
Debora menoleh pada Bisma, mungkin ia tahu sesuatu.
"Eemm.. Hely bukannya itu cuma satu, kamu kasih lihat aku foto usg itu katanya cuma satu dan sangat sehat.." Bisma ikut menambahkan dengan kata kata yang melekat padanya.
"Ya itu.. Memang satu.." Hery berusaha santai saja.
"Tuan Hery dan Nyonya Rena, nanti kalau sudah sampai dua jam baru boleh memberikan asi pertama atau kalau belum bisa asi, bisa di ganti dengan susu formula untuk kedua anaknya.." Hery tersenyum pada Perawat itu.
"Kedua..?" Ketiga orang yang polos dan tak tahu apa apa itu bersamaan.
"Saya permisi dulu.." Pamit perawat itu tapi Bisma dengan cepat menahan si perawat.
"Eeehh..?" Si perawat terkejut.
"Apa maksudnya..? Kedua...?" Bisma memegangi tangan si perawat.
"Iya tuan, anaknya Tuan Hery dan Nyonya Rena dua, alis kembar.." Bisma tak percaya dan begitu pula dengan Debora, apalagi Roy.
"Her.. Jelasin..!!" Roy menguncang tubuh Hery.
"Ya itu.. Aku juga gak nyangka. Aku... Aku juga gak baru tahu barusan. Pas dua duanya keluar.." Ungkap Hery juga polos.
Flashback on
"Selamat ya Bu.. Bayinya laki laki.. Ganteng sekali bu.." Si bayi mungil baru saja berhasil melalui perjalanan dunianya dan baru di ambil oleh sang dokter di pintu keluar sang bayi.
"Eeehh.." Si Perawat sangat terkejut.
"Ke.. Kenapa..?" Hery yang tadinya bahagia mendengar penuturan si dokter tiba tiba panik lagi.
"Nyonya, coba anda tarik nafasn dan hembuskan lagi pelan pelan.." Intruksi dokter.
Rena mengikutinya dan rasanya ada yang di bawa keluar lagi oleh sang dokter. Tangis yang kedua pun terdengar. Bahkan mengalahkan tangisan si bayi pertama.
Hery berserta Rena menganga tak percaya. Bayi yang selama ini Rena kandung rupanya kembar. Saat melahirkan yang kedua ini tidak ada rasa sakit ataupun mengejan yang kuat, hanya menarik nafas dan menghembuskan nafas.
Bayi yang kedua ini juga ukurannya lebih kecil dari pada si kakak. Tapi tangisannya memenuhi ruangan.
"Anakku kembar..?" Rena menatap Hery.
__ADS_1
"Ya anak kita kembar..." Hery tersenyum sangat lebar.
"Anak kita kembar sayang..." Hery menciumi Rena lagi.
"Tapi selama ini Kita periksa hanya satu katanya..." Rena masih tak percaya.
"Ini biasanya terjadi tuan, nyonya, apalagi melihat dari ukuran si kakak, bisa saja selama ini si adik tersembunyi oleh kakaknya. Saya juga punya beberapa pasien yang mengalaminya." penuturan sang dokter.
Kedua bayi itu pun di mandikan bersama dan yang makin membuat Rena dan Hery terharu adalah kedua bayinya menangis dengan tempo yang sama. Membuat mereka terdengar hanya satu tangisan.
"Si adik pintar ikuti kakaknya nangis.." Puji Hery dengan air mata berlinang.
"Anakmu memang pintar Her..." Rena memeluk Hery erat.
"Yaaa.. Mereka pintar kayak papanya.. Sudah aku gak boleh sedih, nanti mereka liat aku sedih.." Hery menghapus air matanya tapi tetap air mata yang baru akan keluar lagi. Tapi senyumnya juga tidak ada habisnya dan bahkan senyum Hery sangat lebar ingin melebihi maksimum bibirnya.
Flashback off
"Ja.. Jadi mereka kembar.." Roy menoleh lagi pada kedua bayi mungil itu.
"Ya.. Yang kakak, yang pakai bedong warna merah. Yang adek.. Yang pink.. Dan yang kakak itu besar dari pada adeknya. Berat si kakak tadi 2kilo 8ons. Kalau adeknya cuma 2kilo 5ons. Beda tiga ons aja.." Ucap Hery dan senyumnya makin mekar.
"Ya.. Kamu jadi paman dari kedua bayi imut itu.. Oohh ya tadi kalian dua rebutan jawabkan yang ganteng dan cantik. Nah, yang ganteng itu yang kakak, dan yang cantik yang adek.. Tapi mereka berdua bias wajahnya terbalik, yang cowok cantik dan yang ceweknya yang ganteng.." Jelas Hery lagi yang sudah mengerti perbedaan kedua anaknya hanya dalam beberapa menit ini saja.
