangan.. Stu.. Stu.. Jangan..!" Adel kini tak menggunakan lagi kacamata kuda itu.
"Bisma!!!" Teriak Adel.
Sedangkan orang yang sedang di panggil panggil terpaku seperti beku. Matanya menetaskan air mata. Kakinya bergetar tak karuan.
Ingatan ingatan masalalu kembali terputar. Adel terdia jua akhirnya saat dirinya sudah tak mampu melarang Stuart dan memanggil Bisma secara bersamaan.
"Dia..!!?" Gumam Bisma.
Sambil menerima aksi Stuart, Adel memperhatikan slide itu, gambar seorang wanita, cantik, putih, bemata sipit. Banyak pertanyaan di otaknya.
"Stu..?" Panggil Adel tak berdaya.
"Apa sayang..?" Rupanya bila Adel berkata lembut pada Stuart maka Stuart akan mendengarkannya.
"Stu.. Siapa wanita itu..?" mata Adel menunjuk foto foto di dinding itu.
"Masa lalu Bisma.." Stuart mengelus pipi Adel. "Dia gak akan mudah lupakan wanita itu.." Stuart memeluk Adel.
__ADS_1
"Aku di sini untuk kamu Del.. Bisma bukan pilihan yang tepat untuk kamu..! Dia.. Kamu lihat sendiri itu..!" Stuart ingin mengadu domba Adel dan Bisma.
"Masa lalu..?" Adel menatap Stuart.
"Iya..." Stuart meraup bibir Adel.
Adel tak menolak, ia juga tak membalas ciuman Stuart.
Bughhhh..
Bisma terduduk di lantai kamar itu. Adel menarik bibirnya agar lepas dari pengutan Stuart.
"Bisma.." Lirih Adel.
"Dia terpukul sayang.." Stuart menarik dagu Adel lagi agar menghadapnya, kembali meraup bibir Adel.
"Dimana dia..?" Tiba tiba Bisma bersuara juga.
"Emm?" Stuart melepaskan pengutannya dan Adel.
"Kamu mau tahu dia di mana..?" Stuar tertarik dengan pertanyaan Bisma.
"Dimana dia..?" Tangan Bisma mengepal.
"Dia..? Osaka Jepang.." Jawab Stuart dan duduk di depan Bisma. Laki laki bertelanjang dada itu tersenyum penuh kemenangan.
"Lalu.. Bagaimana kehidupannya..?" Bisma sangat ingin tahu tentang wanita ini.
"Dia.. Sudah punya anak.. Dua, satu perempuan dan satu laki laki.. Sangat mirip ibunya.." Stuart berjongkok dan mengelus keringat di dadanya.
"Gitu ya.." Adel tak peduli apa yang kedua laki laki itu bicarakan, yang ia inginkah hanyalah lepas dari ikatan Stuart ini.
__ADS_1
Dasi di tangannya terikat dengan kuat. Sebisa mungkin Adel melepaskannya. Setelah beberapa kali berjuang Adel berhasil membuka ikatan dasi itu, meski telapak tangannya harus terluka terkena kuku kukunya juga.
Stuart..