AKU YANG DI SIMPAN

AKU YANG DI SIMPAN
BAB 251


__ADS_3

Bukannya bangun Bisma hanya duduk da bersandar di headboar tempat tidurnya.


"Bisma.. Bangun..!" Titah Ade lagi sambil mengumpulkan pakaian kotor Bisma.


"Aku izin aja hari ini Adel.."


"Kamu sakit kah..?" Adel langsung panik mendengarnya. Ia menghentikan dulu aktivitasnya dan duduk di samping Bisma.


"Coba sini.. Demam kah..?" Adel menyentuh kening Bisma dengan punggung tangannya.


"Gak panas.. Kamu baik baik aja kan..?" bukannya menjawab lagi, Bisma malah berbaring di pangkuan Adel.


"Kita... Ke psiskiater aja nanti Del.. Aku mau periksakan diri.." Hati Adel pun ikut ikutan tak menentu dengan sikap Bisma yang seperti ini.


"Iya.. Nanti aku temani ya.." Adel mengelus kepala Bisma.


"Del.. Tolong hubungi Hery.. Bilang aku gak ngantor hari ini.." Adel mengangguk dan meraih ponsel Bisma di nakas.


Bisma membalik tubuhnya dan menghadap perut Adel.


"Bisma geli.." Adel terkekeh merasakan Bisma yang tak bisa diam di dekat perutnya.


"Eeemmm" Bisma hanya berdehem menikmati aksinya sendiri.


.


.


.


.


.


"Ck.. Albert.. Kenapa kamu geraknya lambat benget sih..?" Stuart menumpahkan kekesalannya.


"Sabar.. Kalau buru buru nanti kamu gak dapat Adel lo.." Albert sedang mengetik seuatu di laptopnya.

__ADS_1


"Ck.. Kamu ini nah.. Aku rindu Adel.." Lirih Stuart lagi.


"Makanya.. Jangan lewatkan kesempatan langka di dunia ini.. Sudah di depan mata juga malah di anggurin.." Cicit Albert yang membuat Stuart naik darah.


"Diam..!" bentak Stuart.


"Mana berani Adel sama kamu.. Kamu itu galak.. Mudah marah.. Takut dia.." Cicit Albert lagi.


"Aku gak akan gitu sama dia.." Elak Stuart lagi.


"Hahahhahahajahha.. Kakakku yang keren, Cool, sombong, kini tunduk takluk di buat seorang wanita istri orang.. Hahahahahhaa.. Ya ampun.. Mana kakak ku yang dulu.. Yang pemarah, angkuh, serba wowlah.. Di mana dia, di karungi kah..? Hahahahaja.." Albert memengangi perutnya yang terasa sakit karna tertawa.


"Ck.." Stuart bangkit dari duduknya, menarap luar jendela ruangannya. Seluruh kota terlihat dengan jelas, hanya saja ia tidak tahu di mana pujaan hatinya.


"Adel.." Tangannya mengepal seperti mencekram kuat.


.


.


.


.


"Suami ku sayang.. Ini sudah jam 8 looo.. Gak kerja..?" sama seperti Adel, itu juga yang sedang di lakukan Rena.


"Nanti aja. Aku mau sama kamu sayang.. Lain kali jangan tinggalkan aku.." Hery membawa Rena ke tempat tidur lagi dan memeluknya sesuka hatinya.


"Iya sayang.. Aku gak akan tinggalin kamu lagi.." Rena yakin ini pasti dari kehamilan keduanya ini. Kemarin saat Rena mengandung Alf dan Elf. Inilah yang ia rasakan. Tak ingin Hery meninggalkannya sendiri di kamar.


"Aku cinta kamu.." Bisik Rena lembut pada Hery.


"Sayang.. Aku mau mangga manis banget sayang.."


"Hah..?" Rena tak percaya yang ia dengar ini.


"Sayang, ini kan masih pagi.. Masa kamu sudah makan mangga..?" Rena protes.

__ADS_1


"Ya tapi aku mau sayang..." Rena menghela nafasnya.


"Pantasan aku gak mual muntah.. Apalagi ngidam.. Ternyata.." Rena menatap Hery.


"Apa..?" Hery sangat polos membuat Rena makin gemas pada suami tercinta.


Rena hanya terkekeh dan terus tersenyum.


"Oke.. Aku cari dulu di kulkas.. Apa kita masih punya buah mangga atau gak ada.." Rena bangun dan keluar dari kamar mencari yang inginkan Hery.


"Mana Suamimu itu Hihihi.." Ledekkan Debora sudah menanti Rena.


"Tuh.. Lagi ngidam di kamar.." Sarkas Rena lagi.


"Oohh ya..? Wow..!" Debora kagum.


"Apa nya yang Wow Bora.. Dia minta mangga manis pagi pagi gini..?!" Rena membuka kulkas dan mencari buah mangga yang di maksud Hery.


"Aku baru tahu laki laki juga bisa ngidam.." Lirih Debora.


"Bisa Nya.. Dulu suami bibi juga yang ngidam. Pantesan Bibi itu gak ngidam gitu apalagi manja.. Ternyata suami Bibi yang manja dan ngidam.."sambung Bibi yang sedang memasak di samping Debora.


"Ooohhhh" Debora ber'oh antusias mendengar cerita bibi itu.


"Hah.. Mana ada mangganya.. Kayaknya yang kemarin aku kupas itu.. Bi Ani mana ya.. Suruh di pergi beli dulu di toko buah di depan itu.. Bi Ani..!" Panggil Rena pada para pekerjanya.


"Ya Nya.." Seorang bibi pun datang menghampiri Rena.


"Bi.. Rena minta tolong donk.. Beliin mangga di depan itu, yang manis ya.. Eemm sama yang masih mengkal deh kalau ada.. Sama buah Jeruk.. Bibi pergi aja pake mobil.." Pinta Rena.


"Tapi Nya.. Bukanyannya mang Adi lagi cuti.. Gak ada yang bisa sopirin mobil.."


"Eh iya ya.." Rena menepuk keningnya.


"Mau ke mana..?" Tiba tiba suara seseorang jadi pusat pendengaran.


"Roy...?"

__ADS_1


__ADS_2