"Rena.. Kamu.. Hebat banget.." Debora memeluk Rena.
"Ya.. Aku juga gak nyangka kalau bakal kembar gini.." Rena menangis bersama Debora.
"Aku mau hubungi Mama Marry dulu.. Dia pasti penasaran sama cucu cucunya ini.." Hery menghubungi Marry lagi dengan video call.
Hery pun memamerkan kedua anaknya pada Marry. Marry menangis melihat kedua bayi imut itu. Kini ia sedang memesan paspor untuk ke Indonesia.
"Sabar ya... Granda mau situ.." Marry menangis sambil menenteng koper.
Hery selesai menelpon Marry dan kembali fokus pada kedua bayi manisnya.
"Eeeemmm Her... Apa aku boleh gendong juga..?" Bisma dan Hery sedang menggendong masing masing si kembar.
"Tentu Roy.." Hery yang sedang menggendong si kakak pun memindahkanmya ke gendongan Roy.
__ADS_1
Setitik air mata Roy menetes. Ini dia, anak yang Rena kandung.
*"Apamerekaakantahuakujuga*ayahnya..?" Ucap Roy sambil menatap mata bayi mungil itu yang masih terpejam.
"Hel. Aku mau tahu namanya siapa.." Bisma mengendong si adik.
"Eeeemmm aku terlalu kaget mereka kembar. Tapi aku dapat nama mereka setelah aku ingat ingat kenapa aku bisa khawatir tanpa alasan. Seperti ada yang mau kasih tahu aku kalau Rena akan melahirkan.. Ada.. Makanya aku beri nama si kakak, Gabriel Alfaro Gunha Krisnata dan untuk si gadis.." Hery mencolek hidung kecil anak perempuannya, "Hai Gabriela Elfira Gunha Krisnata. Si laki laki pertama dan si peri kecil.." Mata Hery berkaca kaca lagi setelah mengucapakan nama kedua anaknya.
"Ooo... Peri kecil.. Ooo manisnya.. Elf.. Eehh tapi ini memang pas.. Ini bulan sebelas dan tanggal sebelas pula. Dalam bahasa Jerman, sebelas itu Elf.. Ooo I love you Elf.." Bisma sangat gemas pada keponakannya ini.
"Nama yang bagus Her.. Aku suka.." Roy setuju dengan nama yang Hery berikan pada kedua putra dan putri mereka ini.
"Kamu suka Rena..?" Debora bertanya ada Rena.
"Ya aku suka, Hery sudah minta persetujuan aku tadi. Aku yang tambahkan Gabriel dan Gabriela karna itu langsung jadi nama babtisnya nanti. Nama yang Hery berikan hanya Alfaro dan Elfira..." jelas Rena juga pada Debora.
Debora mengangguk paham, mengingat biasanya kristiani membabtis anak mereka sejak dini mulai dari 1 tahun bahkan bayi. Dan bayi bayi tersebut harus memiliki nama babtisnya.
Seperti malaikat Gabriel yang memberitakan kabar gembira dan kemenangan. Maka Hery mengambil nama itu untuk kedua anaknya.
"Jangan nakal lagi ya.. Main petak umpet, satu rumah sakit kalian berdua bohongi.. Ck ck ck.." Hery sanget mengingat dengan jelas setiap kali ia dan Rena memeriksakan kandungan pasti hanya sang kakak yang terlihat di layar monitor.
"Ini yang nakal adeknya atau kakaknya ya..?" Roy juga ikut menimpali.
"Eeeemm kakaknya juga pasti ikut ambil bagian. Makanya adeknya suka banget sembunyi." semua yang ada di sana tertawa bersama sama.
Debora juga ikut bahagia dengan kelahiran dari kedua anak Rena ini. Pasti ada rasa cemburu yang ia rasakan. Tapi ada yang lebih menganggunya dari itu semua.
Nama kedua bayi itu ada yang berbeda dan tak biasa. Debora mendengar dengan jelas nama kedua bayi itu di sebutkan.
"Gabriel Alfaro Gunha Krisnata danGabriela Elfira Gunha Krisnata...?"
*"Elf..DalambahasaJermanartinyasebelas dan dibahasaInggrisartinyaperi.TapijikaGunhadinamaAnakanakHeryapa*artinya..?"
Off dulu guys.. Seru kan..
Mari mampir juga ya..
Novelnya kak Kirana Pramudya, sangat di rekomendasikan untuk para pembaca.
__ADS_1