
"Oke jadi sudah setuju ya.. Adel nanti kami ke rumah kamu minta restu untuk pernikahan kalian." Marrry sangat suka berita bagus ini.
"Eeemm tapi.. Adel gak punya keluarga.." Adel bersuara.
"Hah..?" Bukan hanya Marry, Bisma dan Hery dan Rena terkejut.
"Maksudnya..?" Rena ikut bertanya.
"Eeemm aku cuma sendiri di kota ini. Ibu sama bapak udah gak ada. Di kampung cuma juga gak ada siapa siapa. Aku anak tunggal." Adel menceritakan kisahnya sedikit tapi dengan tetap tersenyum meski kisahnya ini sedih.
"Adel..." Bisma baru mengetahuinya.
"Eeemm aku juga jadinya bingung.. Kalian mau minta restu sama siapa.." Adel mengaruk tengkuknya.
"Paman atau bibi kamu gak ada..?" Hery mencoba bertanya juga.
"Eeemm paman, aku gak tahu di mana paman.. Bapak cuma punya satu saudara. Yaitu paman Edi. Tapi paman Edi merantau gak tahu kemana, itu pun pas aku masih SD." Adel mencoba mengingat ingat.
"Ooohhh.." Hery tak mendapat jawaban yang lain.
"Tapi kamu mau kan nikah sama Bisma..?" Marry kembali bertanya pada Adel.
"Iya.. Saya mau nyonya.." Bisma menunduk ragu.
"Baguslah. Kalau gitu.. Bisma.. Persiapkan pernikahan kalian secepatnya. Kamu juga harus pilih apa kamu tinggal di sini sama Adel atau kamu kembali pulang ke Jerman.." Saran Marry.
"Eeeemm.. Bisma suka di sini Mama. Aku juga sudah kerja di sini.. Adel juga bisa hidup nyaman sama Bisma di negerinya sendiri." Bisma tak mau kembali ke Jerman takut bukanya ia normal, tapi sisinya yang lain akan kembali. Karn di sana Bisma sudah mengenal banyak yang sama dengannya dan bisa memuaskannya.
Ini adalah satu satunya jalan Bisma untuk kembali normal dengan menjalankan hidup baru. Meski itu harus menikah dengan seorang wanita.
***
"Sayang sebentar lagi kan?" Hery dan Rena di dalam kamar mereka.
"Ya sayang, selamat ya sebentar lagi buka puasa panjang.." Rena mengecup Hery penuh kasih sayang.
"Ya sayang.. Sudah kamu susui aja Alf dan Elf dengan tenang, aku ada kerjaan dikit. Tunggu ya." Hery bangkit dan mengambil laptopnya lalu ia bawa kepada Rena lagi. Ia ingin mengerjakan pekerjaannya bersama istrinya.
"Eeemmm.. Apa sayang..?" Rena berbicara pada anaknya yang tak bisa diam.
"Kenapa Alf..?" Hery juga ikut ikutan bermain dengan Alf yang semakin hari semakin paham. Sekarang Alf dan Elf sudah bisa membuka matanya bahkan tak jarang Rena dab Hery begadang bersama Alf dan Elf.
Hery memainkan tangan Alf dan begitu sebaliknya Alf memegangi tangan Hery dengan jari kecilnya.
"Kayaknya Alf gak suka aku kerja sayang.. Ya udah Papa gak kerja.." Hery meletakan laptopnya lagi di tempat tidur dan ikut berbaring dengan Baby Alf.
"Oooo.. Bawa main.." Hery makin gemas dengan anaknya.
Alf begitu aktif, tanganya kakinya, suaranya juga sering mengucapkan bahasa bayi. Tangan kecil yang bergerak ke atas dan kebawah, kaki yang menendang nendang. Begitu imut di mata Hery.
"Liat kan sayang.. Alf sayangnya sama aku.." Hery menciumi Alf dengan gemas.
__ADS_1
"Ya sayang.. Kamu kan Papanya.." Rena juga menyukai kedekatan Hery dan anak anaknya.
"Ooohh ya apa aku sudah ceritakan masalah Roy sama kamu atau ada Debora yang kasih tahu kamu sayang..?" Hery teringat akan Roy yang kini tertimpa masalah lagi.
"Gak ada.. Beberapa hari ini gak ada Debora ke sini lagi.. Kenapa Sayang..?" Rena tak mengetahui apa apa.
"Roy dia.. Nikah lagi.." Hery menceritakn perlahan cerita Roy.
"Kasian Debora.. Ya ampun.." Rena benar benar terkejut mengetahuinya.
"Makanya itu, aku pinjamkan mereka ruangan rahasia yang aku temukan itu. Roy senang dan Debora juga tenang." Hery mengatakan jalan keluar yang ia berikan untuk Masalah Roy.
"Tapi jatah siang dan malam itu gak betul..." Rena sangat kesal.
"Ya sayang.. Tapi Debora bukan Debora yang dulu lagi yang banyak cara dan rencana. Ia sangat penakut sekarang. Dan Roy adalah kelemahannya." Hery mengelengkan kepalanya.
"Ini lagi lagi cobaan untuk Roy dan Debora. Kisah cinta mereka di uji lagi." Rena mengingat dulu. Cobaan datang Dari Debora dan Debora tidak bisa menolaknya, kali ini gantian Roy yang mendapat cobaan. Apa ia akan terbuai atau tidak oleh cobaan ini.
***
Ceklek..
Roy masuk ke dalam kamar Nur. Aroma parfum Nur sudah ke mana mana.
Roy menutup hidungnya. "Ya ampun sesak nafas aku nanti.." Roy berjalan ke arah jendela dan membukanya.
"Huuuhhh." Roy lega bisa mencium udara tanpa Parfum lagi.
"Sayang..." Nur keluar dari ruang gantinya.
"Aku ngatuk Nur.. Kita tidur.." Roy melepaskan tangan Nur dengan pelan saja ingin menunjukkan kalau ia benar benar malas untuk meladeni Nur.
"Sayang ayolah.. Aku siap untuk kamu looo.. Ini juga malam pertama kamu sama aku.. Aku bisa puaskan kamu.. Roy.. Asal kamu tahu aku masih perawan..." Tak malunya Nur langsung saja mengakuinya.
"Aku menjaga diriku cuma untuk kamu Roy.." Roy membuka matanya tiba tiba. Nur juga terkejut melihatnya.
Nur kira Roy pasti tergoda padanya dengan pengakuannya barusan.
"Aaaw..." Roy memegangi perutnya.
Roy turun dari tempat tidur dan masuk ke toilet. Tak lama kemudian ia keluar lagi sambil memegangi perutnya.
"Aaww..." Ia masuk lagi dan bahkan ia memperdengarkan saja yang tak patut Nur dengar dari toilet.
"Iiiuuhhh" Nur mengeluh mendengarnya.
"Roy.. Kamu kenapa sih..?" Roy keluar lagi dari toilet dan langsung di tanya oleh Nur.
"Aku sakit perut kayaknya. Apa kamu ada obat sakit perut...?" Nur mengeleng.
"Oohh ya ampun.." Roy masuk lagi ke dalam toilet dan membuang sisa makanannya.
__ADS_1
"Ya ampun.." Nur menepuk keningnya.
"Padahal aku sudah cantik gini, seksi gini.." Nur melihat tubuhnya yang sudah siap di eksekusi buka buka.
"Nur.. Cari kan aku obat sama bibi.." Roy keluar lagi dengan lemasnya.
"Roy aku sudah seksi gini looo... Masa aki pekai lagi baju... Kan gak asik.." Nur menolak.
"Ya udah.." Roy keluar dari kamarnya.
Tok tok tok..
"Debora.." Roy memanggil Debora dari luar kamar.
"Roy..?" Debora membuka pintu kamarnya dan terkejut melihat Roy ad di hadapannya.
"Debora ambil kan aku kotak obat.. Aku sakit perut.." Roy belari ke dalam kamar Debora dan masuk ke toilet.
"Roy..? Mana Roy..?" Nur datang menyusul Roy.
"Dia ke toilet.." Debora dengan polos dan jujur saja menjawab.
"Roy.." Nur tanpa pikir panjang masuk menyusul Roy ke dalam toilet. Ia kira Roy sedang bersembunyi darinya.
"Oohhh ya ampun... Baunya.." Nur keluar dengan segera dari toilet.
"Ya ampun Roy..." Debora mengeleng.
Ia segera mencari kota obat dan memilih obat yang cocok untuk Roy.
"Nur. Ini obat Roy.." Debora malah memberikan obat itu pada Nur.
"Langsung di minumkan..?" Nur meneloti obat itu.
"Eeemm ya.. Tapi sekarang pas Roy lagi di toilet... Obat itu juga mencegah Roy dehidrasi karna BAB terus.." Jelas Debora pada Nur sedikit berbohong tentang makan sekarang di toilet.
"Ini Airnya.." Debora menyerahakan botol air minumnya juga pada Nur. Lalu ia menunjuk toilet dengan matanya.
"Kenapa aku kamu kan juga istrinya.." Protes Nur.
"Ya kan ini malam, ini jatah kamu untuk layani Roy.. Atau aku juga siang dan malam layani Roy..?" Debora mengingatkan peraturan yang di buat Nur sendiri.
"Cih..." Nur berdecih dan setelah itu ia menatap toilet dengan tatapan jijik.
"Roy kamu keluar dulu deh.. Minum obat kami ini.." Panggil Nur pada Roy di dalam toilet.
"Masf Nur, gak bisa.. Lagi sakit ni.. Mana obatnya biasanya Debora antar ke dalam toilet.. Sini kamu Nur.." Panggil balik Roy pada Nur.
Sebenarnya Roy mendengar ucapan Debora tadi tentang ia yang harus minum obat di dalam toilet, dan lebih baik ia membenarkan ucapan Debora itu.
"Nur pintunya gak di kunci kok.. Masuk aja.." Panggil Roy lagi dengan sedikit berpura pura kesakitan.
__ADS_1
Nur...
Off dulu kawan..